BAB 2

1732 Words
Sekarang, waktunya untuk pulang sekolah. Sakaya berjalan keluar dari kelas dengan langkah santai. Tasnya disampirkan di salah satu bahu, sementara kedua tangannya kembali masuk ke dalam saku rok. Wajahnya masih terlihat datar seperti biasa. Percakapannya dengan Aksa tadi memang masih berputar-putar di kepalanya, tetapi untuk saat ini Sakaya memilih tidak memikirkannya lagi. Ia sudah terlalu lelah untuk memikirkan sesuatu yang bahkan tidak memiliki jawaban. Sakaya menghela napas panjang. “Gue hanya berharap semangat gue yang hilang saat itu kembali lagi.” Sakaya memejamkan matanya untuk sejenak, “Seenggaknya kalau bukan untuk gue... untuk Nenek.” Sakaya membuka matanya kembali. Tatapannya lurus ke depan, menatap koridor sekolah yang perlahan mulai dipenuhi siswa. Sebagian berjalan berkelompok menuju gerbang, sebagian lainnya masih sibuk bercanda sebelum benar-benar meninggalkan sekolah. Sakaya tidak terlalu memperhatikan mereka. Ia hanya berjalan santai menuju parkiran, namun ucapan Aksa tadi masih terngiang di kepalanya. Tentang dirinya yang dulu selalu mengejar kemenangan. Tentang dirinya yang pernah bermimpi masuk tim nasional. Tentang dirinya yang pernah begitu berambisi untuk menjadi seseorang yang layak dilihat. Sekarang semua itu terasa seperti cerita tentang orang lain. Namun Sakaya tidak ingin selamanya seperti ini. Ia memang belum tahu bagaimana caranya kembali menjadi Sakaya yang dulu. Tetapi setidaknya, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia ingin mencoba. “Sakaya...” panggilan seseorang membuatnya langsung menoleh, “Lo masih ada kesempatan buat pikirin ikut kompetisi! Lo nggak perlu buru-buru!” Aksa berada di tengah lapangan bersama anak-anak taekwondo lainnya yang hendak memulai latihan. Kali ini Sakaya memang izin tidak ikut berlatih. Alasannya sederhana, ia sedang tidak enak badan. Sakaya menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah lapangan yang berada tidak jauh dari parkiran. Beberapa anggota tim sudah mengenakan dobok dan mulai bersiap melakukan pemanasan, sementara Aksa masih berdiri di antara mereka. Salah satu dari mereka, seorang siswi perempuan yang masih mengenakan dobok, ikut menyahut. “Iya, Kak. Kita sebenarnya siap gantiin Kakak.” Siswi lain yang berdiri di sebelahnya mengangguk cepat. “Tapi kalau Kakak mau maju lagi, kita juga langsung mundur.” “Serius, Kak,” timpal yang lain. “Kemampuan Kakak masih jauh lebih bagus dari kita, bahkan aku yakin Kakak pasti menang.” Beberapa anggota tim lainnya ikut mengangguk. Mereka tidak sedang berusaha menjilat Sakaya. Mereka benar-benar percaya pada kemampuan gadis itu. Sakaya sudah berlatih bersama mereka selama mereka bersekolah di sini. Bahkan ketika dirinya tidak lagi mengikuti kompetisi, ia masih sering datang membantu latihan dan memberikan beberapa arahan kepada anggota yang lebih muda. Bagi mereka, Sakaya tetap menjadi salah satu anggota terbaik yang pernah dimiliki tim tersebut. Sakaya hanya menghela napas. “Jangan ngomong kayak gitu.” “Kenapa?” “Kayak gue mau mati aja.” Beberapa anak taekwondo langsung tertawa kecil. Aksa memutar bola matanya, “Ya bukan gitu maksudnya.” “Terus?” “Gue cuma bilang, kesempatan lo masih ada.” Sakaya memasukkan kedua tangannya kembali ke dalam saku rok. “Gue udah bilang nggak mau.” “Tapi belum tentu nggak mau selamanya, kan?” Sakaya menatap Aksa beberapa detik. Anak-anak taekwondo yang lain juga ikut memperhatikannya. Tidak ada yang memaksa, tidak ada yang menuntut, mereka hanya memberikan kesempatan. Sakaya akhirnya menghela napas panjang. “Latihan aja sana.” Aksa terkekeh, “Nah, itu artinya belum nolak.” “Gue bilang latihan. Gue mau balik.” “Iya-iya, hati-hati di jalan.” Aksa akhirnya mundur beberapa langkah, lalu kembali bergabung dengan anggota tim lainnya. Sakaya hanya menggeleng kecil. Namun sebelum berbalik, salah satu anggota tim kembali memanggilnya. “Kak Sakaya!” Sakaya menoleh, anak itu tersenyum lebar. “Kalau suatu hari Kakak berubah pikiran, bilang aja.” Beberapa anak lainnya langsung ikut menyahut. “Iya, Kak!” “Kita siap mundur!” “Pokoknya kalau Kakak maju, kita dukung!” Sakaya terdiam. Tatapannya berpindah dari satu wajah ke wajah lainnya. Mereka semua tersenyum kepadanya. Senyum yang begitu sederhana, tetapi entah kenapa terasa cukup untuk membuat sesuatu di dalam dadanya bergerak. Sudah lama sekali ia tidak merasa dibutuhkan seperti ini. Bukan karena seseorang ingin memanfaatkannya, bukan juga karena seseorang mengharapkan sesuatu darinya. Melainkan karena mereka benar-benar percaya bahwa ia mampu. Sakaya akhirnya menghela napas pelan. “Ya udah.” Sakaya mengangkat satu tangan, melambaikannya sebentar, “Latihan yang bener.” “Iya, Kak!” “Jangan sampai ada yang cedera.” “Siap!” Aksa terkekeh dari tengah lapangan. “Dengerin tuh! Kalau ada yang cedera, jangan bilang Sakaya nggak pernah ngingetin.” “Siap, Coach Aksa!” “Gue bukan coach!" Tawa kecil langsung pecah di tengah lapangan. Sakaya hanya menggeleng sambil tersenyum tipis, kemudian ia berbalik dan kembali berjalan menuju parkiran. Langkahnya terasa sedikit berbeda. Entah karena ucapan anak-anak tadi atau karena percakapannya dengan Aksa, untuk pertama kalinya setelah sekian lama ia merasa mungkin dirinya memang belum benar-benar kehilangan semuanya. “Oke... Nggak usah dipikirin. Pelan-pelan aja.” Sakaya akhirnya sampai di parkiran. Ia langsung mengambil helm yang tergantung di spion motornya, lalu mengenakannya dengan gerakan santai. Hari ini ia hanya ingin segera pulang. Entah kenapa, sejak tadi ada perasaan aneh yang mengganjal di dadanya. Firasat yang sulit dijelaskan, tetapi cukup kuat untuk membuatnya ingin segera sampai di rumah. Seolah ada sesuatu yang sedang menunggunya di sana. Dan entah mengapa, Sakaya merasa sesuatu itu bukanlah kabar baik. “Semoga Nenek baik-baik aja.” Sakaya menyalakan mesin motornya. Suara mesin yang terdengar cukup nyaring di tengah parkiran membuatnya kembali menoleh sebentar ke arah lapangan. Aksa dan anak-anak taekwondo lainnya sudah mulai melakukan pemanasan. Tidak ada lagi yang memperhatikannya. Sakaya menghela napas kecil. “Semangat.” Ia kemudian menarik gas dan meninggalkan area sekolah. Perjalanan menuju rumah Neneknya membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit. Jaraknya memang tidak terlalu jauh, tetapi rumah itu berada di daerah yang cukup sepi, jauh dari pusat kota dan keramaian. Sakaya sebenarnya sudah terbiasa dengan perjalanan tersebut. Hampir setiap hari ia melewati jalan yang sama. Deretan pertokoan di awal perjalanan perlahan berganti menjadi rumah-rumah warga. Setelah melewati jalan utama, pemandangan mulai berubah. Pepohonan tumbuh lebih rapat di sepanjang jalan, beberapa lahan kosong terlihat di sisi kiri dan kanan, sementara kendaraan yang melintas juga semakin sedikit. Biasanya, perjalanan pulang seperti ini cukup membuat pikirannya tenang. Namun hari ini berbeda. Entah kenapa, perasaan tidak nyaman itu masih ada. Sakaya bahkan beberapa kali tanpa sadar melirik kaca spion. Tidak ada apa-apa. Hanya beberapa kendaraan yang sesekali berada di belakangnya. Ia kembali memusatkan pandangan ke jalan. “Mungkin cuma kelelahan.” Seharian berada di sekolah, ditambah percakapan panjang dengan Aksa, mungkin memang membuat pikirannya terlalu banyak bekerja. Sakaya tidak ingin mencari-cari pertanda dari sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Ia hanya ingin sampai di rumah. Bertemu Nenek. Makan sesuatu. Lalu tidur. Sesederhana itu. Tiga puluh menit kemudian, Sakaya akhirnya memasuki jalan kecil menuju rumahnya. Kecepatan motornya perlahan dikurangi. Jalan tersebut sudah sangat dikenalnya. Di sebelah kanan terdapat sebuah rumah tua yang sudah bertahun-tahun kosong, sementara beberapa meter di depannya ada pohon mangga besar yang dahannya menjulur hampir menutupi sebagian jalan. Setelah melewati tikungan terakhir, rumah Neneknya mulai terlihat. Sakaya menghela napas lega. “Pulang.” Anehnya, hanya melihat rumah itu saja sudah membuat wajahnya yang sejak tadi datar sedikit berubah. Sudut bibirnya terangkat tipis. Ia selalu merasa lebih tenang setiap kali melihat rumah tersebut. Di sanalah ia dibesarkan. Di sanalah ia menghabiskan hampir seluruh hidupnya setelah ditinggalkan ibunya. Dan di sanalah satu-satunya orang yang selalu menunggunya berada. Nenek. Sakaya mulai membayangkan makan malam yang mungkin sudah disiapkan. Mungkin Nenek sedang membuat sup, atau mungkin hanya menggoreng tempe seperti biasanya. Apa pun itu, ia tidak keberatan. Yang penting ia bisa makan sambil mendengarkan Nenek mengomel karena dirinya pulang terlalu sore. Namun ketika Sakaya semakin mendekati halaman rumah, senyum tipis di wajahnya perlahan menghilang. Matanya menyipit. Ada sesuatu yang berbeda. Sebuah mobil mewah berwarna hitam terparkir di depan rumah. Sakaya memperlambat motornya, ia tidak mengenali mobil tersebut. “Ada tamu siapa?” Rumah Neneknya jarang sekali kedatangan tamu. Selain dirinya dan Tante Dina beserta keluarganya yang merupakan anak bungsu Nenek, hampir tidak ada orang lain yang pernah datang Sakaya menghentikan motornya beberapa meter dari halaman, lalu menatap mobil tersebut dengan penuh curiga. Mesinnya masih menyala. Berarti pemiliknya mungkin baru saja datang. Atau belum pergi. Sakaya mematikan mesin motornya. Untuk beberapa detik, ia hanya duduk diam di atas motor. Perasaan tidak nyaman yang sejak tadi mengganggunya kembali muncul. Kali ini jauh lebih kuat, Sakaya menelan ludah pelan. “Nenek...” Ia akhirnya turun dari motor. Tangannya meraih helm yang masih menutupi kepalanya, lalu melepaskannya perlahan. Tatapannya kembali tertuju pada mobil itu. Tanpa banyak berpikir, Sakaya segera melangkah masuk ke dalam rumah. Suara Neneknya yang terdengar dari dalam rumah membuat langkah Sakaya semakin cepat. Suara wanita tua itu terdengar jelas sedang memarahi seseorang. “Kamu kesini hanya untuk membuat cucuku semakin terluka, hah?!” Suara itu membuat langkah Sakaya seketika melambat. Ia belum pernah mendengar Nenek berbicara dengan nada seperti itu. Selama tinggal bersama wanita tua tersebut, Nenek memang sesekali mengomel. Namun tidak pernah sampai terdengar semarah ini. Sakaya berdiri beberapa langkah dari pintu. Tangannya masih menggenggam helm dengan erat. Dari dalam rumah, terdengar suara seseorang yang tidak begitu jelas. Suaranya rendah, seolah sedang berusaha menenangkan keadaan. Namun Nenek justru kembali meninggi. “Delapan tahun, Mira!” seru Neneknya dengan suara bergetar. “Delapan tahun dia mengemis kepadamu agar kamu membawanya pulang. Berbagai cara sudah anakmu lakukan, tetapi pernahkah kamu melihatnya sedikit saja?” Sakaya hanya mematung di tempat. Entah ia harus bereaksi seperti apa. Kalimat-kalimat Neneknya terdengar begitu jelas, tetapi kepalanya justru terasa kosong. “Selama delapan tahun kamu tidak pernah mengirimkan uang. Sandang dan pangan pun tidak pernah kamu pedulikan. Bahkan sekolah Sakaya...” Nenek terdiam sejenak, tangannya perlahan memegangi d**a. “Kamu tidak pernah sekalipun menanyakannya.” Napas wanita tua itu terdengar berat. “Sekarang kamu datang dan berharap Sakaya membantu masalahmu?” Suaranya bergetar menahan emosi. “Dia bukan anak yang bisa kamu datangi hanya ketika kamu sedang membutuhkan sesuatu.” Nenek menatap Mira tajam. “Dia sudah terlalu lama belajar hidup tanpamu.” Sakaya menundukkan kepalanya. Jari-jarinya yang menggenggam helm semakin erat hingga buku-buku jarinya memutih. Entah apa yang membuat wanita itu datang ke sini, namun sorot mata sakit dan emosi Neneknya membuatnya tidak bisa menahan lagi. “Untuk apa anda di sini?” suara Sakaya akhirnya keluar juga. Suasana di dalam rumah seketika berubah. Nenek yang tadi masih dipenuhi amarah langsung menoleh ke arah pintu. Mira juga ikut membeku. Sakaya hanya berharap wanita itu segera pergi agar tidak membuka luka lamanya lagi. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD