BAB 1

2438 Words
Delapan tahun berlalu begitu cepat. Tangisan seorang anak yang memohon agar tidak ditinggalkan kini hanya tersisa sebagai kenangan yang sesekali muncul dalam mimpi. Sakaya sudah tumbuh besar. Kini ia duduk di bangku kelas dua belas SMA, usianya hampir delapan belas tahun, usia ketika seseorang seharusnya mulai memikirkan masa depan. Namun bagi Sakaya, bertahan hidup dari hari ke hari saja sudah cukup melelahkan. “Sakaya!” teriak seseorang yang membuat gadis pemilik nama itu menoleh. Namun tidak ada jawaban. Sakaya hanya melirik sekilas ke arah sumber suara, lalu kembali memasukkan kedua tangannya ke dalam saku rok. Ekspresinya datar. Seolah memutuskan apakah orang itu cukup penting untuk diladeni atau tidak. Laki-laki yang memanggilnya langsung mendecih. “Woi! Gue manggil dari tadi.” Tetap tidak ada jawaban. Sakaya akhirnya berjalan mendekat dengan langkah santai. Setelah jarak mereka tinggal beberapa langkah, barulah ia membuka mulut. “Apa?” Singkat. Padat. Dan terdengar tidak terlalu peduli. Laki-laki itu langsung memutar bola matanya, “Buset. Semakin susah banget diajak ngobrol.” “Terus?” tanya Sakaya. “Lo bolos nggak ngajak-ngajak gue.” balas laki-laki itu. Sakaya memutar bola matanya malas, “Kayak nggak biasa bolos aja.” Ucapan itu membuat laki-laki tersebut terkekeh. “Ya juga sih.” ia menggaruk belakang kepalanya sebelum kembali menatap Sakaya. “Tapi serius, gue nyariin lo dari tadi.” “Kenapa?” “Kita kepilih lagi.” Sakaya mengangkat sebelah alisnya, “Kepilih apa?” “Perwakilan taekwondo ke Ibu Kota.” Sakaya terdiam beberapa detik. Tidak terlihat senang, tidak juga terkejut. Seolah informasi itu tidak terlalu penting baginya. “Terus?” “Terus apanya?” laki-laki itu menatapnya tidak percaya. “Itu kompetisi tingkat nasional, Goblok.” “Hm.” “Hm doang?” Sakaya menguap pelan. Baginya, kabar itu tidak terlalu penting. Dulu mungkin berbeda. Namun sekarang, menang atau kalah tidak lagi membuat jantungnya berdebar seperti dulu. “Gue udah ngundurin diri, Aksa Gibran yang terhormat.” lanjut Sakaya sambil menghela napas, “Perwakilan cewek... bukan gue lagi.” Kalimat itu membuat laki-laki di depannya langsung mendelik. “Hah?” kaget Aksa didetik berikutnya, “Ngundurin diri, serius?” Sakaya hanya mengangkat bahu, acuh seperti biasa. Tidak punya jawaban panjang, seolah terlalu lelah untuk berbicara. “Lo kayaknya semakin gila.” komentar Aska dirasa tidak mendapat jawaban. “Bisa jadi.” balas Sakaya. “Bukan jawaban gini yang pengin gue dengar, Sakaya Adreena.” Aksa mengusap wajahnya seolah frustasi. “Lo dulu ambis banget ikut kompetisi nasional. Lo harus ingat fakta itu.” Sakaya diam. “Dari SMP, lo latihan paling keras. Datang paling pagi, pulang paling malam.” Aksa menuding Sakaya, “Kalau kalah sekali aja, besoknya latihan kayak orang kesurupan.” Sakaya masih tidak menjawab, karena semua itu memang benar. “Bahkan waktu kita kelas delapan, lo pernah bilang bakal masuk tim nasional suatu hari nanti.” Aksa menghela napas panjang. “Tapi sekarang... ini kesekian kalinya lo nolak kompetisi. Alasannya kenapa sih?” Sakaya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku rok. “Nggak, pengin aja.” “Alasan paling nggak masuk akal yang pernah gue denger.” Aksa menggeleng tak habis pikir, “Padahal masih rutin ikut latihan, tapi cuma sebatas itu aja.” “Gue cuma bantu mereka biar lebih hebat dari gue.” “Lo berubah banget, Sakaya.” Untuk pertama kalinya, gadis itu mengalihkan pandangan. Benar, Sakaya dulu tidak pernah rela dikalahkan. Sekecil apa pun pertandingan itu, ia akan mengerahkan seluruh tenaganya untuk menang. Bukan karena menyukai medali. Bukan juga karena haus pujian. Namun karena saat berada di arena, ia merasa masih memiliki sesuatu yang bisa dipertahankan. Sesuatu yang tidak bisa direbut begitu saja. Dan ia selalu merasa, suatu saat pencapaiannya akan dilirik. Namun sekarang? Sakaya bahkan tidak yakin masih peduli atau tidak. “Semenjak masuk SMA, semangat lo turun parah. Nilai sekolah lo juga jadi bobrok banget.” lanjut Aksa “Kerjaan lo cuma bolos, tidur, sama bikin guru BK pusing.” Sakaya berakhir diam lagi. “Padahal dulu lo beda. Dulu lo selalu berusaha jadi nomor satu. Bahkan nilai lo selalu paling baik dalam satu angkatan.” Sakaya tersenyum tipis, namun senyum itu tidak sampai ke matanya. “Orang bisa berubah.” balas Sakaya singkat. “Iya, tapi nggak sampai segininya.” lanjut Aksa tak habis pikir. Keheningan sesaat muncul di antara mereka. Angin siang berembus pelan melewati koridor sekolah. Mereka melangkah santai menyusuri koridor sekolah yang masih sepi. Bel istirahat kedua sebentar lagi berbunyi. Beberapa guru yang berpapasan hanya melirik sekilas sebelum menghela napas pasrah. Kalau siswa lain mungkin masih bisa ditakut-takuti dengan ancaman ruang BK. Tapi tidak dengan Sakaya. Dan tidak dengan Aksa. Terutama Sakaya. Guru BK bahkan sudah kehabisan cara menghadapi gadis itu. Surat peringatan? Pernah. Panggilan orang tua? Tidak ada yang datang. Skors? Tidak terlalu berpengaruh. Nasihat? Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. Bahkan beberapa guru sampai hafal kebiasaannya. Kalau Sakaya menghilang dari kelas, kemungkinan besar ia sedang tidur di ruang UKS, di tribun belakang lapangan, atau di atap gedung lama yang jarang digunakan. Anehnya, meskipun begitu, ia tidak pernah benar-benar membuat masalah. Tidak merokok. Tidak berkelahi. Tidak mengganggu siswa lain. Ia hanya... kehilangan minat terhadap hampir semua hal. “Hukuman buat kita sekarang, kayaknya udah nggak ada gunanya ya.” gumam Aksa tiba-tiba, “Guru BK juga kayaknya udah nyerah.” “Hm.” “Liat kan? Jawabannya cuma hm.” Sakaya terkekeh kecil. Sangat kecil sampai hampir tidak terdengar, Aksa menghela napas panjang. "Lagian mau dihukum apa lagi?" tanya Sakaya akhirnya mengeluarkan suaranya. “Nggak tau.” Aksa berkomentar, “Lo malah kayak menikmati.” ”Nggak juga.” “Bohong.” Sakaya tidak membantah. Karena sebenarnya Aksa benar. Bukan menikmati, hanya tidak peduli. Ada perbedaan besar di antara keduanya. Mereka terus berjalan beberapa langkah lagi. Sampai akhirnya Aksa kembali membuka suara. “Tau nggak?” Aksa memulai obrolan lagi. “Apa?” “Adit yang jauh dari kita aja tiap hari masih ngehubungin gue.” Langkah Sakaya tidak berhenti. Namun pandangannya berubah sedikit. Hanya sedikit. "Terus?" lanjut Sakaya bertanya. “Terus lo yang tiap hari ada di depan mata gue malah makin nggak bisa ditebak.” Sakaya diam. “Adit selalu nanya kabar lo.” Tidak ada jawaban. “Kadang gue heran...” Tetap tidak ada jawaban. “Lo berdua kenapa sih? Udah kayak musuhan aja, padahal hubungan kalian persepupuan.” Aksa akhirnya mengeluarkan segala unek-uneknya, “Harusnya hubungan kalian lebih erat dibandingkan gue.” Keheningan kembali muncul. Aksa menatap profil wajah sahabatnya itu beberapa saat. Namun seperti biasa, Sakaya tidak memberikan celah sedikit pun. Akhirnya Aksa menghela napas lagi. “Dan satu hal yang sampai sekarang nggak pernah bisa gue pahami...” Sakaya melirik sekilas. “Apalagi?” “Harusnya lo dulu ikut ke Ibu Kota, lo dapet beasiswa penuh meski beda sekolah sama Adit.” Langkah Sakaya melambat. Sangat tipis dan nyaris tidak terlihat. Aksa melanjutkan, “Biaya sekolah ditanggung, tempat tinggal disiapin. Lo tinggal berangkat doang. Gue heran kenapa lo sia-siain.” Suara Aksa terdengar semakin frustrasi, namun Sakaya tidak berkata apa-apa. “Gue sampai sekarang masih nggak habis pikir.” Aksa mengusap wajahnya. “Mana Adit juga diem aja. Setiap kali gue tanya soal lo, jawabannya selalu muter-muter kayak nyembunyiin sesuatu.” Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, sudut bibir Sakaya terangkat. Namun senyum itu sama sekali tidak mengandung kebahagiaan. Justru sebaliknya. Pahit. Sangat pahit. Karena dari semua hal yang bisa dibahas, topik itulah yang paling menyakitkan. Delapan tahun, dan luka itu masih ada, masih sama, bahkan lukanya semakin menganga lebar. Sakaya berhenti berjalan, Aksa ikut berhenti. Koridor sekolah mendadak semakin sunyi. Angin berhembus pelan, menggerakkan ujung rambut hitam milik gadis itu. “Lo pasti bertanya-tanya...” ucap Sakaya pelan. Aksa menatapnya. “Kenapa gue nggak jadi sekolah di Ibu Kota.” Tidak ada yang menyela. “Kenapa gue nggak jadi ngepakin sayap gue lebih lebar, padahal peluang untuk bersinar itu sangat tinggi.” Tatapan Sakaya perlahan jatuh ke lantai. Beberapa detik berlalu sebelum ia kembali berbicara. “Jawabannya cuma satu.” Aksa menunggu. Dan ketika kalimat berikutnya keluar, suara Sakaya terdengar jauh lebih tenang daripada seharusnya. Terlalu tenang untuk seseorang yang sedang membicarakan luka terdalamnya. “Ternyata harapan gue untuk dilihat itu pupus.” Aksa membeku. Sakaya tersenyum kecil. Senyum yang lebih mirip luka lama yang terbuka kembali. “Gue dulu selalu berpikir...” Sakaya menghela napas pelan. “Kalau gue cukup hebat, gue cukup pintar, gue cukup berprestasi, dan gue terus menang... Mungkin seseorang bakal ngeliat gue.” Mata Aksa perlahan membesar. Sementara Sakaya justru tertawa pelan, Tawa yang terdengar hampa. ”Tapi ternyata nggak.” Keheningan menyelimuti mereka. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Aksa merasa bisa melihat sedikit isi hati gadis yang selalu menutup dirinya rapat-rapat. “Gue mungkin hebat di mata orang lain. Tapi ternyata gue juga sangat mengganggu di mata orang lain. Gue bisa aja nggak peduli dengan tatapan itu, tapi...” Sakaya mengangkat pandangannya ke langit-langit koridor. Namun matanya kosong. "...gimana kalau yang ngeliat gue sebagai gangguan itu justru orang yang paling pengin gue bikin bangga?" Aksa terdiam. Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus menjawab apa. Sakaya tertawa kecil. Tawa yang terdengar lebih menyedihkan daripada tangisan. “Lucu ya?” Tidak. Sama sekali tidak lucu. “Tahun-tahun itu gue belajar mati-matian.” lanjut Sakaya pelan. “Gue latihan sampai badan gue memar. Gue belajar sampai begadang. Gue berusaha jadi yang terbaik di mana pun gue bisa.” Aksa mengepalkan tangannya. Karena ia tahu itu benar. Ia menyaksikan semuanya. Ia melihat sendiri bagaimana Sakaya selalu memaksa dirinya melampaui batas. “Dulu gue pikir kalau gue cukup bersinar, seseorang bakal ngeliat gue.” Sakaya tersenyum tipis. “Tapi ternyata makin gue bersinar, makin gue disuruh redup.” Kalimat itu membuat d**a Aksa terasa sesak. “Dan yang nyuruh gue redup bukan orang lain.” suara Sakaya semakin pelan. “Justru orang yang selama ini gue tunggu.” Angin kembali berembus melewati koridor. Membawa keheningan yang terasa berat, Sakaya menundukkan kepalanya sedikit. “Jadi gue harus gimana, Aksa?” Aksa membeku. “Kalau gue dipaksa redup sama orang yang paling pengin gue lihat ngakuin keberadaan gue... gue harus gimana?” Tidak ada nada marah. Tidak ada nada benci. Dan justru karena itulah kalimat itu terasa jauh lebih menyakitkan. “Apa gue harus terus bersinar sampai bikin dia makin nggak nyaman?” Sakaya tertawa pelan, “Atau gue harus nurut dan meredup seperti yang dia mau?” Aksa tidak mampu menjawab. Karena ia tahu pertanyaan itu tidak benar-benar ditujukan kepadanya. Pertanyaan itu sudah tersimpan di hati Sakaya selama bertahun-tahun. “Awalnya gue marah. Marah banget” lanjut Sakaya. “Tapi lama-lama capek. Capek berharap, capek nunggu, capek berusaha jadi seseorang yang layak dilihat.” Suaranya tetap tenang. Terlalu tenang. Seolah semua emosi itu sudah habis terkuras bertahun-tahun lalu. “Jadi akhirnya gue berhenti.” Aksa mengernyit. “Berhenti?” “Berhenti berharap.” Sakaya menatap lurus ke depan. “Karena harapan itu yang bikin sakit.” Keheningan kembali menyelimuti mereka. Beberapa siswa mulai keluar dari kelas ketika bel hampir berbunyi. Suara langkah kaki mulai terdengar di kejauhan. Namun bagi mereka berdua, dunia seolah berhenti sesaat. “Makanya gue nggak jadi ke Ibu Kota.” Aksa menoleh. “Buat apa?” Sakaya mengangkat bahu. “Dulu gue mau ke sana karena pengin membuktikan sesuatu. Sekarang gue nggak punya siapa-siapa buat dibuktiin.” Kalimat itu menghantam jauh lebih keras daripada yang ia sadari. Aksa memandangi sahabatnya lama,alu akhirnya mengerti. Ini tidak pernah soal beasiswa, tidak pernah soal kompetisi, tidak pernah soal sekolah. Semua itu hanya korban dari satu hal yang jauh lebih besar. Kekecewaan. Kekecewaan yang menumpuk selama bertahun-tahun belakangan. “Dan tau bagian paling menyedihkannya apa?” tanya Sakaya tiba-tiba. Aksa menggeleng pelan. Sakaya tersenyum, kali ini senyum itu begitu rapuh. “Gue masih berharap sampai sekarang.” Aksa membeku. “Walaupun gue bilang udah nggak peduli, walaupun gue bilang udah berhenti berharap, dalaupun gue pura-pura nggak butuh siapa-siapa.” Sakaya menunduk. “Jauh di dalam hati gue... ternyata masih ada bagian bodoh yang meminta gue untuk terus nunggu.” Untuk dilihat, untuk diakui, untuk dianggap ada. Dan bagian itulah yang paling menyakitkan untuk dibunuh. Aksa yang tidak pernah menangis, entah kenapa sekarang tersadar dengan kebodohannya menanyakan hal berat. Setelah sekian lama bertanya-tanya dan kini mendapatkan jawaban, yang ia dapat justru matanya sekarang berkaca-kaca. “Pasti sakit ya?” tanya Aksa kemudian. “Gue mungkin nggak tau siapa yang lo tunggu, tapi gue entah kenapa ngerasain rasa sakit itu juga.” Sakaya terdiam beberapa saat. Matanya menatap lurus ke depan. Ke arah koridor yang mulai ramai oleh siswa-siswa yang keluar dari kelas mereka. Suara tawa. Suara langkah kaki. Suara obrolan yang bercampur menjadi satu. Namun entah kenapa semuanya terasa jauh. Lalu perlahan, Sakaya mengangkat tangannya. Menepuk bahu Aksa pelan. Satu kali. Tidak keras. Namun cukup untuk membuat Aksa menoleh. “Jangan terlalu dipikirin.” kata Sakaya selanjutnya. Aksa mengernyit, “Gimana nggak dipikirin? Lo sampai berubah sedrastis ini.” Sakaya mengangkat sudut bibirnya sedikit. Kali ini bukan senyum pahit, bukan juga senyum yang menyembunyikan luka. Hanya senyum kecil yang terlihat lelah. “Karena itu urusan gue. Lo nggak perlu ikut ngerasain juga.” “Tetep aja—” “Kasih gue waktu buat berubah.” Kalimat itu membuat Aksa terdiam. Sebab selama bertahun-tahun, untuk pertama kalinya Sakaya mengucapkan sesuatu yang terdengar seperti sebuah harapan. “Gue nggak selamanya bakal terjebak di perasaan yang justru buat gue semakin bobrok, kan?” lanjut Sakaya pelan. Angin kembali berembus melewati koridor, membuat beberapa helai rambutnya bergerak pelan. “Walaupun kadang gue masih nunggu sesuatu yang bahkan nggak tau bakal datang atau nggak.” Sakaya menghela napas panjang, “Tapi gue lagi berusaha buat melupakan kemustahilan itu.” Aksa menatapnya tanpa berkedip. Karena kalimat itu terasa asing keluar dari mulut Sakaya, namun justru itulah yang terasa begitu tulus. “Sekarang...” lanjut Sakaya, “Gue juga punya tujuan lain.” Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, tatapannya tidak lagi kosong. Meski masih ada kesedihan dan luka di sana, namun ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang sudah lama hilang seperti kembali lagi. “Tujuan gue... Cuma untuk diri gue dan orang-orang yang mendukung gue.” lanjut Sakaya, “Gue nggak perlu mengharapkan sesuatu dari orang yang ngebenci gue lagi. Kali ini, gue akan berdiri untuk gue sendiri.” Aksa mengusap bulir matanya yang tiba-tiba jatuh. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa sedikit lega. Karena meskipun Sakaya masih terluka dan Sakaya tidak menceritakan lebih soal darimana luka itu, setidaknya gadis itu akhirnya mengakui satu hal penting. Bahwa hidupnya belum berakhir. Bahwa masih ada hari esok. Dan bahwa suatu saat nanti, ia akan belajar berjalan bukan untuk mengejar pengakuan seseorang. Melainkan untuk dirinya sendiri. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD