03

912 Words
"Ki-kita harus beritahu tentang ini ke kepala sekolah," gumam Jiles dengan nada lirih. Keringat tampak mengucur deras dari keningnya, dan turun ke pelipis serta wajahnya. Dia benar-benar takut, perutnya terasa bergejolak, hingga rasanya ingin muntah. Jina menarik ke atas sudut bibirnya, ia yang sebelumnya berlutut di sebelah Jiles, bangkit berdiri dan mendekati jasad siswi tersebut. Jina kemudian mengangkat ember berwarna putih itu agar berdiri, dan kembali memasukan jasad siswi tersebut ke dalamnya dengan tangan kosong. "Kau tahu tidak? Dia ini punya pikiran yang buruk," ucap Jina dengan nada pelan. "Dia banyak menyimpan fotomu, dan menjadikanmu objek fantasinya. Mengerikan bukan?" Jiles mengernyit, bagaimana mungkin Jina bicara tentang hal itu dengan mudahnya, seolah apa yang dibicarakannya, bukanlah hal tabu, dan hanya obrolan biasa. Terlebih, dia bicara di depan seseorang yang sudah tiada, dengan cara mengenaskan pula. Sangat tidak bermoral. Batin Jiles. 'Hwang Jina mengerikan, meskipun dia cantik,' batin Jiles. "Jangan salah, perempuan pun bisa melakukan apa yang laki-laki lakukan di zaman sekarang. Jadi... hati-hatilah, bocah." Tutur Jina, sembari bangkit berdiri, setelah baru menutup ember yang sudah terisi kembali itu, dengan tutupnya. "Kita harus lapor! Tidak bisa dibiarkan!" seru Jiles, mengabaikan semua omongan Jina yang baginya hanya omong kosong. "Kau mau cari gara-gara denganku, hah?" Jina berkata dengan nada datar dan dingin, yang membuat Jiles seketika merinding. Padahal... masak iya Jina mau membunuh orang? Pikir Jiles. Tapi... entah kenapa terasa memungkinkan untuk Jina melakukan itu. "Tutup saja mulutmu, jangan banyak tingkah," ucap Jina dengan kedua tangan terlipat di depan d**a. "Ta-tapi kenapa kau tidak mau hal ini diberitahu pada kepala sekolah? I-ini hal penting!" "Aku pikir kau pintar," Jiles seketika tercenung. Dia awalnya masih tidak mengerti maksud Jina, hingga beberapa saat, ia akhirnya mengerti maksud gadis itu. Tubuh Jiles seketika menegang dengan bulu kuduk yang meremang. "Ka-kau yang me-melakukan ini?" tanya Jiles dengan gemetaran. "Menurutmu?" Jiles ingin mengatakan 'tidak mungkin', namun malah tidak ada yang keluar dari mulutnya. Ia terlalu shock, kebingungan, dan merasa tidak percaya. Sampai akhirnya kepalanya mulai terasa pening, dan seolah semuanya jadi berputar-putar. Bruk! Jiles pun pingsan. Jina menatap datar anak laki-laki itu, ia memilih membereskan kekacauan yang Jiles lakukan terlebih dahulu —padahal itu ulahnya, yang sudah mendorong Jiles—. Jina mengembalikan barang-barang yang jatuh ke tempat semula, terutama wadah-wadah berisi jasad para siswa-siswi. Sebelum akhirnya pergi dari gudang, dan meninggalkan Jiles sendiri. ••• Hari sudah larut. Jiles baru bisa pulang karena ia ada kelas tambahan. Selagi membereskan barang-barangnya, Jiles sambil menanggapi teman-temannya yang pamit untuk pulang duluan. Jiles menghela napas. Dia masih tidak percaya kalau Jina penyebab dari kematian siswi yang ada di dalam ember cat itu. Dia bahkan berharap itu hanyalah mimpi. Namun saat ia bangun dari pingsan, posisinya masih sama ada di dalam gudang, hanya saja tidak ada Jina. Ia meninggalkannya sendiri. Beberapa lampu kelas dan lorong sudah mati, Jiles sebenarnya sedikit merinding berada sendirian di sekolah sekarang. Ia akhirnya mempercepat aktifitasnya beres-beres. Setelah selesai, Jiles mengenakan tas ranselnya dan bergegas keluar kelas. Jiles berusaha berjalan cepat untuk keluar dari sekolah. Namun langkahnya malah mendadak terhenti di depan sebuah gudang. Ia seperti mendengar suara-suara dari dalam sana. Jiles merinding, tapi juga merasa merasa penasaran. Ia akhirnya berjongkok, kemudian mendekati gudang. Jiles memposisikan dirinya tepat dibawah jendela, lalu dengan hati-hati mengangkat tubuhnya sedikit hingga matanya sampai ke jendela. Matanya membulat melihat ada seseorang di dalam gudang, dengan kondisi bersimbah darah, dan di sampingnya terdapat seorang gadis yang sedang mengiris daging lengannya, lalu meminum darah yang mengucur dari tubuh orang itu. Sadar ada orang lain, gadis itu menolehkan kepalanya ke jendela, membuat pandangannya seketika bertemu dengan mata Jiles. Jiles terkejut sampai ia terjatuh, buru-buru ia berdiri lalu berlari. Ia pikir ia tidak akan dikejar, tapi tak lama ia mendengar bunyi langkah di belakangnya yang begitu cepat. Sontak membuat Jiles mempercepat laju larinya. Dengan di landa kepanikan dan bingung, Jiles masuk ke ruang olah raga yang untungnya tidak dikunci. Jiles lalu bersembunyi di belakang keranjang bola yang cukup besar. Keringat mengucur deras dari kening Jiles. Ia memeluk erat kedua kakinya, saat mendengar suara langkah di dalam ruangan olah raga. "Han Jiles?" panggil gadis itu. Srek. Jiles sontak menutup matanya, saat keranjang bola digeser. Gadis yang baru menggeser keranjang bola itu berdecih lalu tertawa meremehkan, sembari menekuk lututnya di depan Jiles. Jina kemudian meraih kasar dagu Jiles, hingga matanya otomatis terbuka. Ia menatap Jina ketakutan, sampai-sampai matanya bergetar. "Hidupmu tidak akan aman lagi sekarang," ucap Jina sembari menekuk satu kakinya di depan Jiles. "Ja-jadi benar kau yang melakukan semua itu?" tanya Jiles dengan keberanian yang susah payah ia kumpulkan. "Apa aku pernah membantah?" balas Jina. "Justru aku malah memberitahumu kan? Tapi kau sendiri yang tidak percaya," Jiles menelan ludahnya. "A-aku tidak... aku tidak menyangka..." "Apa aku terlihat seperti orang baik?" tanya Jina, tapi bukannya menjawab, Jiles malah balik bertanya. "Kenapa kau memberitahuku?" "Eum, kenapa ya?" gumam Jina sembari mengusap sisa darah di sekitar bibirnya menggunakan ibu jarinya. "Mungkin... karena kau bisa menjaga rahasia. Bahkan kau tidak bilang siapapun waktu bertemu seorang anak perempuan yang makan daging mentah. Haha, itu agak menggelikan sih kejadiannya, tapi aku sama sekali tidak bisa melupakan anak laki-laki yang sudah memergokiku seperti sekarang," tutur Jina. Jiles menelan ludahnya. "Kau pikir aku akan terus menjaga rahasia? Aku akan memberitahunya pada orang-orang!" "Silahkan, kalau kau besok mau tinggal nama," Jiles menatap horror Jina yang tersenyum lebar, seolah apa yang ia katakan tadi, bukanlah suatu ancaman yang mengerikan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD