Bukan Tragedi

1596 Words
             Peristiwa k*******n sebulan lalu itu sudah lama lenyap dalam ingatan Clarice. Mbah Dobleh s****n itu akhirnya pergi juga meninggalkan AA. Clarice mengira bahwa segala sesuatu berjalan baik-baik saja. Tak ada yang aneh. Tak ada yang mencurigakan. Tak ada yang perlu dikhawatirkan.              Tapi hari ini beda.              Waktu menunjukkan sekitar pukul lima dini hari ketika Clarice terbangun karena seperti ada suara orang memanggil namanya. Setelahnya terjadi denyutan di bawah perutnya. Denyutan itu sekali, pelan pula. Tapi kendati demikian itu bisa membangunkan Clarice dari tidur nyenyaknya. Walau sempat terbangun untuk sesaat, Clarice kemudian melanjutkan tidur. Sampai denyutan itu terjadi lagi.              ‘C-l-a-r-i-c-e…’              Kali ini matanya tak bisa terpejam lagi. Rasa kantuk lenyap seketika.              ‘Siapa yang memanggil namanya?’ Denyutan itu terjadi lagi dan kali ini ada suatu perasaan yang menyertai. Bagai  gelombang air laut menghantam karang, sebuah perasaan yang b*******h tiba-tiba menyergap. Sejenis perasaan dengan hasrat dan kerinduan menyala yang terpicu akibat hormon yang diproduksi berlebih. Yang terjadi selanjutnya adalah bahwa secara misterius libidonya meningkat.               Dengan jari-jarinya Clarice meraba asal denyutan aneh. Mulanya ia pikir itu berasal dari perut. Tapi ternyata tidak. Asal denyutan itu lebih ke bawah lagi. Di bawah perut. Ia terus memeriksa sampai ia kaget.Kaget ketika menemukan secara tanpa sadar bahwa jarinya kini terbenam di balik rimbunnya bulu-bulu k*********a.              Matanya langsung terbuka. Menyipit melihati jari yang tadi menyusup nakal ke dalam organ kewanitaannya. Dalam remang cahaya terlihat cukup jelas bahwa jari itu kini berlumur cairan kewanitaannya sendiri.              Ia berharap gangguan itu sesaat saja dan segera hilang. Tapi ternyata tidak. Denyutan dan sensasi perasaan yang menyertai, masih berulang. Setelah bergetar beberapa saat, denyut itu menghilang. Tapi, sejalan dengan lenyapnya denyutan, ia merasa kewanitaannya melembab. Clarice berusaha keras menampik. Namun semua perjuangan sia-sia dan kewanitaannya membanjir.              ‘C-l-a-r-i-c-e…’              Seolah dipanggil, Clarice bangun dan berjalan ke luar kamar. Seekor anjing terrier peliharaannya terbangun melihat salah satu tuannya berjalan-jalan di waktu tidak biasa. Moncongnya mendongak dan mengendur-endus ke arah gadis itu. Tak lama kemudian ia melanjutkan tidur setelah Clarice melewati dirinya.              Clarice bukan seperti dihipnotis. Yang terjadi ialah dirinya sedang diserang hasrat s*****t yang besar dan mendadak. Dan secara mistis, ia tahu yang ia inginkan saat itu. Apa dan di mana. Setelah melewati tiga kelokan ia tiba di luar rumah disambut suara-suara jangkrik. Langkah kaki Clarice kini berhenti di depan pintu gudang. Kendati pintu tertutup rapat, entah mengapa Clarice bisa tahu bahwa pintu itu tidak terkunci. Kemudian, dengan ketenangan yang di luar batas kebiasaannya, gadis itu membuka gerendel pintu. Ternyata memang tak terkunci.              Matanya dengan cepat beradaptasi dengan suasana ruang yang minim cahaya. Dengan berjinjit ia menapaki lantai dan kemudian berdiri di balik lemari tua. Dalam posisi berdiri, tubuhnya tersembunyi sempurna sehingga ia bisa dengan leluasa mengintai. Berteman cahaya serba terbatas, di salah satu sudut gudang, ada sepasang manusia di sana. Bergumul. Mereguk cinta terlarang. Saat matanya bisa menyesuaikan diri dengan kegelapan, berkas cahaya yang terbatas bisa membuatnya melihat bahwa pelakunya adalah ayahnya sendiri. Namun yang membuat dirinya terkaget ialah bahwa itu dilakukan orang itu, Papa, dengan seorang penghuni kost yakni Gisel. Ini benar-benar mengagetkan, tak bisa dipercaya. Clarice ingin berlari dari tempat itu. Apa yang ia lihat terasa menjijikkan. Ia tidak mengerti mengapa Papa bisa berbuat seperti itu. Namun ia heran karena ia tak bisa menggerakkan kakinya. Kedua kaki itu terasa lumpuh namun tegak kaku, tak bisa digerakkan atau berpindah. Ini membuat ia jadinya seperti itu. Mau tak mau ia berada dalam posisi mengintai. Ia berusaha melepaskan diri dari tempat itu. Gagal. Ia mencoba menggerakkan tubuh, namun gagal juga. Di saat yang sama, matanya terus menatapi apa yang terjadi di ruang kotor dan gelap tadi. Dan seiring dengan berjalannya waktu, ia akhirnya tak bergerak. Tak mau menggerakkan tubuh untuk berpindah, apalagi lari. Ini terasa aneh. Tak masuk akal. Dan di menit-menit berikut perlawanannya lenyap sudah. Berganti rasa ingin tahu ingin mengetahui apa yang terjadi setelah itu. Perlahan, tanpa ia sadar, vaginnanya membasah. Ia sempat meraba dari luar. Namun buru-buru ia tersadar dan menampik. Ia kembali hendak pergi meninggalkan tempat. Tapi lagi-lagi usahanya kandas. Ia pasrah. Entah kekuatan apa yang ia alami sehingga membuat ia terpaku dengan mata melotot pada pemandangan itu. Seharusnya apa yang ia lihat memedihkan hatinya. Tapi tidak, ia berubah. Lagi-lagi, waktu berjalan. Perlahan-lahan pula sesuatu terjadi. Kini ia justeru menikmati live show tadi yang dibuktikan dengan jarinya yang kembali menyelusup masuk ke dalam pantynya. Matanya nanar menonton apa yang dilakukan ayahnya terhadap Gisel. Beda dengan sebelumnya, ia malah kini menikmati tontonannya.   * Perselingkuhan antara ayahnya dengan salah satu penghuni kost lama-kelamaan tidak lagi dianggap sebagai sebuah tragedi bagi Clarice. Bukan berarti ia menyetujui sikap ayahnya. Tapi bagi Clarice orangtuanya sudah sangat dewasa, mereka tahu konsekwensinya, dan itu turun kepada dirinya. Ketika Clarice memancing pembicaraan dengan Mama, orangtuanya bersikap biasa. Ini membuat ia lantas memberanikan diri menceritakan perselingkuhan Papanya. Ia terkaget ketika mendengar kabar bahwa Mama sudah tahu perbuatan suaminya. Seolah kegilaan belum berakhir, Mama lantas menyebut bahwa perselingkuhan dilakukan Papa karena dirinya memulai terlebih dahulu. Clarice lemas. Rupanya pada keluarga Van Der Buijk masalah yang bersifat seksualitas seperti virginitas, pacaran, hidup bersama, atau lainnya tidaklah terlalu dianggap sakral. Bagi mereka s**s adalah sejenis naluri hewani yang perlu ditangani dengan santai. Ia perlu dilampiaskan selama itu dilakukan dengan sehat sesuai prinsip kesehatan biologis. Persoalan norma etika itu urusan lain.  Ini jadi alasan mengapa sebagai orangtua mereka tidak ketat dalam hal pergaulan puterinya. Mereka merasa tak perlu menyampaikan dengan salah satu alasan ialah bahwa mereka berdua juga bukanlah orang-orang suci, santo, rahib, atau semacamnya. Mereka juga sudah hidup bersama sebelum menikah. Pantas. Tempo hari, beberapa hari setelah usia 18 tercapai, Clarice sempat melaporkan – dengan pura-pura alias berdusta - bahwa ia tak lagi virgin. Baik ayahnya maupun ibunya hanya menanggapi dengan senyum. “You’re a woman now.” Itu kata ayahnya saat itu. Tak ada omelan, u*****n, atau petuah pergaulan. “It’s okay, kami tidak permasalahkan.” Mama menjawab tandas. “Serius?” “Ya.” “Next time use c****m,” ibunya menambahkan. “Kamu belum siap hamil kan?” Pada dua kesempatan berbeda ia juga mendapatkan info dari mereka bahwa selama masa pacaran kedua orangtuanya ternyata sudah sama-sama selingkuh. Ayahnya dengan mitra bisnisnya, ibunya dengan teman masa SMP alias CLBK, cinta lama bersemi kembali. Jahn: “Daripada saling tuntut yang pasti akan berakhir dengan konflik, kami berpikir mengapa tidak membiarkan diri hanyut saja dalam arus deras yang terjadi. Enjoy. Nikmati.” Amanda: “Apa yang terjadi kami jadikan itu sebagai bumbu pernikahan yang ditingkatkan pedasnya. It works! Mama suka.” Jahn: “Hidup bersama itu perlu. Kami lakukan itu sampai akhirnya married dan kemudian kamu lahir.” Amanda: “Selama itu dilakukan dengan kesepakatan bersama, why not?” Jahn: “Mama tau dulu Papa punya banyak pacar.” Amanda: “Mama ini banyak yang mau. Tau nggak, Papa justeru senang. Ini membangkitkan libido ketika kami bersama.” Jahn: “Menjalani tahun-tahun pernikahan itu tidak gampang. Banyak sekali godaan di tengah jalan. Itu yang membuat Papa berpikir bahwa pernikahan itu harus ditingkatkan bumbunya. Jangan itu-itu saja.” Amanda: “Mama menerima Papamu apa adanya.” Benar-benar pemikiran yang liberal dan sekaligus liar. Namun itulah pemikiran khas Eropa dari ayahnya yang kemudian disepakati Amanda, sang Mama. “Jadi Papa nggak cemburu kalo ada yang godain Mama?” tanya Clarice dalam bahasa Inggris yang lancar. “Nggak lah.” “Sampai sebatas apa Papa bisa menerima Mama dengan orang lain?” Jahn Van Der Buijk tak menyangka dengan kejaran pertanyaan itu. “Kalau sekedar petting masih boleh lah.” “Cuma sebatas petting aja kan?” “Hard petting.” “Hard petting?” Mama kemudian menjelaskan maksudnya. Akibatnya, bagai tersengat listrik 1000 watt rasanya. Clarice menutup mata dengan mulut. Bagaimana mungkin Papanya mengijinkan ada pria asing meremas dan menghisap p******a sang Mama? Atau mengaduk-aduk organ terintim isterinya dengan jarinya atau malah dengan lidahnya? Atau mengijinkan sang Mama melakukan h*****b, atau b*****b? Saat ia melakukan kroscek dengan sang Mama, ia juga mendapat jawaban yang sama. “Jangan kaget sayang,” Mama membelai rambut Clarice dengan lembut. “Itu memang telah terjadi kesepakatan tak tertulis antara kami berdua. Itu tak perlu disesali.” Clarice menyerah. Diam. Membiarkan pikiran-pikiran liberal orangtuanya merasuk dan dicerna otaknya. “Nah, kami sudah cerita semua. Sekarang giliran Mama yang tanya.” “Emang Mama mau tanya apa?” Amanda, sang Mama, wanita Manado cantik 35 tahun itu kembali membelai rambutnya. “Kamu belum cerita siapa yang menidurimu.” Setelah sempat bingung, tegang, galau, kini Clarice bisa tersenyum dan bahkan tertawa kembali.  “Mama nggak marah kan?” Amanda menggeleng. “Betul?” “Iya,” Amanda menegaskan. “Ayo jawab, sama siapa?” Dengan malu-malu ia menjawab. “Kejadiannya di sekolah, Ma. Dan itu juga cuma petting. Istilahnya Papa, kami lakukan hard petting.” “Mama tanya dengan siapa?” Muka Clarice bersemu merah. “Dengan Wijaya.” “Teman sekelas?” Clarice menggeleng kepala. “Teman lain kelas.” “Bukan,” ia mendegut susah payah. “Penjaga kebun sekolah.” Mulut Mama terbuka lebar. Papa juga. Mama mempertanyakan hal itu kepada Clarice. Ia tak menyangka bahwa puterinya bisa begitu ‘murah’ sehingga mau-maunya ditiduri oleh seorang pria yang tidak sederajat dengan dirinya. Saat isterinya berbicara makin keras, Jahn buru-buru menyergah. Menurut beliau, yang salah justeru sikap Mama. “Clarice sudah dewasa. Kita sudah sepakat dan karena itu kenapa Mama malah marah karena keputusan yang dia buat? Lagipula kalo Mama nggak setuju berarti Mama itu rasis. Nggak boleh seperti itu. Berikan kebebasan bagi puteri kita untuk memilih siapapun yang jadi teman kencannya.” Diberikan penjelasan seperti itu Mama akhirnya menerima juga pendapat Papa. Ketiganya lantas berpelukan bersama demi menghilangkan kesalahpahaman yang sempat terjadi.   *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD