Mereka makan dalam keheningan yang tenang, bukan canggung. Sendok Adrian bergerak pelan, teratur, seolah ia benar-benar memberi waktu pada setiap suapan. Naumi duduk di seberangnya, sesekali melirik, lalu kembali menunduk, menikmati momen sederhana yang terasa terlalu hangat untuk situasi mereka.
Adrian menghentikan gerakan tangannya sejenak.
“Bu Ratna di mana?” tanyanya pelan.
Naumi mendongak. “Bunda lagi istirahat di kamar, Mas. Tadi Bunda sudah makan lebih dulu. Aku bikinin yang ringan.”
Adrian mengangguk kecil. “Bagus. Biar beliau nggak kecapekan.”
Ia kembali menyuap makanannya, tetap dengan ritme yang sama—pelan dan sangat tenang. Naumi memperhatikannya lebih lama kali ini. Ada kegelisahan kecil yang mulai mengganggu dadanya.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Naumi berani bicara.
“Mas…,” ucapnya ragu.
Adrian mengangkat pandangan. “Iya?”
Naumi menarik napas. Tatapannya langsung bertemu mata Adrian. “Maaf… makanannya nggak enak, ya?”
Adrian terhenti. Sendoknya berhenti di udara.
Ia menatap Naumi, sungguh-sungguh. “Kenapa kamu tanya begitu?”
“Mas makannya pelan sekali,” jawab Naumi jujur. “Aku takut Mas nggak suka.”
Adrian menggeser pandangannya, lalu menaruh sendoknya perlahan. “Enak, Naumi,” katanya tenang. “Sangat-sangat enak. Saya suka.”
Naumi membeku sesaat. “Beneran, Mas?”
“Iya,” jawab Adrian tanpa ragu sedikit pun.
Wajah Naumi langsung memerah. Ia menunduk, tersenyum kecil, lega. “Syukurlah.”
Adrian melanjutkan makannya. Kali ini, langkahnya sedikit lebih pasti. Setelah beberapa suapan, ia kembali bicara, suaranya lebih rendah, seolah sedang membuka kenangan yang jarang ia sentuh.
“Waktu saya kecil,” katanya pelan, “ibu saya selalu masak sendiri.”
Naumi menoleh. “Ibu Mas?”
Adrian mengangguk. “Beliau nggak pernah percaya masakan orang lain. Katanya, tangan sendiri punya rasa.”
“Rasa apa?”
“Rasa pulang,” jawab Adrian singkat. “Ayah saya pulang malam hampir setiap hari. Tapi ibu selalu menunggu. Berharap suaminya pulang dan makan masakannya. Tapi yang lebih sering ada cuma saya. Tapi ibu nggak kecewa, selalu masak menu baru setiap harinya.”
Naumi mendengarkan tanpa menyela. Dadanya menghangat.
“Masakan kamu…” Adrian berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “ngingetin saya ke sana.”
Naumi tersenyum, kali ini lebih dalam. “Aku cuma masak seadanya, Mas.”
“Justru itu,” jawab Adrian.
Setelah beberapa lama, makan siang mereka berakhir tanpa tergesa. Naumi berdiri lebih dulu, mengumpulkan piring-piring, menutup lauk yang tersisa ke dalam wadah.
“Mas, duduk aja,” katanya lembut. “Aku beresin.”
Namun Adrian ikut berdiri. Ia mengambil beberapa piring dari meja tanpa berkata apa-apa.
“Mas,” Naumi tersenyum kecil, “biar aku aja.”
Adrian tidak menjawab. Ia hanya melangkah ke dapur, senyum tipis terbit tanpa ia sadari.
Naumi menghela napas kecil, lalu menyusul.
Di dapur, Adrian mulai mencuci piring. Gerakannya cekatan, air mengalir tenang. Naumi berdiri di sampingnya, mengambil piring lain.
“Mas, serius, aku bisa—”
Kalimat itu terputus.
Lantai yang sedikit licin membuat kaki Naumi terpeleset. Tubuhnya oleng ke depan.
“Ah—!”
Dalam sepersekian detik, Adrian menoleh dan langsung meraih tubuh Naumi, menariknya ke dalam pelukannya.
Prang!
Piring di tangan Naumi terlepas dan pecah berhamburan di lantai.
Tubrukan itu terjadi begitu cepat hingga keduanya tidak sempat menyadari detailnya.
Naumi terhenti di d**a Adrian, tubuhnya melengkung sedikit karena tertahan oleh lengan pria itu. Tangannya refleks mencengkeram kemeja Adrian, sementara tangan Adrian melingkar di punggungnya, menahan agar ia tidak jatuh. Dunia seolah berhenti di sana—di jarak yang lenyap, di napas yang saling bertabrakan.
Dan tanpa mereka sadari, bukan hanya tubuh yang saling menempel.
Bibir mereka pun bertemu.
Bukan ciuman yang disengaja. Hanya sentuhan singkat—terlalu singkat untuk disebut pilihan, terlalu nyata untuk diabaikan.
Naumi melebarkan mata. Otaknya seperti tersendat, gagal mencerna apa yang baru saja terjadi. Hangat. Dekat. Terlalu dekat. Ia bisa merasakan detak jantung Adrian, napasnya yang tertahan sesaat, dan kesadaran yang menghantam tanpa peringatan.
Adrian membeku sepersekian detik—cukup lama untuk menyadari, cukup cepat untuk menahan diri.
Naumi menarik napas pendek dan buru-buru mengalihkan pandangan, pipinya memanas hebat. “M-mas… maaf,” katanya gugup sambil melirik lantai. “Piringnya jadi pecah semua.”
Adrian berdeham pelan. Baru sekarang ia sadar posisi mereka masih terlalu dekat. Dengan gerakan hati-hati, ia membenarkan posisi Naumi—membawa tubuh gadis itu yang tadinya melengkung karena tertahan, kini berdiri tegak sempurna.
“Nggak apa-apa,” ucapnya rendah, kembali tenang meski dadanya belum sepenuhnya demikian. “Kita bereskan saja.”
Ia melangkah setengah langkah mundur, memberi jarak. “Aku ambil sapu dulu.”
Naumi mengangguk cepat. “A-aku ambil pel, Mas.”
Mereka bergerak bersamaan.
Dan kembali—bahu mereka bertabrakan ringan.
“M-Mas… Mas,” ucap Naumi gugup, wajahnya merah sampai ke telinga.
Adrian terhenti, lalu—untuk pertama kalinya—sudut bibirnya terangkat. Senyum kecil. Tipis. Gemas, melihat Naumi yang salah tingkah, rambut panjangnya tergerai berantakan.
“Pel di situ,” katanya pelan, menahan senyum itu agar tidak terlalu kentara.
Naumi mengangguk cepat, lalu bergerak ke sudut dapur. Ia mengambil pel dan mulai membersihkan lantai dengan gerakan sedikit terburu-buru. Adrian kembali dengan sapu dan serokan. Mereka bekerja berdampingan, tidak saling menyentuh lagi, tapi kehadiran satu sama lain terasa lebih jelas dari sebelumnya.
“Maaf,” kata Naumi lagi, suaranya lebih pelan. “Aku ceroboh.”
“Piring bisa diganti,” jawab Adrian singkat. Nada suaranya protektif, tanpa menyalahkan.
Mereka menyelesaikan sisanya dalam diam. Naumi memeras pel, membersihkan sisa air, memastikan tidak ada serpihan tertinggal. Adrian mengumpulkan pecahan terakhir dan membuangnya. Sesekali pandangan mereka bertemu, lalu buru-buru teralihkan—kecanggungan manis yang sama-sama mereka sadari.
Setelah dapur rapi, Naumi menghela napas kecil. “Aku… mau ambil minum buat Bunda,” katanya, mencari alasan untuk menjauh.
“Iya,” jawab Adrian.
Naumi melangkah pergi dengan langkah cepat namun terkontrol. Baru setelah pintu kamarnya tertutup, ia bersandar di sana. Tangannya naik ke d**a, menekan ringan, merasakan detak jantung yang masih berlari tak karuan.
“Kenapa deg-degan begini sih,” gumamnya lirih, mencoba tersenyum pada dirinya sendiri.
Di luar kamar, Adrian berdiri sejenak di dapur yang kini sunyi. Ia menghela napas panjang, menatap titik kosong, menyadari bahwa momen barusan—singkat dan tak disengaja—meninggalkan jejak yang tidak mudah dihapus.