“Jadi, kesalahan gue di masa lalu sama lo itu apa?” Pertanyaan itu akhirnya keluar juga dari mulut Sakaya. Sejak beberapa saat lalu, pikirannya terus dipenuhi ucapan Alden selama dua minggu ini. Bahkan ia sudah mengetahui identitasnya, semenjak di asrama entah sejak kapan. Di awal kedatangan ke asrama, laki-laki itu juga langsung mengaku sedang mencarinya. Tapi untuk apa? Sakaya menatap Alden yang duduk di sofa tidak jauh darinya. Laptop masih terbuka di atas meja, tetapi sejak tadi perhatian laki-laki itu seolah tidak benar-benar tertuju pada layar. “Maksud gue...” Sakaya menarik napas pelan. “Kenapa lo cari gue selama ini? Pas awal gue datang ke asrama, lo juga bilang nempatin Sakara di sisi lo karena gue.” Alden akhirnya mengalihkan pandangan dari laptopnya. Tatapan laki-laki itu

