Aku Menemukanmu

1850 Words
"Enaknya, study tour tahun ini di mana?" Pertanyaan itu untuk semua guru yang berada di ruang rapat. Sejam sebelum bel pertanda pelajaran telah usai berbunyi, Pak Bambang memberi tahu semua guru bahwa akan diadakan sebuah rapat penting. "Tahun lalu kita sudah ke Lembang. Bagaimana kalau kali ini kita ke Malino saja," celetuk Bu Arumi, guru Bahasa Inggris kelas Lima. Wanita itu duduk setelah mengemukakan pendapatnya. Yang lain mengangguk-angguk, beberapa ada yang berceletuk, "Boleh juga." Ada juga yang mengatakan, "Jangan, di sana jauh!" Azka menatap Pak Burhan yang menolak ke tempat yang dimaksud oleh Bu Arumi. "Memangnya sejauh mana, Pak?" "Pak Azka tidak tahu Malino?" tanya Pak Burhan, ekspresinya benar-benar terkejut. Azka mengangguk mantap, membenarkan ucapan Pak Burhan. Benar, dia sama sekali tidak tahu di mana tempat yang dimaksud dengan Malino. Mendengarnya saja baru kali ini. Pak Burhan menggeleng-geleng lalu berdecak. Azka mengerutkan keningnya, kenapa mereka harus pusing kalau dia tidak tahu Malino? Apa semua orang harus wajib tahu apa itu Malino? Tidak, bukan? Ingat, Azka adalah seorang guru, bukan pemerintah yang harus tahu nama dan letak wilayahnya. "Wah, Pak Azka benar-benar tidak tahu Malino ternyata," ujar Pak Burhan. "Padahal Malino itu tempat yang keren loh!" Sekeren apa pun tempat itu, jika Azka belum pernah ke tempat tersebut, dia tidak akan memberi tanggapan mengenainya. Ambar mendekatkan kursi di samping Azka, membuat para guru memperhatikan mereka. "Biar aku saja yang memberitahumu." Ambar mengulas senyum penuh pesona. Yang lain mengiyakan dengan semangat. Ya, sepertinya para guru benar-benar mau menjodohkan mereka. "Malino itu sebuah tempat di daerah Gowa, Makassar. Tahu Makassar kan?" Azka mengangguk. Ya, walaupun dia belum pernah ke sana, setidaknya dia sedikit tahu mengenai tempat tersebut. "Nah, Makassar ke Malino itu tidak terlalu jauh. Sekitar sejam perjalanan kalau tidak salah," jelas Ambar. Azka mengangguk lagi. "Lalu, di mana kerennya?" tanya lelaki itu penasaran, tidak mungkin kan mereka bilang keren hanya karena perjalanan ke sana hanya sejam? Kalau iya, sepertinya otak mereka harus diperbaiki. "Nah, di sini bagian paling kerennya, Azka ...." Azka mengerutkan kening mendengar Ambar, bukan penjelasannya tapi cara wanita itu memanggilnya. Ambar memang sering memanggilnya dengan nama tanpa embel-embel, namun itu berlaku hanya jika mereka berdua saja, dan kali ini wanita itu melakukan hal tersebut di depan semua guru. "Selama di perjalanan, kita disuguhkan pemandangan pegunungan yang sangat indah. Hutan pinus yang mendominasi, air terjun di mana-mana, turis, dan lagi, Malino dikenal dengan nama Kota Bunga loh ...." Azka mengangguk-angguk mengerti, dalam hati lelaki itu memuji tempat tersebut. Azka mengedarkan pandangan lalu berkata, "Baiklah, kita ke sana saja." Yang lain tampak senang mendengar hal itu, namun Pak Burhan menggeleng. Sepertinya hanya dia yang tidak setuju untuk ke sana. "Kenapa?" tanya Azka. "Bukankah tempat itu sangat bagus?" Pak Burhan mengibaskan tangan. "Begini, selain jarak dan biaya transportasi ke sana ... ingat, kita membawa anak SD! Bukan anak SMA! Kalau terjadi apa-apa di sana, bagaimana? Apa kalian mau tanggung jawab?" Benar, mereka lupa akan hal itu saking terkesannya dengan tempat tersebut. Baru saja Azka ingin membenarkan, Ambar sudah berdecak dengan keras hingga membuat yang lain menatapnya. Wanita itu memberengut. "Yaaah, kok gitu sih, Pak Bur? Kan di sana bagus." Mendengar itu, Pak Burhan jadi menggaruk tengkuknya. Lelaki berusia 38 tahun yang masih single itu merona, meski tidak kentara, tapi Azka tahu hal itu. Dia salah tingkah ditatap seperti itu oleh Ambar. "Ehm ... bagaimana, ya? Memangnya Bu Ambar mau ke sana?" tanya Pak Burhan. Ambar tersenyum, matanya berbinar. Ia mengangguk dengan mantap seraya berkata, "Sangat mau, Pak!" "Baiklah kalau begitu ...." Azka memprotes dalam hati karena Pak Burhan tidak konsisten sekarang gara-gara kedipan manja oleh Ambar. Inilah salah satu yang tidak disukai Azka dari wanita itu. Memanfaatkan kecantikannya demi memperoleh apa yang dia inginkan. "Lah, tadi Pak Bur tidak setuju, kenapa sekarang setuju?" celetuk Bu Arumi, memancing. Pak Burhan terkejut, dia meringis. Mungkin baru sadar kalau dia jadi aneh seperti itu. "Wah, Pak Burhan blushing karena Bu Ambar," ledek Pak Bambang. Benar kan, kepala sekolah yang satu ini selain humbel, dia juga suka sekali menggoda—dalam artian: menjaili—guru-guru muda seperti mereka. "Ti-tidak, Pak. Tadi saya—anu, eh, ehm ...." Azka mendengkus melihat Pak Burhan jadi gugup. Pak Bambang benar-benar sukses membuat lelaki itu jadi kepiting rebus. Guru-guru yang lain tertawa—lebih tepatnya menertawakan Pak Burhan. Ambar tersenyum, dia menaikkan satu alisnya, mungkin merasa bangga karena membuat seorang lelaki salah tingkah di hadapannya. "Pesona Bu Ambar benar-benar dahsyat! Pak Bur, sana ke toilet. Cuci muka, biar tidak memerah seperti itu." Lagi, Pak Bambang berceletuk yang mengakibatkan semua orang tertawa kembali. Ambar menopang dagu. "Hm, tidak sedahsyat seperti yang Bapak katakan. Karena, ada seseorang yang sama sekali tidak peka dengan kode yang saya berikan." Saat mengatakan itu, Ambar menatap Azka, semuanya diam, mungkin memperhatikan mereka. Azka menggerutu dalam hati, dia paling tidak suka jika diperhatikan seperti itu. Ingat, dia tidak suka jadi pusat perhatian. Karena kesunyian itu membuat Azka tercekat, Azka berdeham, berusaha menetralkan suasana. Mengabaikan tatapan Ambar, Azka mengusulkan untuk ke Puncak Bogor saja. Selain murah, tempatnya pun sangat dekat. Ambar protes, namun seketika bungkam saat Pak Bambang memberi keputusan akhir untuk ke sana. Padahal dia tidak ingin jika Azka kembali bertemu dengan wanita yang diceritakan oleh Pak Bambang beberapa hari yang lalu. * "Loh? Tante? Kok datang gak bilang-bilang?" ucap Reina saat membuka pintu apartemennya dan mendapati ibu Azka. Wanita paruh baya yang masih cantik di usianya itu tersenyum secerah matahari. "Ini namanya suprice!" ujarnya. "Haha. Tante bisa aja. Ayo, masuk, Tan!" ajaknya. Wanita itu segera mengikuti langkah Reina ke dalam sambil memperhatikan seisi ruangan. Di dinding yang dijadikan sebagai tempat menggantung foto terdapat banyak foto keluarga Reina, foto-foto SMA sampai waktu dia jadi mahasiswa. "Tante Kinan duduk dulu, Reina buatin minum, ya?" Wanita bernama Kinan itu menggeleng sambil tersenyum. "Ah, tidak usah, Sayang. Tidak usah repot-repot." "Gak apa-apa, Tante. Gak ngerepotin, kok." Sepeninggal Reina, Kinan berjalan ke meja di samping TV. Sebuah foto memikat dirinya, diangkatnya bingkai foto di mana ada Reina yang tersenyum ceria sambil menggamit lengan Azka, mereka berdua sedang memakai toga. "Mereka berdua kelihatan cocok," gumamnya. Kinan lalu menyimpan kembali foto tersebut ke tempat semula kemudian duduk di sofa ruang tamu sambil menunggu Reina. Tidak lama kemudian Reina datang membawa nampan berisi dua cangkir teh dan setoples kue. "Silakan dicicipin, Tan. Reina baru aja bikin kue dengan resep baru. Tante harus coba," ujar Reina. "Wah, yang benar?" Kinan mengambil sebiji kue dan mencicipinya. "Hm ...." Reina menunggu penilaian Kinan. "Gimana rasanya, Tan?" tanya Reina. Kinan menyesap tehnya terlebih dahulu sebelum menjawab, "Berbeda dari yang kemarin, yang ini rasanya lebih gurih. Enak. Kamu jago sekali membuat kue, ya?" Senyum Reina mengembang. "Haha. Enggak kok, Tan. Tante bisa aja ih." "Eh, Tante serius loh." "Makasih kalau gitu, Tante." "Sama-sama. Oh, iya. Azka ke mana, ya? Tadi Tante mampir ke apartemennya tapi dia gak ada di sana. Kamu tahu Azka ke mana?" Kinan mengutarakan alasan sebenarnya dia datang menemui Reina, apalagi kalau bukan menanyakan keberadaan anak semata wayangnya yang memilih hidup mandiri itu? "Ah, tadi Azka nge-chat Reina, katanya dia mau ke Puncak. Sepertinya pas Tante ke sana, dia sudah berangkat." Kinan manggut-manggut mendengarnya. Dalam hati merutuki kebiasaan Azka yang jarang mau memberinya kabar. "Hm ... Reina?" "Iya, Tante?" Kinan ingin menanyakan sesuatu, tetapi ragu untuk mengutarakannya, dia takut salah bicara. "Kenapa, Tante?" tanya Reina penasaran. Tahu jika mama Azka itu ingin bicara sesuatu tapi tidak jadi. "Ada apa, Tan? Ngomong aja." "Ehm ... Tante mau nanya sih, tapi kamu jangan tersinggung, ya?" "Eh, memangnya Tante mau nanya apa?" Rasa penasaran Reina bertambah. "Hubunganmu dengan Azka ... apa masih hanya sekadar sahabat? Apa kalian tidak pacaran?" "E-eh?" Reina gelagapan. Tidak menyangka akan dapat pertanyaan seperti itu dari orang tua lelaki yang ditaksirnya. "Ma-maksud Tante apa, sih? Ka-kami cuma sahabat, kok." Kinan mendesah. "Hah ... padahal Tante berharap kalian punya hubungan khusus." Reina yang sempat menunduk karena malu lantas mengangkat wajah mendengar ucapan mama Azka. "Tante berharap kami lebih dari sahabat?" tanya Reina memastikan, juga berharap dalam hati agar yang didengarnya adalah sungguhan. Karena jika memang mama Azka menginginkan dirinya berhubungan dengan Azka, itu artinya dia punya harapan untuk memiliki Azka, tentunya dapat dukungan juga dari mama Azka. Kinan mengangguk mantap, lalu meraih kedua tangan Reina dan menggenggamnya. "Meski hubungan kalian sekarang masih sekadar sahabat, tapi Tante akan terus berharap agar kalian bisa jadian. Tante ingin punya menantu seperti kamu." * "Anak- anak, jangan berpencar, ya. Nanti kalian bisa hilang. Selain saya yang repot, semua guru juga!" Teriakan Pak Bambang yang berada tepat di samping Azka membuat telinga lelaki itu jadi berdenging. 'Huh, bikin sakit telinga saja!' Saat ini mereka sudah berada di Puncak, mengelilingi kebun teh yang luas tersebut bersama para murid dan guru-guru lainnya. Sesekali mata Azka mencari-cari seseorang. Sayangnya, walau sudah sejam berada di tempat itu, seseorang yang ia nanti-nanti sama sekali tidak ada. Apa dia sedang di rumahnya? "Kau memikirkan si Hana, kan?" Azka tersentak lalu menoleh dengan cepat dan mendapati Pak Bambang tengah menatapnya dengan ekspresi paling menyebalkan, menaik-turunkan alis, menggodanya. "Tidak," jawab Azka dan bergegas meninggalkannya. Azka tidak suka jika digoda seperti itu, terlebih bangak orang di tempat ini. Masih dengan jalan tergesa, Azka melihat tempat yang pernah dilewati Hana yang berada tidak jauh darinya. Azka menoleh ke kanang dan ke kiri. Memastikan kalau tidak ada yang memperhatikannya. Bagus, para guru dan beberapa murid masih ayik berswafoto ria. Dengan cepat, Azka segera memasuki lorong kebun teh yang berbentuk labirin itu menuju tempat di mana ia bertemu dengan Hana. "Kian ... hiks, aku kangen! Kenapa kamu tidak pernah menemuiku? Kenapa, Kian? Kenapa?" Langkah lelaki itu terhenti setelah mendengar suara tangisan tersebut. Tubuhnya seketika membeku mendengar apa yang dikatakan seseorang di balik tembok teh itu. "Dasar Kian pembohong! Kamu janji akan menjemputku seperti pangeran, bukan? Tapi kenapa sampai saat ini kamu tidak datang?" Azka meneguk salivanya dengan susah payah hanya demi mendengar kata-kata itu. Tuhan, benarkah seseorang itu adalah Arin? Arin, sahabatnya? Cinta pertamanya? Wanita itu menangis tergugu. Azka harus tahu siapa dia, memastikan bahwa orang itu benar-benar Arin-nya. Dengan langkah berat dan perasaan berdebar, Azka segera menghampirinya. Kini, dia sudah berdiri di belakang wanita itu. Wanita itu mungkin tidak menyadarinya. Arin .... Wanita itu tengah duduk dengan menekuk kedua lututnya seraya menundukkan wajahnya dan membelakangi Azka. Sepintas Azka merasa bahwa dia adalah Hana. "Kian ... kamu di mana? Apakah kamu sudah melupakanku? Melupakan Arin-mu?" Hati Azka mencelus. 'Dia benar-benar Arin! Sahabatku, cintaku!' Dada lelaki itu menjadi sesak hanya demi mendengar wanita itu menyebut nama Arin. Tanpa berpikir panjang lagi, Azka segera menyongsongnya. Memeluknya, masa bodoh wanita itu mau memukulnya atau apa, yang jelas Azka bisa menemukannya wanita yang sangat ia cintai. Wanita itu tersentak kaget, berusaha melepas pelukan Azka namun lelaki itu malah mengeratkan pelukannya. Tidak, kali ini lelaki itu tidak akan melepaskannya. Tidak akan! Sudah cukup dia tersiksa karena kehilangan Arin. "Siapa kau? Lepaskan aku! Atau aku akan berteriak, biar kau dihajar massa!" cicitnya. Azka terkekeh kecil karena gemas. Biar pun dia marah seperti itu, atau sedang mencakarnya seperti saat ini, Azka tetap tidak ingin melepasnya. Perasaan hangat yang menjalar di tubuh lelaki itu membuatnya enggan tuk berpisah darinya. "Lepaskan ak—“ "Arin ... Kian kangen sama kamu ...."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD