BAB 17

1537 Words
Seharian penuh, Sakaya merasa kepalanya hampir tidak berhenti bekerja. Ia harus mengingat nama orang-orang yang menyapanya, menyesuaikan cara bicara, mengikuti percakapan yang sebagian besar tidak ia pahami, dan sesekali tersenyum ketika seseorang mengatakan sesuatu yang seharusnya dianggap lucu. Menjadi Sakara ternyata jauh lebih melelahkan daripada yang ia bayangkan. Bukan karena pelajarannya. Bukan juga karena lingkungan sekolahnya. Melainkan karena setiap menit yang ia habiskan di tempat ini menuntutnya untuk terus mengingat bahwa dirinya bukan Sakaya. Dan setelah semua itu berakhir, hal pertama yang ingin ia lakukan hanyalah tidur. Begitu kembali ke asrama, Sakaya langsung membuka pintu kamar. “Selamat siang.” kata Sakaya singkat. Arka yang sedang duduk di sofa hanya mengangkat tangannya sebagai balasan. Nathan juga sempat menoleh dari laptopnya, sementara Alden masih duduk di tempatnya dengan tatapan yang tertuju pada layar laptop. Sakaya tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia berjalan menuju tempat tidurnya dengan langkah yang sudah tidak secepat biasanya. Tas masih menggantung di bahunya. Begitu sampai di depan kasur, ia langsung menjatuhkan tubuhnya. Bruk. Tas masih melekat di tubuhnya. Sepatu juga belum dilepas. Sakaya hanya menarik sedikit selimut yang berada di sisi kasur, kemudian memejamkan mata. Tidak sampai satu menit, napasnya mulai teratur. Arka yang sejak tadi memperhatikan akhirnya menatap Nathan. “Dia tidur?” tanya Arka. “Se-melelahkan itu memang, sampai nggak sanggup ganti seragam dan lepas sepatu dulu?” Nathan melirik Alden. Laki-laki itu memang cukup sensitif terhadap sesuatu yang tidak sesuai pada tempatnya, terlebih jika hal tersebut berkaitan dengan aturan yang sudah dibuat. Nathan kemudian menoleh kepada Arka. “Bangunin,” kata Nathan. “Baru hari kedua tinggal di sini udah melanggar peraturan.” Arka menatap Sakaya yang masih terbaring di kasur. “Serius?” Nathan mengangguk. “Di sini harus rapi. Sepatu nggak boleh masuk ke tempat tidur.” Arka menghela napas sebelum akhirnya berdiri dari sofa. “Oke. Gue bangunin.” Alden berjalan mendekati tempat tidur Sakaya, kemudian berhenti di samping kasur. “Sakara.” Tidak ada jawaban. Arka menepuk bahu Sakaya pelan. “Sakara, bangun.” Sakaya hanya menggumam pelan, kemudian menarik selimut lebih tinggi hingga hampir menutupi wajahnya. Arka menoleh kepada Nathan. “Tidurnya nyenyak banget.” “Bangunin.” “Gue udah.” “Kurang keras.” kata Nathan. “Sebelum Alden turun tangan, mending lo bangunin Sakara.” Alden yang sejak tadi berdiri di dekat tempat tidur Sakaya akhirnya mengalihkan pandangannya kepada Nathan. “Biarin aja.” Nathan langsung menoleh. “Bukannya lo paling sensitif kalau ada yang nggak sesuai aturan?” Alden tidak menjawab. Tatapannya kembali tertuju pada Sakaya yang sudah benar-benar tertidur. Wajahnya terlihat lelah, bahkan setelah beberapa kali dipanggil oleh Arka, laki-laki itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun. “Dia udah hari kedua tinggal di sini,” ujar Nathan. “Harusnya dia udah tau peraturan kita.” “Gue tau.” “Terus kenapa dibiarin?” Alden berjalan kembali menuju tempatnya. “Bangunin nanti.” Arka yang masih berdiri di samping kasur Sakaya langsung mengangkat alis. “Tumben.” Alden tidak menanggapi. Ia hanya kembali duduk dan membuka laptopnya, seolah percakapan itu sudah selesai. Nathan masih memperhatikan Alden dengan tatapan heran. Selama ini, Alden tidak pernah membiarkan hal-hal kecil yang menurutnya tidak sesuai dengan aturan. Bahkan posisi barang yang bergeser sedikit saja terkadang bisa membuatnya langsung mengingatkan orang lain. Namun, kali ini ia justru membiarkan Sakaya tidur dengan seragam, tas, bahkan sepatu yang masih terpasang. “Lo yakin?” tanya Nathan sekali lagi. Alden menatap layar laptopnya. “Dia kelihatan capek.” Arka terkekeh kecil. “Wah, ternyata Alden bisa punya belas kasihan.” Alden meliriknya tajam. “Bercanda,” ujar Arka cepat sambil kembali duduk di sofa. “Lagian lo aneh, nggak seperti biasanya.” Nathan hanya menggelengkan kepala. Ia akhirnya tidak mengatakan apa-apa lagi. Sakaya tetap tertidur di atas kasur, sama sekali tidak mengetahui percakapan yang terjadi di antara mereka. Untuk kali ini, tidak ada yang mengganggunya. Dan mungkin, untuk pertama kalinya sejak datang ke sekolah itu, ia benar-benar membutuhkan waktu untuk sekadar tidur. Alden sendiri diam-diam menatap Sakaya cukup lama sebelum akhirnya mengalihkan pandangan ketika Nathan kembali membuka suara. “Ngomong-ngomong soal besok,” ujar Nathan sambil memutar laptopnya sedikit ke arah Alden. “Proyek Papah gue yang kemarin gue ceritain itu... jadi melibatkan lo juga, kan?” Alden menatap layar laptop Nathan. “Iya.” “Gue tadi dapat beberapa dokumen tambahan.” Nathan menggeser laptopnya. “Ada beberapa bagian yang gue masih nggak yakin. Papah gue minta gue konsultasi sama lo sebelum gue kasih jawaban.” Arka yang mendengar percakapan mereka langsung ikut menoleh. “Proyek yang mana?” “Yang kerja sama perusahaan teknologi itu.” kata Nathan. “Ini pertama kali gue pegang proyek meski masih diawasi Papah. Tapi gue tetap berusaha sesempurna mungkin untuk proyek ini.” “Oh.” Arka kembali menyandarkan tubuhnya ke sofa. “Bukannya deadline-nya masih lama?” “Lama kalau cuma lihat tanggalnya.” Nathan mengetuk salah satu bagian di layar. “Tapi kalau keputusan awalnya salah, nanti bagian berikutnya ikut berantakan.” Alden menarik kursinya sedikit mendekat. “Coba sini.” Nathan langsung memutar laptopnya lebih lebar agar bisa dilihat bersama. Keduanya mulai membicarakan beberapa poin dari proyek tersebut, sementara Arka sesekali ikut memberikan pendapat meskipun tidak terlalu banyak. Percakapan mereka perlahan memenuhi kamar. Namun, di tengah pembicaraan itu, Alden sempat kembali melirik ke arah tempat tidur Sakaya. Laki-laki itu masih tertidur. Tidak bergerak sedikit pun. Alden kemudian kembali melihat layar laptop Nathan dan melanjutkan pembicaraan seolah tidak terjadi apa-apa. “Bagian ini harus diubah.” Nathan mengernyit. “Kenapa?” “Kalau pakai asumsi ini, perhitungannya nggak akan masuk.” Nathan memperhatikan layar beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk. “Bener juga.” Arka terkekeh. “Makanya gue bilang, kalau urusan beginian jangan cuma modal pintar.” Nathan meliriknya. “Terus modal apa?” “Modal Alden.” Alden langsung menatapnya datar. Arka tertawa kecil. Siang berganti malam itu, pembicaraan mereka hanya sebatas pada proyek, sementara Sakaya tetap tertidur di kasurnya tanpa mengetahui apa pun yang terjadi di sekelilingnya. Arka akhirnya menutup laptopnya dan meregangkan tubuh. “Laper nggak sih? Mau ke kantin nggak?” Nathan melirik jam tangannya sebentar. “Boleh.” Alden masih sibuk memperhatikan layar laptopnya. “Gue nyusul.” Nathan menoleh. “Sekalian bareng aja, Al.” “Gue masih ada kerjaan sedikit, sebelum diserahin ke bokap.” “Ya udah, kita tunggu.” Alden menggeleng pelan. “Duluan aja.” Arka dan Nathan saling pandang sebentar sebelum akhirnya mengangguk. “Ya udah deh,” ujar Arka. “Nanti kalau mau nyusul, infoin aja. Biar kita nggak langsung pergi.” “Iya,” timpal Nathan. “Kabarin aja kalau udah selesai.” Alden hanya mengangguk singkat dan kembali menatap laptopnya. Arka dan Nathan pun mulai bersiap meninggalkan kamar, sementara Alden tetap duduk di tempatnya untuk menyelesaikan pekerjaan yang masih tersisa. Sebelum keluar, Nathan sempat melirik ke arah Sakaya yang masih tertidur pulas. “Dia nggak mau dibangunin?” Arka ikut melihat ke arah kasur. “Biarin aja. Tadi aja susah banget dibangunin.” Nathan mengangguk. “Ya udah.” Keduanya kemudian keluar dari kamar, meninggalkan Alden dan Sakaya di dalam. Setelah pintu tertutup, suasana kamar mendadak jauh lebih tenang. Hanya suara ketikan Alden yang terdengar sesekali, bercampur dengan suara pendingin ruangan yang sejak tadi menyala. Alden kembali menyelesaikan pekerjaannya. Beberapa dokumen masih terbuka di layar laptop, sementara tangannya sesekali berpindah dari keyboard ke trackpad untuk memeriksa data yang dikirim Nathan. Namun, konsentrasinya tidak sepenuhnya berada di sana. Beberapa kali matanya tanpa sadar beralih ke arah tempat tidur di seberang. Sakaya masih tidur dalam posisi yang sama. Tas yang sejak tadi menggantung di tubuhnya bahkan belum dilepas. Salah satu tali tas terlihat sedikit bergeser ke bawah, sementara sepatu yang masih terpasang membuat ujung selimut berada dalam keadaan berantakan. Alden menghela napas pelan. Ia kembali menatap laptop. Beberapa menit kemudian, ia kembali melirik. Masih sama. “Bener-bener tidur,” gumamnya. Alden akhirnya berdiri dari kursinya. Ia berjalan mendekati tempat tidur Sakaya dan berhenti di sampingnya. Tatapannya jatuh pada wajah laki-laki itu yang terlihat jauh lebih tenang dibandingkan ketika berada di sekolah. Tidak ada ekspresi waspada. Tidak ada tatapan yang terus memperhatikan sekeliling. Bahkan ketika Alden berdiri cukup dekat, Sakaya sama sekali tidak bergerak. Alden menatap tas yang masih melekat di tubuhnya. “Tidur kayak gini nanti badan lo sakit.” Sakaya tentu saja tidak menjawab. Alden terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menarik tali tas yang berada di bahu Sakaya dengan hati-hati. Ia melepaskannya perlahan agar tidak membangunkan laki-laki itu, kemudian meletakkan tas tersebut di samping tempat tidur. Setelah itu, tatapannya beralih pada sepatu. Alden menghela napas. “Repot.” Ia jongkok dan melepaskan sepatu Sakaya satu per satu, kemudian meletakkannya di bawah tempat tidur. Sakaya hanya bergerak sedikit ketika salah satu kakinya disentuh, tetapi kembali diam beberapa detik kemudian. Alden berdiri. Ia sempat menatap Sakaya sekali lagi sebelum kembali ke meja kerjanya. Namun, baru beberapa langkah berjalan, Sakaya tiba-tiba bergumam dalam tidurnya. “...capek.” Langkah Alden berhenti. Ia menoleh. Sakaya masih memejamkan mata. Alden tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya kembali ke tempat duduknya, membuka laptop, lalu melanjutkan pekerjaannya. Kali ini, ia tidak lagi melihat ke arah tempat tidur itu. Setidaknya, ia berusaha untuk tidak melakukannya. Meski akhirnya kembali menatap ke tempat tidur itu. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD