Kedutan Misterius

1246 Words
             Malam belum larut. Masih sekitar pukul tujuh tapi Clarice sudah merasa malas melanjutkan belajar. Malas makan malam. Malas mengerjakan pekerjaan rumah. Tadinya ia pikir itu karena dirinya mengantuk. Tapi setelah mendapatkan secangkir kopi latte sachet dari salah seorang pembantunya, rasa kantuk itu tak juga hilang. Ia lalu sadar bahwa kantuk bukan masalahnya. Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang agak sulit dijabarkan dengan kata-kata. Ia ingin menelpon Cyndi tapi sahabatnya itu sepertinya tak di tempat karena telpon tidak diangkat-angkat.              Saat ia beranjak hendak tidur, sebuah kedutan terjadi. ‘Kedutan itu lagi,” Clarice membatin. ‘Oh nooo…’ Mata Clarice terpejam menahan rasa yang menyerang seiring munculnya kedutan misterius di dalam dirinya. Giginya terkatup rapat dan sesaat kemudian nafasnya turun-naik dengan hidung yang kembang kempis. Sempat matanya terbuka sesaat tapi ia kemudian seolah ‘trance’ dengan mata terbeliak, menyisakan bola mata warna putih akibat serangan bertubi-tubi yang dialami. Ia meraba d**a. Mmh…. ia kemudian tersadar. Ya, kedutan itulah yang membuat perasaan dan suasana hatinya menjadi seperti ini. Suasana hati gelisah. Galau, yang menuntut penyelesaian segera. Umumnya remaja, hormon yang diproduksi berlebih cenderung akan meningkatkan libido. Tapi apa yang ia alami sepertinya melebihi batas wajar.              Pada mulanya ia tidak menganggap atau merasa itu sebagai sebuah keanehan. Namun semakin hari, kedutan itu berlangsung dengan diiikuti suatu hasrat yang lain yaitu yang selalu mengarah pada sensualitas yang kemudian mengarahkannya menjadi… nakal.              Mulanya di sekolah. Tiba-tiba saja dirinya sudah nampak provokatif dengan seringnya bercerita joke p***o.              Kemudian meningkat lagi seiring ketertarikannya mencari serta menikmati artikel dan berita tentang dunia s*x dari medsos.              Ketertarikannya makin meningkat dengan cepat sehingga kini ia mulai terbiasa menonton p********i dari situs-situs dewasa.              Tak hanya itu. Ada yang lebih parah. Di lingkungan rumah juga demikian. Ia tahu Narto suka mencuri-curi pandang. Untuk itu ia ‘meladeni’ dengan seringnya menggunakan kaos – khususnya yang dominan putih – tanpa b*a dan pura-pura berwara-wiri di depan pria itu.              Damned.              Lamat-lamat smartphonenya terdengar berdengung menandakan ada panggilan masuk. Clarice memeriksa di ranjang, di bawah bantal, di bawah selimut, sampai di bawah kolong, dan baru menemukannya berada di sela-sela peralatan kosmetik di meja belajar. Namun saat akan mengangkat telpon, ia enggan karena melihat nama seorang teman kelas sebagai si penelpon. Ia menunggu sampai kemudian ponselnya ‘kelelahan’ berdering.              Jari-jarinya kini mengetuk-ngetuk layar ponsel dan melihat bahwa tak hanya orang itu tapi ada empat nama lain yang mencoba menghubungi. Pesan chat juga demikian. Ada delapan chat dari orang-orang berbeda yang semuanya pria teman sekelas.              Sebagai seorang gadis yang tumbuh ranum, Clarice sangat mengerti apa arti itu semua. Mereka semua pasti berharap untuk menjadi kekasihnya. Atau sekedar kencan sekali jalan. Tapi ia enggan.              Tunggu dulu.              Enggan? Rasanya tidak juga. Dari delapan pesan chat, ada sebuah pesan yang masuk yang dirasanya menarik. Dari nomor tak dikenal. Berarti ia orang yang tergolong asing. Tapi entah kenapa walau tidak tahu apa-apa tentang pemilik nomor, ia merasa tertarik untuk membalas.              Orang itu mengajak pertemuan di sebuah warnet tidak jauh dari tempatnya berada. Waktunya besok hari di jam 12 siang.              Ya, warnet. Entah kenapa untuk tawaran yang satu ini… kedutan itu terjadi lagi. Lebih keras dari sebelumnya. Seolah menandakan ia perlu mengiyakan ajakan pertemuan di tempat yang sebetulnya tidak biasa itu.   *                Di kamar kost Rokib, Narto melihati deretan VCD yang dimiliki rekannya. Ia memilih salah satu, melihati sampul serta mulai menghidupkan player.              “Gimana si ABG bule? Udah sampe sejauh mana?”              “BAru taraf pendekatan,” kata Narto sambil mulai memasukkan disk ke dalam player.              “Dari dulu pendekatan mulu.”              Layar TV kini menayangkan film yang ternyata berkategori tiga X. Obrolan mereka tertunda. Rokib melihati saja sikap Narto. Rekannya itu sedang menyaksikan sebuah video dewasa dengan pemeran remaja bule yang menurutnya mirip dengan Clarice.              “Gue demen film ini. Banyak ilmu yang gue bisa dapetin.” “Ilmu?” “Iya. Bentar lagi gue bisa dapetin Clarice dengan ilmu dari film ini.”              Harapan terlalu menghayal, sepertinya. Tapi Rokib mengiyakan saja dan tak mau berdebat. Toh kalau pun nanti jadi kenyataan dirinya juga bisa ikut ketiban rezeki.   *                            ‘C-l-a-r-i-c-e…. ‘              Suara misterius itu sudah sejak tadi muncul lagi. Berbisik keras di dekat telinga tanpa ia pernah mampu melihat siapa yang berbicara. Suara itu pula yang membimbing dirinya menuju tempat itu. Warnet.              Clarice turun dari motor yang dikendarai dan tiba di warnet yang dimaksud. Ia melepas helm namun tidak melepas jaket. Bisa jadi itu adalah warnet paling kumuh yang ia pernah lihat. Menempati ruko terujung dari beberapa unit yang ada, ruko itu menjadi satu-satunya yang paling kurang terawat.              Ia mendekat dan membuka pintu yang tertutup. Saat masuk, ruko terasa berisik dengan anak-anak yang bermain game online. Lampu di dalam temaram dan asap rokok bertebaran memenuhi ruangan. Pendingin udara tak berfungsi maksimal. Hanya ada kipas angin yang hanya dinikmati operator.              “Mau main gim atau browsing?”              Pertanyaan pria operator tidak ditanggapi karena ia masih merasa tempat ini aneh. Operator itu pun aneh karena potongan rambutnya. Clarice terus berjalan ke salah satu bilik yang sepertinya ke sana ia harus menuju. Ia tak menyangka akan menemukan keanehan berikut.              Saat ia masuk ke bilik warnet, ia terperanjat melihat seorang wanita 30an tahun dengan puteranya yang masih berseragam SD di sana. Ia merasa aneh karena kedua ibu dan anak itu melakukan yang diluar dari yang ia bayangkan.  Si anak sedang menyusui p******a ibunya! Seolah keheranan itu tak cukup, ia melihat itu lebih mirip hubungan sepasang kekasih. Ini terlihat dari rakusnya si anak SD dan betapa ibunya – jika memang adalah demikian – matanya terpejam karena menikmati.              Sadar telah salah kamar, ia mundur, berbalik badan, sambil meminta maaf.   [CATATAN: In adegan crossover dengan petualangan e*****a Shirley di novel “Dahaga Cinta Tante Shirley”]   Kini ia tahu kemana harus melangkah. ia lalu tiba pada sebuah bilik yang hanya ditutup sehelai kain kumal. Ia menyibak kain dan melihat seseorang duduk di depan komputer. Jantung Clarice bagai melompat saat melihat siapa orang itu. “Mbah Dobleh?” Tak terlihat terkejut, orang itu menjawab kebingungan Clarice. “Ya aku. Aku juga yang selama ini membisikimu. Pengalaman mistis yang luar biasa bukan?” Clarice mendegut ludah. Jadi suara bisikan, sensasi denyut yang meningkatkan libido, ternyata karena orang itu pelakunya. Rupanya itu merupakan pembalasan dendam atas kesalahan yang ia lakukan dulu. Pantas. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa dia penyebabnya. Siapa yang menduga seorang kakek tua bangka suka ber-internet sehingga merancang pertemuan di sebuah warnet? Clarice langsung sadar bahwa ia perlu meminta maaf secepatnya. Kalau tidak, gangguan denyutan s****n itu akan tetap terjadi. Mbah Dobleh mempersilahkan Clarice duduk di sampingnya.              Clarice melihati orang itu dengan sebal. Saat orang itu menoleh ke arahnya, Clarice membuang muka. “Mbah minta berapa untuk aku bisa lepas dari mantera-mantera s****n itu, hah?”              Mbah Dobleh tertawa kecil. “Jadi kamu tahu akhirnya bahwa Mbah inilah yang ngontrol kamu. Jadi gimana, enak kan?”              “s**t! b*****t lu!”              Mbah nampak sabar. “Anak zaman now makin hilang sopan santun sama orangtua.”              “Wajar kalo yang dihadapi orang cua bangka seperci Mbah.”              “Kamu nggak suka Mbah?”              “Never.” “Mbah ingin bert…” “Sekarang gini aja. Wakchuku chidak banyak. Mbah minchanya uang berapa? Serachus jucha cukup? Kalau masih kur…””              Ucapan Clarice terputus. Suara misterius yang berbisik-bisik terdengar lagi, memintanya diam. Dan ucapan itu disertai kedutan yang sama. Tak seperti biasa, seiring dengan kedutan biasanya ia mengalami rangsangan s*****l sangat tinggi. Tapi kali ini, tidak. Sebaliknya ia mengalami rasa sakit yang begitu menyiksa, membuat Clarice harus menutup mulut agar jeritannya tidak terdengar kemana-mana.   *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD