Alden membawa Sakaya masuk ke apartemennya. Sejak perjalanan tadi, Sakaya sudah memejamkan mata. Tubuhnya benar-benar kelelahan setelah berlari, melawan orang-orang Maheswara, dan bersembunyi di tengah keramaian mall. Begitu sampai di dalam, Alden tidak membangunkannya. Ia justru membawa Sakaya menuju kamarnya. Perlahan, Alden merebahkan tubuh perempuan itu di atas tempat tidur. Ia kemudian menarik selimut hingga menutupi tubuh Sakaya dengan rapi. Sakaya masih memejamkan mata. Napasnya terdengar pelan, meskipun sesekali ia menarik napas sedikit lebih dalam. Alden berdiri di sisi tempat tidur sambil memperhatikan wajahnya. Tangannya tanpa sadar mengelus pipi Sakaya yang memar dengan hati-hati, dan ringisan kecil langsung keluar dari bibirnya. “Apa selama ini... hidupmu nggak baik-ba

