Udara segar di pagi hari adalah salah satu hal yang disukai Hana di tempat ini. Aroma teh yang menguar benar-benar membuat hati dan pikirannya jadi tenang. Setiap pagi, dia akan selalu datang ke tempat ini, menikmati segala belaian alam.
"Hai!"
Hana menoleh ke belakang saat mendengar sapaan tersebut. Wanita itu bertanya-tanya, siapa yang menyapanya di pagi hari seperti ini? Dan kenapa di sini? Tempat paling susah dijangkau?
Berbicara tempat ini, Hana sedang berada di perbatasan kebun teh. Di bawah sana terdapat hamparan sawah. Walau begitu, hal tersebut tidak membuatnya enggan untuk selalu ke sini.
Sebuah tempat yang paling cocok untuk menikmati kesunyian yang tiap detik menyergapnya. Sepertinya kebahagiaan memang tidak pernah berniat singgah padaku semenjak hari di mana aku membuat Mas Rama marah besar.
"Hei, apa aku tidak mengganggu?"
Pertanyaan itu membuat Hana tersadar dari lamunan akan kenelangsaan atas hidup. Wanita itu mengulas sedikit senyum pada Azka, lelaki yang bersama dengan Pak Bambang kemarin. Hana menyelipkan sejumput rambutnya ke telinga.
"Ah, sepertinya aku mengganggu," gumam Azka pelan tapi masih bisa didengar oleh Hana.
"Tidak, Anda tidak mengganggu sama sekali," ujar Hana merasa tidak enak hati karena membuat lelaki itu merasa bersalah.
Azka mengangguk sekilas sambil menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. Hana bisa melihat wajahnya agak memerah, mungkin karena terpaan sinar matahari. Namun yang sebenarnya adalah, lelaki itu sedang menahan perasaan malu karena bisa-bisanya ia mengikuti kata hatinya untuk datang ke tempat ini—menemui Hana lebih tepatnya.
Tanpa bicara apa-apa, Azka menghampiri Hana. Berdiri di samping wanita itu seraya memandang hamparan sawah di bawah sana. Sinar dari swastamita yang hangat membuatnya memejamkan mata. Entah kenapa hatinya tiba-tiba terasa sangat bahagia, seakan apa yang telah lama hilang kini telah ditemukannya. Hal itu kembali mengingatkannya dengan wanita yang begitu sangat ia cintai.
"Rin ...," gumam Azka dengan lirih. Hati dan pikirannya benar-benar dipenuhi dengan nama Arin.
Jika Azka sedang bermain-main dengan rasa rindunya terhadap Arin, wanita di sampingnya malah mendadak diam seribu bahasa. Wanita itu syok mendengar suara—lebih tepatnya apa yang diucapkan lelaki itu. Ia menatap Azka yang kini menengadahkan wajah, masih dengan menutup kedua matanya.
Ya Tuhan, apa tadi dia memanggilku Arin? Apa dia Kian? Kian-ku?
"Hm, apa kau masih mengingatku? Mengingat janjiku?”
Jantung Hana mendadak berdetak tidak karuan mendengar pertanyaan Azka. Lelaki ini benar-benar Kian!
Ingin sekali dia memeluknya, tetapi Hana tidak mau gegabah. Bisa saja dia bukan Kian sahabatnya. Tapi, mendengar lelaki itu menyebut nama kecilnya, mengingatkan Hana dengan janjinya, wanita itu yakin bahwa dia adalah Kian! Kian-nya!
Tiba-tiba Azka menoleh lalu tersenyum agak canggung. Sekali lagi dia menggaruk tengkuknya. Hana mendesah dalam hati, memuji betapa manisnya lelaki itu.
"Maaf ya, Mbak. Tadi saya kepikiran dengan sahabat saya. Jadi kelepasan berbicara sendiri." Azka terkekeh kecil.
Ucapan Azka membuat hati Hana mencelos. "Ah, tidak apa-apa."
Jujur, Hana sakit hati mendengar ucapan Azka tadi. Harapannya bertemu dengan Kian adalah sia-sia. Wanita itu mengalihkan wajahnya dari tatapan Azka dan memejamkan matanya. Tapi, jika bukan aku, siapakah si 'Rin' ini?
Dering ponsel membuyarkan lamunan Hana. Dia menebak bahwa bunyi ponsel itu adalah milik Azka karena ia tidak membawa ponsel ke tempat ini.
"Halo, ada apa Reina?"
Samar-samar Hana mendengar suara Azka yang agak menjauh untuk menerima telepon. Seakan memberitahunya jawaban bahwa si Rin itu adalah Reina, orang yang diteleponnya saat ini. Hana menegur dirinya dalam hati, kenapa ia harus berharap seperti ini? Bukan hanya dirinya yang punya nama panggilan Rin, jadi tidak seharunya dia berharap lebih. Walau sebenarnya panggilan Rin tidak cocok dengan Reina, tapi itu adalah hak seseorang. Sama seperti Kian yang memanggilnya dengan Arin padahal namanya Rihana yang sering dipanggil Hana.
"Maaf Mbak Hana. Saya harus kembali."
Hana mengangguk sebagai jawaban. Azka menatap wanita itu dengan canggung, Azka merasa tidak ingin pergi dari tempat ini, dia masih mau mengenang seseorang yang sangat dicintainya. Beberapa detik dia hanya diam dan menatap Hana dengan pandangan lembut.
Dipandangi seperti itu membuat Hana tersenyum canggung. Wanita itu bertanya-tenya kenapa lelaki itu belum pergi padahal dia sudah mempersilakannya.
"Mbak, saya pergi dulu ya," pamitnya sekali lagi.
Kali ini Hana berdeham untuk menetralkan perasaannya, sembari mengangguk dan berkata, "Silakan, Mas."
Akhirnya Azka benar-benar pergi, Hana menatap punggung tegak lelaki itu yang akan menghilang di balik dinding teh yang terbentang rapi. Wanita itu mendesah berat, tangannya terulur menyentuh dadanya. Letak di mana jantungnya berada. Debaran itu ... menyiksanya!
"Arin, besok Kian akan ke Jakarta. Kamu harus janji, jaga dirimu untukku ya?"
Arin mengangguk mengiyakan ucapan Kian. "Arin janji akan jaga diri untuk Kian. Tapi, Kian juga harus janji sesuatu pada Arin. Mau, kan?"
Kian mengangguk, ia menyodorkan jari kelingkingnya pada Arin. Gadis kecil itu pun membalasnya dengan mengaitkan jari kelingking mereka.
"Kian janji, Kian akan datang dan menjemput Arin. Seperti pangeran yang jemput Cinderella kesukaan Arin."
"Astaga Nyonya! Apa yang Nyonya lakukan?"
Hana tersentak kaget, seketika tersadar dari lamunannya. Wanita itu melirik sekitarnya. Dia berdecap pelan saat mendapati ikan yang sedang digorengnya kini sudah hangus dengan asap yang mengepul. Wanita itu segera mematikan kompor dan menarik napas lega karena hal ini tidak menimbulkan masalah besar, seperti kebakaran misalnya.
Bi Asih, asisten rumah tangganya kini membersihkan peralatan memasak yang dikacaukan Hana.
Hana menghembuskan napas gusar. Kenangan itu benar-benar membuatnya nelangsa. Apa yang harus dia lakukan?
*
"Kata Bi Asih, kamu melamun di dapur tadi. Ada apa?"
Pertanyaan itu membuat Hana tersadar akan lamunannya. Dia dan suaminya, Rama, kini sedang duduk di gazebo yang terdapat di belakang rumah.
Gazebo itu berada tepat di tengah-tengah kolam renang. Ya, memang aneh, kenapa harus ada kolam renang di tempat sedingin ini? Tapi, itulah kenyataannya. Rama sangat suka berenang walau udara sedang tidak bersahabat.
Rama menatap Hana dengan penuh selidik. "Hana, kenapa tadi kamu melamun?" tanya Rama lagi.
Hana bingung harus menjawab apa. Kalau ia jujur, pasti Rama akan semakin marah padanya. Wanita itu menghela napas. Menggelengkan kepalanya lalu menyunggingkan senyumnya. "Tidak apa-apa, Mas."
Rama mengerutkan kening mendengar jawaban Hana. Ia lalu berdiri, membuka satu per satu kancing kemejanya dan melepas pakaiannya. Setelah itu, ia langsung melompat ke dalam kolam.
Setiap hari, jika sedang libur kerja, Rama akan menghabiskan waktunya untuk berenang. Satu hal yang sampai sekarang tidak pernah berubah. Hana bahkan bingung, kenapa Rama bisa menahan rasa dingin yang seakan bisa membuat orang membeku?
Tidak lama kemudian, Rama selesai berenang. Cepat, Hana menyodorkan handuk kepada Rama dan diterima oleh lelaki itu tanpa berkata apa-apa. Hana mengikuti langkah Rama sampai ke kamar. Wanita itu mengeluarkan kaus biru dan celana training kesukaan suaminya jika sedang bersantai di rumah.
"Ini, Mas, bajunya," ujarnya.
Rama menatap pakaiannya yang sudah disiapkan Hana, lelaki itu melangkah menghampiri Hana—bukan, dia ke walk in closet-nya. Rama keluar dari sana sudah sangat rapi. Hana melirik penampilannya. Lelaki itu memakai kemeja berwarna biru navy dan celana jins hitam. Wangi parfum yang dia beli dari Paris kini menguar dari tubuhnya. Entah kenapa, melihat itu membuat hati Hana mencelos. Seperti ada yang mendesaknya agar mengeluarkan air mata.
"Ehm, Mas mau ke mana? Bukannya hari ini libur?" tanya wanita itu hati-hati.
Rama yang sedang mencari sesuatu dari laci kini mendongak dan menatap Hana dari balik cermin. "Ada," jawabnya singkat.
"Mau ke mana?"
Sumpah demi apa pun, Hana takut bertanya untuk yang kedua kalinya. Wanita itu mengenal Rama selama sepuluh tahun, dan lelaki itu paling tidak suka dengan orang yang mengulangi pertanyaannya. Tidak peduli si penanya memang sengaja ataupun memang tidak dengar.
Rama memasang jam tangannya, mengambil ponsel lalu berbalik menatap Hana. "Sudah cukup basa-basinya. Tidak perlu berpura-pura peduli." Ucapannya ... menohok Hana.