02

1014 Words
Jiles menatap Ayahnya yang tampak buru-buru untuk pergi bekerja, padahal dia sama sekali belum menyentuh sarapannya. "Ayah, tidak sarapan dulu?" tanya Jiles, seusai ia menelan makanan yang berada di mulutnya. "Ayah tidak sempat, ayah harus buru-buru pergi," sahut pria jelang senja tersebut. "Setidaknya makanlah sedikit, ayah hanya baru minum kopi," ucap Jiles, mencoba membujuk. Namun ayah menggelengkan kepala sebagai jawaban. "Kau 'kan bukan anak kecil lagi, apa harus makan saja masih ditemani?" kata ayah. "Ayah tidak pernah menemaniku makan," balas Jiles. Ayah bungkam, dan tidak memberi respon lagi. Ia terdiam sejenak, sembari mengenakan tas selempangnya. Jiles kira ayahnya akan berubah pikiran, namun ia malah melengos pergi tanpa berkata apapun. Jiles mendengus, sembari memasukan daging yang dipotong dadu, serta nasi ke dalam mulutnya. Selalu saja sendirian, entah di rumah, maupun di sekolah. Jiles hanya tinggal dengan Ayahnya, Ibunya sudah meninggal saat melahirkan dirinya. Ayahnya seorang kepala rumah sakit, dan sangat sibuk. Selain itu dia juga katanya punya bisnis lain, yang Jiles tidak tahu apa. Jiles punya kepribadian introvert, dia sangat tertutup, dan sangat kesulitan untuk bergaul. Di sekolah, Jiles hanya bicara dengan beberapa orang tertentu, itu pun tidak terlalu akrab. Di matanya, semua orang tampak mengerikan, dan membencinya. Sekarang sudah masuk tahun kedua di SMA, Jiles sebenarnya ingin berubah. Dia ingin punya teman akrab, meskipun hanya satu. Tapi untuk makan bersama seseorang saja, dia tidak bisa. Perutnya akan terasa mulas, dan lama-lama dia jadi mau muntah. Untungnya tidak pernah ada yang membully Jiles. Mereka hanya mengabaikannya, tapi tidak menyakitinya. "Hah..." helaan napas keluar dari mulutnya. 'Dicoba dululah, siapa yang tahu jadinya akan seperti apa kalau belum dicoba,' batin Jiles. ••• Jina membakar ujung rokoknya, sebelum menghisapnya, dan menghembuskan asapnya lewat mulut dan hidung. Padahal sebentar lagi gerbang sekolah akan ditutup, tetapi Jina masih santai-santai, bahkan sepertinya tidak berniat beranjak sama sekali dari tempatnya duduk sekarang. Ia saat ini tengah berada di bagian samping gedung sekolah, dan duduk di atas gundukan semen yang melingkari sekolah. Sementara itu, ia tidak menyadari kalau ada seorang anak laki-laki berseragam sama dengannya, tengah memperhatikannya dari jauh. Anak laki-laki itu membatin. 'Itu anak dari kelas lain, yang sering jadi bahan tertawaan teman-temankan? Sepertinya dia tidak punya teman juga sepertiku,' batin anak laki-laki itu. Ia kemudian menjalankan skuternya, hendak mendekati gadis dengan warna iris yang berbeda itu, namun terhenti, karena melihatnya tiba-tiba didatangi segerombol anak laki-laki. Mereka datang untuk merebut rokok yang sedang dihisap gadis berambut lurus, panjang itu. Mereka juga mendorong tubuhnya, dan memukul kepalanya. Anak laki-laki yang sedari tadi memperhatikan bergidik. Keterlaluan, masak anak perempuan dipukul? Batinnya. Tapi mau membelanya pun, dia takut. Saat suara bel berbunyi, gerombolan anak laki-laki itu baru pergi mengganggu. Jiles, anak laki-laki yang sedari tadi memperhatikan, akhirnya baru berani mendekati anak perempuan yang diganggu tadi. Ia turun dari skuternya, dan mendekati Jina yang sedang membersihkan pipi kanannya yang sempat ditendang. Sepatu orang yang menendangnya sangat kotor, sampai kotorannya berpindah ke wajah Jina. "Kau tidak apa-apa? Apa perlu ke UKS? Biar aku antar," ujar Jiles sembari berjongkok di depannya. Namun Jina malah menatapnya tajam, kemudian bangkit berdiri, seolah Jiles tidak pernah ada di depannya. Jiles akhirnya ikut berdiri, dan tidak menyerah untuk menawarkan bantuan. "Kau tidak apa-apa? Mau aku antar ke UKS?" "Hei, berhenti bicara denganku pengecut," Jiles seketika bungkam, begitu Jina buka suara. Jina menghela napas, dengan mata menjeling pada Jiles. "Hanya berdiri dan memperhatikan, kau benar-benar muka tembok kalau tidak terima aku katai pengecut." "A-aku minta maaf," ucap Jiles lirih. "Aku tidak bermaksud hanya diam, tapi aku..." "Tapi kau pengecut," sambar Jina. Jina kemudian melangkah pergi meninggalkan Jiles yang mematung. ••• Cklek, Jina hanya terdiam, sembari memandang isi lokernya tanpa ekspresi. Dia tidak terkejut, meskipun lokernya dipenuhi sampah sampai baunya jadi tidak sedap. Ini bukan yang pertama, atau bahkan kedua kali, tapi entah sudah yang keberapa kali. "Ugh, Jina, ada apa dengan lokermu? Kau jorok sekali," komentar orang yang berlalu lalang di belakangnya, sambil tertawa. "Bersihkan dong..." "Sudah cacat, jorok lagi, apa sih kelebihanmu?" "Membuat sampah," Jina hanya diam. Mereka tidak tahu, kalau Jina seolah punya mata di belakang kepalanya, yang bisa melihat siapa saja yang tadi sudah berkomentar seperti itu padanya. Jina melepas tas ransel yang ia kenakan, lalu mengeluarkan kantung plastik dari saku di sisi kanan tasnya. Ia mulai membersihkan lokernya, tanpa mengeluarkan suara apapun. Ia tidak menyadari, ada seorang anak laki-laki dengan poni kotaknya, yang sedang memperhatikannya, sembari mencengkeram erat tali tasnya. Dia mau menghampiri dan membantu, tapi lagi-lagi, nyalinya terlalu kecil untuk melakukan itu. Takut juga bantuannya akan ditolak. Namun keraguannya untuk mendekat, seketika hilang saat melihat ada seseorang dari belakang yang hendak melemparkan tong sampah pada kepala Jina. Jiles, anak laki-laki dengan poni kotak itu, langsung berlari menghampiri Jina, dan mendorong orang yang hendak melemparkan tong sampah tadi. "Hei, apa-apaan kau?!" seru orang itu tidak terima, Jina sendiri terkejut, dan sontak berbalik badan. Ia menatap Jiles yang saat ini gemetaran, dan hanya mematung di tempat. Padahal dia harusnya kabur, karena pasti akan diserang balik. "Hei, Jiles, beraninya kau!" Jina berdecak, ia langsung meraih tangan Jiles dan mengajaknya untuk berlari pergi. ••• Brak! Jina melempar Jiles begitu saja, setibanya di gudang sekolah, hingga punggung Jiles menubruk barang-barang. Beberapa barang pun menggelinding jatuh, termasuk sebuah ember bekas cat, yang jatuh sekaligus terbuka tutupnya. Jiles yang sebelumnya sedang fokus pada rasa sakit di punggung dan bahunya, langsung mengalihkan pandangannya pada ember bekas cat, karena suaranya yang paling berisik saat jatuh, dibandingkan barang lain. Mata Jiles melebar melihat sesuatu yang keluar dari dalam ember, ia langsung hendak membuka mulutnya untuk berteriak, tetapi Jina langsung berlari ke arahnya, dan menutup mulutnya. "Jangan berisik! Kau mau kita ketahuan ada di sini?" tutur Jina dengan nada berbisik. Jiles menatap Jina dengan mata berair dan bergetar karena ketakutan. Jari telunjuk kanannya menunjuk ember bekas cat serta apa yang baru keluar dari dalamnya dengan tangan gemetaran. "Iya, memangnya ada apa dengan itu?" respon Jina santai. Jiles menatap Jina dengan tatapan tidak percaya, bagaimana bisa ia sesantai itu? Padahal ada mayat seorang siswi yang keluar dari dalam ember tersebut. Kondisinya sangat mengenaskan, kurus kering tinggal kulit dan tulang, serta darah yang mengotori seragamnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD