18

879 Words

"Ayah pasti melawan ya? Makanya kau jadi berantakan seperti itu?" ujar Peter sembari menyeret jasad ayahnya ke halaman belakang. Jina tidak menjawab. Tanpa ia jawab pun Peter pasti sudah tahu. "Kau mau membawanya kemana?" tanya Jina. "Tentu saja menguburnya. Apa kau bisa membuat orang-orang tidak melihatnya?" "Aku tidak tahu,"                                           "Kalau tidak dikubur, Jiles akan tahu keberadaan ayahnya nanti," "Apa tidak dimakamkan secara normal saja? Kalau dikubur dengan tidak layak, aku akan merasa tidak nyaman," "Ya ampun, Jina, padahal sudah berapa orang yang kau bunuh?" kata Peter, sembari melepaskan kedua tangan ayahnya yang sebelumnya ia tarik. Peter kemudian menegakan tubuhnya, dan menatap Jina. Gadis itu sepertinya benar-benar merasa bersalah, terlih

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD