BAB 18

1861 Words
Pukul dua dini hari. Asrama sudah benar-benar sunyi. Arka dan Nathan telah tertidur di tempat masing-masing, sementara Alden yang sebelumnya juga sudah mematikan laptopnya tiba-tiba terbangun karena merasa haus. Ia meraih botol air di samping tempat tidur dan meneguk beberapa teguk. Setelah meletakkannya kembali, Alden hendak berbaring ketika pandangannya tanpa sengaja beralih ke tempat tidur di seberang. Kosong. Alden mengernyit. Selimut di atas kasur masih berantakan, tetapi Sakaya tidak ada di sana. Ia menoleh ke arah kamar mandi. Pintu kamar mandi terbuka dan lampunya mati. Alden duduk perlahan. Tatapannya kembali menyapu kamar. Tas Sakaya masih berada di samping tempat tidur. Sepatu yang tadi ia lepaskan juga masih tersimpan di bawah kasur. Alden melirik jam di meja. “Jam dua lebih tiga menit.” gumam Alden. “Ke mana dia?” Alden tidak langsung kembali berbaring. Ia menatap sekeliling kamar sekali lagi, lalu pandangannya berhenti pada pintu kaca yang mengarah ke balkon. Pintu itu terlihat sedikit terbuka. Alden berjalan mendekatinya. Begitu pintu kaca didorong perlahan, udara malam langsung menyentuh wajahnya. Angin berhembus pelan, membawa hawa dingin yang membuat suasana semakin sunyi. Alden melangkah keluar, namun Sakaya seperti tidak menyadarinya. Ia masih duduk dengan lutut yang ditekuk, tatapan matanya mengarah ke langit, namun ada jejak air mata di mata Sakaya. Alden berdeham. “Cowok kok nangis.” Sakaya tersentak mendengar suara Alden. Bahunya sedikit terangkat dan kepalanya langsung menoleh. Ia buru-buru mengusap sudut matanya dengan punggung tangan sebelum menatap Alden. “Lo belum tidur?” Alden tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekat, kemudian ikut duduk di samping Sakaya. Jarak mereka tidak terlalu dekat, tetapi cukup untuk membuat keduanya berada dalam satu sisi balkon yang sama. Alden menatap Sakaya sebentar. Matanya masih terlihat sedikit merah, sementara jejak air mata di pipinya belum sepenuhnya menghilang. “Baru bangun,” jawab Alden. “Nggak bisa tidur lagi.” Sakaya mengangguk kecil. “Oh.” Setelah itu, Sakaya kembali menatap langit. Sedangkan Alden memilih untuk menatap Sakaya, memperhatikan wajahnya yang masih menyisakan jejak air mata. Ia tidak mengatakan apa-apa untuk beberapa saat. Tatapannya kemudian beralih pada langit, lalu tak lama kembali kepada Sakaya. “Lo kenapa?” tanya Alden. Sakaya terdiam. Ia tidak langsung menjawab. Kedua tangannya masih berada di atas lutut, sementara matanya kembali tertuju pada langit malam. “Nggak kenapa-kenapa.” Alden mengernyit tipis. “Terus kenapa nangis?” Sakaya menghela napas pelan. Ia mengusap pipinya sekali lagi, memastikan tidak ada air mata yang tersisa. “Kadang gue cuma pengin nangis.” Alden menatapnya. “Tanpa alasan?” Sakaya mengangkat bahu. “Entahlah.” Alden masih menatap Sakaya beberapa saat. Tatapannya turun pada wajah laki-laki itu yang kini berusaha terlihat biasa saja, seolah tidak ada air mata yang baru saja jatuh. “Gue pikir...” Alden berhenti sebentar, seperti sedang mencari kata yang tepat. “Makhluk perasa itu perempuan.” Sakaya menoleh dengan kening berkerut. Alden melanjutkan dengan terkekeh kecil, “Ternyata lo juga.” Sakaya terdiam beberapa detik sebelum terkekeh kecil. “Emang laki-laki nggak boleh nangis?” “Boleh.” “Terus?” Alden mengangkat bahu. “Aneh aja.” “Aneh apanya?” “Lo.” Sakaya mendengus pelan. “Gue kenapa?” Alden menatapnya dari samping. “Laki-laki biasanya kalau capek ya tidur. Kalau marah ya marah. Kalau ada masalah ya diselesaikan.” “Oh.” Alden terdiam setelah mendapat jawaban itu. Sebenarnya, ia sendiri tidak tahu harus membicarakan apa lagi. Ia bukan orang yang terbiasa mengobrol tanpa tujuan, apalagi di tengah malam seperti ini. Biasanya, kalau tidak ada hal penting yang perlu dibicarakan, ia akan memilih diam. Namun, malam ini berbeda. Entah kenapa, setelah melihat Sakaya sendirian di balkon dengan mata sembap, ia justru tidak ingin langsung kembali ke tempat tidurnya. Sakaya juga tidak terlihat berusaha membuka percakapan. Ia tetap duduk dengan lutut yang ditekuk, kedua tangannya berada di atas lutut, sementara tatapannya sesekali mengarah ke langit. Setiap kali Alden sedikit menoleh, Sakaya justru terlihat seperti sengaja mengalihkan pandangan. Seolah-olah ia sedang menjaga jarak. Alden menyadarinya. “Lo takut sama gue?” tanya Alden tiba-tiba. Sakaya langsung menoleh. “Hah?” “Lo bisa ngobrol sama Arka, Nathan. Tapi sama gue...” Alden berhenti sejenak. “Lo ngehindar.” Sakaya terdiam. Ia tidak langsung menjawab. Pandangannya kembali mengarah ke langit, seolah pertanyaan Alden bukan sesuatu yang mudah untuk dijawab. “Gue nggak ngehindar.” Alden mengangkat alis. “Terus?” Sakaya menghela napas pelan. “Gue cuma nggak tau harus ngomong apa sama lo. Apalagi setelah gue tau... gue bisa di sini karena lo lagi cari seseorang yang mirip gue.” Alden tersenyum tipis. Namun, senyum itu hanya muncul sesaat sebelum ia cepat-cepat menetralkan kembali wajahnya seperti biasa. “Karena lo mengingatkan gue pada perempuan itu.” balas Alden. Alden kemudian menunggu reaksi Sakaya. Meski wajahnya tetap datar, ia memperhatikan setiap perubahan kecil pada perempuan di sampingnya. Sakaya tidak langsung menjawab. Ia tampak sedang memikirkan sesuatu, alisnya sedikit berkerut sementara pandangannya masih mengarah ke langit. “Dia pernah buat masalah sama lo?” tanya Sakaya akhirnya. “Makanya lo cari tau tentang dia?” Alden menatap wajah Sakaya beberapa saat. Ia tahu, pertanyaan itu bukan sekadar rasa penasaran. Sakaya sedang mencari jawaban. Ia ingin tahu alasan sebenarnya mengapa Alden selama ini mencari perempuan tersebut. “Menurut lo?” jawab Alden balik. Sakaya menoleh kepadanya. “Kalau gue sampai cari dia, emang tandanya dia pernah buat masalah sama gue.” lanjut Alden. Wajah Sakaya sedikit berubah. Hanya sesaat, tetapi cukup untuk membuat Alden menyadarinya. Ada ekspresi lain yang muncul di sana. Entah terkejut, khawatir, atau mungkin sedang memastikan sesuatu. Alden tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya terus memperhatikan, seolah sengaja membiarkan Sakaya menebak-nebak sendiri. “Makanya...” Alden kembali bersuara setelah beberapa saat. Tatapannya beralih ke langit malam. “Kalau lo tau di mana dia, kasih tau gue secepatnya.” Sakaya kembali terdiam. “Biar gue sama dia bisa menyelesaikan masalah ini secara baik-baik.” Sakaya tidak menjawab. Ia kembali menatap langit, tetapi kali ini pikirannya jelas sedang bekerja lebih keras. Sementara Alden tetap duduk di sampingnya dengan wajah tenang, seolah percakapan mereka barusan tidak memiliki arti apa pun. “Dan nanti...” Alden kembali bersuara. Sakaya masih menatap langit, tetapi kali ini ia mulai memperhatikan nada bicara Alden yang terdengar sedikit berbeda. “Setelah gue dapat bukti kalau lo ternyata kembaran perempuan itu,” lanjut Alden dengan wajah tetap tenang, “gue akan tuntut lo.” Sakaya akhirnya menoleh. “Tuntut apa?” “Lo sembunyiin perempuan itu dari gue.” Sakaya menatap Alden beberapa detik. Entah kenapa, jawaban laki-laki itu justru membuatnya semakin tidak mengerti. Namun, sebelum Alden kembali mengatakan sesuatu, Sakaya memilih untuk mengakhiri percakapan mereka. “Gue akan tuntut lo agar—” “Gue udah ngantuk. Kayaknya gue mau tidur.” potong Sakaya. Alden mengangguk kecil. “Oke.” Sakaya kemudian bangkit dari duduknya dan merapikan sedikit pakaiannya. Ia melangkah hendak masuk ke dalam, tetapi baru beberapa langkah, ia berhenti karena Alden masih duduk tepat di jalur yang harus dilewatinya. “Gue bisa permisi sebentar?” tanya Sakaya. “Lo ngehalangin jalan.” Alden menoleh ke arah Sakaya, kemudian menjawab santai, “Oke.” Namun, laki-laki itu tidak kunjung berdiri. Sakaya menunggu beberapa detik, berharap Alden menyadari maksudnya dan segera menyingkir. Akan tetapi, Alden justru tetap duduk dengan santai, seolah tidak merasa dirinya sedang menghalangi jalan. Sakaya menghela napas panjang. “Terserah deh...” Balkon itu memang tidak terlalu luas. Entah karena sengaja dibuat minimalis atau memang hanya diperuntukkan sebagai tempat duduk santai, ruang yang tersisa di antara Alden dan pagar balkon cukup sempit untuk dilewati. Sakaya akhirnya memilih untuk keluar melalui celah tersebut. Ia memiringkan tubuhnya sedikit, kemudian melangkahkan satu kaki melewati kaki Alden dengan hati-hati. Baru saja ia hendak memindahkan kaki satunya, tubuhnya tiba-tiba kehilangan keseimbangan. “Akh—” Alden sontak mengulurkan tangan dan menarik tangan Sakaya. Namun, tarikan itu justru membuat tubuh Sakaya kehilangan keseimbangan sepenuhnya. Dalam sepersekian detik, tubuhnya jatuh ke arah Alden dan berakhir tepat di pangkuan laki-laki itu. Sakaya membeku. Begitu pula Alden. Keduanya saling menatap dalam jarak yang sangat dekat. Namun, sebelum Sakaya sempat menyadari apa yang terjadi, bibirnya tanpa sengaja menyentuh bibir Alden. Hanya sesaat. Tetapi cukup untuk membuat kepala Sakaya terasa kosong. Matanya membelalak. Ia langsung bangkit dari pangkuan Alden dengan wajah yang memanas, kemudian mundur satu langkah. “Gue—” Tidak ada satu pun kata yang berhasil keluar. Sakaya akhirnya memilih untuk tidak mengatakan apa-apa. Ia buru-buru berbalik dan berjalan masuk ke kamar, bahkan hampir tersandung ketika melewati pintu balkon. Begitu sampai di tempat tidurnya, ia langsung menarik selimut dan membelakangi semua orang seolah kejadian barusan tidak pernah terjadi. Alden masih berada di balkon. Tangannya perlahan terangkat menyentuh bibirnya sendiri. Ia terdiam beberapa saat, seolah masih mencerna apa yang baru saja terjadi. Kemudian sudut bibirnya terangkat, Alden tertawa kecil. “Lucu.” Alden masih menyentuh bibirnya sendiri. Senyum tipis belum sepenuhnya menghilang dari wajahnya ketika ia menatap pintu kaca yang baru saja dilewati Sakaya. Entah kenapa, kejadian beberapa detik lalu justru terasa aneh baginya. Bukan karena ciuman yang tidak sengaja itu, melainkan karena reaksi Sakaya yang terlihat seperti orang baru saja melakukan kesalahan besar. Alden terkekeh pelan. “Panik banget.” Ia akhirnya berdiri dari lantai balkon dan berjalan masuk ke kamar. Begitu pintu kaca ditutup, pandangannya langsung tertuju pada tempat tidur Sakaya. Alden berhenti sebentar. Ia tidak mengatakan apa-apa. Hanya menatap punggung Sakaya yang terlihat kaku di balik selimut. Sakaya sebenarnya belum tidur. Sama sekali. Ia bahkan tidak berani bergerak terlalu banyak. Wajahnya masih terasa panas dan pikirannya terus mengulang kejadian barusan. Bagaimana ia bisa kehilangan keseimbangan, bagaimana Alden menarik tangannya, lalu bagaimana tubuhnya justru jatuh ke pangkuan laki-laki itu. Dan yang paling membuatnya ingin menghilang adalah bibir mereka yang sempat bersentuhan. Sakaya menarik selimut lebih tinggi. “Sial.” Sakaya mengumpat dalam hati. Dari tempatnya, ia mendengar langkah kaki Alden yang semakin mendekat. Seketika tubuh Sakaya kembali menegang. Namun, Alden tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berjalan melewati tempat tidur Sakaya dan kembali ke tempat tidurnya sendiri. Beberapa saat kemudian, suara kasur terdengar ketika ia merebahkan tubuh. Sakaya perlahan membuka matanya. Ia masih membelakangi Alden. Beberapa detik berlalu dalam keheningan. “Tidur.” suara Alden terdengar dari seberang. Sakaya menggigit bibirnya sendiri. “Gue tau.” “Terus kenapa masih bangun?” “Lo juga belum tidur.” Alden terdiam sebentar. “Gue lagi menikmati malam, dan...” Kalimat itu menggantung begitu saja. Hening kembali memenuhi kamar. Tidak ada suara selain hembusan pendingin ruangan yang terdengar samar dan suara angin malam dari balik pintu kaca balkon. Sakaya masih membelakangi Alden, sementara Alden sendiri tidak melanjutkan perkataannya. Cukup lama mereka berada dalam keheningan. Sakaya mulai berpikir bahwa percakapan itu benar-benar sudah selesai ketika suara Alden kembali terdengar. “Lain kali kalau mau jujur, lo tinggal bilang sama gue.” Sakaya mengernyit bingung. Ia perlahan membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah Alden yang masih berbaring di tempat tidurnya. “Maksudnya?” Alden membuka matanya dan menatap balik ke arahnya. Wajahnya masih terlihat tenang, seolah kalimat yang baru saja ia ucapkan bukan sesuatu yang perlu dijelaskan lebih jauh. “Ya... jujur aja.” “Jujur soal apa?” Alden tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada Sakaya. “Lo sendiri tau harus jujur bagian apa.” *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD