Sinar pagi menembus kaca masuk kantor baru Anna. Perempuan itu kali ini mengenakan celana kombor abu-abu dengan kemeja lengan panjang dengan warna senada. Sepatu datar putih menghiasi kakinya. Dia tak mau kejadian semalam terulang lagi. Terpeleset dan jatuh, karena hak sepatu yang terlalu tinggi. Angin segar memenuhi rongga paru-paru setiap manusia. Langkah kaki Anna mantap menuju ruangan CEO. Ruangan di mana dulu ayahnya bekerja. Senyum manis dipasangnya sepanjang perjalanannya. Semua orang yang berpapasan menekuk kepala tanda hormat kepada wanita itu.
“Hai kenapa, kamu di sini?” tanya saat setelah menyadari Deon berada di depan pintu ruangannya.
Lelaki itu tak menjawab, tetapi tangannya membukakan pintu untuk Anna. Setelah, memastikan bosnya masuk, Deon kembali ke tempat mejanya yang berada di samping pintu ruangan Anna.
“Dasar manusia aneh.” Anna segera menjatuhkan bebannya di kursi yang dulu pernah diduduki Pak Adam.
“Tak ada orang satu pun yang mengarahkan pekerjaanku di sini? Walau menggunakan AC, tapi rasanya sungguh panas. Ingin rasanya aku merokok di sini. Ayah kenapa bisa tahan selalu duduk di ruangan seperti ini.” Anna bermonolog seraya mengitari seisi ruangan itu.
Pandangannya satu per satu memperhatikan barang-barang peninggalan ayahnya. Tak ada yang istimewa di sana. Hanya gambar dia bersama ayahnya di meja. Melihat itu, tak terasa butiran bening kembali mendesak keluar, hingga membasahi pipi Anna. Dia ingat kembali beberapa memori indah bersama ayahnya, walau tak sebanyak anak-anak pada umumnya. Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka.
“Pagi, Bu Anna. Ini dokumen-dokumen yang harus anda tanda tangani.” Deon menuju meja Anna sembari membawa beberapa kertas di tangannya.
“Apa ini. Kamu seenaknya saja masuk? Emangnya kamu siapa di sini?”
Lelaki berkulit kuning langsat itu langsung menarik lengan Anna keluar. Dia menunjukkan papan nama yang ada di meja samping pintunya. Tertulis di sana Deon Haris, Sekretaris Umum.
“Sudah tahu, Bu?” tanya Deon dingin.
“Oh, ok ... tapi tolong lepasin tanganku. Sakit tahu!” Anna setengah berteriak, lantas berlalu masuk ke ruangannya kembali, setelah Deon melepaskan tangannya.
Dia mengaduh kesakitan seraya memegang pergelangan tangan kanannya. Sofa empuk di ruangan bergradasi abu-abu itu sasarannya untuk merebahkan tubuhnya.
“Kenapa, sih. Ayah mempertahankan orang seperti itu? Kejam sekali dengan perempuan. Ah, ingin rasanya aku merokok di sini. Tolong, Tuhan,” keluhnya.
***
Anna berhasil bertahan di kantor dengan segala kesibukannya. Jam menunjukkan tepat pukul 12. Waktu istirahat. Matahari sedikit masuk melalui bias cahaya dari kaca ruangan wanita itu. Hari ini dia sangat bangga, mampu menaklukkan waktu bebasnya untuk mengabdi di perusahaan warisan ayahnya. Sekarang saatnya memberikan sedikit penghargaan kepada dirinya sendiri. Rokok. Tak mungkin ada yang melarangnya kini. Ruangan itu telah menjadi miliknya. Lagi pula, ini saatnya istirahat. Jadi bebas.
Dia mengambil satu bungkus rokok ternama dari saku celanananya, lalu dikeluarkan satu batang dan meletakkan begitu saja bungkus rokok itu. Kini satu batang rokok telah tertanam di mulut gadis itu, sementara pemantik api tak dia temukan di saku.
“Ke mana korekku, ya? Apa aku pinjam ke sekretaris dingin itu aja, ya?” tanyanya pada diri sendiri. Tak menunggu lama, Anna pun segera menuju meja Deon.
“Hai, sekretaris angkuh. Punya korek?”
Lelaki tinggi itu beranjak dari kursinya. Dia mendekati Anna tanpa menjawab pertanyaan wanita itu. Deon mendekatkan mukanya ke wajah Anna. Lantas dengan cepat dia menyambar rokok yang sudah berada di mulut Anna.
“Apaan, sih! Enggak sopan banget dengan atasan.” Teriakan Anna membuat karyawan yang berlalu berhenti untuk memperhatikan mereka berdua.
“Kalau mau merokok bukan di sini tempatnya, Bu. Silakan di luar gedung ini,” balas Deon tegas.
“Berani-beraninya kamu dengan atasan. Aku heran kenapa orang seperti kamu bisa bertahan di sini. Aku bisa saja dengan mudah memecatmu. Jadi, jangan berlagak, ya, di sini!” hardik Anna.
Kesal, malu, dan geram. Itulah perasaan gadis yang baru menjabat sebagai CEO itu. Dia pergi begitu saja meninggalkan Deon. Taman depan kantorlah tujuannya. Dia berjalan menuju taman diiringi u*****n-u*****n untuk Deon. Napasnya tak beraturan naik turun. Setelah dia mendapati bangku panjang di taman, Anna mendudukkan diri di sana.
“Aku masih menganggapmu di sini karena Ayah. Dasar! Aneh! Kasar! Dingin!” Semua u*****n itu masih saja keluar dari mulut Anna dengan posisi sudah duduk di bangku panjang berwarna putih di taman kantor.
Anna mencoba kembali menenggelamkan tangannya di saku. Ternyata dia menemukan pemantik api miliknya.
“Ya ampun. Ternyata di saku sebelah kiri kamu berada. Gara-gara kamu, aku jadi stres begini, huh.”
Dengan bebas kini wanita berbulu mata lentik itu menikmati setiap embusan rokoknya. Sedikit lega dan rileks. Sebab, tak ada yang bisa membuatnya naik darah lagi.
***
“Halo, Anna. Kamu masih di kantor?” Suara Carel dari seberang sana memenuhi gendang telinga Anna.
“Iya. Ada apa?”
“Anak-anak di sini mau makan malam bersama. Kamu ikut, ya?” pinta Carel. Padahal di balik itu ada maksud lain Carel mengundang Anna. Jelas Anna tahu persis itu. Carel ingin bertemu dengan Anna. Seperti biasa guru tinju itu tak sanggup bila tak melihat batang hidung Anna seharian. Tampak saat Anna tak ada seharian, berbagai alasan untuk bisa bertemu Anna selalu terlontar dari mulut lelaki itu.
“Aku capek seharian sudah di kantor. Besok kalau akhir pekan saja kita makan-makannya, ya. Da-da.” Anna memutus sepihak jaringan teleponnya.
Wanita itu melirik jam yang menempel di dinding ruangan itu. Jarum jam menuju angka lima. Senja pun mulai menyapa. Anna sudah tak sabar ingin segera beranjak dari kantor itu. Dia segera menyambar tas tangan di meja, lalu keluar.
“Mau ke mana, Bu?” tanya lelaki tepat setelah Anna di depan pintu ruangannya.
“Bukan urusan kamu.” Anna melenggang meninggalkan lelaki itu.
Mendadak tangan kanan Anna ditarik oleh Delon. Pria itu membetot Anna masuk ke ruangan CEO kembali. Tangan kiri Deon membawa beberapa berkas yang kemudian diletakkan di meja Anna.
“Silakan ini ditanda tangani sebelum pulang.” Kini giliran Deon yang pergi begitu saja menyisakan Anna.
Anna mencebik, lalu menggebrak mejanya sedikit. Kesal.
“Di sini yang jadi bos, aku atau dia, sih. Heran.”
Terpaksa dia duduk lagi di kursinya. Menyelesaikan dengan cepat apa yang harus dilakukan. Beberapa menit kemudian, akhirnya selesai semua. Dia mengendap-endap keluar. Menyisir ke sekeliling tempat. Dia takut ketahuan oleh Deon lagi, hingga tak bisa bebas pulang begitu saja. Setelah menyadari Deon tak ada di kursinya, wanita itu segera berlalu, setengah berlari.
“Huh ... akhirnya bisa lolos juga. Kenapa aku seperti main petak umpet gini sama si sekretaris edan itu. Belum pernah merasakan tinjuku dia. Awas aja, kalau macam-macam. Kepalan tanganku siap mendarat di wajahnya itu,” gerutu Anna setelah sampai di depan mobil kesayangannya.
Masih dengan napas yang tersengal-sengal, gadis penyuka tinju itu mengemudi mobilnya dengan santai. Belum sampai setengah jalan, ponselnya berbunyi. Satu panggilan masuk. Tangan kirinya meraih ponsel yang berada di dasbor mobil. Matanya membulat, hampir saja dia menabrak orang yang menyeberang. Anna segera menepikan mobilnya. Di ponselnya tertulis nama ‘ayah’.
***