Ruang rapat lantai dua puluh satu itu selalu terasa terlalu sunyi bagi siapa pun yang tidak terbiasa. Meja oval besar dengan permukaan kayu gelap membentang di tengah ruangan, dikelilingi kursi-kursi kulit hitam yang sudah diisi satu per satu oleh para petinggi perusahaan. Proyektor menyala, menampilkan grafik dan laporan yang seharusnya menjadi fokus utama pertemuan pagi itu.
Namun sejak Adrian melangkah masuk, udara di ruangan berubah.
Beberapa pasang mata terangkat, sebagian pura-pura tetap menatap layar, sebagian lain terang-terangan memperhatikannya. Tidak ada sapaan berlebihan. Adrian hanya mengangguk singkat, lalu duduk di kursinya—posisi strategis di sisi kanan direktur utama.
Wajahnya tetap tenang. Datar. Seolah apa pun yang sedang beredar di luar sana tidak menyentuhnya sama sekali.
Padahal, majalah gosip yang tadi dilempar Tomi masih tergeletak di dalam laci mejanya.
“Baik,” suara Direktur Utama, Pak Surya, memecah keheningan. “Kita mulai rapat.”
Presentasi berjalan sebagaimana mestinya. Angka-angka, target kuartal, rencana ekspansi. Adrian menyimak dengan fokus, sesekali memberi catatan singkat, pertanyaannya tajam dan langsung ke inti. Tidak bertele-tele. Tidak emosional.
Justru itu yang membuat beberapa orang di ruangan semakin gelisah.
Rapat hampir memasuki satu jam ketika Pak Surya menutup map laporannya dan menyandarkan tubuh ke kursi.
“Nah,” katanya, suaranya terdengar santai, terlalu santai untuk ukuran rapat direksi. “Sebelum kita akhiri, ada satu hal kecil yang ingin saya klarifikasi.”
Adrian sudah menduganya.
Beberapa direksi saling bertukar pandang. Ada yang pura-pura tersenyum, ada pula yang langsung menoleh ke arahnya.
“Ini sebenarnya di luar agenda,” lanjut Pak Surya, “tapi mengingat posisi Saudara Adrian di perusahaan ini, saya rasa wajar kalau kami ingin memastikan tidak ada isu personal yang berpotensi mengganggu stabilitas manajemen.”
Kata-katanya rapi. Terlalu rapi untuk disebut sekadar basa-basi.
Adrian mengangkat pandangan. “Silakan, Pak.”
Nada suaranya rendah, tenang, tanpa defensif.
Seorang direktur lain—Pak Hendra—ikut menyela, senyum tipis tersungging di bibirnya. “Kami hanya… cukup terkejut dengan pemberitaan yang beredar. Pernikahan mendadak, katanya?”
Ada jeda sepersekian detik.
“Isu seperti ini,” sambungnya, “bisa berdampak ke citra perusahaan. Apalagi mengingat hubungan Saudara Adrian dengan keluarga Nyonya Natasya.”
Beberapa orang mengangguk pelan. Ada yang pura-pura mencatat sesuatu, padahal jelas mereka sedang menunggu reaksinya.
Adrian tidak langsung menjawab.
Ia menyilangkan jari-jarinya di atas meja, lalu menarik napas perlahan. Gesturnya tenang, nyaris terlalu terkendali.
“Pemberitaan itu memang benar,” ucapnya akhirnya. “Saya telah menikah.”
Ruangan langsung terasa lebih sunyi.
“Tapi,” lanjut Adrian tanpa meninggikan suara, “pernikahan saya adalah urusan personal. Tidak ada konflik kepentingan yang berkaitan dengan perusahaan.”
Pak Surya mengamati wajahnya lekat-lekat. “Bagaimana dengan Natasya?”
Pertanyaan itu meluncur halus, tapi mengandung tekanan.
Adrian menatap balik direktur utama itu, sorot matanya stabil. “Saya dan Nyonya Natasya akan menyelesaikan urusan kami secara dewasa dan tertutup.”
Tidak ada penjelasan panjang. Tidak ada pembelaan. Tidak ada emosi.
Justru itu yang membuat beberapa direksi merasa tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan.
“Jadi tidak ada risiko gangguan kinerja?” tanya salah satu direksi lain, kali ini dengan nada yang lebih terang-terangan.
Adrian menggeleng kecil. “Tidak ada.”
Nada final.
Tomi, yang duduk agak jauh darinya, menahan napas. Ia mengenal Adrian cukup lama untuk tahu—kalau sudah seperti ini, tidak ada celah untuk didesak lebih jauh.
Pak Surya akhirnya tersenyum tipis. “Baiklah. Kalau begitu, saya rasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Ia menutup rapat dengan ketukan ringan di meja.
Satu per satu direksi berdiri. Suasana mencair perlahan, tapi bisik-bisik kecil mulai terdengar begitu Adrian melangkah keluar ruangan.
Ia berjalan lurus ke arah lift, bahunya tegak, langkahnya mantap. Tidak ada yang tahu—atau mungkin tidak ada yang berani menebak—bahwa di balik ketenangan itu, pikirannya sedang dipenuhi satu wajah.
Wajah Naumi.
Wajah yang tadi pagi tampak pucat saat ia meninggalkan rumah, berdiri canggung di ambang pintu, tapi tetap berusaha tersenyum padanya.
Adrian menekan tombol lift.
Di dalam kepalanya, satu hal mulai mengkristal perlahan—masalah ini tidak sesederhana pembatalan atau klarifikasi. Dan apa pun keputusan yang akan ia ambil, bukan hanya hidupnya yang terdampak.
Lift tertutup.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, Adrian menghela napas lebih panjang dari biasanya.
**
Begitu rapat selesai, Adrian langsung kembali ke ruang kerjanya. Baru saja ia menutup pintu dan meletakkan berkas di meja, suara sepatu hak tinggi terdengar mendekat.
Kali ini, pintu diketuk—sekali.
Lalu terbuka.
Natasya masuk dengan langkah mantap. Rambutnya tersisir sempurna, riasannya halus, tapi sorot matanya menyimpan bara yang belum padam sejak pagi.
“Masih sibuk?” tanyanya, padahal jelas ia tidak menunggu jawaban.
Adrian menoleh. “Ada apa, Natasya?”
Ia tertawa kecil, pahit. “Kamu tanya ‘ada apa’ setelah semua ini?”
Natasya melangkah mendekat, berdiri di depan meja Adrian. Jarak mereka tidak jauh, cukup dekat untuk membuat ketegangan terasa jelas.
“Aku sudah datang ke rumahmu,” katanya. “Aku melihat perempuan itu. Jadi jangan anggap aku datang tanpa tujuan.”
Adrian diam.
“Kamu sedang menimbang?” lanjut Natasya, suaranya lebih rendah. “Dan diam kamu itu bikin aku muak.”
Ia menyilangkan tangan. “Apa yang kamu pikirkan, Adrian? Kamu benar-benar mau mempertahankan pernikahan itu?”
Masih tidak ada jawaban.
Kesabaran Natasya mulai terkikis. “Jangan bilang,” katanya tajam, “kamu suka sama dia.” Ia tertawa pendek, sinis. “Ingat satu hal. Kita ini bukan sekadar tunangan.”
Udara di ruangan itu menegang.
“Kita sudah jauh melewati batas formalitas, Adrian,” lanjutnya, menekan kata-kata itu. “Jadi jangan berpura-pura kamu tiba-tiba jadi laki-laki suci karena satu akad dadakan. Hubungan kita lebih dari itu.”
Untuk pertama kalinya, Adrian berdiri. Gerakannya tenang, terkendali, tapi cukup membuat Natasya terdiam sesaat.
Tatapan Adrian turun sedikit, sejajar dengan mata Natasya. Dingin. Tegas.
“Kamu salah kalau berpikir itu bisa kamu gunakan untuk menekan aku.”
“Itu fakta,” balas Natasya cepat. “Fakta yang kamu nikmati setiap kali meniduriku.”
Sorot mata Adrian mengeras.
“Dan aku bukan laki-laki pertama yang pernah meniduri kamu.”
Kalimat itu jatuh seperti pisau dingin.
Wajah Natasya memucat, rahangnya mengeras. “Itu tidak relevan.”
“Sangat relevan,” jawab Adrian tanpa meninggikan suara. “Karena kamu menggunakannya seolah itu jerat. Padahal tidak. Kecuali aku laki-laki pertamamu.”
Ia mundur selangkah, memberi jarak yang jelas. Sebuah batas.
“Aku tidak menyangkal hubungan kita sudah terlalu jauh,” lanjutnya. “Tapi aku juga tidak akan diperas olehnya.”
Hening menyelimuti ruangan.
“Kamu berubah,” kata Natasya akhirnya, suaranya lebih pelan, penuh luka yang tidak ia akui.
Adrian menatap lurus. “Aku sedang berpikir.”
Natasya tersenyum tipis—senyum yang penuh ancaman halus. “Well. Tapi ingat, Adrian. Kalau kamu tidak memilih, keadaan akan memilihkan untukmu.”
Ia berbalik dan pergi, meninggalkan pintu yang tertutup pelan.
Adrian berdiri sendiri.
Dan untuk pertama kalinya, ia mengakui satu hal yang tak bisa lagi ia hindari—Naumi bukan sekadar kesalahan keadaan.
Ia adalah keputusan yang mulai tumbuh di kepalanya.
Gadis itu … gadis yang selama ini dia cari.