Jatuh Cinta

1144 Words
Di dalam mobil, Hana masih melekat dengan Azka. Membuat lelaki itu kesusahan untuk menyetir. Walau begitu, hal tersebut membuat Azka merasa Hana begitu merindukannya. Wanita itu takut kehilangan dirinya. Azka tersenyum senang memikirkan itu. Sesekali Azka mengelus kepala Hana, kebiasaan sejak kecil yang hanya ditujukan kepada satu orang. Hana, wanita itu tidak mengerti apa yang sedang ia lakukan saat ini. Dia tidak ingin jika Azka pergi. Ia pun tidak merasa malu melakukan hal ini, mulai dari memeluk Azka di tempat ramai, hingga sekarang dia masih saja memeluknya. Hana walaupun sedikit malu, namun ada perasaan yang mengatakan kalau ia memang harusnya dari dulu seperti ini. Tidak membiarkan Azka pergi. “Rin, apa orang tuamu tidak marah jika kau pulang malam bersama lelaki?” Pertanyaan Azka membuat Hana merasa tidak nyaman. Orang tua? Bahkan ia sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi sejak empat tahun yang lalu, kecuali Ian dan Rama. Orang tuanya meninggal karena kecelakaan saat perjalanan bisnis. Wanita itu menggeleng, kembali mengeratkan pelukannya. “Orang tuaku ... sudah meninggal, Kian,” lirihnya. Hal itu membuat Azka merasa bersalah karena menanyakan hal itu. Dia menepikan mobilnya lalu mematikan mesing. Membiarkan Hana meluapkan segala keresahan hatinya. “Maaf, aku tidak bermaks—“ “Diam, cukup diam saja. Seperti ini,” sela Hana. Azka mengangguk dalam diam. Ia mengelus-elus puncak kepala Hana dengan penuh kasih sayang. Ia ikut sedih melihat Hana bersedih seperti ini. Yang lelaki itu tidak tahu adalah Hana tidak menangisi kepergian orang tuanya. Wanita itu sedih karena takdir harus mempertemukan mereka di saat yang benar-benar tidak tepat. Tidak lama kemudian, Hana menegakkan tubuhnya. Wanita itu meraih tisu yang berada di dashboard dan memakainya untuk membersihkan wajah. “Ayo, jalan!” perintahnya kepada Azka. Lelaki itu mengangguk, ia segera menjalankan mobilnya. Kini keresahan mulai meliputi hati Hana. Bagaimana jika suaminya berada di rumah saat ini? Apa yang akan ia katakan pada Rama nanti? Terlebih apa yang akan dia jelaskan pada Azka? Hana ... tidak ingin kehilangan lelaki itu. Dia baru saja menemukan bahagianya, dia tidak ingin kembali terpuruk. “Kamu ... sudah punya kekasih?” Hana menoleh dengan cepat, wanita itu speechles dengan pertanyaan Azka. Ada beton tak kasat mata yang seakan menghantamnya. Apa yang harus kukatakan? Dia, tidak ingin kehilangan Azka. Tidak ingin! Azka adalah bahagianya, namun bagaimana ia harus mengatakan bahwa dirinya sudah bersuami? Apakah setelah mengatakan itu Azka tidak akan meninggalkannya? Ataukah Azka akan menetap dan merangkai kisah mereka kembali? Lalu, jika Azka menerimanya, apakah sekarang waktunya lepas dari Rama dan menggapai cinta barunya? Tapi bagaimana dengan Ian? Apakah Ian sanggup menerima perceraian orang tuanya? Apakah Ian mau menerima Azka sebagai ayah barunya? Lalu, jika dari pihaknya lancar, bagaimana dengan keluarga Azka? Apakah mereka akan menerimanya? Apakah mereka setuju jika Azka menikahi seorang janda? Kalau tidak setuju, apa yang harus dilakukan Hana? Hana menggeleng, mengusir segala rangkaian kata tanya dalam benaknya. Ia tidak boleh membuat pikirannya kalut seperti ini. Belum apa-apa dia sudah memikirkan hal yang bukan-bukan. Mereka baru bertemu beberapa kali, itu pun dengan durasi yang hanya sedikit. Kenapa dia harus memikirkan hal rumit seperti itu? Apa yang dilakukan Hana justru membuat Azka mendesah lega. Ia senang karena wanita yang dicintainya belum memiliki kekasih. “Kenapa?” tanya Hana yang menyadari Azka mendesah dengan pelan. “Hm, tidak apa-apa. Jadi, kamu belum punya kekasih kan? Baguslah kalau begitu,” ujarnya. Hana bingung, kapan ia mengatakan tidak punya kekasih? Setelah dipiki-pikir, dia baru ingat, tadi dia menggeleng saat mengusir pikiran-pikiran yang menggerayanginya. Mungkin Azka mengartikannya sebagai jawaban. Syukurlah kali ini dia selamat dari pertanyaan itu. Untuk kali ini Hana belum bisa mengatakan yang sebenarnya, Hana butuh waktu untuk menjelaskan semuanya. Hana kemudian menatap Azka dan akhirnya mengangguk. Hana tidak sepenuhnya bohong kan? Dia memang tidak punya kekasih, tapi suami. * “Dari mana kamu?” Suara bariton itu menghentikan langkahnya. Wanita itu tersentak saat Rama sudah berdiri di tengah undakan anak tangga sambil menatapnya dengan tajam. Dalam hati Hana lega karena setelah mengantarnya, Azka langsung pulang setelah berpamitan singkat. Kalau tidak, sekarang pasti sudah terjadi perang besar. Dan untung saja Rama tidak mau repot-repot menunggunya di teras rumah. Hana menghela napas dengan berat. Dia malas berdebat dengan Rama untuk yang ke sekian kalinya. Wanita itu tidak menggubris pertanyaan Rama, ia memilih untuk memutar arah menuju dapur. Melihat itu rahang Rama mengeras. Dengan langkah panjang dia mendekati Hana lalu menyentak wanita itu hingga berbalik menghadapnya. Hana meringis saat merasakan perih di lengan kanannya akibat apa yang dilakukan Rama. “Kamu kenapa sih, Mas?” tanya Hana dengan pelan. Sungguh dia sangat lelah jika harus seperti ini terus. Rama selalu saja begitu. Menjauh tiap ia ingin mendekat lalu menuntut ketika ia menjauh. “Kalau suami bertanya harusnya kamu menjawab. Apa kamu sudah lupa kewajibanmu sebagai seorang istri?” Suara Rama meninggi. Hana membalas tatapan tajam Rama. “Bagaimana jika pertanyaan itu kuajukan padamu juga?” balasnya. Untuk pertama kalinya Hana berani meninggikan suara kepada Rama. Mungkin karena sudah lelah dengan perlakuan Rama atau mungkin karena dirinya sudah mulai ingin melepaskan diri? Rama terdiam. Mencerna ucapan istrinya. Hana tersenyum miring. Tanpa berkata apa-apa lagi wanita itu segera pergi dari sana. Sepeninggal Hana, Rama mendesah. Perkataan Hana tadi menamparnya dengan keras. Ya, dia pun lupa kewajibannya sebagai seorang suami. * “Sepertinya Pak Azka sedang jatuh cinta.” Celetukan Pak Bambang kembali membuat Azka jadi sorotan saat lelaki itu baru saja duduk di tempatnya. Azka melayangkan tatapan tajam pada Pak Bambang yang dibalas oleh lelaki tua itu dengan kekehan khasnya. Ya, bukan hanya Pak Bambang yang melihat perubahan pada Azka, tapi semua guru bahkan anak-anak muridnya pun begitu. Azka yang selalu memasang wajah datar, pagi ini datang dengan senyum yang tersungging di bibirnya. Wajahnya pun tampak segar dan berseri-seri. Sungguh bukan Azka yang mereka kenal selama ini. “Benar Pak Azka sedang jatuh cinta?” tanya Bu Anis yang kini mendekati Azka. Sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada rekannya itu. Ini berita langka! Azka menghela napas. Ya, dia memang jatuh cinta. Bukan baru sekarang, tapi sudah sejak lama. Sebenarnya dia ingin mengabaikan pertanyaan dari Bu Anis, namun ia merasa tidak enak karena Bu Anis lebih tua darinya. “Memangnya kenapa, Bu? Salah, ya?” Pertanyaan Azka membuat semuanya kembali memusatkan perhatian kepadanya. Jarang sekali Azka menanggapi godaan yang dilontarkan rekan-rekannya. Mata Bu Anis membulat. “Wah, selamat ya, Pak!” ucap Bu Anis. “Alhamdulillah, saya pikir Pak Azka belok, ternyata tidak. Hehe,” kekeh Pak Burhan, lelaki itu seketika mendapat lemparan pulpen dari Azka, untung dia bisa mengelak. Gelak tawa seketika memenuhi ruangan tersebut. Ucapan selamat dan berbagai komentar lain saling tumpang tindih. Azka sebenarnya tidak menyukai hal itu, namun ia akan mencoba lebih berbaur dengan yang lainnya. Berhubung mood-nya sangat baik hari ini. Gelak tawa memang hampir memenuhi ruangan itu, namun seseorang di balik laptopnya menatap semua itu dengan tajam. Kepalannya mengeras, tawa-tawa ceria itu mengganggu ketenangannya. “Siapa wanita itu?” gumamnya sinis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD