Siapa CEO Selanjutnya?

1078 Words
Anna harus mulai mengubah kebiasaannya dari mulai bangun tidur saat ini. Hidup yang biasanya hanya dihabiskan berada di sekolah tinju milik Carel. Seharian dia selalu di sana. Carel sudah dianggap sebagai sahabatnya. Akan tetapi, sayangnya Carel menganggapnya sebagai kekasih. Setiap Anna membutuhkan sesuatu, Carel selalu ada untuknya. “Anna, meskipun kamu tak menganggapku. Aku tetap menunggumu.” Kalimat Itulah yang sering keluar dari mulut lelaki berkulit sawo matang itu. “Tunggu sampai ayam jago bertelur, baru aku akan menerima cintamu.” Selalu itu jawaban Anna saat Carel mempertanyakan tentang cintanya. Menyebalkan. Iya, sangat menyebalkan bagi lelaki yang sangat mengagumi Anna itu. Di sekolah tinju milik Carel, tidak hanya lelaki yang menjadi muridnya. Akan tetapi, perempuan juga ada termasuk Anna. Yang menjadi murid spesial di sana. Hanya Anna murid istimewa di sana. Pun semua murid sudah maklum atas perlakuan itu. Bagaimana tidak? Anna bisa seenaknya saja belajar tinju di sana. Tak melulu mengikuti jadwal yang ada. Itu yang membuat wanita tomboi itu betah di sana. “Aku cabut dulu, ya, Rel. Lapar mau makan di rumah.” Salah satu contoh perkataan Anna saat sudah mulai bosan belajar tinju. Sementara Carel hanya bisa memandangi punggung Anna sampai tak terjangkau oleh pandangannya. Bahkan wanita itu pun pernah bermalam di ruko sekolah tinju milik Carel. Pastinya Carel sebagai satpamnya di luar kamar. Begitu banyak hari yang mereka berdua lalui. Namun, tak secuil pun Anna menaruh hati pada guru tinjunya itu. *** Matahari belum sempat menampakkan dirinya. Gadis berkemeja putih dengan rok maksi berwarna putih itu sudah siap menyambut harinya. Dia kini sedang sarapan sendiri dengan dua lembar roti tawar berikut selai strawberi-nya, ditambah dengan jus jeruk hangat di meja makan. “Non, rapi sekali pagi ini? Pakai rok lagi, biasanya, kan, enggak pernah, hehehe,” ledek Bik Inah seraya menuangkan air putih ke gelas kosong di meja makan untuk Anna. “Aneh, ya, Bik? Aku pun rasanya canggung pakai seperti ini.” “Enggak, kok, Non. Cantik malahan.” Anna melanjutkan makannya. Mulai hari ini dia harus bisa mendisiplinkan diri sendiri. Tidak seperti biasa. Mulai dari bangun pagi, mandi pagi, sarapan, dan aktivitas pagi lainnya. Yang itu semua mustahil dikerjakan bagi Anna yang dulu. Sedikit demi sedikit harus diubah pola hidupnya, demi almarhum ayah tercinta. “Bik, aku sudah makannya. Mau pergi ke kantor ayah dulu!” teriaknya sambil setengah lari keluar rumah. Sampai di halaman, gadis itu mengedarkan pandangannya ke sudut. Dia mencari mobil putih miliknya. Ternyata Pak Baba, sopir ayahnya dulu, masih mengelap mobil itu. Anna mendekati posisi Pak Baba. “Sudah, Pak? Mau saya pakai ini mobil.” “Sudah siap, Non. Mau saya sopirkan?” tawar Pak Baba. “Enggak usah, Pak. Aku bawa sendiri saja. Terima kasih, ya,” ujar Anna seraya membuka pintu mobilnya. Dia mengendarai mobil dengan santai menuju kantor ayahnya. Dadanya terasa berbeda. Degupan kencang seakan ingin meloncat keluar jantungnya. Telapaknya terasa dingin. Gadis itu memikirkan apa yang harus nanti dia kerjakan di sana? Sedangkan, semua hal yang berkaitan dengan perusahaan Anna tak pernah tahu. Dengan niat demi kelancaran perusahaan ayahnya, dia melanjutkan perjalanannya. Di tengah perjalanan, ponsel Anna berdering. Sambil mengemudi gadis tomboi itu menggeser tombol hijau yang ada. “Halo, Anna kamu di mana?” tanya seorang lelaki di ujung telepon. “Aku perjalanan ke kantor. Ada apa, Rel?” “Weh, kamu enggak masuk tinju hari ini? Jadi anak kantoran, ya, sekarang, heheh,” ledek Carel. “Sudah diam kau. Aku sekarang pakai rok ini. Puas!Puas!” Gelak suara Carel memenuhi pendengaran Anna. Engap. Itu yang dirasakan Anna sekarang. “Sudah aku tutup dulu. Ini udah mau sampai. Da-da.” Anna menutup sepihak saluran teleponnya. Dia sudah sampai di tempat parkir kantor ayahnya. *** Wanita muda itu berjalan menuju meja informasi. Anna menanyakan perihal pesan yang telah dia terima. Tak lama gadis berbulu mata lentik itu mendapat informasi untuk ke lantai dua. Menurut penjelasan yang diterimanya, di sana ada sudah ada beberapa ketua cabang dari perusahaan ayahnya. Anna segera ke sana supaya tidak terlambat. Setengah berlari dia menuju lift yang hampir tertutup. “Aduh! Kakiku.” Anna meringis kesakitan terjatuh di lantai. “Ini pakai,” ujar lelaki seraya memberikan sepasang sandal kepada Anna. Lelaki itu segera menghilang setelah memastikan Anna menerima pemberiannya. “Dasar lelaki aneh! Enggak ditolongin. Masak di kasih sandal jepit begini. Hemm ....” Anna menceracau. Yang biasanya tak pernah mengenakan rok, ditambah sepatu berhak tinggi membuatnya terpeleset dan terjatuh. Menyebalkan. Saat dia hendak memakai sepatunya kembali. Ada yang aneh dengan sepatu sebelah kanannya. Ternyata haknya putus. Akhirnya Anna memutuskan untuk mengenakan sandal jepit yang diberikan oleh lelaki aneh tadi dengan terpaksa. “Huh!” keluhnya. Wanita itu tak mau semakin terlambat. Dia meraup udara sebanyak mungkin sebelum akhirnya masuk ke ruangan yang dituju. Anna mencoba menetralkan suasana hatinya. Setelah dirasa baik, dengan hati-hati gadis itu membuka pintu di depannya. “Halo. Selamat pagi semua,” sapa Anna seraya menunduk pelan. Ruangan hening sejenak. Kemudian, seseorang menyambut sapaan gadis tomboi itu. “Selamat pagi, Mbak Anna. Silakan duduk di sebelah sini.” Anna menoleh ke asal suara itu. Seperti kenal suara itu. Akan tetapi, siapa? Begitu terkejutnya saat pandangannya menangkap sosok lelaki di depan lift tadi. Lelaki itu yang menyapanya. Senyum terpaksa terukir di bibirnya, lantas duduk di kursi yang kosong di dekatnya. Di dalam ruangan itu sudah ada beberapa ketua cabang. Hanya menunggu sebentar rapat itu dimulai. “Haduh. Kok, lama sekali, sih,” keluh Anna seraya berkipas dengan kertas yang ada di dekatnya. Sedetik kemudian, rapat besar itu dimulai. Anna hanya menjadi pendengar setia. Tak ada gagasan dan komen yang dia lontarkan. Sedangkan, semua peserta di sana saling berpendapat dan berusaha mempertahankan pendapatnya masing-masing. Keadaan semakin siang semakin panas oleh ocehan-ocehan hadirin. Melihat itu kepala Anna menjadi pusing. Dia sangat tak suka hal-hal yang menjadi panas hati. Lagi pula, dia tak begitu paham apa yang sedang mereka bahas. Yang Anna tangkap hanya kelanjutan yang akan memimpin perusahaan ayahnya. Ada beberapa kandidat, termasuk Anna sebagai pewaris dari Pak Adam. Setelah melalui perdebatan yang alot. Sebab, setiap pemimpin cabang menginginkan dialah yang menjadi CEO selanjutnya. Termasuk Deon, lelaki si pembawa sandal jepit untuk Anna tadi. Dia sangat berapi-api dalam mendukung pimpinan cabang dari Bandung sebagai CEO selanjutnya. Namun, perjuangannya sia-sia. Akhirnya pemimpin rapat memutuskan Anna-lah yang selanjutnya menyandang CEO dari perusahaan ayahnya. “Selamat, Mbak Anna!” Kalimat itu muncul dari setiap kepala yang ada di ruangan di situ, kecuali Deon Haris. Dia hanya mengangguk sebentar diikuti dengan senyum sinis. Tampak sekali sifat dingin dan angkuhnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD