Sorot cahaya membuat Hana mendongak. Cahaya itu berasal dari lampu teras rumahnya.
"Wah, rumah seindah ini berada di depan perkebunan teh. Si pemilik pasti sangat senang tinggal di sini," celetuk Pak Bambang.
Hana memutar tubuhnya menghadap mereka. "Mampir dulu, Pak, Mas. Kebetulan ini rumah saya," ujarnya.
Pak Bambang tampak senang mendengar hal itu, sepertinya. Sedangkan lelaki di samping Pak Bambang itu tersenyum tipis, namun matanya menatap Hana dengan tajam. Hana menatapnya dengan sorot bingung. Entah kenapa, lagi dan lagi mata itu begitu mirip dengan seseorang.
"Saya sangat senang bisa dipersilakan mampir, tapi istri saya pasti khawatir. Maafkan saya, ehm ... nama? Anda belum memperkenalkan diri."
Hana meringis geli. Dia bahkan lupa memperkenalkan dirinya.
"Panggil saya dengan Hana, Pak. Seperti yang lain."
Pak Bambang mengangguk, lalu menyodorkan tangan dan langsung dibalas oleh Hana. "Bambang. Di sebelah saya ini adalah guru yang mengajar di sekolah saya."
Aku tahu itu, kalian membicarakannya tadi. Hana ingin mengatakan itu, tapi ia berpikir sangat tidak sopan jika ia mengatakannya.
"Ah, iya, Pak. Salam kenal," ujar wanita itu.
Lelaki di samping Pak Bambang kini menjabat tangannya. Jantung wanita itu tiba-tiba bergemuruh saat tangan mereka bersentuhan. Ada rasa yang membuncah, rasa seperti ingin ... memeluk? Entahlah. Yang jelas, Hana merasa familiar dengan sentuhan itu.
"Panggil saya dengan Azka, Mbak Hana?"
Azka ya, bukan Kian? Hana tersenyum tipis, ia menggeleng sedikit untuk mengusir rasa aneh yang menjalar di hatinya saat Azka menarik tangannya.
Setelah berpamitan, mereka segera pergi. Hana menatap punggung tegap Azka. Sejenak wanita itu menutup kelopak matanya. Tangannya bergerak kembali menyentuh dadanya. Perasaan ini, kenapa jadi seperti ini?
“Jadi teringat Arin.”
Hana tersentak. Wanita itu yang tadinya berniat masuk ke rumahnya kini berbalik, menatap kembali Azka dan Pak Bambang yang sudah masuk ke mobil mereka.
“Apa ini hanya delusi? Tadi aku mendengar seseorang menyebut Arin? Apa itu ... aku?”
"Ah, dia benar-benar wanita yang cantik. Senyumnya, suaranya, andai saya belum menikah. Akan saya persunting dia. Hahaha."
"Ayah! Ingat umur, Yah!" Celetukan Niko membuat Azka kini terkekeh.
Sejak pulang dari perkebunan teh tadi, Pak Bambang selalu saja membicarakan wanita yang bernama Hana bahkan sampai mereka sudah berada di villa milik Pak Bambang.
Lelaki tua itu sangat terkesan dengan kecantikan Hana. Ya, benar, wanita tadi memang sangat cantik, Azka akui hal itu. Saat di depan rumah Hana, Azka sempat menatapnya untuk waktu yang beberapa lama. Sorot lampu teras memang tidak jelas, namun bisa ia simpulkan bahwa wanita itu benar-benar cantik. Hidungnya memang tidak mancung, tapi sangat cocok dengan wajahnya.
Bibirnya ranum dan penuh, pemandangan yang indah .... Ah, kenapa aku memikirkan itu?
Azka menggeleng-gelengkan kepala, mengusir pikirannya yang mulai melantur.
"Kau kenapa, Ka? Memikirkan si Hana itu, ya?”
Azka membenarkan dalam hati tapi memilih untuk mengelak. Kalau tidak, ia akan jadi bahan ledekan oleh lelaki tua itu.
"Ah, kau ini. Bilang saja tertarik padanya.”
Azka memilih untuk diam. Lebih baik jika dia mengabaikannya. Jika tidak, Pak Bambang akan terus merecokinya dengan berbagai hal yang akan membuat ia jengah.
Percayalah, Azka memang mungkin sedikit terpesona padanya. Hanya sedikit, dan semua itu tidak akan membuat ia sampai jatuh cinta. Karena pemilik hatinya hanya dia, seseorang yang sampai detik ini masih sangat dicintainya.
Tempat ini masih sama seperti dua puluh tahun yang lalu. Rumah bergaya minimalis itu tidak berubah. Hanya catnya saja yang sudah luntur, terkesan tidak berpenghuni. Beberapa rumah di sampingnya, yang dulunya adalah sebuah perumahan tetangganya kini beralih fungsi sebagai warung. Dia menatap kembali rumah bercat hijau buram itu.
Apa Arin masih tinggal di sini? Atau dia sudah pindah? Ah, semoga saja dia masih di sini.
Saat hendak membuka gerbang, seorang wanita paruh baya keluar dari sana. Di tangannya terdapat sebuah kantung hitam besar. Tiba-tiba pandangan Azka dan wanita itu bertemu. Wanita itu menyipitkan matanya sejenak lalu menghampiri Azka. Dia membuka gerbang lalu menuju tong sampah yang berada di sebelah Azka, membuang kantung hitam itu di sana.
"Siapa kau? Cari siapa?" tanya wanita itu to the point setelah selesai membuang sampah tersebut.
Azka mengangguk sedikit untuk menghormatinya, memberinya senyum. Setelah itu kembali menatapnya. "Apa Arin masih tinggal di sini?"
Wanita itu mengerutkan keningnya, lalu berkata, "Di sini tidak ada yang namanya Arin. Siapa dia?”
Rasa kecewa tiba-tiba menyelinap di dadanya mendengar jawaban wanita itu. Azka melempar senyum lalu berkata, "Bukan siapa-siapa kok, Bu. Maaf, saya permisi dulu. Maaf sudah mengganggu Ibu. Terima kasih.”
Setelah pamit, ia segera kembali menuju mobilnya. Lelaki itu menyandarkan keningnya di kemudi mobil. Rasa sesak kembali menjalarinya. Dia sangat merindukan Arin. Kenapa susah sekali menemukan wanita itu?
Arin dan orang tuanya memang hanya menyewa rumah yang tadi didatangi Azka. Sama sepertinya dulu. Azka masih ingat, Arin pernah bilang bahwa dia berasal dari Cirebon. Mereka tinggal di sini dulu karena ayah Arin adalah seorang pebisnis yang selalu berpindah-pindah tempat.
Aneh ya, harusnya Arin yang meninggalkanku dulu, dan bukannya aku.
Andai saja mereka hidup di zaman modern seperti sekarang. Pasti mereka tidak akan terpisah seperti ini. Dan pastinya mereka akan sering bertemu, walaupun tidak langsung. Zaman dulu, saat mereka berumur dua belas tahun, mereka dan teman sebayanya masih belum diperbolehkan menyentuh ponsel. Tahu kegunaannya apa saja mereka tidak tahu.
Dulu, hanya ada aplikasi Yaho Messenger dan SMS. Aplikasi chating-an itu hanyalah semata sebuah fitur di ponsel, tidak lebih. Beda dengan zaman sekarang yang serba canggih. Anak kecilnya saja canggih. Terbukti dari anak TK saja sudah bisa bermain gadget. Tanding Mobil Legen ataupun FF. Salah satu hal yang paling minus sebenarnya untuk anak-anak yang masih dalam tahap berkembang.
Tapi, entah kenapa orang tua zaman sekarang merasa bahwa anak kecil wajib punya gadget adalah hal yang paling utama dibanding pendidikan. Padahal, menurut Azka secara pribadi, hal itu justru akan merusak perkembangan pola pikir anak-anak. Hal itu juga akan membuat kesehatan mata dan beberapa organ tubuh seseorang menjadi rusak akibat kekurangan pergerakan pada tubuh.
Ah, kenapa aku harus memprotes hal ini? Itu kan hak mereka untuk menggunakan gadget.
Tapi jika dipikir-pikir, andai saja dulu fitur seperti f*******:, w******p, i********: dan lainnya sudah ada, dan anak SD sudah boleh bermain ponsel, mungkin dia dan Arin bisa chating-an. Dan komunikasi mereka pasti lancar. Azka bisa curhat panjang kali lebar pada Arin, atau bisa juga Azka akan setiap saat datang menemui Arin, bisa juga mereka sekarang telah menikah.
Huh, andai saja itu terjadi. Batinnya.
Sampai di villa keluarga Pak Bambang, sunyi kembali menyergapnya. Bukan hanya karena tak ada seorang pun di tempat ini, tapi karena hatinya kembali tersadar bahwa seseorang yang selama ini dicarinya kembali tak bisa dia temukan. Bosan, Azka memilih untuk beristirahat saja di kamar. Tubuh dan hatinya sangat lelah.
Setelah menutup pintu, segera lelaki itu mengganti pakaian yang lebih santai. Kaos putih dan celana training. Ketika ia berniat untuk tidur, dering ponsel menginterupsinya. Sebuah panggilan dari Reina, sahabatnya.
"Halo, Jagoan!" sapa wanita itu lembut dari seberang sana.
Azka bisa jamin kalau wanita itu tengah cengengesan. Dia mengenalnya dengan baik.
"Hai," balas Azka dengan enggan.
Azka tahu bahwa Reina menyadari sikapnya yang dingin---seperti biasa---kepadanya. Tapi, seperti yang sudah-sudah, wanita ini dengan cepat mengendalikan emosinya. Dia, yang sempat termenung---sepertinya, karena tidak ada sahutan untuk beberapa detik tadi---kini terkekeh.
"Azka, kau tahu, aku jadian dengan Dimas.”
Dimas? Alis sebelah Azka terangkat. Reina jadian dengan Dimas? Lelaki itu adalah teman sekelas Azka saat di SMP dulu, dan yah, dia lelaki yang baik. Azka memberi ucapan selamat dan berbagai ucapan basa-basi sebelum menutup telepon. Azka mendesah. Meladeni Reina benar-benar membuatnya lelah. Jujur, lelaki itu tidak menyukai Reina, bukan membenci wanita itu, bukan. Azka tidak menyukainya dalam konteks lain, tepatnya hati wanita itu.
Azka terlalu risih dengan sikap Reina yang terus saja ingin menempel padanya. Padahal Azka sudah menolak wanita itu mentah-mentah. Kalau saja bukan karena orang tua Reina yang mempercayakan Reina padanya, sudah pasti Azka menjaga jarak dari wanita itu.
Embusan angin menerpa wajahnya, udara yang dingin membuat Azka sedikit menggigil karena bajunya yang tipis. Lelaki itu melemparkan tatapannya ke arah jendela yang terbuka.
Pantas saja kamar ini sangat dingin, pikirnya.
Dia segera beranjak menuju jendela untuk menutupnya. Namun gerakan tangannya terhenti saat padangannya jatuh ke arah sebuah rumah bergaya Eropa yang kemarin disinggahinya.
Azka bukan termenung karena rumah itu, tapi karena seseorang di halaman rumah tersebut. Villa keluarga Pak Bambang ternyata bersebelahan dengan rumah Hana, hanya berjarak sedikit jauh. Sekitar setengah kilo meter. Azka mengenali tempat itu bahkan di malam hari. Karena rumah bergaya eropa itulah satu-satunya yang berada di dekat perkebunan teh.
Dan tepat di depan rumah itu, seorang wanita kini merentangkan kedua tangannya menghadap cahaya matahari pagi. Wajahnya menengadah. Jaraknya memang agak jauh, tapi cukup meyakinkan Azka bahwa wanita itu adalah Hana.
Hm, bahkan dari jarak sejauh ini, kecantikannya masih bisa terlihat.
Tidak lama kemudian, wanita itu masuk ke perkebunan teh. Azka menghembuskan napas gusar karena wanita itu menghilang di balik dinding-dinding teh. Akhirnya Azka memutuskan untuk menutup jendela yang sempat ia tunda.
Lelaki itu kini bersandar di jendela dengan kedua tangan terlipat di depan d**a. Azka mengerutkan kening karena entah kenapa ia merasa sedih. Entah kenapa dia mendapati dirinya gusar karena tak dapat melihat Hana dengan lebih lama.
Panggil saya dengan Hana. Seperti yang lainnya.
Azka menggeleng-gelengkan kepala, mengusir segala pikiran tentang Hana yang tiba-tiba terlintas di kepalanya. "Kenapa aku harus memikirkannya?"