“Ya ampun. Ada apa lagi sekretaris angkuh itu?” Anna mencebik. Dia bahkan sudah tahu yang meneleponnya itu Deon. Sebab, siapa lagi kalau bukan lelaki bertubuh tinggi itu yang menggunakan telepon kantor. Sejak dulu wanita itu menyimpan nomor telepon kantor dengan nama ‘ayah’ karena sering sekali mendiang Pak Adam meneleponnya dengan nomor itu. Anna menekan tombol hijau di ponselnya.
“Ada apa lagi?” tanya Anna dengan nada sedikit tinggi.
“Ke kantor lagi. Ada lalat hijau tak diundang merusuh di sini.” Sambungan telepon seketika terputus. Deon memutuskannya sepihak.
Hal itu menambah wanita tanggung itu jengkel. Panas. Pendingin di dalam mobil rasanya tak menyentuh tubuhnya. Dengan malas Anna memutar balik mobilnya. Terpaksa dia melakukan itu, karena Deon yang meneleponnya. Ada rasa khawatir kalau memang sesuatu terjadi pada perusahaan yang baru saja dipimpinnya. Sepanjang jalan dia berusaha berpikir dan mencari tahu tentang ‘lalat hijau’ yang dikatakan Deon.
“Apa lagi ini lalat hijau. Hemmm ....” Wanita yang sedang menyetir mobilnya sendiri itu bermonolog.
Selang beberapa menit, Anna telah sampai. Dia memasuki lobi kantor. Di sana penglihatannya menangkap sosok yang dikenalnya. Di sofa tamu terdapat Carel yang sedang duduk santai melambaikan tangan kepada Anna.
“Ngapain ke sini?”
“Aku mau lihat-lihat saja keadaan kantormu ini. Ngomong-ngomong sekretarismu tadi dingin banget, ya. Tamu datang enggak disambut dengan ramah malah diberondong dengan pertanyaan-pertanyaan konyol,” keluh Carel kepada sang CEO kantor itu.
“Pertanyaan konyol?”
“Iya pertanyaan konyol, seperti ada hubungan anda dengan Bu Anna? Dan banyak lagi pertanyaan yang enggak berbobot. Kalau untuk sekolah sudah ditolak mentah-mentah soal itu oleh kepala sekolah sebelum diberikan kepada muridnya.”
Anna hanya mengangguk. Dia mencoba mencerna penjelasan lelaki berkulit sawo matang itu.
“Lagian sudah aku bilang aku capek. Kenapa malah ke sini, sih. Udah aku cabut dulu.”
Wanita itu melenggang meninggalkan Carel sendiri. Fisiknya yang sudah lelah seharian terkurung di ruangan warisan ayahnya, menyebabkan Anna tak lagi respek kepada guru tinjunya itu.
***
Semerbak aroma buah lemon keluar dari kamar mandi yang baru saja dipakai Anna. Brianna Calista kini sudah segar. Dia hendak ke bawah, tempat kesukaan wanita berumur 25 tahun itu. Dapur. Selain mau menikmati rokoknya, di sana juga dia bisa mengobrol dengan Bik Inah. Selama ini Bik Inah sudah seperti ibunya sendiri di rumah. Semua hal yang ingin diungkapkan, orang pertama yang di datangi adalah Bik Inah selain Carel. Anna sangat jarang sekali mengadu keluh kesahnya kepada mendiang Pak Adam saat masih hidup. Sebab, ayahnya sudah sibuk sendiri dengan dunia perbisnisan.
“Capek. Bik, minta tolong buatin teh manis hangat, dong,” pinta Anna setelah menemukan sosok wanita paruh baya di dapur.
“Baik, Non.”
Bik Inah segera menyeduhkan teh beraroma bunga melati untuk si majikan. Wanita yang berusia setengah abad itu sudah mengabdi hidupnya untuk keluarga Anna sejak Anna masih kecil. Dia sudah tak punya keluarga lagi. Hanya sebatang kara. Oleh sebab itu, Bik Inah fokus untuk mengurus semua tentang kebutuhan rumah tangga Anna. Apa pun yang Anna butuhkan, wanita itu selalu berusaha menyuguhkan yang terbaik.
“Bagaimana perasaan, Non Anna setelah masuk ke dunia mendiang Pak Adam?” tanya perempuan yang sedang membawa teh hangat, lalu meletakkan ke meja di dekat Anna.
“Sedikit canggung, Bik. Aku harus berusaha sebisa mungkin yang terbaik. Doakan semoga aku sanggup menanggung amanah ini, ya, Bik,” pinta Anna seraya menatap asisten rumah tangganya itu.
“Iya, Non. Bibi akan selalu mendukung dan mendoakan setiap langkah baik Non Anna.”
Kepulan dari mulut Anna mulai berjebah. Sampai-sampai Bik Inah terbatuk-batuk. Wanita yang menggunakan celemek itu sedikit menghindar dari Anna.
“Maaf, Non Anna enggak sebaiknya berhenti merokok?”
“Sebenarnya pengin, Bik. Lagian di kantor juga enggak bisa bebas merokok. Aku akan berusaha lebih keras lagi. Sebelum itu, boleh merokok sepuasnya, dong, hehehe.”
Bik Inah hanya menggeleng. Tak habis pikir dia mempunyai majikan tomboi dan perokok. Padahal jelas-jelas di bungkus rokok itu terdapat gambar-gambar mengerikan akibat banyak merokok. Tetapi kenapa itu tak membuat perokok untuk berhenti? Pertanyaan yang tak bisa dijawab itu sering memaksa masuk ke kepala Bik Inah, ketika melihat Anna merokok dengan santai.
“Yang terpenting semoga, Non Anna sehat-sehat selalu.”
“Amin.” Kata itu keluar pada kedua wanita beda generasi itu.
***
“Anna! Wahai tuan putri. Turunlah!” teriak Carel dari halaman rumah Anna. Di kedua tangannya menenteng beberapa kantong plastik.
Tak ada balasan dari sang empunya rumah. Lelaki berkumis tipis itu berdecit. Kantong keresek di tangan kanannya diletakkan begitu saja, lalu dia merogoh saku.
“Ini dia. Kamu harus turun, Anna,” ujar lelaki berkaus hitam itu seraya memencet beberapa tombol ponsel yang sudah berada di tangan kiri.
Tiga kali Carel menelepon Anna tak ada jawaban. Sedih sekali. Akan tetapi, keempat kalinya Anna merespons.
“Ada apa, sih, malam-malam begini buat ribut?” Suara enggan wanita yang dikagumi Carel terdengar di ujung telepon.
“Keluarlah. Ini aku bawa ayam dan minuman. Untuk pengganti kamu tidak ikut malam bersama tadi. Setidaknya makanlah denganku,” pinta Carel dengan suara memelas.
“Padahal aku sudah mau memejamkan mata. Ya, sudah tunggu aku bukain pintu.”
Selang beberapa detik, pintu rumah Anna terbuka. Wanita yang mengenakan baju tidur motif doraemon itu mempersilakan tamunya untuk masuk. Tampak bibirnya maju beberapa senti. Mereka duduk di ruang tamu.
“Ini ayam goreng dan minuman soda kesukaan kamu. Yok, kita makan bersama,” ucap Carel seraya menatap Anna penuh arti.
“Kenapa melihatnya begitu? Aku cantik, ‘kan?”
Wajah Anna merona. Dia tak bisa menyembunyikan rasa malu. Sampai-sampai salah tingkah, karena Carel tak langsung menjawab pertanyaan Anna. Malahan semakin lekat dan lebih mendekat.
“Iya, kamu cantik memaki baju doraemon, hahaha.”
Carel mundur lagi sedikit sembari tergelak-gelak. Puas. Dia berhasil menggoda Anna sampai pipi memerah.
“Ih, apaan, sih?” Wanita berbulu mata lentik itu kembali memanjangkan bibir.
“Baru kali ini aku melihat seorang Anna yang tomboi. Tapi bajunya doraemon. Cute banget.”
“Walaupun aku tomboi, suka tinju, wajah galak. Tetap saja hatiku selembut salju, hahaha.” Kini giliran Anna yang tertawa terbahak-bahak.
Bualan demi bualan mereka lontarkan. Sampai yang tadinya Anna sudah mengantuk, kini menjadi segar kembali. Rasa lelah tak dirasa lagi. Malam semakin pekat mencapai puncaknya. Jam sudah menuju angka dua belas.
“Aku pamit, ya. Terima kasih sudah mau makan malam denganku,” ucap Carel.
Dijawab dengan anggukan pelan oleh Anna.
“Oh, ya. Boleh aku tanya sesuatu?” tanya lelaki itu sebelum meninggalkan Anna.
“Silakan.”
“Aku sempat bertemu dengan ibumu kemarin. Keadaannya mengenaskan sekali. Kini dia ada di berada di sekolah tinjuku. Tidur di sana.”
***