BAB 19

2042 Words

Pagi harinya. Cahaya matahari mulai masuk melalui celah tirai kamar asrama ketika Sakaya sudah berdiri di depan cermin sambil merapikan kerah seragamnya. Rambutnya sudah tertata rapi, dasi terpasang dengan benar, dan sepatu sekolahnya bahkan sudah ia kenakan. Seperti biasa, ia kembali menjadi orang pertama yang siap. Sakaya mengambil tasnya dari samping tempat tidur, lalu memeriksa penampilannya sekali lagi sebelum menghela napas kecil. Ia memang tidak tidur lagi setelah kejadian balkon. Setiap kali hampir terlelap, kejadian di sana kembali terlintas di kepalanya. “Udah. Jangan dipikirin lagi.” gumam Sakaya sambil menepuk-nepuk pipinya. Ia masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana tubuhnya kehilangan keseimbangan, bagaimana Alden menarik tangannya, dan bagaimana dalam hitungan d

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD