Sore itu, Sakaya turun dari lantai dua setelah cukup lama berada di dalam kamar. Ia berniat mencari seseorang yang bisa memberitahunya mengenai keberadaan Sakara. Baru beberapa anak tangga dilewatinya, suara tawa kecil sudah terdengar dari ruang keluarga.
Sakaya menoleh ke arah sumber suara. Mira sedang duduk di sofa bersama seorang anak perempuan yang usianya tidak jauh berbeda darinya.
Perempuan itu terlihat begitu dekat dengan Mira, bahkan sesekali menyandarkan kepalanya di bahu sang ibu sambil menunjukkan sesuatu dari ponselnya. Di sisi lain sofa, seorang anak laki-laki kecil terlihat sibuk memainkan robot mainan.
Sakaya hanya melirik sekilas. Ia tidak tertarik dengan apa yang sedang mereka lakukan. Kakinya terus melangkah menuruni tangga sampai akhirnya ia berdiri di ruang keluarga.
Tanpa basa-basi, Sakaya langsung menatap Mira. “Rumah sakit tempat dia dirawat di mana?”
Mira yang sedang berbicara dengan anak perempuannya langsung mengangkat wajah.
Kening Mira berkerut, “Maksud kamu siapa?”
“Dia dirawat di rumah sakit mana?” ulang Sakaya.
Mira semakin bingung. “Siapa?”
“Anakmu yang tidak ada di sini.”
Mira terdiam beberapa saat. Sakaya menghela napas pendek. Ia mulai merasa waktunya terbuang.
“Rumah sakit tempat Sakara dirawat. Di mana?”
Belum sempat Mira menjawab, anak laki-laki kecil yang sejak tadi bermain di lantai tiba-tiba bangkit. Robot mainannya ditinggalkan begitu saja sebelum ia berlari menghampiri Sakaya.
“Kak Sakara!”
Sakaya refleks mundur beberapa langkah sebelum anak itu sempat menyentuhnya.
Anak kecil itu langsung berhenti. Wajahnya terlihat bingung, sementara Mira yang melihat kejadian tersebut seketika berdiri.
“Saka...” panggilan itu kembali terhenti di ujung lidahnya.
Lagi-lagi, dejavu yang sama.
Mira menghela napas panjang sebelum akhirnya menunjuk anak kecil yang masih berdiri di hadapan Sakaya. “Dia adik kamu, Dafa. Jangan seperti ini kepada anak kecil.”
Sakaya menatap Dafa sebentar, kemudian kembali menatap Mira.
“Saya tidak punya adik.”
Mira terdiam.
“Anda salah orang, jika berharap saya akan mengakuinya.” lanjut Sakaya dengan nada datar.
Ia kemudian kembali mengingat tujuannya turun ke lantai bawah.
“Sekarang, dirawat di rumah sakit mana dia?” tanyanya. “Saya tidak punya waktu. Besok saya sudah harus kembali ke asrama.”
Mira menatap Sakaya dengan wajah tidak percaya. “Begini cara kamu berbicara dengan orang tua kamu? Kamu bahkan sudah tidak punya sopan santun seperti ini?”
Sakaya hanya mengangkat alis.
“Anda orang tua saya? Mimpi.” balas Sakaya.
Mira semakin kesal. Namun, sebelum sempat mengatakan sesuatu, suara kecil Dafa terdengar dari sampingnya.
“Kak Sakara...”
Sakaya menoleh.
Mata anak itu sudah mulai berkaca-kaca. Ia masih menggenggam robot kecilnya erat-erat.
“Kak Sakara udah nggak mau main sama aku?”
Sakaya tidak menjawab.
Dafa mengusap matanya dengan punggung tangan. “Udah nggak mau main robot sama aku?”
Bibirnya mulai bergetar sebelum akhirnya tangisannya pecah.
“Huwaaa...”
Mira langsung menghampiri anak itu dan menggendongnya. Dafa menyembunyikan wajah di bahu ibunya, sementara tangisnya masih terdengar jelas memenuhi ruang keluarga.
Mira kemudian menatap Sakaya dengan sorot mata penuh kekecewaan.
“Ini yang terakhir,” kata Mira tegas sambil menunjuk Sakaya. “Besok-besok Mamah tidak ingin melihat sikap kamu yang keterlaluan seperti ini lagi. Bagaimanapun juga, dia adik kamu.”
Sakaya tidak menjawab.
Mira menggeleng kesal, kemudian membawa Dafa meninggalkan ruang keluarga. Tangisan kecil anak itu perlahan menjauh bersama langkah mereka.
“Kak Sakara jahat...”
Sakaya tetap berdiri di tempatnya.
Ia tidak merasa bersalah. Bukan karena sengaja ingin menyakiti anak kecil itu, melainkan karena ia memang tidak tahu bagaimana harus memperlakukan seseorang yang bahkan tidak pernah menjadi bagian dari hidupnya.
Setelah suasana kembali sunyi, Sakaya baru menyadari bahwa masih ada seseorang di ruangan tersebut.
Perempuan yang sejak tadi duduk bersama Mira kini sudah berdiri. Tatapannya tertuju kepada Sakaya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Sakaya menoleh.
Mereka saling bertatapan selama beberapa detik.
Perempuan itu akhirnya berjalan mendekat. Wajahnya tidak menunjukkan kemarahan seperti Mira. Justru ada rasa penasaran yang begitu jelas di matanya.
“Kenal sama gue, kan?” tanyanya.
Sakaya mengangkat alis.
Perempuan itu berhenti beberapa langkah di hadapannya, kemudian tersenyum tipis.
“Gue Rania Alesha Maheswara. Anak perempuan satu-satunya di rumah ini.”
Sakaya menatapnya beberapa detik.
“Oh.”
Hanya satu kata.
Senyum Rania langsung menghilang.
Ia menatap Sakaya lebih lama, seolah sedang mencoba mencari sesuatu dari wajah pemuda di hadapannya.
“Lo...” Rania mengepalkan tangannya, “Anak perempuan yang dibuang, karena nyawa lo nggak ada harganya dibanding uang.”
Rania tertawa kecil.
“Sakara, Sakaya...” ujar Rania sambil tertawa, “Dua manusia yang nggak ada artinya di mata Mamah sendiri. Sebaliknya, gue, Mamah lo selalu tunduk di kaki gue.”
Sakaya masih diam.
Ia menatap Rania tanpa ekspresi, seolah perkataan perempuan itu sama sekali tidak menarik baginya.
Rania mengernyit.
“Kenapa diam?”
“Harus jawab apa?”
Jawaban datar itu membuat Rania terdiam sesaat.
Sakaya kemudian melangkah melewatinya.
“Gue cuma turun buat cari tau rumah sakit tempat alat keluarga lo itu dirawat. Kalau lo nggak tau, minggir.”
Rania langsung menatap tajam.
“Lo nggak kayak dia yang nurut, gue nggak suka.”
“Yang nentuin suka dan nggak suka itu bukan lo, tapi bokap lo.” kata Sakaya, “Lagipula nggak ada di map perjanjian... kalau gue harus nurut sama lo.”
“Sialan?!”
Sakaya berhenti melangkah. Ia menoleh perlahan ke arah Rania yang masih berdiri dengan wajah memerah karena kesal.
Tatapannya tetap tenang, bahkan sudut bibirnya sedikit terangkat seolah makian barusan sama sekali tidak berarti baginya.
“Kalau lo mau gue nurut,” ujar Sakaya santai, “lo harus bayar gue.”
Rania terdiam.
Sakaya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, lalu berjalan beberapa langkah mendekat.
“Bokap lo aja bayar gue mahal supaya gue mau tinggal di rumah ini dan menjalankan peran sebagai Sakara.” Ia berhenti tepat beberapa langkah di hadapan Rania. “Lo berani bayar berapa?”
Rania menatapnya tidak percaya.
“Lo gila?”
“Kenapa?” Sakaya mengangkat alis. “Bukannya tadi lo yang mau gue nurut?”
Rania mengepalkan kedua tangannya.
“Gue tuan rumah di sini!”
“Terus?”
Jawaban Sakaya begitu cepat sampai Rania kehilangan kata-kata.
“Secara kontrak, gue hanya diperintah untuk menggantikan Sakara. Bukan benar-benar jadi bagian keluarga ini atau pelayan.” Sakaya tersenyum tipis. “Dan... hilangkan semua rencana lo yang ingin buat gue iri karena jalinan kasih sayang Nyonya Mira dan lo. Gue nggak peduli.”
“Lo—”
“Tapi kalau lo benar-benar ingin memperalat gue, gue bisa pertimbangkan kalau bayarannya sesuai. ” potong Sakaya, “Gue nggak kerja gratis.”
Rania menatapnya tajam. “Jadi sekarang harga diri lo bisa dibeli dengan uang?”
Sakaya terkekeh kecil.
“Bukan harga diri.”
Ia menunjuk dirinya sendiri.
“Waktu, tenaga, dan kepatuhan gue.” Sakaya kemudian mengangkat bahu, “Semuanya ada harganya. Dan itu nggak murah.”
Rania masih menatapnya dengan kesal.
Sakaya berbalik, hendak kembali pergi, tetapi langkahnya terhenti ketika Rania kembali bersuara.
“Lo pikir bokap gue bakal terus melindungi lo? Suatu saat lo akan jadi gelandangan lagi. ”
Sakaya menoleh dari balik bahunya.
“Emang selama ini gue hidup di bawah lindungan bokap lo?” Sakaya terkekeh, “Sejak dulu gue hidup dengan normal dan aman tanpa gangguan dari keluarga lo.”
Rania terdiam.
Sakaya tersenyum kecil.
“Lagipula gue datang karena dibayar sesuai kesepakatan, dan itu karena bokap lo butuh gue.” sambung Sakaya skakmat, “Jadi rasa nyaman tanpa diganggu, lo harus siapin itu, biar gue tetap betah jalanin peran Sakara sampai dia bangun.”
Rania terdiam cukup lama.
Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus membalas apa.
Selama ini, tidak ada seorang pun di rumah tersebut yang berani berbicara kepadanya seperti itu. Terlebih lagi Sakara, yang sejak kecil selalu menurut setiap kali dirinya meminta sesuatu.
Namun, orang yang berdiri di hadapannya sekarang sama sekali berbeda.
Tidak takut.
Tidak gentar.
Bahkan seolah tidak peduli dengan statusnya sebagai anak keluarga Maheswara.
“Gue mau tanya... Di mana dia dirawat.” ujar Sakaya pada Rania, “Kalau nggak mau ngasih tau, nggak masalah sih, alat keluarga lo itu juga nggak terlalu penting buat gue.”
Rania menatap Sakaya beberapa detik sebelum akhirnya terkekeh.
“Jadi lo mau reunian sama kembaran lo?” tanya Rania tersenyum sinis.
Sakaya mengangkat alis, “Reunian?”
“Iya.” Rania menyeringai. “Bukannya lo penasaran banget sama dia? Atau jangan-jangan lo masih berharap dia mengingat lo?”
Sakaya tidak langsung menjawab.
Tatapannya justru beralih kepada tangga di belakang Rania, seolah percakapan tersebut mulai terasa membosankan.
“Bukan reunian.”
Rania mengernyit, “Terus?”
“Gue cuma mau berterima kasih.”
“Berterima kasih?”
Sakaya mengangguk pelan, “Karena dia mau pinjemin hidupnya buat gue sebentar.”
Rania menatapnya bingung, Sakaya kemudian tersenyum tipis.
“Dengan gue ada di rumah ini, dendam gue ke lo mungkin sebentar lagi bisa dimulai.”
Senyum Rania langsung menghilang. Ia bahkan tanpa sadar memundurkan satu langkah.
“Maksud lo apa?” tanya Rania.
Sakaya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
“Gue akan ungkit kejadian dua tahun lalu.”
Wajah Rania berubah, “Kejadian... dua tahun lalu?”
Sakaya menatapnya lurus, “Soal Nyonya Mira yang datang ke tempat gue.”
Rania mulai mengepalkan tangannya, Sakaya melanjutkan dengan nada tenang.
“Dia datang karena lo yang katanya putus asa nggak bisa unggul dari gue.” kata Sakaya tertawa kecil, “Padahal harusnya lo sadar diri nggak punya bakat apapun selain punya bokap kaya.”
Rania terdiam.
“Nyonya Mira mengancam gue waktu itu.” Sakaya memiringkan kepala. “Gue masih ingat semuanya. Dan gue tau seberapa irinya lo sama gue sampai sekarang.”
“Gue nggak iri sama lo!”
Jawaban Rania terdengar begitu cepat, Sakaya justru terkekeh.
“Kalau begitu, kenapa tangan lo mengepal?”
Rania langsung melihat tangannya sendiri, Sakaya menggeleng kecil.
“Lo bilang lo anak perempuan satu-satunya di rumah ini.” Sakaya melangkah mendekat, “Tapi dari segi apa pun, lo akan kalah sama gue kalau nggak ada dukungan orang tua lo.”
Rania menatapnya tajam.
“Jangan sok tau!”
“Gue nggak sok tau.” Sakaya berhenti beberapa langkah di hadapannya, “Gue cuma ngomong berdasarkan apa yang gue lihat.”
Ia menghela napas pelan.
“Dulu gue berhenti jadi terbaik karena satu hal.” Tatapan Sakaya berubah sedikit, “Otak gue masih terlalu haus perhatian wanita itu.”
Rania terdiam.
“Mungkin karena gue masih berharap suatu hari Nyonya Mira akan sadar kalau gue juga anaknya.” Sakaya tersenyum hambar, “Ternyata gue salah.”
Ia menatap Rania dari ujung kepala hingga kaki.
“Setelah sekarang gue melihat lo pertama kali dan mendengar bagaimana cara lo bicara, gue rasa...” Sakaya terkekeh kecil, “gue juga perlu sombong.”
Rania tidak mampu membalas, Sakaya kemudian berbalik.
“Keinginan lo untuk memperalat gue, seperti lo memperalat Sakara pupus... Gue pastikan lo nggak akan hidup nyaman selama ada gue di sini.”
Rania masih berdiri terpaku.
Tatapannya mengikuti punggung Sakaya yang semakin menjauh. Untuk pertama kalinya, seseorang tidak hanya menolak tunduk kepadanya, tetapi juga berani mengatakannya secara terang-terangan.
“Lo pikir gue takut?” teriak Rania.
Sakaya berhenti.
Namun, ia tidak langsung menoleh. Beberapa detik kemudian, Sakaya hanya melirik dari balik bahunya.
“Enggak.” jawaban singkat Sakaya justru membuat Rania semakin geram.
“Terus kenapa lo pergi?” tanya Rania.
“Karena gue udah selesai ngomong.”
Sakaya kembali melangkah, Rania mengepalkan tangannya semakin erat.
“Sakaya!” teriak Rania, “Lo nggak akan pernah menang dari gue!”
Sakaya menghela napas, ia menoleh untuk terakhir kalinya.
“Gue nggak sedang bertanding sama lo.”
Tatapan Sakaya begitu tenang.
“Gue cuma mau hidup gue sendiri. Tapi kalau lo terus berusaha mengusik gue, ya...” Sudut bibir Sakaya terangkat. “Gue nggak keberatan bikin lo sadar kalau selama ini lo cuma hebat karena semua orang di rumah ini membiarkan lo merasa hebat.”
Rania terdiam.
Sakaya kemudian berbalik dan benar-benar meninggalkannya.
Sudah cukup.
Ia tidak ingin menghabiskan lebih banyak waktu berdebat dengan perempuan itu. Lagipula, semakin lama ia berada di sini, semakin besar kemungkinan Mira kembali datang dan membuat keributan hanya karena anak kesayangannya menangis.
Sakaya mungkin tidak keberatan dimarahi.
Bahkan jika Mira menggunakan tangannya untuk melukainya, ia mungkin akan menerimanya.
Tapi suara perempuan itu...
Entah kenapa, sejak beberapa hari terakhir Sakaya benar-benar sudah muak mendengarnya.
Ia ingin segera datang ke sana.
Setidaknya di sana, mungkin tidak ada seorang pun yang memanggilnya dengan nada tinggi setiap beberapa menit sekali. Namun, sebelum datang ke asrama dan menggantikan Sakara, masih ada satu hal yang harus ia cari tahu.
Rumah sakit tempat Sakara dirawat.
*****