Jiles berusaha bangkit berdiri dengan susah payah, ia ingin segera pergi dan kabur dari Jina. Apa lagi melihat bagaimana gadis itu tersenyum miring dengan sangat mengerikan.
Jiles tidak mengerti Jina memang manusia yang berbeda, atau manusia biasa. Dia tampak berbeda dan menyeramkan selayaknya monster.
Tidak hanya fisiknya yang mengerikan, tapi rupanya perilakunya pun sama mengerikannya dengan fisiknya.
"Hei, bukankah kau sedang mencari teman? Bagaimana kalau kau berteman denganku? Aku juga tidak punya teman," ujar Jina sembari menatap santai Jiles yang tengah ketakutan.
Jiles akhirnya berhasil berdiri, meskipun lututnya terasa lemas dan kesulitan untuk menopang berat tubuhnya sendiri. Tanpa menoleh ke belakang, ia berlari hendak keluar dari ruangan olah raga. Namun belum sampai kakinya berhasil mencapai pintu keluar, tubuhnya sudah ambruk lebih dulu.
Bruk! Jina langsung tertawa melihat Jiles yang jatuh dengan posisi telungkup. Gadis bersurai panjang, lurus, dengan telinga yang penuh tindikan itu, berjalan perlahan menghampiri Jiles.
Jiles memutar balik tubuhnya jadi telentang dan hendak bangkit berdiri, tetapi sayang Jina sudah lebih dulu sampai di depannya. Gadis itu lalu menjatuhkan tubuh di atas tubuh Jiles, membuat ia terkejut dan hanya bisa mematung dengan mata melebar.
"Mau kabur kemanapun, aku akan tahu kau dimana, karena aku mengikatmu," ucap Jina sembari meraih dagu Jiles dengan satu tangan.
Ia kemudian mendekatkan wajahnya pada Jiles, yang membuat Jiles otomatis memejamkan matanya, tidak sanggup melihat wajah seseorang dari jarak sangat dekat.
Jina menarik turun dagu Jiles hingga mulutnya terbuka, ia lalu menempelkan bibirnya di atas bibir Jiles, yang membuat Jiles membelalakan matanya.
Jina menciumnya? Pikirnya.
Namun sesuatu yang lebih mengejutkan terjadi, Jiles bisa merasakan ada sesuatu yang memasuki tubuhnya lewat mulut. Jina menyalurkan sesuatu dari mulutnya ke mulut Jiles.
Sesuatu yang terasa berat dan panas saat melewati tenggorokan Jiles.
Jiles tidak tahan dengan rasa sakit itu, ia pun mendorong tubuh Jina untuk menjauh darinya. Namun tubuhnya malah tertarik ke depan, saat tubuh Jina mundur karena dorongannya. Ia kemudian memegangi lehernya yang terasa tercekik, dengan mulut terbuka.
Ia mengernyit, melihat adanya rantai dengan kabut berwarna hitam mengitarinya, keluar dari mulutnya. Namun beberapa saat kemudian, rantai itu hilang, bersamaan dengan menghilangnya rasa sakit di tenggorokan dan tubuhnya.
"A-apa yang kau lakukan?" tanya Jiles dengan terbata.
Jina tidak menjawab, ia bangkit berdiri sembari menyampirkan tasnya di bahu.
"Kau berpikir untuk kabur dariku 'kan?" ucap Jina kemudian sembari melangkahkan kakinya hendak keluar dari ruang olah raga.
"Tapi sepertinya... kau harus membuang pikiran itu, karena itu tidak akan pernah terjadi. Kemanapun kau pergi, aku akan tahu. Anggap saja, sekarang itu kau sudah jadi milikku." Sambung Jina, sebelum akhirnya ia benar-benar pergi meninggalkan Jiles.
Bruk! Tubuh Jiles ambruk ke lantai, ia kemudian menatap langit-langit ruang olah raga, dengan tatapan kosong.
Jina itu sebenarnya apa? Dan apa maksudnya? Batin Jiles.
•••
"Aku pulang," ucap Jina sembari meletakan tasnya di atas sofa. Tidak ada yang menjawab. Ia pikir, Jino mungkin tidak pulang lagi hari ini.
Ia pun ke dapur untuk mengambil minum, namun rupanya sosok ayahnya ada di sana dan tengah sibuk menyiapkan makan malam, yang membuatnya berdecak.
Bukannya bersorak senang, karena sang ayah ada di rumah.
"Ayah kenapa memasak? Tidak sadar diri juga, betapa buruknya rasa masakan ayah itu?" tutur Jina.
"Ck, kau ini kenapa selalu tidak sopan pada ayahmu sendiri sih? Apa karena tampang ayah sama seperti anak seusiamu? Ayah 'kan hanya mau terus berusaha membuatkan makanan enak untukmu," sahut Jino.
"Tapi nyatanya itu selalu gagal, dan hanya buang-buang bahan," timpal Jina.
"Ayah pastikan, yang kali ini enak. Ada seseorang yang sudah mengajarkan ayah masak dengan baik,"
Tak! Gelas yang baru Jina ambil dari rak, langsung ia hantamkan cukup keras di meja, untungnya gelas tersebut tidak sampai pecah.
"Ayah punya pacar?" tanya Jina dengan nada dingin.
Jino terdiam sejenak, tampak tidak ingin membantah, namun ragu juga untuk jujur.
Jina kemudian tertawa sinis sejenak, kemudian berhenti untuk menghela napas.
"Jadi benar?" gumam Jina.
"Ti-tidak... ayah hanya baru dekat dengannya, dan ayah pikir dia bisa menjagamu dengan baik,"
Jina menendang kursi meja makan, dan akhirnya membanting gelas yang ada di tangannya ke lantai hingga pecah.
"Jadi ayah sudah melupakan ibu?!" seru Jina tak terima.
"Jina, apa yang kau katakan? Ayah tidak pernah melupakan ibu, ayah hanya ingin ada seseorang yang merawatmu kalau ayah sudah tidak ada," tutur Jino.
"Aku tidak butuh! Lagi pula ayah vampire 'kan? Seharusnya hidup ayah panjang!"
"Ayah bukan lagi vampire seperti itu. Kau tahu sekarang ayah punya jantung seperti manusia, ayah tidak akan lama,"
"Meskipun ayah mati, aku tidak mau posisi ibu digantikan siapapun. Aku sudah bilang, aku akan cari cara agar ibu bisa kembali bangun, jadi ayah tidak perlu melakukan itu,"
"Jina! Kau gila?! Ibu sudah tidak bisa dihidupkan lagi. Lagi pula kau pikir kau Tuhan yang bisa melakukan itu?"
"Bukannya ayah yang cerita, kalau kalian berdua itu berkali-kali hidup-mati, tandanya memang bisa dong ibu dihidupkan lagi,"
Jino menggelengkan kepalanya frustasi. "Tidak bisa Jina. Tubuh ibu bahkan sudah hancur, hanya tinggal tulang. Karena dia memang sebenarnya sudah mati, meskipun dia sempat bisa hidup lagi,"
Jina mengibaskan tangannya. "Terserah apa kata ayah, yang jelas siapapun pacar ayah akan aku habisi, dan aku akan berusaha membuat ibu bangun lagi. Kalau sampai perlu mengorbankan banyak nyawa orang lain, akan aku lakukan,"
Jina kemudian melengos pergi dari dapur, sebelum Jino sempat menjawab perkataannya.
Jino menghela napas frustrasi. Tidak ada yang salah dengan Jina mencintai ibunya, tapi kalau sampai seperti ini, bagaimana?
•••
Jiles terus memegangi lehernya, selama perjalanan pulang ke rumahnya. Dia masih bertanya-tanya, apakah benar-benar ada rantai yang masuk ke tubuhnya tadi?
Jiles menggembungkan pipinya, sembari menjalankan skuternya lebih cepat. Ia ingin segera sampai ke rumah dan istirahat, tubuh serta pikirannya lelah sekali hari ini.
Jiles tiba-tiba teringat, dengan perkataan Jina yang mengatakan mereka sebelumnya sudah pernah bertemu. Dulu ia memang sepertinya pernah memergoki seorang anak perempuan yang makan daging mentah, tapi ingatan itu agak samar-samar. Dan seingat Jiles, anak perempuannya punya warna iris mata yang normal.
Saat sedang melewati gang-gang perumahan, Jiles tiba-tiba melihat melalui ekor matanya, sekelebat orang yang berlari-lari di setiap ujung gang. Larinya sangat cepat, dan berpindah-pindah.
Jiles seketika merinding, dan otomatis menelan ludahnya. Sekarang sudah malam, perumahannya tempatnya tinggal memang jadi sangat sepi. Yah, tapi sebenarnya meskipun siang hari juga sama. Karena dia tinggal di perumahan orang kaya, yang jarang ada anak kecilnya.
'Masak ada hantu?' batin Jiles.
Jiles semakin mempercepat laju skuternya, namun tiba-tiba sebuah kaki menahan bagian depan roda skuternya, hingga skuternya langsung berhenti.
Jiles mematung, dan spontan menundukan kepala, tidak mau melihat ke depan. Takut ada hal yang mengerikan di depannya.
"Han Jiles, kenapa takut? Aku bukan hantu kok. Ayo, angkat kepalamu," Jiles mengernyit saat mendengar suaranya.
'Suaranya... kenapa seperti suaraku?'
Didorong rasa penasaran, Jiles akhirnya mengangkat kepalanya secara perlahan. Dan sontak matanya membelalak melihat siapa pemilik kaki yang sudah menahan skuternya.
Bruk! Jiles jatuh dari skuternya, menatap seseorang dalam balutan serba hitam itu, dengan pandangan shock serta takut. Ia kemudian buru-buru bangkit berdiri, dan lari secepat yang ia bisa untuk menghindari seseorang yang memiliki paras benar-benar persis dengan dirinya.