BAB 8

2496 Words
Dua hari kemudian, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan sebuah kediaman besar yang berada di salah satu kawasan elite Ibu Kota. Sakaya masih duduk diam di dalam mobil. Tatapannya tertuju pada bangunan besar di hadapannya. Rumah itu jauh berbeda dari tempat yang selama ini ia tinggali bersama Nenek. Halamannya luas, pagar besi menjulang tinggi, dan beberapa kendaraan terparkir rapi di area depan. Semuanya terlihat begitu asing. Sakaya menarik napas panjang. Tangannya perlahan merapikan bagian depan kaus hitam yang dikenakannya, sebelum kembali memastikan rambut pendeknya sudah tertata seperti yang diinginkan. Tidak ada lagi rambut panjang yang biasa diikatnya setiap pagi. Tidak ada lagi rok sekolah. Tidak ada lagi penampilan seorang gadis yang selama ini dikenal Nenek. Kini, Sakaya mengenakan celana panjang hitam, kaus polos, dan jaket tipis. Rambutnya dipotong pendek dengan bagian samping yang lebih tipis, membuat wajahnya terlihat jauh lebih tegas. Bahkan sejak pagi tadi, ia sudah berusaha mengubah cara berjalan dan cara berbicaranya. Ia tidak boleh terlihat seperti Sakaya. Setidaknya, bukan di tempat ini. Pintu mobil di sebelahnya terbuka. “Sakara Aditya Maheswara, itu identitas gue sekarang.” kata Sakaya sambil memejamkan matanya, menghafalkan nama itu di dalam hati. Pintu mobil diketuk dari luar, kemudian dibuka. Sakaya yang sejak tadi memandangi kediaman besar di hadapannya perlahan mengalihkan pandangan. Seorang penjaga berdiri di samping pintu mobil, kemudian membungkukkan tubuhnya dengan sopan. “Tuan Sakara, Tuan Mahes sudah menunggu sejak tadi.” Sakaya belum sempat menjawab ketika terdengar sebuah deheman dari arah depan. Penjaga itu langsung menundukkan kepalanya. Sakaya hanya mengangguk singkat sebelum akhirnya keluar dari dalam mobil. Begitu kedua kakinya menyentuh tanah, ia langsung berjalan menuju sosok yang berdiri beberapa meter di depan pintu masuk. Mahes. Pria itu berdiri dengan kedua tangannya berada di belakang tubuh. Tatapannya langsung tertuju kepada Sakaya yang berjalan mendekat. Keduanya hanya bertatapan. Tidak ada sapaan. Tidak ada senyum. Bahkan tidak ada satu pun dari mereka yang berusaha membuka percakapan. Mahes hanya memperhatikan perubahan penampilan Sakaya dari ujung kepala hingga kaki. Rambut pendek, pakaian sederhana, cara berdiri yang lebih tegap, serta sorot mata yang kini terasa jauh lebih dingin. Beberapa hari lalu, gadis itu masih datang menemuinya dengan rambut panjang dan penampilan seorang siswi sekolah. Sekarang, orang yang berdiri di hadapannya benar-benar terlihat seperti Sakara. Mahes akhirnya mengalihkan pandangan. “Masuk.” Sakaya mengangguk. Ia kemudian berjalan mengikuti Mahes memasuki kediaman tersebut. Beberapa penjaga yang berada di sekitar halaman langsung menundukkan kepala ketika keduanya melewati mereka. Sakaya tidak memberikan perhatian apa pun. Ia hanya berjalan dengan langkah tenang, mengikuti Mahes hingga mereka tiba di ruang keluarga yang luas. Setelah Mahes duduk di salah satu sofa, Sakaya mengambil tempat di sofa yang berseberangan dengannya. Mahes langsung membuka percakapan. “Mulai besok kamu harus kembali ke asrama.” kata Mahes selanjutnya, “Namun, setiap dua minggu sekali kamu harus pulang ke sini.” Sakaya menyandarkan tubuhnya pada sofa, “Bagaimana kalau saya tidak ingin pulang?” Mahes menatapnya datar, “Ini kontrak kerja. Kamu harus menurut dengan atasan.” Sakaya tidak langsung menjawab. Mahes melanjutkan, “Lagipula, kamu sudah menerima sebelas miliar secara lunas. Bahkan uang itu langsung kamu pindahkan ke kartu lain.” Tatapan Mahes berubah sedikit tajam. “Seolah-olah saya akan mengambilnya lagi saja.” sindir Mahes menambahkan, “Padahal saya tidak kekurangan uang sedikit pun.” Sakaya justru tersenyum tipis. “Jaga-jaga.” “Jaga-jaga?” “Saya takut pihak Tuan Mahes diam-diam memblokir uang itu.” Sakaya menatapnya tanpa sedikit pun terlihat gentar, “Apalagi jika dalam waktu dekat Tuan Mahes mengalami masalah keuangan. Jangan sampai saya ikut terdampak, padahal saya sudah bekerja keras.” Mahes terdiam selama beberapa saat. Kemudian, sebuah senyum tipis muncul di wajahnya. “Kamu sepertinya memiliki bakat bisnis.” kata Mahes, “Sampai-sampai sudah menanggulangi berbagai hal, padahal itu belum terjadi.” “Jelas.” jawaban Sakaya terdengar begitu santai, “Ayah saya dulu pebisnis.” Mahes yang semula terlihat santai perlahan mengubah ekspresinya. “Sayang dia meninggal sebelum waktunya,” lanjut Sakaya, “Padahal belum sampai di puncak kejayaannya.” Mahes bersandar pada sofa, “Ternyata kamu sangat membanggakan ayahmu yang sudah mati.” Sakaya menatapnya beberapa detik. Kemudian, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring. “Jelas.” Sakaya sedikit memiringkan kepalanya, “Andai beliau masih hidup, pasti beliau sudah ada di atas Tuan Mahes.” Tangan Mahes yang sejak tadi berada di atas pahanya perlahan mengepal. Rahangnya mengeras. Namun, sebelum pria itu sempat membalas perkataan Sakaya, suara langkah kaki terdengar dari arah lorong. Mira muncul sambil membawa semangkuk bubur kacang hijau. Begitu melihat Sakaya, langkahnya langsung melambat. “Sakara.” Sakaya menoleh. Mira berjalan mendekat, kemudian meletakkan mangkuk tersebut di atas meja. “Kamu sudah pulang. Mamah bawakan bubur kacang hijau kesukaanmu.” Sakaya hanya melirik mangkuk itu sekilas. Mira kemudian menatap Mahes dan Sakaya secara bergantian sebelum akhirnya berkata, “Dan setidaknya kamu harus sopan dengan Papah kamu, jangan sebut-sebut orang lain lagi.” Sakaya perlahan mengangkat wajah, “Dia bukan Papah saya.” Seketika ruangan terasa lebih sunyi. Mira terdiam. Mahes pun tidak mengatakan apa-apa. “Papah saya bernama Satya,” lanjut Sakaya tenang. “Dan beliau sudah meninggal.” Mira langsung menoleh kepada Mahes. Wajah pria itu sudah berubah. Tatapannya menjadi jauh lebih dingin dibandingkan sebelumnya, sementara kepalan tangannya semakin erat. Mira kembali menatap Sakaya. “Jangan sebut nama Satya di depan Mas Mahes lagi.” Sakaya mengerutkan kening, “Kenapa?” “Pokoknya jangan, atau Mamah akan hukum kamu agar jera!” Mira menjawabnya dengan cepat, seolah tidak ingin percakapan itu berlanjut. Sedangkan Sakaya tersenyum miring, kemudian berdiri dari tempat duduknya. Sakaya menatap Mira yang masih berdiri di dekat meja, lalu berkata dengan suara tenang, “Anda bukan siapa-siapa. Anda tidak berhak menghukum saya, ikatan kita tidak sebesar itu.” Mira langsung terdiam. Sakaya kemudian mengalihkan pandangannya kepada Mahes yang masih duduk di sofa seberang. Pria itu sejak tadi hanya memperhatikan percakapan mereka dengan ekspresi sulit ditebak. “Nyonya Mira, saya tegaskan... Saya dan suami anda di sini hanya pihak atasan dan bawahan.” Sakaya menyilangkan kedua tangan di depan d**a. “Jadi, Nyonya Mira jangan terlalu banyak bermimpi.” Wajah Mira seketika berubah. “Saka...” Panggilan itu terhenti di ujung lidahnya. Entah kenapa, Mira sendiri terlihat kebingungan. Ia tidak mungkin memanggil gadis di hadapannya dengan nama Sakaya di depan Mahes, tetapi menyebutnya Sakara juga terasa begitu asing. Terlebih lagi, sosok yang berdiri di hadapannya sekarang memang sudah tidak terlihat seperti anak perempuan yang dulu ia tinggalkan. Sakaya justru terkekeh kecil melihat ekspresi Mira. “Kenapa?” Mira tidak menjawab. Sakaya mengangkat bahu, kemudian mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Setelah beberapa saat, ia kembali menatap Mahes. “Kamar saya di mana?” tanyanya santai. “Atau saya mendapat kamar baru?” Mahes mendengus pelan. Sepertinya ia sudah cukup lelah mendengar ucapan Sakaya sejak tadi. “Pelayan.” Seorang pelayan yang berdiri tidak jauh dari pintu langsung melangkah mendekat. “Iya, Tuan.” “Antarkan dia ke kamarnya.” Pelayan itu mengangguk, meskipun matanya sempat melirik Sakaya dengan sedikit keraguan. Sikap pemuda di hadapannya memang terasa aneh. Ia tahu Tuan Sakara baru keluar dari rumah sakit setelah beberapa hari dirawat, tetapi suara yang didengarnya sekarang terdengar berbeda, bahkan jauh lebih tenang dan datar daripada yang biasa ia dengar. Bahkan cara Sakaya menatap orang lain membuatnya merasa seolah sedang berhadapan dengan seseorang yang sama sekali berbeda. Namun, pelayan itu tidak ingin ikut campur. Ia hanya menundukkan kepala dan mempersilakan Sakaya berjalan lebih dulu. Sakaya baru saja melangkah ketika suara Mira kembali terdengar. “Sakara.” Sakaya berhenti dan menoleh. Mira menunjuk mangkuk bubur kacang hijau yang masih berada di atas meja. “Mamah buat bubur kacang hijau untuk kamu. Kamu bahkan belum menyentuhnya.” Sakaya melirik mangkuk tersebut sebentar sebelum kembali menatap Mira. “Maaf.” kata Sakaya tetap melangkah, “Saya alergi kacang hijau.” Mira membeku. Sakaya tidak menunggu reaksi perempuan itu. Ia langsung berjalan menuju tangga, sementara pelayan tadi buru-buru mengikutinya. Sepanjang perjalanan menuju lantai dua, tidak ada percakapan di antara mereka. Pelayan itu beberapa kali terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi setiap kali melirik Sakaya dari belakang, niatnya selalu menghilang. Pemuda itu berjalan dengan langkah tenang dan wajah datar, membuat pelayan tersebut semakin tidak yakin harus memperlakukannya seperti Tuan Sakara yang dulu atau seseorang yang baru pertama kali ditemuinya. Sakaya sendiri tidak terlalu memperhatikan. Pikirannya masih sibuk dengan rumah besar yang baru saja dimasukinya. Begitu sampai di lantai dua, ia sempat mengira kamar Sakara berada tidak jauh dari tangga. Beberapa pintu yang mereka lewati bahkan terlihat seperti kamar utama dengan ukuran yang jauh lebih besar. Namun, pelayan itu terus berjalan. Mereka melewati satu lorong, kemudian berbelok lagi ke bagian rumah yang semakin sepi. Sakaya mulai mengernyitkan kening ketika menyadari bahwa mereka justru semakin jauh dari bagian utama kediaman tersebut. Hingga akhirnya pelayan itu berhenti di depan sebuah pintu yang berada di sudut lorong. Sakaya menatap pintu itu beberapa detik. “Ini kamar Sakara?” Pelayan itu meski bingung dengan sikap Sakara yang aneh, namun tetap mengangguk saja. “Iya, Tuan.” Sakaya kembali melihat sekeliling. Posisi kamar ini benar-benar berbeda dari kamar-kamar yang sebelumnya mereka lewati. Letaknya cukup terpencil, bahkan nyaris berada di ujung lorong. “Jauh juga.” Pelayan itu hanya tersenyum canggung, “Saya pergi dulu, Tuan.” Sakaya mengangguk, “Silakan.” Pelayan tersebut langsung pergi tanpa banyak bicara. Sakaya menunggu sampai langkah kaki itu benar-benar menghilang sebelum akhirnya membuka pintu. Begitu masuk, ia langsung berhenti sejenak. Kamarnya cukup rapi. Tempat tidur berada di salah satu sisi ruangan, meja belajar diletakkan dekat jendela, sementara lemari pakaian berdiri di sudut yang berseberangan. Beberapa rak buku juga tersusun dengan baik. Tidak ada yang berantakan. Namun, dibandingkan dengan ruangan-ruangan lain yang sempat ia lihat, kamar ini terasa jauh lebih kecil. Sakaya perlahan mengedarkan pandangan. “Lo terjajah dan dikucilkan selama hidup di sini, atau gimana?” Tidak ada jawaban. Sakaya mendengus kecil. Tentu saja tidak ada jawaban. Sakara sedang berada di rumah sakit, sementara dirinya hanya orang asing yang baru saja mengambil alih kehidupannya. Ia menutup pintu kamar, kemudian berjalan mengitari ruangan. Warna abu-abu mendominasi hampir seluruh kamar. Tidak banyak hiasan yang menunjukkan kepribadian pemiliknya. Hanya beberapa barang pribadi yang tersusun rapi di tempat masing-masing. Sakaya menarik napas pelan. Aroma parfum yang tertinggal di dalam ruangan masih samar-samar tercium. Wanginya maskulin, tetapi tidak terlalu tajam. Sakaya mengernyitkan hidung. “Selera kita soal parfum ternyata cukup beda.” kata Sakaya sambil terkekeh, “Jelas lo cowok, gue cewek.” Ia kemudian duduk di kursi meja belajar. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Beberapa buku pelajaran tersusun di atas meja, alat tulis berada di dalam tempatnya, dan beberapa lembar kertas terlihat seperti catatan sekolah. Sakaya membuka laci pertama. Kosong. Laci kedua hanya berisi beberapa alat tulis. Ia membuka laci berikutnya dan kembali tidak menemukan apa pun yang aneh. Namun, ketika tangannya meraih laci paling bawah, Sakaya berhenti. Ia merogoh bagian belakang laci, sekadar memastikan tidak ada benda yang terselip di sana. Jarinya menyentuh sesuatu. Sakaya menariknya perlahan. Sebuah foto. Ia menatap foto usang tersebut dengan dahi berkerut. Dua anak berdiri di depan kamera sambil tersenyum. Sakaya langsung mengenali dirinya sendiri, dan di sebelahnya berdiri Sakara. Keduanya terlihat begitu dekat. Bahkan senyum mereka terlihat begitu lepas, seperti tidak pernah ada jarak di antara mereka. Sakaya menatap foto itu cukup lama. Senyum kecil kemudian muncul di sudut bibirnya. “Jangan bilang...” Ia membalik foto tersebut, tetapi tidak menemukan tulisan apa pun. Sakaya kembali menatap wajah Sakara di dalam foto. “Lo sebenarnya rindu gue?” Sakaya terkekeh pelan. “Cie.” Foto itu ia letakkan kembali di atas meja sebelum pandangannya beralih kepada lemari pakaian. Sakaya berjalan mendekat lalu membukanya. Matanya langsung membesar sedikit ketika melihat pakaian-pakaian yang tersusun di dalamnya. Sebagian besar terlihat berasal dari merek ternama yang bahkan cukup ia kenal. Ia mengambil salah satu jaket dan memperhatikan bahannya. “Lumayan.” Sakaya mengembalikannya, “Mungkin Mahes yang beliin.” Ia menggeleng kecil. “Atau jangan-jangan biar lo nggak mempermalukan namanya, makanya lo sering disuruh beli barang mewah.” Sakaya terkekeh kecil, “Keren sih, emang harusnya dimanfaatin. Biar bukan hanya dia aja yang jadiin lo alat, lo juga harus jadiin dia alat berharga.” Ia membuka bagian lemari yang lain. Tidak ada sesuatu yang menarik, sampai akhirnya Sakaya membuka bagian paling bawah. Di sana terdapat sebuah buku bersampul hitam. Sakaya mengambilnya, tidak ada nama di bagian depan. Ia mencoba membukanya, tetapi buku itu ternyata terkunci dengan kata sandi. “Serius?” Sakaya mengamati bagian kecil di samping buku tersebut. Ia berpikir sejenak. Kemudian mencoba memasukkan tanggal lahir Sakara. Klik. Buku itu terbuka, Sakaya terdiam. “Semudah itu? Lo jadiin tanggal lahir buat rahasia lo?” tanya Sakaya terkekeh, “Mereka mungkin nggak peduli dengan isinya selagi lo nurut, tapi kayaknya lo kurang waspada sama orang lain.” Ia membawa buku tersebut ke meja belajar, lalu duduk sambil membuka halaman pertamanya. Awalnya Sakaya hanya mengira buku itu berisi catatan biasa. Namun, baru beberapa halaman dibuka, ekspresinya perlahan berubah. Namanya ada di sana. Sakaya. Bukan hanya sekali. Hampir di setiap beberapa halaman, selalu ada catatan tentang dirinya. Tentang kebiasaannya, tentang sekolahnya, tentang hal-hal kecil yang bahkan sudah tidak lagi ia ingat. Sakaya membalik halaman demi halaman. Semakin banyak yang dibaca, semakin hilang senyum di wajahnya. Sakara ternyata menyimpan begitu banyak hal tentang dirinya. Hal-hal yang selama ini Sakaya sendiri sudah berusaha lupakan. Tangannya berhenti pada sebuah halaman, tatapan Sakaya terpaku cukup lama pada tulisan di sana. “Untuk Adikku, Sakaya. Aku nggak tau kapan aku bisa bertemu kamu lagi. Mungkin besok. Mungkin bertahun-tahun lagi. Atau mungkin memang nggak akan pernah. Tapi kalau suatu hari kita benar-benar dipertemukan lagi, aku ingin memberikan sesuatu yang seharusnya sudah menjadi milikmu sejak dulu. Aku menyisihkan uang ini sedikit demi sedikit untuk kamu. Bukan karena aku merasa bisa mengganti semua yang sudah hilang dari hidupmu. Aku tau uang nggak akan pernah cukup untuk itu. Aku cuma ingin, kalau suatu hari kamu kembali, setidaknya ada sesuatu yang bisa kuberikan tanpa harus membuat alasan. Aku tau aku seharusnya mencarimu. Aku tau seharusnya aku bertanya bagaimana keadaanmu, tinggal di mana, sekolah seperti apa, dan apakah kamu baik-baik saja. Tapi aku pengecut. Aku terlalu takut mencari seseorang yang mungkin sudah membenciku. Jadi aku cuma bisa melakukan hal kecil seperti ini. Kalau suatu hari kita bertemu lagi dan ternyata kita masih berdiri di sisi yang berlawanan, mungkin aku tetap nggak akan punya keberanian untuk mengatakan semuanya secara langsung. Tapi... ambillah uang ini. Anggap saja sebagai permintaan maaf yang terlambat. Dan kalau kamu nggak mau menerimanya pun nggak apa-apa. Aku cuma ingin kamu tau... Aku selalu mengingatmu. Aku selalu bertanya-tanya bagaimana hidupmu setelah aku kehilanganmu. Kenapa dunia ini seolah nggak ramah untuk kita berdua. Kenapa kita dipisahkan begitu saja...” Untuk beberapa detik, ia hanya duduk diam. Kemudian, suaranya keluar begitu pelan. “Lo... sebenarnya masih ingat semuanya tentang kita?” Tidak ada jawaban. Namun untuk pertama kalinya sejak memasuki rumah itu, Sakaya tidak lagi merasa seperti sedang mempelajari kehidupan orang lain. Ia justru merasa sedang membuka kembali bagian dari hidupnya sendiri yang selama ini terkubur begitu dalam. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD