Sore harinya, Sakaya akhirnya kembali ke rumah.
Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda dari penampilannya.
Rambut panjang yang selama ini selalu dikuncir kuda kini sudah tidak ada lagi. Sebagai gantinya, rambut Sakaya telah dipotong pendek dengan model yang hampir menyerupai potongan rambut laki-laki. Bagian sampingnya dibuat lebih tipis, sementara bagian atasnya masih sedikit menyisakan panjang agar mudah ditata.
Ia bahkan sudah mengganti pakaiannya dengan kaus hitam sederhana dan celana panjang.
Sakaya berdiri beberapa saat di depan pintu rumah sebelum akhirnya membukanya.
Baru saja ia melangkahkan kaki masuk, suara televisi dari ruang tengah terdengar samar. Nenek yang sedang duduk di sana segera menoleh.
Tatapan perempuan tua itu langsung berhenti pada Sakaya.
Beberapa detik berlalu.
Nenek tidak mengatakan apa-apa.
Matanya justru turun perlahan, memperhatikan pakaian Sakaya, kemudian kembali naik ke wajah cucunya. Tatapannya akhirnya berhenti pada rambut pendek yang membuat penampilan Sakaya berubah hampir sepenuhnya.
Kening Nenek langsung berkerut, “Kenapa kamu?”
Sakaya menoleh sambil melepas sepatunya dengan santai, “Maksud kenapa? Aku baru pulang.”
“Nenek tau kamu pulang.” Nada suara Nenek mulai terdengar kesal. “Maksud Nenek, kenapa rambutmu?”
Sakaya mengusap rambut pendeknya
“Bagus, kan?”
“Bagus apanya?”
Sakaya terkekeh kecil, “Nenek nggak suka?”
“Bukan masalah suka atau nggak suka!” Nenek bangkit dari duduknya. “Kamu pergi siang tadi masih punya rambut panjang. Sekarang pulang-pulang sudah seperti anak laki-laki!”
Sakaya berjalan mendekat dan meletakkan tasnya di atas sofa.
“Emang sengaja dipotong.”
Nenek terdiam, tatapannya perlahan berubah menjadi curiga.
“Jangan bilang kamu menerima tawaran mereka.”
Sakaya tidak langsung menjawab. Ia hanya menarik kursi di dekat meja makan dan duduk dengan tenang.
Nenek semakin yakin, “Kamu menerima tawaran mereka?”
Sakaya mengangkat wajah. Menghembuskan napas panjang, kemudian mengangguk pelan.
“Iya.” balas Sakata.
Ekspresi Nenek seketika berubah, “Kamu gila?”
“Nenek...”
“Nenek sudah bilang jangan!” suara Nenek meninggi. “Kenapa kamu masih pergi menemui mereka dan tetap menerima tawaran itu? Apa kamu lupa selama ini ditinggalkan begitu saja?”
Sakaya terdiam.
Pertanyaan Nenek membuatnya menundukkan wajah sejenak.
“Aku nggak lupa, Nek.”
“Kalau nggak lupa, kenapa kamu masih mau pergi bersama mereka?” Nenek menatapnya tajam. “Ibumu datang setelah bertahun-tahun nggak peduli sama kamu, lalu tiba-tiba menawarkan uang dan kamu langsung mau?”
“Bukan begitu.”
“Lalu bagaimana?”
Sakaya mengangkat wajahnya kembali, “Aku nggak langsung menerima awalnya.”
“Terus?”
“Aku membuat beberapa syarat.”
Nenek terdiam, tetapi wajahnya masih menunjukkan ketidaksetujuan.
“Syarat?”
Sakaya mengangguk.
“Aku minta uangnya diberikan sekarang. Bukan nanti, bukan dicicil. Semua biaya hidupku dari Nenek selama ini juga mereka mau ganti rugi. Intinya sekolah, kebutuhan sehari-hari, sampai kuliah udah ditanggung.”
Nenek masih diam.
“Anggap... Aku udah minta satu miliar sebagai kompensasi untuk Nenek.”
Nenek masih terdiam. Tatapannya perlahan turun ke tangan Sakaya yang berada di atas meja, sebelum kembali menatap wajah cucunya.
Untuk beberapa saat, perempuan tua itu seolah sedang mencoba mencerna semua perkataan Sakaya.
“Satu miliar?” tanya Nenek akhirnya.
Sakaya mengangguk pelan. “Iya. Anggap saja itu kompensasi untuk semua yang udah Nenek keluarkan selama membesarkanku.”
Nenek kembali terdiam. Bukannya terlihat senang, wajahnya justru semakin murung. Ia menarik napas panjang, lalu menggeleng perlahan.
“Bukan ini yang Nenek mau, Sakaya.”
Sakaya mengerutkan kening. “Maksud Nenek?”
“Nenek nggak pernah membesarkan kamu supaya suatu hari nanti kamu membayar semua itu dengan uang.”
Nada suara Nenek terdengar jauh lebih lembut dibandingkan sebelumnya. Tidak ada lagi kemarahan di sana, hanya kesedihan yang perlahan memenuhi setiap katanya.
“Nenek menyekolahkan kamu bukan karena Nenek sedang menanam uang untuk mendapatkan keuntungan di kemudian hari. Nenek memberi kamu makan, membelikan pakaian, dan melakukan semuanya karena kamu cucu Nenek.”
Sakaya terdiam.
“Nenek nggak pernah menghitung berapa uang yang sudah Nenek keluarkan untuk kamu,” lanjutnya. “Jadi jangan sekarang kamu datang dan mengatakan semuanya bisa diganti dengan satu miliar.”
“Nek, aku cuma—”
“Nenek tau kamu cuma ingin membantu.”
Nenek tersenyum tipis, tetapi senyum itu justru terlihat begitu pahit. Matanya mulai berkaca-kaca ketika kembali memandang Sakaya.
“Tapi bukan seperti ini caranya.”
Sakaya menundukkan wajahnya.
Nenek kemudian duduk di kursi yang berada di hadapannya. Kedua tangannya diletakkan di atas pangkuan, sementara tatapannya masih tertuju pada rambut pendek Sakaya.
“Dulu waktu kamu ditinggalkan Ibumu di sini, Nenek sering menyisir rambutmu setiap pagi,” ucap Nenek perlahan. “Kamu selalu mengeluh kalau Nenek mengikatnya terlalu kencang.”
Sakaya tersenyum kecil.
“Karena sakit.”
“Iya.” Nenek ikut tersenyum, meskipun air mata mulai menggenang di matanya. “Tapi sekarang rambutmu bahkan sudah nggak bisa Nenek ikat lagi.”
Sakaya kembali terdiam.
“Nenek tau kamu sudah besar. Nenek juga tau suatu hari nanti kamu memang akan meninggalkan rumah ini. Itu hal yang wajar.” Nenek mengusap sudut matanya. “Tapi Nenek nggak pernah membayangkan kamu akan meninggalkan rumah untuk menjadi orang lain demi orang-orang yang telah menjahati kamu.”
Sakaya menatap Nenek cukup lama.
Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan, tetapi semuanya terasa menumpuk di tenggorokannya. Untuk beberapa saat, ia hanya terdiam sambil memainkan jemarinya sendiri.
Kemudian, sebuah tawa kecil keluar dari bibirnya. Bukan tawa bahagia, melainkan tawa yang terdengar begitu getir.
“Aku udah lama merepotkan Nenek.”
Nenek menggeleng pelan, “Jangan bilang begitu.”
“Tapi emang begitu, Nek.”
Sakaya mengangkat wajah, matanya mulai memerah.
“Aku yang seharusnya bikin Nenek bangga. Aku yang seharusnya jadi cucu yang bisa membalas semua kebaikan Nenek. Sejak dulu Nenek punya harapan aku bisa hidup lebih baik dari ini, harusnya sekarang aku berprestasi seperti yang Nenek inginkan.”
Suaranya perlahan bergetar.
“Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Aku malah menyusahkan Nenek.”
Nenek hendak menyela, tetapi Sakaya menggeleng.
“Dulu aku nggak pernah berpikir Nenek kesulitan.”
Ia menundukkan kepala.
“Aku nggak pernah berpikir bagaimana caranya Nenek mendapatkan uang untuk membayar sekolahku. Bagaimana Nenek bisa membelikanku makan setiap hari. Bagaimana Nenek membayar kebutuhan rumah sambil tetap memastikan aku nggak kekurangan.”
Sakaya menarik napas panjang.
“Yang aku pikirkan cuma satu.” air mata Sakaya mulai jatuh, “Kenapa aku nggak seberuntung orang lain?”
Nenek terdiam.
“Kenapa aku ditinggalkan? Apa kurangnya aku? Kenapa hidupku harus seperti ini?” Sakaya tertawa kecil di sela tangisnya. “Setiap kali aku berusaha untuk bersinar, selalu ada yang membuatku merasa harus redup.”
Tatapannya beralih kepada Nenek.
“Dan ketika Mamah datang lalu mengatakan kalau aku nggak boleh lebih unggul dari anak tirinya... aku menurut karena harapanku untuk dilihat pupus ”
Suaranya semakin lirih.
“Saat itu aku berpikir... mungkin emang aku nggak pantas.”
Nenek menggenggam tangannya sendiri erat-erat.
“Aku sampai pernah berpikir, untuk apa aku dilahirkan kalau Ibu sendiri nggak mengharapkan aku?”
Kalimat itu membuat d**a Nenek terasa sesak.
“Sakaya...”
“Aku merasa bersalah, Nek.”
Sakaya mengusap air matanya dengan kasar.
“Aku selalu berpikir mungkin emang ada yang salah sama aku. Mungkin aku emang anak yang nggak pantas disayangi. Mungkin aku emang nggak cukup baik sampai Mamah memilih meninggalkanku.”
Ia terdiam cukup lama.
“Tapi sekarang aku sadar...”
Sakaya menatap Nenek dengan mata yang penuh luka.
“Harusnya yang salah di sini adalah Mamah.” kata Sakaya, “Bukan diriku.”
Nenek tidak mampu berkata apa-apa.
“Karena aku selalu bertanya kepada diri sendiri, apa aku nggak seberguna itu?” bibir Sakaya bergetar, “Dan kemarin... waktu Nenek sampai harus pinjam beras lima kilo...”
Kalimatnya terputus.
Sakaya menundukkan wajahnya dalam-dalam. Bahunya mulai bergetar.
“Di situ aku baru sadar.” ia menarik napas, tetapi justru semakin sulit menahannya, “Sepertinya aku emang nggak berguna, karena bukan Nenek yang selama ini kupikirkan, tapi perasaan orang lain dan berakhir jatuh sendiri.”
Sakaya mengusap wajahnya yang basah dengan kedua tangan. Ia mencoba menarik napas beberapa kali, tetapi suaranya tetap bergetar ketika kembali berbicara.
“Aku nggak bermaksud membayar kasih sayang Nenek dengan uang.”
Nenek menatapnya.
“Aku tau uang nggak akan pernah bisa menggantikan semua yang Nenek kasih ke aku.”
Sakaya tersenyum kecil di tengah air matanya.
“Aku cuma mau Nenek nggak kesusahan lagi.”
Nenek terdiam.
“Udah cukup Nenek menghabiskan waktu, tenaga, dan kasih sayang buat aku selama ini.” Sakaya menundukkan wajahnya. “Semuanya bahkan belum pernah bisa aku balas.”
Nenek menggeleng pelan, “Jangan berpikir begitu, Nak.”
“Tapi aku emang belum pernah membalasnya, Nek...”
Sakaya mengangkat wajahnya kembali.
“Selama ini Nenek yang selalu mikirin aku. Nenek yang bangun pagi buat menyiapkan makananku. Nenek yang mikirin sekolahku. Nenek yang memastikan aku punya apa yang aku butuhkan.”
Suaranya semakin lirih.
“Bahkan ketika Nenek sendiri mungkin nggak punya banyak, Nenek tetap berusaha supaya aku nggak merasa kekurangan.”
Air mata kembali mengalir di pipinya.
“Sekarang aku cuma ingin satu hal.” Sakaya mengulurkan tangannya, lalu menggenggam tangan Nenek erat-erat, “Aku mau Nenek mulai menikmati masa tua.”
Nenek terdiam.
“Nggak perlu lagi bangun setiap pagi sambil mikirin besok harus makan apa.”
Genggaman Sakaya semakin erat.
“Nggak perlu lagi menghitung uang sebelum membeli sesuatu. Nggak perlu lagi memikirkan biaya sekolahku. Nggak perlu lagi pusing memikirkan kebutuhan rumah.”
Sakaya tersenyum tipis.
“Kalau Nenek mau makan sesuatu, beli. Kalau Nenek mau pergi ke mana-mana, pergi. Kalau Nenek mau punya sesuatu, beli.”
“Nenek cuma ingin kamu—”
“Aku tau.” Sakaya memotongnya dengan lembut, “Makanya aku nggak mau uang ini jadi pengganti kasih sayang Nenek.”
Ia mengusap punggung tangan perempuan tua itu.
“Aku cuma ingin uang ini membuat Nenek bisa bernapas sedikit lebih lega.”
Nenek menatap cucunya dengan mata berkaca-kaca.
“Selama ini Nenek terlalu sering bilang nggak apa-apa setiap kali kita sedang kekurangan.” Sakaya tertawa kecil, “Padahal mungkin sebenarnya Nenek juga capek.”
Nenek terdiam.
“Jadi sekarang biar aku yang bilang.” Sakaya menghapus air matanya sendiri, “Nenek nggak perlu bilang nggak apa-apa lagi.”
Senyumnya perlahan muncul meskipun masih dibasahi air mata.
“Karena mulai sekarang, aku yang akan memastikan Nenek nggak perlu takut soal kekurangan lagi.”
Nenek akhirnya tidak mampu menahan air matanya. Ia menarik Sakaya ke dalam pelukannya. Tubuh Sakaya langsung tenggelam dalam dekapan yang sudah begitu ia kenal sejak kecil.
“Nenek nggak butuh uang sebanyak itu, Nak.” kata Nenek, “Nenek hanya takut jika kamu mengikuti mereka, kamu akan jatuh semakin dalam.”
“Aku tau.”
“Nenek cuma butuh kamu menjadi diri sendiri dan bahagia.”
“Aku juga tau. Tapi... aku nggak akan biarin Nenek kesusahan lagi.”
Sakaya memejamkan mata. Untuk beberapa saat, tidak ada lagi yang berbicara. Hanya suara tangisan kecil yang terdengar di ruang tengah.
Sakaya kemudian memeluk Nenek lebih erat.
“Oleh karena itu... izinkan aku memberikan ini sebagai bentuk terima kasih.” suaranya nyaris berbisik. “Bukan untuk membayar semua yang Nenek lakukan. Tapi supaya setelah ini, Nenek bisa hidup tanpa harus terus memikirkan bagaimana caranya membesarkan aku.”
Ia tersenyum di dalam pelukan Nenek.
“Karena sekarang aku sudah besar, Nek.” kata Sakaya, “Sudah waktunya aku yang menjaga Nenek dan hidup bahagia bersama. Jadi... Izinkan aku untuk menggantikan Sakara sebentar, ya?”
Nenek tidak langsung menjawab. Pelukannya justru semakin erat, seolah ingin menahan Sakaya agar tidak pergi ke mana pun.
“Sebentar itu berapa lama?” tanya Nenek akhirnya.
Sakaya terdiam.
“Mereka bilang sampai Sakara bangun, kan?”
“Iya.”
“Kalau Sakara nggak bangun dalam waktu dekat?”
Sakaya menarik napas perlahan, “Berarti aku akan tetap menjadi Sakara.”
Nenek memejamkan mata.
Itulah yang paling ia takutkan.
Bukan uangnya.
Bukan keluarga Mahes.
Melainkan kemungkinan Sakaya terlalu lama berada di dalam kehidupan orang lain hingga perlahan lupa bagaimana caranya kembali menjadi dirinya sendiri.
“Nenek takut kamu lupa pulang.”
Sakaya terdiam.
“Nenek takut suatu hari kamu terlalu terbiasa menjadi Sakara sampai kamu nggak tahu lagi mana hidupmu dan mana hidupnya.”
Sakaya perlahan melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah Nenek.
“Aku nggak akan lupa.”
“Kamu yakin?”
Sakaya mengangguk.
“Yakin.”
Ia mengusap air mata yang masih tersisa di pipi Nenek.
“Aku tau siapa diriku.”
Kemudian ia tersenyum kecil.
“Aku Sakaya. Cucunya Nenek. Dan perempuan.”
Nenek kembali berkaca-kaca.
“Dan aku... cuma akan meminjam hidup Sakara sebentar.” Sakaya menggenggam tangan Nenek, “Setelah itu aku akan kembali.”
Nenek menatapnya cukup lama, “Kalau begitu, janji sama Nenek.”
“Janji apa?”
“Seberapa jauh pun kamu pergi, seberapa banyak orang yang kamu temui, dan seberapa mewah kehidupan yang nanti kamu jalani...” Nenek berhenti sejenak. “Jangan pernah merasa kamu lebih rendah dari siapa pun.”
Sakaya terdiam.
“Dan jangan pernah membiarkan mereka membuatmu kembali percaya bahwa kamu nggak berharga.”
Sakaya menelan ludah.
“Nenek...”
“Kalau suatu hari kamu merasa mereka memperlakukanmu seperti Sakara lebih penting daripada Sakaya...” Nenek menggenggam tangannya erat. “Pulang.”
Air mata Sakaya kembali menggenang.
“Pulang ke sini.”
Sakaya mengangguk pelan.
“Iya.”
“Jangan bertahan hanya karena uang.”
“Iya.”
“Jangan bertahan hanya karena merasa punya utang kepada Nenek.”
Sakaya tersenyum sambil menangis.
“Iya, Nek.”
“Kalau kamu sudah nggak sanggup, pulang.”
Sakaya akhirnya mengangguk lebih kuat.
“Iya.”
Nenek mengusap kepala Sakaya yang kini sudah dipenuhi rambut pendek.
“Dan satu lagi.”
“Apa?”
“Kalau nanti rambutmu panjang lagi, Nenek mau yang menyisir.”
Sakaya tertawa kecil di sela air matanya.
“Iya.”
“Jangan dipotong pendek-pendek lagi.”
Sakaya mengusap rambutnya sendiri, “Kalau ini?”
“Ini gara-gara mereka.” kata sang Nenek ketus.
Sakaya tersenyum.
“Tenang aja. Nanti kalau semuanya selesai, aku tumbuhin lagi.”
Nenek akhirnya ikut tersenyum.
Namun, senyum itu tidak bertahan lama.
Karena jauh di dalam hatinya, perempuan tua itu tahu bahwa sejak hari ini, kehidupan cucunya akan berubah.
Sakaya mungkin akan pergi sebagai dirinya sendiri.
Tetapi ketika kembali nanti, belum tentu ia masih menjadi gadis yang sama.
Nenek hanya bisa berharap satu hal.
Semoga di tengah kehidupan yang penuh kebohongan itu, Sakaya tidak kehilangan dirinya sendiri untuk kedua kalinya.
*****