BAB 6

1477 Words
Siang harinya, Sakaya sudah duduk di salah satu ruang privat sebuah hotel. Sebuah map yang kemarin dibawa Mahes, kini diletakkan di atas meja secara asal. Kedua tangannya berada di saku celana, sementara tatapannya sesekali beralih pada pintu ruangan yang sejak tadi masih tertutup rapat karena hanya ada dirinya. Sebelum datang ke sini, Sakaya sudah lebih dulu menghubungi Mahes melalui nomor yang diberikan kepadanya kemarin. Ia tidak ingin mereka datang ke rumah, apalagi jelas setelah Nenek memintanya menolak tawaran tersebut kemarin. Ia datang setelah mendiskusikan semua rencananya dengan Tante Dina. Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Mira masuk lebih dulu, disusul Mahes di belakangnya. Tatapan Mira langsung tertuju kepada Sakaya. “Sakaya...” Perempuan itu berjalan mendekat, bahkan tangannya sempat terulur seolah hendak menyentuh lengan Sakaya. Namun Sakaya sudah lebih dulu bergeser. Ia berjalan menuju kursi di seberang mereka, kemudian duduk dengan tenang. Mira menghentikan langkahnya, Mahes yang melihatnya justru tertawa kecil. “Sepertinya tawaran saya memang sangat menggiurkan, ya, Sakaya?” Sakaya tidak menjawab. Mahes kemudian duduk di samping Mira. “Padahal saya sudah berniat datang ke rumah sore nanti.” Mahes tersenyum tipis. “Tapi kamu malah menghubungi saya lebih dulu.” Sakaya bersedekap di depan d**a. “Sebentar, ada salah paham.” Senyum Mahes sedikit memudar. “Saya datang ke sini siang hari karena saya tidak mau kalian tiba-tiba datang ke rumah lagi.” lanjut Sakaya. Mira mengerutkan kening, “Kenapa?” “Ya karena Nenek saya sudah cukup banyak marah kemarin.” Sakaya menatap Mira, “Apalagi kalau sampai anak durhakanya datang ke rumah lagi dan membuat beliau merasa telah salah membesarkan anak, kesehatan Nenek saya bisa menurun.” Mahes justru terkekeh kecil, “Sayangnya, Ibumu sepertinya tidak terlalu peduli dengan masalah durhaka atau tidak, Sakaya.” Tatapan Sakaya tetap tenang. “Ibumu lebih peduli kepada saya dan hidup saya.” sambung Mahes. Sakaya mengangkat alis, kemudian terkekeh kecil. “Lebih tepatnya...” Sakaya tersenyum tipis. “Uang anda.” Mahes terdiam. Sakaya kemudian menarik map yang sejak tadi berada di atas meja dan meletakkannya sedikit lebih dekat kepada dirinya. “Terus terang saja.” Sakaya menatap Mira dan Mahes bergantian, “Saya tidak akan menyetujui tawaran kalian begitu saja.” Mira mulai terlihat tidak sabar, “Lalu kamu mau apa?” Sakaya menepuk pelan permukaan map tersebut. “Saya punya beberapa syarat.” balas Sakaya tenang. Mahes menyandarkan punggungnya pada kursi, “Sepuluh miliar masih kurang?” Sakaya terkekeh kecil. “Bukan soal kurang atau cukup.” tatapan Sakaya berubah lebih tajam, “Kalau kalian memang membutuhkan saya untuk menggantikan Sakara, saya rasa wajar kalau saya juga memastikan apa yang saya dapatkan dari semua ini selain sepuluh miliar itu.” Sakaya membuka map tersebut perlahan. “Jadi sebelum saya mengatakan iya atau tidak...” Sakaya mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalam map. “kita bicarakan semuanya dulu syarat-syarat dari saya yang harus kalian penuhi.” Mira menatap lembaran kertas yang mulai dikeluarkan Sakaya satu per satu. “Apa saja syaratmu?” tanya Mahes. Sakaya tidak langsung menjawab. Ia menyusun beberapa lembar tersebut di atas meja dengan rapi, kemudian mendorong satu lembar paling atas ke arah Mira dan Mahes. “Pertama, sepuluh miliar itu harus diberikan sesuai kesepakatan. Bukan dicicil, bukan dijanjikan nanti, dan bukan ditahan sampai Sakara sadar.” Mahes membaca sekilas isi kertas tersebut, “Kamu pikir kami akan menipumu?” “Saya tidak bilang begitu.” Sakaya mengangkat wajah, “Saya cuma belajar dari pengalaman. Jika saya mengatakan setuju, detik itu juga uang sepuluh miliar harus di tangan saya.” Mira langsung terdiam. Mahes menatap Sakaya beberapa detik sebelum akhirnya kembali melihat kertas di tangannya. “Lalu?” “Kedua, seluruh biaya hidup saya selama berada bersama kalian menjadi tanggung jawab kalian.” Mahes mengerutkan kening, “Bukankah sepuluh miliar itu sudah lebih dari cukup?” “Sepuluh miliar itu harga yang kalian tawarkan untuk saya menggantikan Sakara.” nada suara Sakaya tetap tenang, “Bukan untuk membiayai hidup saya selama menjadi Sakara.” Mahes menyandarkan tubuhnya ke kursi, “Kamu pintar berhitung ternyata.” Sakaya tersenyum tipis, “Bahkan saya akan menuntut Nyonya Mira terkait dirinya yang meninggalkan saya begitu saja, tanpa memberikan dana apa pun kepada Ibunya selama ini.” Sakaya kemudian mengambil lembar berikutnya. “Biaya sekolah, kebutuhan sehari-hari, pakaian, transportasi, sampai biaya kuliah saya nanti. Semua harus dihitung dan dibayarkan hari ini juga.” Mira langsung mengangkat wajah, “Hari ini?” “Iya.” Sakaya mengangguk, “Kalau saya harus meninggalkan sekolah dan kehidupan saya untuk memenuhi keinginan kalian, saya mau kewajiban Nyonya Mira yang di lupakan olehnya selama ini harus dibayar lunas.” Mira terdiam. Wajahnya yang sejak tadi dipenuhi ketidaksabaran perlahan berubah. Ada sesuatu yang seperti runtuh di dalam tatapannya setelah mendengar kalimat terakhir Sakaya. “Kewajiban... sebagai Ibu?” Suaranya terdengar begitu pelan. Sakaya hanya menatapnya. Mira tersenyum kecil, tetapi senyum itu tampak begitu pahit. “Jadi selama ini...” Ia menundukkan wajahnya. “Di matamu, Mamah memang nggak pernah melakukan apa-apa untukmu?” Sakaya tertawa, “Bukan hanya tidak pernah melakukan apa-apa...” Tawa kecil Sakaya perlahan menghilang. Tatapannya yang semula tenang kini berubah dingin ketika kembali menatap Mira. “Anda justru membuat saya kehilangan jati diri saya sendiri selama ini.” Mira terdiam. “Saya kehilangan mimpi. Kehilangan kesempatan. Bahkan saya sampai tidak tau lagi siapa diri saya sebenarnya.” Sakaya menarik napas perlahan. “Semua itu karena saya harus terus hidup sebagai bayangan anak perempuan Tuan Mahes dan jangan pernah sampai unggul dari anak itu.” Mira menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Sakaya...” Sakaya tidak memberikan kesempatan untuknya melanjutkan. “Jadi jangan tanya apa yang sudah anda lakukan untuk saya selain melahirkan saya.” tegas Sakaya. Sakaya berhenti sejenak, lalu mengalihkan pandangannya kepada Mahes. “Lebih baik saya tanya kepada anda saja.” tatapan Sakaya bertemu dengan mata Mahes, “Bagaimana kelanjutannya? Bukankah anda sekarang sangat membutuhkan saya untuk menjadi Sakara?” Sakaya mengambil lembar yang lainnya, lalu meletakkannya di atas meja. Ini yang terakhir. “Anggap saja satu miliar.” Mahes mengangkat alis, “Satu miliar?” “Iya.” Sakaya bersandar pada kursinya. “Anggap saja itu sebagai kompensasi atas kerugian yang saya dan Nenek saya dapatkan selama ini.” Mira langsung membuka mulut, tetapi Sakaya lebih dulu melanjutkan. “Biaya sekolah saya, kebutuhan hidup saya, semua waktu dan tenaga Nenek yang seharusnya tidak perlu digunakan untuk membesarkan anak yang ditinggalkan Ibunya sendiri...” Sakaya tersenyum tipis. “Saya rasa satu miliar masih masuk akal.” Mahes terkekeh kecil, “Kamu benar-benar menghitung semuanya.” “Karena selama ini istrimu tidak pernah menghitung tetapi banyak menuntut.” Sakaya menatapnya, “Lagipula, bagi kalian jumlah satu miliar tidak banyak, kan?” Mahes terdiam. Sakaya justru terkekeh kecil melihat ekspresinya. “Bukankah sepuluh miliar saja kalian bisa tawarkan tanpa banyak berpikir?” Sakaya mengetukkan jarinya pada meja, “Jadi satu miliar tambahan seharusnya bukan masalah besar.” Mira tampak semakin tidak nyaman, “Sakaya, itu keterlaluan. Mau bagaimana pun kita keluarga, dan...” Sakaya perlahan menoleh kepadanya. “Keterlaluan?” Sakaya tersenyum tipis, “Kalau begitu, Nyonya Mira boleh menjelaskan sendiri berapa harga yang pantas untuk semua tahun yang sudah Nyonya lewatkan tanpa menjalankan kewajiban sebagai seorang Ibu. Ditambah kerugian mental yang saya dapatkan, sampai akhirnya membuat Nenek saya sedih selama ini.” Mira terdiam. Tidak ada jawaban. Sakaya mengangguk kecil seolah sudah menduga hal itu. “Kalau tidak punya jawaban, harusnya Nyonya Mira tutup mulut saja agar tidak membuang-buang waktu.” Ia menarik seluruh lembaran tersebut kembali ke hadapannya, lalu menyusunnya menjadi satu tumpukan. “Kesimpulan dari pertemuan ini adalah...” sambung Sakaya, “Sepuluh miliar untuk menggantikan Sakara. Satu miliar untuk kewajiban Nyonya Mira yang selama ini diabaikan. Setelah itu, saya setuju untuk menjadi Sakara sampai dia bangun.” Mahes menatapnya cukup lama. “Dan kamu mau semuanya dibayarkan sekarang?” tanya Mahes. “Sekarang.” “Tidak ada negosiasi?” “Kalau kalian ingin bernegosiasi, silakan.” Sakaya tersenyum kecil, “Tapi saya juga berhak mengatakan tidak. Penting atau tidaknya kerja sama ini ada ditangan kalian.” Ruangan kembali hening. Sakaya kemudian membuka map tersebut dan mengeluarkan satu lembar terakhir. “Kalau kalian setuju dengan semua persyaratannya, saya akan langsung memulai hari ini.” Mira mengerutkan kening, “Memulai apa?” Sakaya menunjuk rambutnya sendiri, “Saya akan langsung memotong rambut untuk menjadi laki-laki.” Sakaya mengucapkannya begitu tenang seolah hal tersebut bukan keputusan besar. “Saya juga akan mempelajari seluruh kehidupan Sakara. Cara dia berbicara, kebiasaannya, teman-temannya, sekolahnya, bahkan hal-hal kecil yang mungkin hanya diketahui oleh orang-orang terdekatnya.” Tatapan Sakaya berubah semakin serius. “Saya akan menjadi wujud Sakara sesempurna mungkin, tepat setelah kalian membayar lunas kerja sama ini.” Mahes menatap Sakaya cukup lama. Senyum di wajahnya benar-benar telah menghilang. Untuk pertama kalinya, pria itu menyadari bahwa gadis yang ia anggap akan mudah dikendalikan nanti, ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD