Bab15

1094 Words
Natasya mengaduk kopinya pelan, tapi tangannya gemetar halus. Kafe itu tenang, terlalu tenang untuk isi kepalanya yang riuh. Dari balik kaca besar, lalu lintas Jakarta bergerak seperti biasa, seolah hidup orang-orang tidak sedang jungkir balik seperti hidupnya. Ia mengangkat wajah saat Helene duduk di depannya. Perempuan itu selalu tampak rapi—terlalu rapi. Rambut tersisir sempurna, senyum tipis yang tak pernah benar-benar sampai ke mata. “Aku sudah ke rumah Adrian,” ucap Natasya tanpa basa-basi. Suaranya ditahan, tapi ada retak di sana. “Rumah khusus yang sekarang ditinggali dia.” Helene mengangguk pelan, seolah informasi itu bukan hal baru. “Aku ketemu mereka,” lanjut Natasya. “Gadis itu. Dan ibunya.” Ia menertawakan dirinya sendiri, getir. “Gadis kampung, Tante. Polos. Kelihatannya bahkan tidak mengerti apa yang sedang ia hadapi.” Helene mengangkat alis tipis. “Lalu?” “Dan tadi aku ke kantor Adrian,” suara Natasya merendah. “Aku lihat sendiri. Adrian… seperti sedang menimbang.” Kata itu membuat dadanya sesak. “Seolah hubungan kami yang bertahun-tahun ini bisa disejajarkan dengan pernikahan absurd yang terjadi dalam satu malam hujan.” Helene menyilangkan tangan di atas meja. Gesturnya santai, tapi penuh kontrol. “Terus aku gimana, Tante?” tanya Natasya akhirnya. Untuk pertama kalinya, nada itu bukan menuntut—melainkan takut. “Aku ini siapa di hidup Adrian sekarang?” Helene menyesap tehnya dengan tenang. Tidak terburu-buru. Tidak emosional. Seperti seseorang yang sudah memegang papan catur dan tahu bidak mana yang harus digerakkan. “Kamu tenang dulu, Natasya,” katanya lembut. Terlalu lembut. “Kepanikan tidak akan membantumu.” “Tapi Adrian—” “Adrian itu anak yang bisa keras kepala,” potong Helene pelan. “Apalagi kalau merasa ditekan. Kamu tidak boleh mendorongnya ke sudut.” Natasya mengepalkan jari di pangkuannya. “Jadi aku harus diam saja?” Helene tersenyum tipis. Senyum yang tidak ramah, tapi penuh keyakinan. “Tidak,” jawabnya. “Kamu hanya perlu bersabar dan bermain dengan cerdas.” Ia sedikit condong ke depan. “Tante akan pastikan Adrian mengajukan pembatalan nikah.” Napas Natasya tertahan. “Benarkah?” “Tentu,” kata Helene ringan. “Pernikahan itu tidak punya dasar kuat. Terjadi karena tekanan warga, bukan kehendak bebas. Secara hukum, sangat bisa digugurkan.” “Tapi Adrian—” “Adrian akan mendengarkan,” potong Helene lagi, kali ini dengan sorot mata yang lebih tajam. “Dia selalu begitu. Selama ini.” Natasya menatap perempuan di depannya, mencari celah. “Dan gadis itu?” Helene menyandarkan punggung, ekspresinya tenang. “Gadis itu hanya korban keadaan. Tapi korban pun, kalau dibiarkan terlalu lama, bisa berubah jadi masalah.” Ada jeda singkat. “Kamu jangan berhadapan langsung dengannya lagi,” lanjut Helene. “Itu tidak perlu. Serahkan pada Tante.” Natasya mengangguk perlahan. Dadanya masih sesak, tapi kini ada sesuatu yang lain—harapan yang bercampur licik. “Aku cuma nggak mau kehilangan Adrian,” ucapnya lirih. Helene tersenyum, kali ini lebih nyata—senyum seseorang yang merasa punya kendali penuh. “Dan Tante tidak akan membiarkan masa depan Adrian ditentukan oleh hujan dan salah paham.” Di luar, langit Jakarta mendung tipis. Tidak hujan. Belum. Tapi badai sudah jelas sedang disiapkan. ________________________________________ Adrian baru saja menutup pintu rumah ketika aroma masakan menyergap inderanya. Bukan aroma tajam atau mewah seperti hidangan restoran mahal yang biasa ia datangi, melainkan wangi sederhana—hangat, bersahaja, dan entah mengapa terasa akrab. Langkahnya melambat tanpa sadar. Jasnya masih melekat rapi di tubuhnya, jam tangannya berdetak tenang, tetapi ada sesuatu di dalam dadanya yang bergerak tidak sinkron. Ia berhenti di ambang ruang makan. Meja panjang itu telah terisi penuh. Terlalu penuh untuk ukuran dua orang. Ada beberapa piring lauk tertata rapi, sayur berkuah yang masih mengepulkan uap, sambal kecil di sudut meja, serta nasi putih yang tertutup tudung saji. Adrian tertegun, matanya menelusuri setiap detail seolah memastikan apa yang ia lihat bukan ilusi. Langkah kecil terdengar dari arah dapur. Naumi muncul sambil membawa mangkuk sup terakhir. Begitu melihat Adrian sudah berdiri di sana, tubuhnya tersentak. Mangkuk itu hampir saja terlepas dari tangannya. “M-Mas Adrian.” Adrian tidak langsung menjawab. Pandangannya justru tertuju pada mangkuk di tangan Naumi, lalu turun ke jemari gadis itu yang menggenggamnya erat, seolah takut melakukan kesalahan. Naumi menelan ludah. Dengan langkah cepat, ia meletakkan sup itu di meja, lalu menunduk sedikit, gelisah. “M-Maaf, Mas,” katanya terbata. “A-aku lancang. Aku mengolah makanan yang ada di kulkas tanpa izin. Aku cuma ingat siang ini Mas pulang. Jadi… aku pikir—” Kata-katanya terputus, seakan ia sendiri tidak yakin dengan keberaniannya barusan. Adrian menatapnya. Wajah Naumi pucat, matanya menyimpan kecemasan yang jujur. Bukan ketakutan berlebihan, melainkan rasa sungkan seseorang yang tidak ingin melangkahi batas. “Boleh saya makan?” tanya Adrian akhirnya. Naumi mendongak cepat, seolah tidak percaya dengan pertanyaan itu. Lalu ia mengangguk berkali-kali, terlalu cepat. “Boleh, Mas. Tentu boleh.” Ia segera mengambil piring, menyendok nasi dengan hati-hati, lalu meletakkannya di depan Adrian yang baru saja menarik kursi dan duduk. “Semua ini… bahkan punya Mas Adrian.” Tangannya tidak berhenti bekerja. Lauk ditata perlahan di atas piring, sayur disendok secukupnya, lalu air dituangkan ke dalam gelas. Setiap gerakannya rapi, tenang, tanpa kesan dibuat-buat. Adrian kembali terdiam. Di kepalanya, bayangan lain muncul tanpa diundang. Natasya. Dengan segala pesona dan kecerdasannya. Dengan dunia sosial yang selalu gemerlap. Adrian tahu, perempuan itu tidak pernah benar-benar masuk ke dapur—dan tidak perlu, setidaknya menurut standar hidup yang selama ini ia jalani. Tapi pemandangan di hadapannya sekarang… berbeda. Ia mulai makan. Begitu suapan pertama menyentuh lidahnya, langkah Adrian terhenti di tengah gerakan. Rasanya sederhana, tidak rumit, tapi tepat. Hangat. Jujur. Ada sesuatu di sana yang langsung menarik ingatannya jauh ke belakang—ke masa ketika ibunya masih hidup. Dapur kecil rumah lama. Ibunya yang selalu memastikan ayahnya makan dengan tenang sepulang kerja. Bukan karena kewajiban, tapi karena cinta yang diekspresikan lewat hal-hal kecil yang sering diremehkan. Tanpa ia sadari, napas Adrian melambat. Jauh di alam bawah sadarnya, ada keinginan lama yang selama ini ia kubur rapi—keinginan untuk pulang ke rumah yang terasa seperti rumah, bukan sekadar tempat singgah. Saat itulah ia menyadari sesuatu yang lain. Naumi tidak ikut duduk. Gadis itu berdiri sedikit menjauh, kedua tangannya saling menggenggam, menunggu tanpa benar-benar tahu apa yang ia tunggu. Adrian mengangkat pandangan. “Duduk, Naumi,” katanya pelan. Tidak memerintah. Tidak dingin. “Temani saya makan.” Naumi tampak ragu sejenak, lalu mengangguk kecil dan menarik kursi di seberangnya. Dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan absurd itu terjadi, meja makan itu tidak terasa asing bagi Adrian. Tidak sepenuhnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD