"Kian! Ayo, kita main!"
Seorang anak perempuan yang berkucir kuda itu tampak merasa kesal dengan anak laki-laki yang duduk dengan menelungkupkan wajahnya di atas meja. Anak perempuan itu, Rihana, menarik tangan anak lelaki itu, Azka.
"Ayo, Kian. Di sini tinggal kamu yang tidak keluar dari kelas. Nanti digangguin sama penunggunya loh," celetuk Hana.
Azka mengangkat wajahnya menatap Hana dengan kesal. Dia menggeleng saat Hana mengulurkan tangannya, menolak ajakan anak perempuan itu. Mendapat penolakan, air muka Hana berubah jadi sendu. Azka mendengkus melihat hal itu. Dia kembali menelungkupkan wajahnya di atas meja, masa bodoh jika Hana menangis sekalipun.
"Kalau Kian tidak mau main, yuk kita ke kantin saja!" Kembali Hana mengajak Azka. Sayangnya, Azka acuh tak acuh pada Hana.
"Kian! Ayo, ke kantin!" Untuk yang ke sekian kalinya, Hana mengajak Azka. Dan untuk yang ke sekian kalinya pula, Azka menggeleng tegas menolak ajakannya. Azka tidak habis pikir, kenapa Hana selalu saja suka merecokinya. Padahal, mereka hanya sebatas teman sekelas dan tetangga, itu pun tidak dekat.
Azka heran dengan Hana, kenapa anak itu begitu semangatnya untuk menawarkan sebuah pertemanan padahal dirinya sama sekalu tidak peduli? Azka jadi berpikir, apakah Hana tidak mempunyai teman sehingga selalu saja merecokinya? Tapi, melihat betapa supelnya anak itu, Azka tidak yakin dengan asumsinya.
Azka menggeleng dengan tegas, lagi. Dia tidak ingin berlama-lama berinteraksi dengan Hana, dia juga tidak suka berteman dengan anak itu, bahkan dengan siapa pun. Karena menurutnya, pertemanan hanya akan membuatnya semakin merasa konyol.
"Kau ap—“
"Dengar, kalau Kian tidak mau ke kantin, Hana juga tidak mau!" potongnya dengan cepat.
"Pak Azka? Anda kenapa? Mimpi?"
Azka tersentak ketika melihat beberapa guru kini mengerubunginya. Ambar, guru muda dan tercantik di SD Prayudha, mengambil tisu dan melap kening lelaki itu yang berkeringat.
"Pak Azka kenapa?" tanyanya lagi.
Bisa Azka lihat dari manik mata hitam milik Bu Ambar terdapat sorot kecemasan di sana.
Azka mengedarkan pandangan ke sekeliling, mendapati dirinya berada di ruang guru. "Ehm, memangnya saya kenapa?"
"Anda mengigau tadi. Bapak sepertinya butuh istirahat," celetuk Bu Anis, guru Bahasa Indonesia yang mempunyai bentuk tubuh yang gempal.
"Ah, tidak apa-apa. Saya hanya kurang tidur," ujar Azka.
Guru-guru yang lain akhirnya mengangguk lalu meninggalkan Azka. Lelaki itu menghela napas dengan kasar. Azka menengadah menatap langit-langit kamar. Tiba-tiba tenggorokannya terasa kering. Ia butuh air minum. Azka segera menuju kantin khusus guru yang bersebelahan dengan kantor. Setelah memesan semangkuk siomay dan sebotol air mineral, dia segera mengambil tempat yang berada di pojokan, tempat favoritnya.
"Arin. Kau benar-benar membuatku gila," desah Azka.
Kalian bisa memanggil saya dengan Hana. Seperti yang lain.
"Astaga! Kenapa aku jadi memikirkan dia?" Azka mengacak-acak rambutnya, entah kenapa akhir-akhir ini pikirannya selalu saja berlabu pada wanita cantik yang ditemuinya di Puncak beberapa minggu yang lalu.
"Dia? Dia siapa?"
Azka tersentak ketika Ambar tiba-tiba sudah duduk di hadapannya. Satu tangan wanita itu bertumpu pada dagunya dan menatap Azka dengan satu alis terangkat.
"Anda membuat saya terkejut," ujar Azka.
Wanita itu terkekeh kecil seraya menggeleng. "Call me with Ambar, do not call with the 'Bu' 'frills."
"Why should I greet you like that?"
"Because, it sounds strange in my ears."
Kening Azka mengerut saat Ambar berkata seperti itu. Lelaki itu curiga kalau Ambar berusaha melewati batas tak kasat mata yang sejak lama dibangun oleh Azka. Kalau benar hal itu terjadi, wanita itu harus siap-siap untuk patah hati. Sudah cukup Reina lolos dan masuk dalam zona pertemanan Azka, itu pun tidak lebih. Dan dia tak ingin ada wanita lain lagi yang masuk ke dalam hidupnya.
Ingat, Azka sudah tidak punya hati lagi. Karena Arin-lah yang kini memiliki hatinya. Bukannya geer, pertama kali masuk mengajar di sini, Ambar sudah sering memberi Azka perhatian lebih daripada guru yang lainnya. Baik itu sekadar memberi air minum sampai membantu Azka mengisi data-data siswa.
Azka memang tidak menyukai wanita lain selain, Arin. Tapi dia bukan lelaki yang tidak peka. Dia hanya berpura-pura tidak peka agar bisa sedikit mengurangi rasa bersalahnya terhadap wanita yang berniat mendekatinya agar mereka tidak berharap lebih.
Ambar memang cantik, di usianya yang terbilang masih muda, dia memiliki wajah Indo, blesteran Amerika—Indonesia. Tubuhnya tinggi semampai dengan rambut pirang alaminya. Bentuk tubuhnya pun sangat bagus. Kata Pak Bambang sih, seperti body gitar Spanyol!
"Maaf, tapi saya rasa itu sangat tidak sopan," ujar Azka akhirnya, berharap Ambar peka dengan ucapannya yang tidak ingin dekat dengan wanita itu.
Ambar memutar bola matanya seraya mengeluarkan ponsel dan memainkannya. Tidak lama kemudian, pesanan mereka akhirnya datang. Azka mengaduk-aduk siomaynya dengan perasaan campur aduk mengingat mimpinya—tidak, itu bukan mimpi, namun kenangan. Ya, kenangan yang mengingatkan sekaligus menagih janjinya kepada Arin.
Arin ... aku datang, tapi belum menemukanmu. Aku sudah tidak sabar menemuimu, tidak sabar menjadikanmu seseorang yang sangat spesial—walaupun sejak dulu kau memang sudah spesial—di hatiku.
"Ehm ... tadi kamu bilang dia. Dia ini siapa?"
Azka berdecak karena Ambar kembali mengingat hal itu. Sebenarnya Azka malas meladeni orang yang senang mengurusi urusan orang lain, tetapi Azka tetap menjawabnya meski dengan kata yang singkat. "Seseorang."
Ambar berdecak, tidak puas dengan jawaban Azka. "Aku tahu si dia ini adalah seseorang. Tapi siapa namanya? Apa aku mengenalnya? Kenapa kau terus memikirkannya? Apa kau ehm ...." Ambar mengatupkan bibirnya. Wanita itu tampak gugup untuk melanjutkan pertanyaan-pertanyaannya itu.
"Azka, kau masih memikirkan dia?"
Seseorang tiba-tiba merangkul pundak Azka dengan cepat. Azka menoleh dan mendapati Pak Bambang-lah yang tengah duduk dan merangkulnya. Azka menggerutu dalam hati, kenapa Pak Bambang harus datang di saat seperti ini? Di tempat ini? Oke, bukannya Azka merasa terganggu karena kehadiran lelaki tua itu saat ia sedang berduaan dengan Ambar, bukan. Tapi, lebih ke sesuatu yang akan dikatakan olehnya.
"Dia siapa, Pak?" Ambar bertanya dengan mimik serius, dia sangat penasaran.
Pak Bambang terkekeh sebelum menjawab, "Namanya Hana, dia wanita yang paling cantik yang pernah kutemui. Wanita yang membuat seorang Azka tidak mau pulang dari Puncak ...."
Azka memutar bola matanya seraya mendengkus. Dia sudah menduga kepala sekolah nyentrik itu akan membeberkan semuanya. Tinggal menunggu waktu untuk membuat dirinya viral jadi bahan gosipan guru-guru perempuan.
Azka melirik wanita itu yang kini mengeraskan rahangnya. Tiba-tiba wanita itu berpaling dari Pak Bambang lalu menatap Azka dengan penuh selidik. Alis tebalnya itu menukik tajam, sorot matanya pun mendadak tajam, seakan menghunus Azka. Azka mendengkus, sungguh dia paling tidak suka jika ada yang menatapnya seperti itu. Tatapan kesal sarat akan kecemburuan.
"Benarkah?" tanyanya.
Kembali Azka mendengkus seraya meraih sebotol air mineral dan meminumnya. Mengambil tisu dan membersihkan mulutnya, lalu berdiri dan meninggalkan Pak Bambang dan Ambar.
Meski samar, Azka masih mendengar Pak Bambang berceletuk, "Bodynya itu tidak kalah dengan Bu Ambar. Lesung pipitnya, suaranya, matanya, benar-benar ciptaan Tuhan paling sempurna ...."