08

1221 Words
"Dia kena anxiety, karena ada di keramaian. Harus ke psikiater untuk menanganinya," ujar Walter, setelah memeriksa Jiles yang masih tampak lemas dan keringat dingin. Jina hanya diam, sembari memperhatikan Jiles dengan alis bertaut. "Apa kau tahu kau punya anxiety?" tanya Walter. Jiles menganggukkan kepalanya. "Berarti kau sudah pernah ke psikiater? Apa psikiater memberimu obat?" Jiles tidak menjawab, dan malah menundukkan kepalanya. Walter menghela napas, yah, dia salah karena sudah menanyai orang yang kondisinya sedang seperti ini. Walter pun mengambil tas Jiles, dan memeriksanya. Mungkin saja ada obat di dalamnya. Setelah cukup lama mencari, akhirnya ditemukan dua botol obat di dalam tas Jiles. Tapi Walter hanya mengambil satu botol. Karena ia hanya mengenali satu jenis obat, obat lainnya ditakutkan punya peraturan minum yang Walter tidak tahu. "Kau minum obat, lalu istirahat," ucap Walter. Jiles mengambil botol obat yang Walter pegang, dan langsung menelan beberapa butir obat ke dalam mulutnya. "Jina, Paman mau antar Jiles ke kamar dulu, kau tetap di sini," titah Walter, yang Jina balas dengan anggukan. Walter pun membopong Jiles, dan membawanya ke kamar tamu. Begitu Walter pergi, Jina langsung merebahkan tubuhnya di sofa. Dia sebenarnya tidak tahu anxiety itu apa? Tapi yang jelas pasti penyakit mental. 'Aku punya penyakit mental juga tidak ya? Tapi aku 'kan bukan manusia,' batin Jina. 'Lalu aku apa dong? Sialan,' "Hei, anak perempuan main tiduran, masih pakai rok pendek begitu. Masih mending pakai celana panjang," suara Walter tak lama terdengar, yang membuat Jina langsung menoleh ke sumber suara. "Memangnya kenapa? Kan hanya di rumah Pamanku ini, aku mengangkang juga bukan masalah," Walter otomatis memejamkan matanya, saat Jina benar-benar membuka kakinya. 'Ck, anak iblis,' batin Walter. "Hei, duduk dulu," titah Walter. "Malas, kenapa aku harus duduk?" balas Jina, sembari merubah posisinya jadi menyamping. "Jina, mau Paman tarik telingamu?" "Punya hak apa Paman menjewerku? Sudahlah, buka matamu, aku sudah merapatkan kakiku," Walter akhirnya membuka matanya, meskipun awalnya sempat ragu untuk melakukan itu. Tapi ternyata Jina tidak berbohong kalau sudah menutup kakinya, namun dia tetap tidak mau duduk. "Aku lelah sekali hari ini, banyak hal aneh terjadi. Aku juga baru lihat internet, kepala reporter-reporter tadi pecah juga. Ya ampun, jadi benar itu perbuatanku? Kenapa aku begitu? Bagaimana bisa?" oceh Jina. "Kau itu 'kan berbeda," ucap Walter, dengan tubuh yang ia dudukkan di sofa single yang bersebelahan dengan sofa panjang yang Jina tiduri. "Berbeda bagaimana? Namanya manusia pasti berbeda-beda. Ah, mungkin maksudmu, aku berbeda karena aku bukan manusia maupun vampire," "Kau keduanya, tentu saja, ibumu manusia, ayahmu vampire. Tapi gen vampire jauh lebih dominan. Ditambah kau itu keturunan kerajaan. Kekuatan anggota keluarga kerajaan itu jauh lebih besar dari pada vampire biasanya. Dan ibumu sendiri, punya kelebihan yang tak biasa. Ayahmu vampire dengan kelainan, jadi yaa, terbentuklah kau yang seperti ini," celoteh Walter. Dia hampir saja bilang, dan terbentuklah monster sepertimu. "Jadi intinya apa?" tanya Jina, dengan posisi yang ia ubah jadi tengkurap. "Aku punya kelebihan yang lebih-lebih dari vampire lainnya, lalu punya sifat yang lebih gila dari manusia?" Walter terdiam. Oh, tidak disangka Jina sepintar ini. Setahunya ayahnya bodoh —untuk standar dirinya yang sangat pintar. "Yah, jauh lebih gila dari yang gila. Kau bahkan makan daging manusia," ucap Walter. Jina melebarkan matanya. "Bagaimana Paman bisa tahu?" "Apa yang tidak aku tahu?" "Paman sebelas dua belas dengan Tuhan ya?" "Hei, Tuhan tidak ada tandingannya, jangan sembarangan kau!" "Santai, kenapa nada suara Paman tiba-tiba meninggi? Aku 'kan hanya tanya," "Kau bisa santai ya dengan semua perbuatanmu. Memangnya kau tidak merasa bersalah sudah membunuh teman-temanmu?" Jina menggendikan bahu. "Tidak. Kenapa aku harus merasa bersalah? Bukannya aku memang begini? Memangnya harimau kalau makan rusa atau bahkan manusia, dia akan merasa bersalah? Anggap saja aku memang binatang buas, yang memang... itu makananku. Apa lagi yang aku bunuh, orang-orang yang menggangguku. Aku diganggu di sekolah! Apa Paman tahu? Paman bilang Paman tahu segalanya 'kan?" Walter terdiam. Jina tiba-tiba jadi emosional, bahkan ia bisa melihat mata Jina yang mendadak berkaca-kaca. Tapi ia kemudian melihat ke atas, dan membuang mukanya agar Walter tidak bisa melihat wajahnya. "Kalau Paman tahu aku dibully, jahat sekali," ucap Jina. "Kenapa?" tanya Walter. "Karena Paman hanya diam," Walter terdiam. Ia awalnya memang mau memberitahu Jino, tapi entah kenapa tidak ia lakukan. "Kau tahu kenapa warna iris matamu berubah sebelah? Itu karena kau membunuh bahkan memakan manusia," kata Walter mengalihkan topik pembicaraan. "Aku lebih sering tidak makan mereka kok, hanya menghisap darahnya sampai habis," balas Jina. "Yah, itu sama saja, kau sama-sama menghilangkan nyawa orang. Kalau kerajaan tahu, kau bisa dimusnahkan," "Kenapa? Bahkan meskipun aku anak dari seorang pangeran?" "Tidak peduli siapa kau, kalau berbahaya tidak akan dibiarkan hidup. Ayahmu dulu juga sudah dimusnahkan, kalau saja bukan karena berkat bantuan batu merah yang sekarang ada di tubuhmu," Jina mengernyit. "Aku tidak mengerti," "Ayahmu tidak pernah memberitahu?" tanya Walter, yang Jina balas dengan gelengan. "Hah, ya ampun. Kau hampir mati saat baru lahir, batu merah itu sebenarnya sudah menempati tiga tubuh saat ini. Tubuh ayahmu, lalu ibumu, karena ibumu juga pernah mati sebelumnya, sebelum melahirkanmu. Dan terakhir kau. Anggap saja itu batu kehidupan. Kalau untuk seorang vampire murni, dia bisa menjadi manusia seutuhnya dengan batu itu, untuk manusia, batu itu bisa digunakan sebagai jantung. Kalau untukmu, dia hanya jadi seperti alat atau mesin untuk tetap bertahan hidup," tutur Walter. "Tapi batu merah, sebenarnya tidak bisa ditempati di tubuh orang jahat. Dia akan berubah menjadi hitam, sama seperti hati manusia, yang akan berubah jadi hitam sedikit demi sedikit kalau mereka berbuat dosa. Tapi jelas, batu merah beda dengan hati. Noda dari dosa yang kau lakukan, akan mencorak fisikmu juga. Tidak hanya batu merah itu," Jina tercenung. Kenapa dia baru tahu? Ayahnya tidak pernah bilang apapun. "Aku tidak tahu kenapa ayahmu jadi sangat cuek padamu," ucap Walter. "Aku sendiri saja terkejut," Jina tiba-tiba beranjak berdiri sembari mengambil tasnya. "Kau mau kemana?" tanya Walter. Jina tidak menjawab. Beberapa detik kemudian dia menghilang menggunakan teleportasinya. Walter menghela napas sembari memejamkan matanya. Jina pasti mau berbuat sesuatu yang berbahaya, dia harus menyusul dan mencegahnya. Tapi bagaimana dengan Jiles? Dia tidak bisa ditinggalkan sendiri di sini, apa lagi dengan kondisi mentalnya yang sedang berantakan. ••• Jina tertawa sembari mengayunkan sebuah tangan yang baru terpisah dari tubuhnya. "Selamat bergabung dengan anak kalian. Untung kalian menyebalkan, jadi aku punya alasan melampiaskan marahku pada kalian," ujar Jina, lalu melempar tangan itu ke sembarang arah. "Ayahku menyebalkan sekali. Dia sebenarnya peduli atau tidak padaku? Sekarang aku sudah terlanjur begini, fisikku sudah hancur begini. Jadi sekalian sajakan? Haha," Jina mengusap pipinya yang baru dialiri air mata, menggunakan telapak tangannya yang penuh darah, membuat wajahnya jadi kotor. "Setelah ibuku meninggal, hidupku jadi berantakan. Tapi ibuku juga tidak pernah memberitahuku tentang hal ini. Sebenarnya kenapa orang-orang hanya diam sih?!" duk! Jina menendang tubuh yang sudah kehilangan anggota tubuhnya. "Tapi... hei, aku ini berbeda, aku kuat, dan punya kekuatan yang tidak dimiliki siapapun. Seperti menyumpah seseorang, dan sumpahku bisa jadi nyata. Itu kerenkan? Aku bisa saja bahagia dengan itu, aku bisa bahagia dengan caraku, meskipun aku sudah begini, aku tidak akan disakiti orang lagi," Jina kemudian menatap pantulannya di kaca besar yang dimiliki salah satu orang tua anak yang kepalanya meledak di sekolah tadi pagi. Dengan alibi mau mengucapkan bela sungkawa, akhirnya Jina bisa masuk ke dalam rumah, dan melakukan hal yang menurutnya menyenangkan. Sekarang setengah tangan dan wajahnya sudah berubah jadi hitam, benar-benar jadi hitam, layaknya ia menggunakan topeng.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD