BAB 3

2160 Words
“Untuk apa Nyonya Mira di sini?” Sakaya kembali mengulang dengan nada datarnya, suasana di dalam rumah seketika berubah. Nenek yang tadi masih dipenuhi amarah langsung menoleh ke arah pintu. Mira juga ikut membeku. Sakaya berdiri di ambang pintu dengan helm yang masih berada di tangannya. Tatapannya tertuju lurus pada wanita yang selama delapan tahun terakhir hanya ia kenal sebagai bagian dari masa lalu. Tidak ada rasa rindu. Tidak ada keinginan untuk berlari menghampiri. Bahkan tidak ada sedikit pun rasa hangat yang seharusnya muncul ketika seseorang kembali bertemu dengan ibunya setelah bertahun-tahun berpisah. Ternyata tragedi dua tahun kala itu, benar-bener membekukan hatinya untuk Ibunya. “Sakaya... Ini Mamah, Nak.” kata Mira, “Kamu nggak rindu Mamah?” Sakaya tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap tertuju pada Mira, tetapi tidak ada sedikit pun perubahan di wajahnya. Tidak ada kemarahan yang meledak, tidak ada air mata, bahkan tidak ada kebencian yang terlihat jelas. Hanya dingin. Seolah perempuan yang berdiri di hadapannya memang tidak lebih dari orang asing. Nenek yang sejak tadi masih berdiri tampak hendak kembali memarahi Mira. Namun Sakaya lebih dulu mengangkat tangannya. Ia memberi isyarat agar Nenek tenang. Kemudian, dengan gerakan yang sama, ia menunjuk sofa di ruang tamu. “Duduk, Nek.” suara Sakaya berubah lembut, “Nenek nggak perlu marah-marah untuk orang asing, kesehatan Nenek itu utama.” Nenek menatap Sakaya beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas panjang. Ia menurut dan berjalan menuju sofa, lalu duduk dengan wajah yang masih menyimpan amarah. Sakaya menyusul beberapa langkah kemudian. Ia duduk di samping Neneknya, meletakkan helm di sebelahnya, lalu menyandarkan punggung pada sofa. Kedua tangannya bersedekap di depan d**a. Barulah setelah itu Sakaya kembali menatap Mira. “Kalau tidak ada kepentingan di sini,” ucap Sakaya datar, “Nyonya Mira bisa pergi.” Mira terdiam. “Sakaya...” panggilnya pelan. Namun Sakaya tidak bergeming. “Tidak ada yang perlu dibicarakan.” tatapan Sakaya semakin dingin, “Dan saya rasa kedatangan Nyonya Mira hanya akan membuat Nenek saya semakin lelah.” Nenek menoleh kepada cucunya. Sementara Mira hanya berdiri diam di hadapan mereka, seolah baru menyadari bahwa anak yang dahulu begitu menunggunya kini bahkan tidak memberinya kesempatan untuk dipanggil sebagai ibu. Mira menarik napas panjang. Dan bukannya pergi, wanita itu justru melangkah maju satu langkah. “Sakaya.” Sakaya tidak menjawab. “Inilah saatnya kamu kembali ke dalam hidup Mamah.” Kalimat itu membuat Sakaya terdiam sejenak. Mira mencoba tersenyum, meskipun senyum itu terlihat begitu rapuh. “Kamu nggak senang?” tanya Mira kemudian. Sakaya menatapnya beberapa detik. Lalu tiba-tiba terdengar tawa kecil dari bibirnya, “Hahaha...” Tawa itu semakin terdengar jelas. Bukan tawa bahagia. Bukan pula tawa karena sesuatu yang lucu. Melainkan tawa yang muncul karena ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Sakaya menundukkan kepala sebentar sambil menggeleng kecil. Namun sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, suara tongkat yang menghantam lantai terdengar lebih dulu. Tak. Nenek berdiri dengan susah payah menggunakan tongkatnya sebagai penopang. Sakaya langsung menoleh, “Nek...” Neneknya tidak mendengarkan, dan justru menatap Mira dengan tatapan tajam. “Sekarang kamu dengan mudahnya datang tiba-tiba dan mengajak dia kembali ke dalam hidupmu?” Tatapan Nenek tertuju tajam kepada Mira. “Kamu pikir setelah delapan tahun semuanya bisa selesai begitu saja hanya karena kamu datang dan mengatakan, ‘Sekarang waktunya kamu kembali ke dalam hidup Mamah’?” Mira terdiam. Nenek melangkah mendekat meskipun gerakannya tidak lagi secepat dulu. “Sejak SMP, anakmu berkali-kali pergi ke Ibukota.” Suara Nenek mulai bergetar. “Dia mengikuti kompetisi demi kompetisi. Membawa nama sekolah, membawa nama kota ini. Dia selalu pulang dengan membawa sesuatu.” Nenek menatap Mira dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Dan kamu tau apa yang selalu dia harapkan?” Mira tidak menjawab. “Dia berharap suatu hari kamu melihatnya.” Nenek menarik napas panjang. “Dia berharap suatu hari kamu datang ke sana. Melihat dia bertanding. Melihat bagaimana anakmu berjuang. Melihat bagaimana dia membanggakan kota ini.” Suara Nenek semakin meninggi. “Tapi pernahkah kamu melihatnya sedikit saja?” Mira menundukkan wajah. “Pernahkah kamu datang?” Tidak ada jawaban. “Pernahkah kamu bertanya bagaimana keadaan tubuhnya setelah bertanding?” Nenek menggenggam erat tongkatnya. “Tidak.” kata Nenek sambil tertawa kecil, “Tidak pernah.” Sakaya hanya diam. Tatapannya perlahan turun ke lantai. “Ambisinya tinggi,” lanjut Nenek. “Kamu bahkan tidak tau seberapa tinggi ambisi anak ini.” Napasnya terdengar berat. “Berkali-kali dia jatuh, berkali-kali dia terluka, bahkan ketika tubuhnya belum benar-benar pulih, dia tetap memaksakan dirinya untuk bangkit dan berlatih lagi.” Nenek mengusap sudut matanya, “Dia mengesampingkan rasa sakitnya sendiri karena dia ingin menang, karena dia ingin menjadi seseorang.” Nenek menatap Mira tajam. “Bahkan kamu tidak pernah tau seberapa besar perjuangannya.” Mira menggigit bibir bawahnya. Sakaya masih terdiam. Namun jari-jarinya yang bersedekap mulai mengepal perlahan. Nenek kembali berkata, “Dia hanya menginginkan satu hal darimu selama ini.” Suaranya kini jauh lebih pelan. “Bukan uang, bukan hadiah, bukan juga kamu membawanya pulang.” Nenek menatap Mira dengan mata penuh luka. “Dia hanya ingin satu kata bangga dari satu-satunya orang tua yang dia punya.” Mira perlahan mengangkat wajahnya. “Dia ingin mendengar kamu mengatakan padanya, persis kamu mengatakan kata itu kepada anak-anak yang kamu punya.” Nenek menarik napas panjang, kemudian berkata dengan suara bergetar, “Tapi ketika anak ini berharap satu kata bangga dari ibunya sendiri...” tatapan Nenek berpindah kepada Sakaya, “Kamu justru mematahkan sayapnya. Bahkan hingga sampai saat ini, dia tidak tau bagaimana caranya menjadi dirinya sendiri.” Ruangan seketika menjadi sunyi. Sakaya menundukkan kepalanya. Untuk pertama kalinya sejak Mira datang, ekspresi dingin di wajahnya sedikit berubah. Namun hanya sesaat. Setelah itu, ia kembali mengangkat wajahnya dan menatap wanita yang selama ini pernah ia panggil Ibu. Tidak ada air mata. Hanya tatapan kosong yang jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan. “Untuk apa mengajak saya kembali?” Sakaya akhirnya tertawa kecil untuk menyembunyikan kekecewaannya. “Apakah sekarang Nyonya Mira datang untuk mematahkan kaki dan tangan saya agar saya tidak bisa menonjol lagi?” Mira langsung terdiam. Sakaya menatapnya tanpa berkedip. “Atau mungkin Nyonya Mira ingin memastikan saya tidak pernah lagi terlihat lebih hebat daripada anak-anak yang sekarang Nyonya banggakan?” “Sakaya, bukan begitu—” “Lalu apa?” Suara Sakaya tetap datar, tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda di dalamnya. Luka yang selama bertahun-tahun ia pendam mulai terdengar melalui setiap kata yang keluar dari mulutnya. “Delapan tahun saya menunggu Nyonya datang.” Sakaya tersenyum tipis. “Sekarang ketika saya sudah tidak menunggu lagi, Nyonya datang dan meminta saya kembali?” Mira membuka mulutnya, tetapi tidak ada satu pun kata yang berhasil keluar. Sakaya menghela napas pelan. “Maaf, Nyonya Mira.” tatapan Sakaya kembali dingin, “Saya sudah tidak berharap untuk kembali ke sana.” Ia berhenti sejenak. “Karena sejak Nyonya meminta saya untuk berhenti menonjol, saya sudah belajar bahwa tempat yang disebut rumah itu ternyata tidak pernah menyediakan tempat untuk saya.” Kalimat terakhir Sakaya membuat suasana di ruang tamu kembali hening. Mira masih berdiri di tempatnya. Wajahnya terlihat semakin pucat, sementara Nenek hanya menatap cucunya dengan tatapan sedih. Namun keheningan itu tidak berlangsung lama, suara sebuah mobil terdengar berhenti di depan rumah. Sakaya mengernyitkan kening seketika, ia menoleh ke arah pintu ketika suara pintu mobil dibuka terdengar dari luar. Beberapa detik kemudian, terdengar langkah kaki mendekat. Tanpa mengetuk, pria paruh baya itu langsung masuk ke dalam rumah dengan langkah penuh percaya diri. Sakaya tidak perlu menanyakan pria itu siapa. Karena, pria itulah yang menjadi titik awal Sakaya hancur saat itu. Penampilannya terlihat sangat rapi dengan jas dan celana bahan yang dikenakan tanpa sedikit pun kerutan. Wajahnya tegas, sorot matanya tajam, seolah terbiasa membuat keputusan dan tidak suka membuang waktu. Di belakangnya berjalan seorang perempuan yang usianya tidak jauh berbeda dari Sakaya. Tatapan Sakaya kemudian jatuh pada anak laki-laki yang berada dalam gendongan pria itu. Usianya mungkin sekitar tujuh tahun. Ia tidak perlu bertanya siapa anak tersebut. Anak itu adalah putra Mira dari pernikahannya dengan Mahes. “Kita buat kesepakatan, Sakaya.” Sakaya mengangkat alis, Pria itu melangkah lebih dekat. “Kamu masih ingat denganku kan?” pria itu langsung duduk tanpa izin, “Sepuluh miliar untuk perjanjian ini. Saya ingin kamu menggantikan kembaranmu yang koma.” Sakaya mengernyit dalam hati. Koma? Sakara koma? Kenapa Sakara bisa koma? Namun pertanyaan itu jelas tidak terjawab karena hanya keluar dari dalam hatinya. Selama ini Sakaya hanya sesekali mendengar kabar tentang kehidupan saudara kembarnya dari orang lain. Tidak ada hubungan dekat di antara mereka lagi, apalagi setelah mereka dipisahkan begitu saja dulu. Tatapan Sakaya perlahan berpindah kepada Mira. Wanita itu hanya terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk. “Sakara mengalami kecelakaan cukup parah,” jawab Mira pelan. “Sekarang dia masih koma di rumah sakit.” Sakaya tidak langsung menjawab. Ia kembali menatap pria paruh baya yang duduk di hadapannya dengan ekspresi datarnya. Mahes menyandarkan tubuhnya pada sofa. “Ada beberapa hal yang tidak bisa ditunda dari kondisi Sakara saat ini.” Nada suaranya terdengar begitu tenang, seolah sedang membicarakan urusan bisnis biasa. “Terutama sekolahnya.” Sakaya mengernyitkan kening, “Sekolah?” “Ya.” Mahes mengangguk. “Sakara bersekolah di salah satu sekolah elit paling bergengsi di Ibu Kota.” Ia berhenti sejenak. “Sekolah itu memang diperuntukkan bagi laki-laki. Sebagian besar siswanya berasal dari keluarga pengusaha besar, pemilik perusahaan, pejabat, dan keluarga-keluarga yang memiliki pengaruh kuat.” Sakaya mulai memahami arah pembicaraan itu. “Di sana, anak-anak tidak hanya belajar tentang pelajaran sekolah.” Mahes melanjutkan dengan tenang. “Mereka membangun hubungan. Membicarakan bisnis keluarga, mengenal calon mitra, memperluas jaringan, dan mulai diperkenalkan pada orang-orang yang nantinya akan memiliki peran penting dalam dunia bisnis.” Tatapan Mahes menjadi semakin serius. “Sakara baru saja berhasil masuk ke dalam sepuluh besar siswa yang paling diperhitungkan di sekolah itu.” Sakaya terdiam. “Bukan hanya karena prestasinya,” lanjut Mahes. “Tetapi karena nama keluarganya, kemampuannya membangun hubungan dengan orang-orang di sana, dan posisi yang perlahan mulai ia dapatkan.” Mahes menatap Sakaya lurus. “Hubungan yang sudah dibangun Sakara selama dua tahun ini, tidak bisa hilang begitu saja hanya karena dia mengalami kecelakaan, bukan?” Sakaya masih diam. “Apalagi sekarang ada beberapa kerja sama bisnis yang sedang saya usahakan melalui lingkungan sekolah tersebut.” Mahes menghela napas pelan, “Karena itu, saya tidak akan membiarkan posisi Sakara hilang begitu saja.” Sakaya akhirnya terkekeh kecil. “Jadi intinya...” Tatapannya turun sebentar kepada anak laki-laki yang masih berada dalam gendongan Mahes, kemudian kembali menatap pria itu. “Tuan Mahes lebih takut kehilangan jaringan bisnis daripada kehilangan anak sendiri?” Ruangan langsung hening. Mira menatap Sakaya dengan wajah tegang. Namun Mahes tidak menunjukkan perubahan berarti. “Ini bukan tentang kehilangan anak.” “Lalu tentang apa?” “Kelangsungan bisnis.” Jawaban itu keluar begitu cepat hingga membuat Sakaya kembali tertawa kecil. Mahes melanjutkan, “Karena itu saya membutuhkan kamu untuk menggantikannya.” Ia kemudian mengulurkan sebuah map yang sejak tadi berada di tangannya. “Sepuluh miliar sampai kembaranmu bangun.” Sakaya menatap map tersebut, “Kamu hanya perlu menjadi Sakara di sekolah itu.” Mahes tersenyum tipis. “Dan memastikan tidak ada satu pun orang yang menyadari bahwa Sakara sebenarnya sedang terbaring di rumah sakit, agar prestasinya tidak hilang.” Sakaya menatap map yang berada di hadapannya selama beberapa detik. Sepuluh miliar. Jumlah yang bahkan terdengar seperti sesuatu yang tidak masuk akal baginya. Namun alih-alih terlihat tergiur, Sakaya justru menyandarkan tubuhnya lebih dalam ke sofa. “Menarik.” Mahes mengangkat alis, “Saya kira setelah mendengar nominalnya, kamu akan langsung menerimanya.” Sakaya terkekeh pelan. “Justru karena nominalnya terlalu besar, saya jadi curiga.” Tatapannya beralih kepada pria itu. “Kalau hanya menggantikan seseorang pergi sekolah, kenapa bayarannya sampai sepuluh miliar?” Mahes terdiam sesaat. “Karena yang kamu gantikan bukan sembarang orang.” “Saya tau.” Sakaya menunjuk dirinya sendiri, “Saya hanya perlu datang ke sekolah, pura-pura menjadi Sakara, menjaga hubungan dengan teman-temannya, ikut kegiatan sekolah, lalu pulang.” Sakaya menatap Mahes dengan tatapan datar. “Semudah itu?” “Tidak.” Jawaban Mahes terdengar tegas. “Pembagian asrama Sakara di tahun ini, bersama anak-anak paling penting...” Mahes berhenti sejenak, kemudian menatap Sakaya lurus. “Itu yang membuat saya mau membayar sangat mahal.” Sakaya mengernyitkan kening. Mahes melanjutkan, “Sekolah itu tidak hanya mengumpulkan anak-anak dari keluarga berada. Mereka mengelompokkan siswa berdasarkan pencapaian, pengaruh keluarga, dan potensi mereka di masa depan.” Ia menunjuk map yang berada di hadapan Sakaya. “Dan Sakara berhasil masuk ke salah satu kelompok paling eksklusif di sana.” Sakaya membuka kembali map tersebut. Membacanya dengan hati-hati kali ini, namun belum ada jawaban apapun dari Sakaya. Hingga akhirnya Mahes berdiri. “Batas untuk setuju sampai besok, pikirkan baik-baik dari sekarang. Kalau kamu ingin menemui saya terkait syarat lain, saya ada di hotel dekat sini.” Mahes mengajak Mira dan anak-anaknya untuk pergi. Tersisa Sakaya dan Neneknya tidak lama setelah itu. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD