16

1135 Words

Walter melepas apronnya, saat mendengar bel rumahnya berbunyi. Sepertinya Jiles sudah datang. Kalau hanya Jiles yang datang tidak apa-apa, tapi kalau Peter tidak bisa. Dia sangat berbahaya. Peter itu ibarat Jina versi werewolf. Mengatasi satu monster saja sudah sulit, apa lagi dua? Cklek. Pintu terbuka, Walter mematung sejenak menatap anak laki-laki bersurai acak itu, kedua tangannya tampak ia masukan ke dalam saku celananya, membuat perasaan Walter mengatakan, dia bukanlah Jiles. "Dimana Jina?" tanyanya sembari melongokan kepalanya ke dalam rumah. Walter mendorong kepalanya. "Dia tidak ada di sini, pergi sana," Anak laki-laki itu menegakan kembali tubuhnya, sembari memiringkan kepalanya. "Ya ampun Paman, kau pikir aku anak kecil yang bisa dibohongi? Jina sudah jelas menyuruhku kemar

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD