Laki-laki itu membawa Sakaya menyusuri koridor yang berada di sisi lain gedung. Langkahnya cukup santai, seolah tidak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Berbeda dengan Sakaya yang sejak tadi terus memperhatikan sekitar.
Ia masih tidak tahu siapa laki-laki ini.
Lebih tepatnya, ia tidak tahu seberapa banyak laki-laki ini mengetahui tentang dirinya. Karena untuk nama, Sakaya sudah tahu dari name tag seragam yang digunakan.
Beberapa siswa yang mereka lewati sempat melirik, tetapi tidak ada yang terlihat curiga. Laki-laki itu bahkan beberapa kali menyapa orang yang berpapasan dengannya, membuat semuanya terlihat seperti percakapan biasa antara dua teman sekolah.
Sakaya tidak banyak bicara. Ia hanya mengikuti langkah laki-laki itu sambil mengingat jalan yang mereka lewati.
Tidak lama kemudian, mereka berhenti di depan sebuah ruangan dengan papan bertuliskan PERPUSTAKAAN.
Laki-laki itu membuka pintunya dan langsung masuk.
Sakaya ikut masuk beberapa detik kemudian.
Perpustakaan tersebut tidak terlalu ramai. Beberapa siswa terlihat duduk di meja yang tersebar di dekat jendela, sementara sebagian lainnya sibuk mencari buku di antara rak-rak tinggi. Letaknya juga cukup dekat dengan kelas 12-A, sehingga Sakaya tidak perlu khawatir akan tersesat ketika kembali nanti.
Laki-laki itu berjalan menuju bagian belakang perpustakaan yang terlihat lebih sepi.
Ia menarik salah satu kursi, lalu duduk dengan santai.
“Lepas.” kata Sakaya.
Laki-laki itu mengangkat alis. “Gue udah lepas dari tadi.”
“Maksud gue rangkulannya.”
Laki-laki itu terkekeh. “Oh.”
Sakaya mendengus pelan sebelum akhirnya menarik kursi di hadapannya dan duduk. Beberapa detik mereka hanya saling menatap.
Sakaya tidak ingin membuang waktu.
“Sekarang jelasin.”
“Apanya?”
“Lo siapa?”
Laki-laki itu menyandarkan punggungnya pada kursi. “Bukannya tadi gue udah bilang? Gue sahabat Sakara.”
“Gue nggak nanya hubungan lo sama Sakara.” tatapan Sakaya menajam. “Gue nanya, gimana lo bisa tau gue Sakaya?”
Laki-laki itu terkekeh kecil. Ia tampak santai, seolah pertanyaan Sakaya bukan sesuatu yang sulit untuk dijawab.
“Karena kemarin gue baru aja ke rumah sakit tempat Sakara dirawat. Gue ke sana buat jenguk dia. Kondisinya masih sama, belum sadar.” Ia kemudian mengulurkan tangannya ke atas meja. “Kenalin dulu, gue Rifaldo. Gue sama dia udah kenal sejak kelas tujuh SMP.”
Sakaya melirik tangan yang terulur di hadapannya sebelum kembali menatap wajah laki-laki itu.
“Terus?” tanya Sakaya.
Rifaldo menarik kembali tangannya dan menyandarkan tubuhnya pada kursi. “Terus kemarin gue lihat Sakara masih terbaring di rumah sakit. Makanya waktu gue lihat lo tadi, gue langsung tau ada yang nggak beres.”
Sakaya mengernyit. “Cuma karena wajah?”
“Bukan cuma wajah.” Rifaldo terkekeh. “Gue kenal dia udah bertahun-tahun, Sakaya. Gue tau cara dia jalan, cara dia ngomong, kebiasaannya, bahkan ekspresi mukanya kalau lagi males atau kesel. Jadi walaupun lo mirip banget sama dia, gue tetap bisa tau kalau lo bukan Sakara.”
Sakaya terdiam. Ia tidak menyangka ada seseorang yang bisa mengenali perbedaannya secepat ini.
Sejak awal ia menerima tawaran menjadi Sakara, ia mengira penyamarannya cukup sempurna karena mereka memang memiliki wajah yang hampir sama.
Namun, ternyata orang yang sudah mengenal Sakara selama bertahun-tahun bisa melihat perbedaan kecil yang bahkan tidak ia sadari.
Rifaldo menghela napas pelan. Tatapannya yang sejak tadi santai perlahan berubah lebih serius.
“Waktu pertama kali gue dengar kabar Sakara sakit, gue langsung cari tau keberadaan dia.”
Sakaya mengangkat alis. “Cari tau?”
“Iya.” Rifaldo mengangguk. “Gue emang kehilangan kontak sama dia. Alasannya jelas karena bokap tiri Sakara. Semenjak kelas 11 SMA, gue nggak bisa dekat dengan Sakara secara terang-terangan lagi.”
“Padahal selama tiga tahun kita satu kelas,” lanjut Rifaldo. “Tapi mungkin karena Sakara terlalu banyak diawasi, akhirnya gue sama dia cuma bisa komunikasi kalau lagi nggak sengaja ketemu.”
Sakaya mengerutkan kening.
“Diawasi?”
Rifaldo mengangguk pelan. “Gue nggak tau persis sejak kapan bokap tirinya mulai memperhatikan siapa aja yang dekat sama Sakara. Yang jelas, semakin lama gue merasa dia semakin dibatasi. Jadi kalau di sekolah, gue sama Sakara lebih sering pura-pura biasa aja.”
Ia terkekeh kecil, tetapi kali ini tawanya terdengar hambar.
“Kalau kebetulan ketemu di tempat yang sepi, baru ngobrol. Kadang cuma beberapa menit. Kadang juga cuma saling tukar pesan kalau kebetulan dia punya kesempatan.”
Sakaya terdiam.
Selama ini ia selalu mengira Sakara adalah anak yang hidup nyaman. Setidaknya jauh lebih nyaman dibanding dirinya.
Namun, semakin banyak orang yang ia temui, semakin sering ia mendengar cerita yang membuat anggapan itu perlahan runtuh.
“Terus soal lo ke rumah sakit?” tanya Sakaya.
“Seminggu lalu, guru ngasih tau kalau Sakara masuk rumah sakit.” Rifaldo menatap meja di hadapannya. “Gue langsung cari tau.”
“Dan lo baru nemu rumah sakitnya kemarin?”
“Iya. Gue emang nggak langsung tau dia dirawat di mana. Tingkat koneksi gue terbatas, bokap tiri Sakara jauh di atas orang tua gue.” Rifaldo mengangkat bahu. “Jadi begitu nemu titik lokasinya, gue langsung ke sana.”
Ia kembali menatap Sakaya.
“Makanya waktu gue lihat lo di sini, gue ngerasa aneh banget. Gue baru aja lihat Sakara terbaring di rumah sakit, tapi beberapa jam kemudian gue malah lihat orang yang wajahnya hampir sama persis sama dia berjalan di sekolah.”
Sakaya tidak langsung menjawab.
Ada terlalu banyak hal yang baru ia dengar dalam waktu singkat.
Tentang Sakara yang diawasi. Tentang hubungannya dengan Rifaldo yang harus dijaga jarak. Tentang dirinya yang ternyata masih dicari oleh seseorang.
Sakaya akhirnya menyandarkan tubuhnya pada kursi.
“Lo ada masalah apa sampai lo sama Sakara harus jaga jarak?”
Rifaldo terdiam.
Untuk pertama kalinya sejak mereka masuk ke perpustakaan, ekspresi santai di wajahnya benar-benar menghilang.
“Masalah gue?” ulangnya pelan.
Sakaya mengangguk. “Kalau cuma karena bokap tirinya terlalu protektif, rasanya nggak masuk akal sampai kalian harus pura-pura nggak kenal selama di sekolah.”
Rifaldo menatapnya beberapa saat. Kemudian ia mengembuskan napas panjang.
“Cewek gue bermasalah sama si Rania. Lo tahu, kan, dia siapa?” Rifaldo terkekeh. “Mereka sekolah di SMA kecantikan, dan kebetulan si Rania ini tukang bully dan sering tindas cewek gue.”
Sakaya mengangguk pelan. Nama itu tentu tidak asing baginya.
Rania.
Salah satu nama yang menjadi kebahagian pasangan Mira dan Maheswara.
“Jadi gue labrak si Rania,” lanjut Rifaldo. “Kebetulan Rania juga satu SMP sama gue dan Sakara. Jadi gue tau persis orangnya seperti apa.”
Rifaldo mengusap wajahnya sebentar, kemudian kembali menyandarkan punggungnya pada kursi.
“Masalahnya, setelah kejadian itu, bokap tiri Sakara ikut campur. Dia nggak suka gue bikin masalah sama anak perempuannya.”
Sakaya diam, membiarkan Rifaldo melanjutkan ceritanya.
“Tapi gue masih bisa ngerti, namanya juga orang tua yang khawatir sama anaknya. Tapi ternyata Sakara juga kena imbasnya.” Rifaldo menghela napas. “Entah dihukum bokap atau nyokapnya, intinya keesokan harinya dia babak belur. Dia langsung jujur disuruh menjauh dari gue, dan dia pilih opsi itu karena ada ancaman keselamatan kembarannya.”
Sakaya menatapnya.
“Dan sejak saat itu,” lanjut Rifaldo, “gue sama Sakara jadi kayak orang asing di sekolah.”
Sakaya tidak perlu berpikir lama untuk memahami maksudnya.
Ia akhirnya mengangguk pelan masih ada sedikit kernyitan bingung.
“Padahal...” Sakaya terkekeh kecil. “Gue baru berhubungan dengan orang tua Sakara... ya sekarang-sekarang. Kenapa Sakara langsung percaya gue bakal dalam bahaya kalau dia nggak nurut?”
Rifaldo menatap Sakaya beberapa saat sebelum akhirnya menghembuskan napas.
“Dua tahun lalu, lo ikut kompetisi nasional taekwondo, kan?”
Sakaya mengernyit.
Taekwondo.
Ingatan tentang pertandingan itu masih tersimpan jelas di kepalanya.
“Gue pernah lihat,” lanjut Rifaldo. “Waktu itu gue sama Sakara kebetulan ada di sana. Nonton dari awal.”
Sakaya terdiam.
“Pas lo dinyatakan menang, Sakara sebenarnya udah membulatkan tekad buat ketemu lo.” kata Rifaldo. “Kata Sakara, meski gugup, tapi dia ingin tau kabar lo dan kenal lo seperti dulu lagi. Nggak masalah kalau harus berhubungan secara diam-diam.”
Tatapan Sakaya perlahan berubah.
“Tapi ternyata yang dia lihat bukan lo yang lagi ngerayain kemenangan.” Rifaldo berhenti sejenak. “Dia lihat lo nangis.”
Sakaya tidak bergerak.
“Gue nggak tau persis apa yang terjadi setelah pertandingan. Tapi Sakara cerita ke gue.” Rifaldo menatapnya serius. “Lo diancam sama nyokap. Terus lo ditampar kencang banget.”
Jari-jari Sakaya perlahan mengepal di atas pangkuannya.
“Dia bahkan sempat mau menghampiri lo buat ngebela waktu itu,” lanjut Rifaldo. “Tapi begitu nyokap lo bawa-bawa Rania, dia lebih milih mundur.”
“Kenapa?” suara Sakaya terdengar lebih pelan.
“Karena dia sadar kalau mendekati lo disaat nyokap kalian lagi bahas Rania, itu bisa bikin keadaan lo semakin buruk. Dia nggak ingin lo terluka lebih jauh.” Rifaldo menghela napas. “Sejak saat itu, Sakara nggak berani macam-macam. Dia takut kalau sampai ketahuan punya hubungan sama lo, orang yang sama bakal melakukan sesuatu yang lebih parah dari tamparan yang ia lihat.”
Sakaya menundukkan wajahnya.
Potongan kejadian dua tahun lalu kembali muncul dalam ingatannya. Ruang ganti yang sepi, suara ancaman Mira, tamparan yang membuat pipinya terasa panas.
Dan hatinya yang terasa sangat sakit karena merasa perjuangannya mendapatkan kasih sayang Mamahnya tetap tak terlihat.
Namun, ada satu hal yang baru ia sadari sekarang.
Sakara melihat semuanya.
Sakara tahu.
Dan selama ini, mungkin alasan Sakara memilih diam bukan karena ia tidak peduli. Melainkan karena ia takut sesuatu terjadi pada dirinya.
Sakaya mengepalkan tangannya semakin erat.
Jangan-jangan...
Selama ini Mira memang sengaja melakukan semua itu, tepat ketika ada Sakara juga di sana?
Jadi niatnya bukan hanya untuk menyakitinya, tetapi untuk membuat Sakara takut disaat yang bersamaan. Jadi Sakara harus berpikir dua kali sebelum memberontak.
Peringatan tegas Mira benar-benar berhasil membunuh kedua anaknya.
Sakaya akhirnya tertawa. “Gue dan Sakara kayaknya harusnya menyesal... kenapa kita harus dilahirkan oleh wanita sesakit jiwa itu?”
Rifaldo tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap Sakaya yang masih tersenyum, tetapi jelas bukan senyum yang menunjukkan bahwa ia sedang baik-baik saja.
“Jangan ngomong kayak gitu.”
Sakaya mengangkat wajahnya. “Kenapa?”
“Karena kalau lo terus nyalahin diri sendiri atau Sakara atas apa yang dia lakukan, berarti dia berhasil.”
Senyum di wajah Sakaya perlahan menghilang.
Rifaldo menatapnya serius.
“Lo sama Sakara nggak pernah punya pilihan buat lahir dari siapa. Kalian juga nggak pernah minta diperlakukan seperti itu.”
Sakaya terdiam.
“Yang salah tetap orang yang memilih menyakiti kalian.”
Kalimat itu membuat d**a Sakaya terasa sesak. Ia sudah terlalu sering mendengar bahwa dirinya kurang baik, kurang patuh, kurang pantas mendapatkan kasih sayang.
Tapi hampir tidak pernah ada yang mengatakan bahwa bukan dirinya yang salah.
“Dan satu lagi,” lanjut Rifaldo. “Jangan kira Sakara diam karena dia lemah.”
Sakaya menatapnya.
“Dia cuma terlalu takut kehilangan lo.”
Sakaya membeku.
Rifaldo menghela napas pelan.
“Gue tau Sakara. Kalau cuma dirinya sendiri yang diancam, mungkin dia masih bakal nekat. Tapi begitu nama lo dibawa-bawa, dia langsung mundur.”
Sakaya menelan ludah.
“Selama ini dia mungkin kelihatan seperti anak yang nurut sama keluarganya. Padahal sebenarnya dia cuma berusaha memastikan lo tetap aman.”
Sakaya menundukkan kepalanya.
Lagi-lagi ia mulai melihat Sakara bukan sebagai saudara yang hidup jauh lebih beruntung darinya. Melainkan sebagai seseorang yang ternyata sama-sama terjebak.
Bedanya, mereka berada di sisi yang berbeda.
Sakaya masih ada Neneknya dan tidak terlalu sendirian. Sementara Sakara benar-benar berjuang sendirian demi melindungi dirinya.
“Terus...” suara Sakaya terdengar lirih. “Kenapa dia nggak pernah cari gue sendiri?”
Rifaldo terdiam beberapa saat.
“Karena mungkin dia takut kalau pencarian itu justru membawa mereka ke lo.”
Sakaya menggigit bagian dalam pipinya. Jawaban itu terasa menyakitkan. Namun, entah kenapa, untuk pertama kalinya rasa sakit tersebut bukan berasal dari kebencian.
Melainkan dari penyesalan.
Ia sudah bertahun-tahun mengira Sakara tidak pernah berusaha mencarinya.
Ternyata mungkin saja Sakara sudah berusaha.
Hanya saja, ia tidak pernah tahu.
Rifaldo kemudian bersandar kembali pada kursinya.
“Gue nggak tau semua yang terjadi di keluarga kalian, Sakaya. Tapi satu hal yang gue tau.”
Sakaya mengangkat wajahnya.
“Kalau Sakara sampai tau lo sekarang ada di sini dan menggantikan penderitaannya, gue yakin dia bakal marah.”
Sakaya mengernyit.
“Marah?”
“Iya.” balas Rifaldo. “Datang ke sini dan jadi dirinya, mungkin itu yang bukan Sakara mau. Lo harusnya tetap jadi diri sendiri.”
Rifaldo tersenyum tipis.
“Tapi entah kenapa gue yakin...” tambah Rifaldo. “Lo mungkin sekarang sedang melakukan hal yang selama ini dia takut lakukan. Jadi... gue mau dukung lo demi kebebasan Sakara.”
Sakaya menatap Rifaldo cukup lama.
Ucapan laki-laki itu terdengar meyakinkan. Terlalu meyakinkan, bahkan.
Namun, Sakaya sudah belajar satu hal selama hidupnya.
Tidak semua orang yang datang dengan niat baik benar-benar bisa dipercaya. Ia tidak tahu siapa Rifaldo sebenarnya.
Ia juga tidak tahu apakah semua cerita yang baru saja disampaikan laki-laki itu benar, atau hanya cara untuk mendapatkan kepercayaannya.
“Seberapa besar gue harus percaya sama lo?”
Rifaldo terdiam. Tatapan keduanya bertemu di antara sunyinya sudut perpustakaan.
“Gue nggak akan maksa lo percaya sama gue,” jawab Rifaldo akhirnya. “Kalau posisi kita dibalik, gue juga nggak akan langsung percaya.”
Sakaya mengangkat sebelah alis.
“Terus?”
“Lo nggak perlu percaya sekarang.” Rifaldo menyandarkan tubuhnya pada kursi. “Kenal gue dulu. Lihat sendiri apa yang gue lakukan. Kalau setelah itu lo masih merasa gue bisa dipercaya, baru percaya.”
Sakaya tidak membalas. Karena pada saat itu, bel masuk akhirnya berbunyi.
*****