BAB 4

2298 Words
Pintu rumah akhirnya tertutup setelah Mahes, Mira, dan kedua anaknya pergi. Suara langkah kaki mereka perlahan menjauh, sebelum kemudian suara mesin mobil terdengar menyala dan meninggalkan halaman rumah. Setelah itu, ruang tamu kembali dipenuhi keheningan. Nenek masih berdiri di tempatnya. Tatapannya kosong mengarah pada pintu yang baru saja tertutup, wajahnya tampak begitu sayu seperti sedang menahan sesuatu yang sejak tadi ingin keluar. Sakaya yang masih duduk di sofa hanya memperhatikannya dalam diam. Tidak lama kemudian, Nenek menghela napas panjang dan perlahan duduk kembali dengan bantuan tongkatnya. “Sebenarnya... Nenek salah apa dengan Ibumu, Sakaya?” Suara itu terdengar lirih. Sakaya mengangkat wajahnya, tetapi tidak langsung menjawab. “Nenek salah apa sampai dia jadi seperti itu?” Nenek menundukkan kepalanya. “Kenapa Ibumu semakin jauh? Kenapa sekarang Nenek bahkan sudah nggak bisa mengenali anak Nenek sendiri?” Suara Nenek mulai bergetar. Ia mencoba mengusap sudut matanya, tetapi air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh juga. “Nenek hanya ingin kamu bahagia, Sakaya.” lanjutnya pelan. “Dulu... Nenek pikir mungkin dia hanya butuh waktu, Nenek pikir suatu hari nanti dia akan sadar dan kembali seperti dulu.” Nenek tertawa kecil, tetapi tawa itu justru terdengar menyedihkan. “Ternyata setelah bertahun-tahun, selalu yang dia bawa kembali hanyalah masalah.” kata Neneknya, “Kenapa Ibumu nggak membunuh Nenek saja, jika Nenek punya banyak salah kepadanya?” Sakaya menelan ludah. Dadanya terasa sesak melihat Nenek yang biasanya selalu terlihat kuat kini justru duduk dengan bahu bergetar. Ia menggeser tubuhnya mendekat. “Nek...” Nenek mengangkat wajahnya. Matanya sudah memerah. “Nenek hanya ingin tau...” suaranya kembali bergetar. “Apa selama ini Nenek benar-benar seburuk itu di mata Ibumu? Sampai dia datang dengan santainya tanpa raut bersalah sedikitpun.” Sakaya tidak mampu menjawab. Tatapannya perlahan turun kepada map yang tergeletak di atas meja. Map yang beberapa menit lalu diberikan Mahes kepadanya. Sepuluh miliar.... Jumlah yang begitu besar hingga sulit untuk dibayangkan. Namun entah mengapa, yang terlintas di pikirannya justru bukan uang itu, melainkan Sakara. Ikatan batin diantara mereka sepertinya sudah tidak ada, sampai ia tidak bisa merasakan apapun yang dirasakan kembarannya. Dulu, ketika mereka masih kecil, Sakaya dan Sakara hampir tidak pernah terpisahkan. Mereka tidur di kamar yang sama, bermain bersama, bahkan sering kali bisa mengetahui apa yang sedang dirasakan satu sama lain hanya dengan saling memandang. Ada yang pernah berkata bahwa mereka seperti dua sisi dari satu koin. Tahun-tahun yang berlalu tanpa bersama satu sama lain, ternyata cukup untuk membuat hubungan yang dahulu begitu erat perlahan menghilang. Tidak ada firasat. Tidak ada sesak. Tidak ada perasaan aneh yang membuatnya ingin segera berlari ke rumah sakit. Hanya keterkejutan biasa ketika mendengar seseorang yang pernah begitu dekat dengannya kini berada dalam keadaan tidak sadar. “Mungkin...” gumam Sakaya pelan, hampir tidak terdengar, “karena emang udah terlalu lama dan kita udah nggak saling kenal satu sama lain lagi.” Nenek yang sejak tadi memperhatikannya langsung menoleh. “Sakaya.” Sakaya mengangkat wajah. “Jangan merasa bersalah karena kamu sudah tidak sedekat dulu dengan Sakara.” kata Neneknya, “Ini semua salah Ibumu.” Sakaya terdiam. “Nenek tau kalian kembar.” Nenek tersenyum tipis meskipun matanya masih basah. “Tapi kalian juga manusia. Kalian dipisahkan ketika masih kecil. Kalian tumbuh di tempat yang berbeda, menjalani kehidupan yang berbeda. Wajar kalau akhirnya kalian menjadi asing satu sama lain.” Sakaya menatap Neneknya. “Tapi dia tetap saudaramu,” lanjut Nenek. “Dan karena itu juga Nenek nggak ingin kamu masuk ke dalam kehidupan mereka hanya karena merasa punya kewajiban.” Sakaya kembali menunduk. “Nenek nggak tau apa yang sebenarnya terjadi dengan Sakara,” katanya pelan. “Tapi kalau sampai Mahes datang sendiri ke sini dan menawarkan sepuluh miliar, berarti masalahnya pasti lebih besar daripada sekadar sekolah.” Nenek tidak menjawab. Sakaya menyandarkan tubuhnya pada sofa. Ia kembali memikirkan perkataan Mahes tadi. Sekolah elit. Asrama. Anak-anak dari keluarga berpengaruh. Jaringan bisnis. Hubungan yang tidak boleh terputus. Semua terdengar seperti dunia yang sama sekali berbeda dari kehidupannya. Dan justru karena itulah Sakaya merasa ada sesuatu yang tidak diberitahukan kepadanya. “Kalau pria itu sampai datang sendiri ke sini dan bahkan mengesampingkan harga dirinya,” Sakaya tiba-tiba berkata, seolah baru menyadari sesuatu. “Berarti emang masalahnya cukup besar, apalagi terkait bisnis.” Ia kembali menatap map di atas meja. “Tapi, soal sampai memintaku menggantikan Sakara...” Sakaya terdiam sejenak, kemudian menoleh kepada Nenek. “Berarti kemungkinan besar wajah kami emang sangat mirip, kan, Nek?” Nenek terdiam beberapa saat. Tatapannya beralih kepada Sakaya, lalu perlahan mengangguk. “Mirip.” Sakaya mengangkat alis. “Bukan berarti kalian terlihat persis sama,” lanjut Nenek. “Kamu perempuan, Sakara laki-laki. Tentu saja ada perbedaan. Tapi kalau hanya melihat wajah kalian...” Nenek tersenyum tipis. “Orang akan langsung tau kalau kalian saudara kembar.” Sakaya menatap Neneknya. “Bahkan dulu waktu kalian masih kecil, banyak yang bilang wajah kalian seperti dicetak dari cetakan yang sama.” Sakaya terkekeh kecil. Ia jadi teringat dengan Sakara yang selalu melindunginya dulu. Masalahnya setelah dipisahkan itu, mereka tidak pernah bertemu lagi. Ketika SMP dan Sakaya sering ikut kompetisi ke Ibu Kota, ia sebenarnya beberapa kali mencoba mencari keberadaan Sakara. Bukan karena ingin kembali seperti dulu, melainkan hanya karena rasa penasaran terhadap saudara kembarnya yang sudah bertahun-tahun tidak ia temui. Namun menemukan Sakara di tengah banyaknya orang ternyata jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan. Ibu Kota terlalu luas, dan kehidupan Sakara sudah terlalu berbeda dari kehidupannya. Sakaya bahkan pernah berada di tempat yang sama dengannya. Hanya saja, mereka tidak pernah benar-benar bertemu. Hanya siluet dari belakang saja yang ia dapatkan saat itu. Tepat ketika Mira datang dan mengancamnya agar jangan pernah ikut kompetisi apapun lagi. “Sudahlah,” gumam Nenek yang masih duduk di sampingnya menatap cucunya, “Jangan pikirkan lagi soal Ibumu dan Mahes yang datang tadi.” Sakaya menoleh. “Jangan pikirkan tawaran itu juga,” lanjut Nenek. “Soal menjadi Sakara, nggak perlu. Kamu nggak harus menggantikan siapa pun.” Nenek mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Sakaya. “Kamu hanya perlu menjadi Sakaya.” Sakaya terdiam. “Menjadi dirimu sendiri.” Genggaman Nenek menguat. “Kalau perlu...” suara Nenek mulai bergetar, “Nenek hanya berharap apa pun yang hilang dari dalam dirimu selama beberapa tahun terakhir bisa segera kembali.” Sakaya menatap wajah tua di hadapannya. “Nenek rindu Sakaya yang dulu.” Sakaya tersenyum kecil, “Yang dulu gimana?” “Yang punya ambisi.” Nenek tersenyum di sela air matanya. “Yang kalau ingin memenangkan sesuatu, akan berusaha sampai mendapatkannya.” Sakaya terdiam... “Yang kalau kalah akan marah pada dirinya sendiri, lalu besoknya latihan lebih keras.” Nenek terkekeh kecil. “Dulu kamu bahkan bisa membuat Nenek pusing karena terlalu keras kepala.” Sakaya ikut tersenyum. “Tapi sekarang...” Nenek mengusap punggung tangan cucunya. “Meski kamu masih lembut, masih perhatian sama Nenek, masih menjadi cucu yang baik. Tapi...” Nenek berhenti sejenak. “Tapi Nenek tau ada sesuatu yang berubah.” Senyum Sakaya perlahan menghilang. “Nenek tau apa yang terjadi dengan dirimu di luar sana, dan Nenek tau apa yang membuatmu berubah sejauh itu.” sambung sang Nenek, “Nenek nggak habis pikir dengan Ibumu yang dengan santainya memotong semua sayap kamu hanya demi kepentingannya sendiri.” Nenek menghela napas panjang. Tatapannya masih tertuju kepada Sakaya, seolah sedang melihat kembali cucunya yang dulu, sebelum semuanya berubah. “Dulu kamu masih muda, Sakaya.” Sakaya terdiam. “Kamu masih terlalu kecil untuk mengerti kenapa Ibumu pergi. Terlalu kecil untuk mengerti kenapa kalian harus dipisahkan.” Suara Nenek terdengar lirih. “Jadi selama bertahun-tahun, kamu cuma punya satu harapan.” Nenek menggenggam tangan Sakaya lebih erat. “Kamu selalu berpikir suatu hari nanti Ibumu akan datang menjemputmu.” Sakaya menundukkan wajah. “Setiap kali kamu pergi ke Ibu Kota, setiap kali kamu memenangkan kompetisi, setiap kali kamu membawa pulang penghargaan...” Nenek tersenyum sedih. “Kamu selalu berpikir mungkin kali ini Ibumu akan melihatmu. Mungkin kali ini dia akan bangga. Mungkin kali ini dia akan membawamu pulang.” Sakaya tidak mengatakan apa-apa. “Tapi ternyata bukan itu yang terjadi.” Senyum Nenek perlahan menghilang. “Ketika akhirnya Ibumu datang, dia ternyata bukan untuk memelukmu dan mengatakan dia bangga...” Suara Nenek bergetar. “Tetapi memotong semua mimpimu, hanya karena membuat orang lain merasa nggak nyaman dengan prestasimu.” Air mata kembali mengalir di pipi Nenek. “Dan saat itu...” Nenek menarik napas panjang. “Sakit hati yang kamu pendam sejak kecil akhirnya meluap.” Sakaya menatap lantai. “Nenek tau butuh perjuangan panjang untuk kamu bangkit dari semua kekecewaan yang kamu telan. Apalagi sampai saat ini, kamu masih belum kembali menjadi diri kamu yang dulu.” Sakaya masih menatap lantai. Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan, tetapi semuanya terasa terlalu berat untuk dikeluarkan. “Nenek nggak bilang kamu harus melupakan semuanya,” lanjut Nenek pelan. “Nenek juga nggak akan memaksa kamu untuk memaafkan Ibumu.” Sakaya perlahan mengangkat wajahnya. “Kalau kamu masih marah, nggak apa-apa. Kalau kamu masih kecewa, nggak apa-apa.” Nenek tersenyum tipis. “Kamu sudah terlalu lama menahan semuanya sendirian.” Nenek mengusap punggung tangan cucunya. “Nenek hanya ingin kamu sembuh. Pelan-pelan saja.” Tatapan Sakaya kembali melembut. “Nenek berharap suatu hari nanti kamu bisa menemukan dirimu yang baru. Bukan Sakaya yang dulu, bukan juga Sakaya yang sekarang.” Nenek menarik napas panjang. “Tapi Sakaya yang lebih kuat. Yang tau apa yang dia mau dan berani mengejarnya lagi.” Sakaya terdiam cukup lama sebelum akhirnya tersenyum kecil. “Nenek selalu percaya sama aku, ya?” “Selama Nenek masih hidup, Nenek akan selalu percaya sama kamu.” Jawaban itu begitu sederhana, tetapi entah kenapa membuat d**a Sakaya terasa sesak. “Kalau ada yang menyakiti kamu lagi, Nenek yang akan berdiri paling depan.” Nenek terkekeh pelan. “Walaupun sekarang Nenek cuma punya tongkat.” Sakaya akhirnya tertawa kecil. “Nenek jangan sok jago.” “Memangnya kenapa? Tongkat ini masih kuat, tau.” Sakaya menggeleng sambil tersenyum. Untuk beberapa saat, suasana di antara mereka terasa lebih ringan. Namun kemudian Nenek melirik ke arah jendela. Cahaya matahari di luar sudah mulai meredup. “Sudah, sekarang ganti bajumu.” Sakaya mengerutkan kening. “Ini sudah hampir gelap, kamu juga belum makan.” “Nanti aja, Nek. Aku masih—” “Nggak ada kata nanti.” Nenek langsung memotong. “Nenek sudah buat sop. Tinggal dihangatkan. Sama kerupuk juga ada.” Nenek menunjuk ke arah dapur. “Nggak apa-apa kan?” Sakaya tersenyum kecil, “Nggak apa-apa.” “Ya sudah. Sana ganti baju dulu.” Sakaya mengangguk. Ia berdiri dari sofa dan berjalan menuju kamarnya. Namun baru beberapa langkah, ia berhenti. “Nek?” “Hm?” “Terima kasih.” Nenek tersenyum. “Untuk apa?” “Untuk semuanya.” Setelah mengatakan itu, Sakaya segera berjalan pergi sebelum Nenek sempat melihat matanya yang mulai berkaca-kaca. Nenek hanya menghela napas panjang sambil tersenyum. Begitu Sakaya menghilang di balik dinding menuju kamarnya, ekspresi Nenek perlahan berubah. Ia meraih ponsel yang diletakkan di atas meja. Tangannya sedikit gemetar ketika membuka daftar kontak. Setelah mencari sebuah nama, Nenek menekan tombol panggil. Nada sambung terdengar beberapa kali. Hingga akhirnya panggilan tersebut tersambung. “Halo?” Suara seorang perempuan terdengar dari seberang. Nenek tersenyum kecil. “Dina...” “Iya, Bu?” Nenek terdiam sebentar, seolah merasa sungkan untuk mengatakan apa yang ingin dimintanya. “Ibu boleh pinjam beras lima kilo nggak?” Suara Nenek terdengar pelan. “Bulan ini Sakaya harus bayar sekolah. Uangnya sudah nggak ada lagi.” Di balik dinding, langkah kaki Sakaya yang hendak menuju kamar mendadak terhenti. Ia tidak sengaja mendengar percakapan tersebut. Sakaya berdiri diam. Lima kilo beras. Uang sekolah. Uang yang habis untuk membiayai dirinya. Jari-jarinya perlahan mengepal. Ia tahu uang pensiun Nenek tidak seberapa. Selama ini uang itu bahkan nyaris selalu habis untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolahnya. Kalau bukan karena Tante Dina yang sesekali datang membawa beras atau membantu kebutuhan mereka, mungkin kehidupan mereka akan jauh lebih sulit. Dan semua itu terjadi karena dirinya. Sakaya menundukkan kepala. Andai saja Ibunya tidak pernah menjadi seperti sekarang... Andai saja Mira tidak menghabiskan seluruh hidupnya mengejar harta dan meninggalkan dirinya sendirian... Mungkin uang pensiun Nenek yang tidak seberapa itu bisa digunakan untuk menikmati masa tuanya sendiri. Mungkin Nenek bisa membeli sesuatu yang ia inginkan tanpa harus menghitung uang berkali-kali. Mungkin Nenek tidak perlu meminta beras kepada orang lain hanya karena cucunya harus membayar sekolah. Namun kenyataannya, bahkan di usia setua itu, Nenek masih harus memikirkan bagaimana caranya bertahan hidup. Sakaya menggigit bibirnya. Dadanya terasa semakin berat. Dan untuk pertama kalinya sejak Mahes datang membawa tawaran sepuluh miliar tadi, pikirannya kembali tertuju kepada map yang masih tergeletak di ruang tamu. Sepuluh miliar. Jumlah yang bahkan bisa mengubah kehidupan mereka. Sakaya perlahan menoleh ke arah ruang tamu. Tatapannya tertuju pada dinding yang memisahkan dirinya dari Nenek. Tangannya masih mengepal erat. Sepuluh miliar. Jumlah itu kembali terlintas di kepalanya. Dengan uang sebanyak itu, Nenek tidak perlu lagi meminjam beras kepada Tante Dina. Biaya sekolahnya bisa lunas. Bahkan Nenek mungkin tidak perlu lagi memikirkan biaya hidup untuk waktu yang sangat lama. Tetapi Sakaya juga tahu satu hal. Uang itu tidak akan datang dengan cuma-cuma. Ia harus masuk kembali ke kehidupan yang selama ini berusaha ia tinggalkan. Ia harus menjadi Sakara. Harus berhadapan dengan Mira. Harus berhadapan dengan Mahes. Dan mungkin... harus kembali berhadapan dengan alasan mengapa dirinya pernah kehilangan seluruh mimpinya. Sakaya mengembuskan napas perlahan. “Sepuluh miliar...” gumamnya sekali lagi. Untuk pertama kalinya, angka itu tidak lagi terdengar seperti sekadar bayaran. Melainkan seperti harga yang harus ia bayar untuk membuka kembali pintu menuju kehidupan yang selama ini ia hindari. Dan Sakaya belum tahu apakah dirinya benar-benar siap untuk masuk ke dalamnya, atau tetap di garis aman saja meski harus hidup serba kekurangan. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD