BAB 15

1817 Words
Sakaya berjalan lebih dulu, sementara Alden, Arka, dan Nathan berjalan beberapa meter di belakangnya. Entahlah, Sakaya memang sengaja menjaga jarak. Setelah kejadian pagi tadi, ia merasa lebih aman jika tidak terlalu dekat dengan Alden. Apalagi sekarang mereka berada di lingkungan sekolah yang dipenuhi orang-orang yang mengenal Sakara. Sakaya membuka ponselnya sambil membaca denah sekolah yang sudah ia simpan sebelumnya. Untung saja kelas 12-A yang menjadi kelas Sakara berada di lantai dasar, sehingga ia tidak perlu berkeliling terlalu jauh untuk menemukannya. Sesekali, Sakaya memperhatikan papan nama kelas yang dilewatinya. Ia membaca satu per satu tulisan di depan ruangan sambil berusaha mengingat letak setiap bagian sekolah. Setelah itu, pandangannya kembali tertuju pada layar ponsel agar orang lain tidak curiga kalau sebenarnya ia sedang mencari kelasnya sendiri. “Gue seperti berasa jadi pengikut anak itu.” kata Arka dengan tangan yang ia masukkan ke dalam celana. “Dan gue baru sadar, ternyata yang buat anak itu kelihatan tinggi, ternyata karena sol sepatunya.” Alden menghela napas panjang. Tatapannya turun pada sepatu yang dikenakan Sakaya hari ini. Sepatu dengan sol yang cukup tebal itu memang membuat tubuh Sakaya terlihat beberapa sentimeter lebih tinggi dari ukuran aslinya. Seketika, ingatannya kembali pada pertemuan singkatnya dengan Sakara beberapa waktu lalu. Saat itu, tinggi tubuh mereka memang hampir sama. Namun, jika Sakara terbiasa menggunakan sepatu dengan sol setebal itu, perbedaan tinggi tersebut sebenarnya tidak terlalu aneh. Mungkin memang hanya sepatu. Alden terdiam beberapa saat, lalu mengalihkan pandangannya. “Ya wajar dia pakai sepatu kayak gitu.” balas Nathan. Arka menoleh. “Maksudnya?” “Bagi kaum kita, tinggi itu harga diri.” Nathan memasukkan kedua tangannya ke saku celana. “Gue kalau jadi dia juga kayaknya bakal melakukan hal yang sama.” “Lo sendiri tinggi, lo udah nggak butuh.” tanya Arka. “Gue yang kayaknya butuh, biar setinggi lo.” “Nah makanya gue nggak butuh.” Arka mendengkus. “Sombong banget.” Nathan hanya tertawa kecil. Sementara itu, Alden kembali menatap Sakaya yang masih berjalan di depan mereka. Untuk pertama kalinya sejak kemarin, salah satu hal yang membuatnya curiga mulai menemukan penjelasan yang masuk akal. Perbedaan tinggi badan itu bukan sesuatu yang sulit dijelaskan. Begitu juga dengan penampilannya yang sekarang terlihat jauh lebih kurus dibandingkan saat pertemuan mereka sebelumnya. Tetapi ia masih tidak terima... Harusnya Sakara tahu perempuan yang ia tunjuk kemarin, karena wajah mereka mirip. Tapi laki-laki itu masih bungkam. “Sakara?!” panggil seseorang yang membuat atensi ketiganya menoleh bersamaan. Sakaya ikut menghentikan langkahnya. Begitu menoleh, ia mendapati seorang laki-laki berjalan cepat ke arahnya dengan wajah yang langsung berubah cerah. Belum sempat Sakaya mengatakan apa-apa, laki-laki itu sudah berada di hadapannya. “Anjir, akhirnya masuk juga!” Dalam hitungan detik, keduanya saling merangkul seperti dua orang yang sudah lama tidak bertemu. Tubuh Sakaya seketika menegang. Tangannya bahkan sempat mengepal di sisi tubuh. Entah kenapa, orang ini datang tanpa aba-aba dan langsung merangkulnya begitu saja. Kalau bukan karena ia sedang menyamar sebagai Sakara, mungkin sejak tadi sudah ia dorong atau bahkan ia tinju. Namun, Sakaya akhirnya hanya diam. “Kenapa panggil gue?” tanya Sakaya datar. Laki-laki itu langsung mengernyit. “Lo kayaknya tambah kurusan, deh.” Sakaya terdiam sesaat. “Terus suara lo juga beda.” tatapan laki-laki itu semakin menyelidik. “Lo seminggu ini nggak apa-apa, kan?” Sakaya mengangguk pelan. Ia tidak mungkin mengatakan keadaan sebenarnya. Jadi, seperti biasa, ia memilih jawaban yang paling masuk akal. “Dokter bilang gue belum terlalu sehat. Makanya suara gue jadi begini.” “Oh.” Laki-laki itu mengangguk, tampak cukup percaya dengan jawabannya. Namun, beberapa detik kemudian, ia kembali memperhatikan wajah Sakaya dari atas sampai bawah. “Pantesan. Tapi serius, lo kelihatan beda banget.” Sakaya hanya mengangkat alis. “Beda gimana?” “Lebih kurus. Terus...” Ia menyipitkan mata. “Kayak lebih pucat juga.” “Gue sakit.” “Iya, gue tau.” Ia terkekeh. “Maksud gue, biasanya lo masih kelihatan sangar walaupun lagi sakit.” Sakaya menatap laki-laki di depannya beberapa detik. Ia sama sekali tidak tahu siapa orang ini, apalagi seberapa dekat hubungannya dengan Sakara. Masalahnya, dari cara laki-laki itu merangkulnya tanpa ragu, sepertinya hubungan mereka tidak sekadar teman sekelas. Sepertinya laki-laki ini tidak ada di foto list teman Sakara yang diperlihatkan Mahes. “Emangnya sekarang gue nggak kelihatan sangar?” tanya Sakaya akhirnya. Laki-laki itu tertawa. “Nggak. Sekarang lo lebih cocok dibilang bocah kurang makan.” Sakaya mengembuskan napas pelan. “Mulut lo, mau gue tambal?” Laki-laki itu langsung tertawa mendengar ucapan Sakaya. Ia bahkan sampai menepuk bahu Sakaya beberapa kali. “Anjir, kok lo jadi banyak bicara?” Ia menyeringai. “Lo udah nggak tertekan lagi sama bokap lo itu?” Sakaya mengangkat alis. “Kelihatannya?” Laki-laki itu terkekeh. “Lo beda. Kayaknya lo udah mulai ngelawan bokap lo?” Sakaya hanya mengangkat bahu. “Bagus deh.” Laki-laki itu mengangguk puas. “Sudah saatnya lo dianggap manusia.” Sakaya terdiam. Pandangannya turun ke name tag yang terpasang di d**a laki-laki itu. Ia membaca nama yang tertulis di sana dengan saksama, berusaha menyimpannya dalam ingatan. Setelah itu, ia kembali menatap wajah laki-laki tersebut. “Gue selama ini nggak kelihatan manusia, gitu?” Laki-laki itu terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya tertawa lagi. “Bukan begitu maksud gue.” “Terus?” “Lo tuh kayak...” Ia menggaruk belakang kepalanya. “Terlalu nurut sama bokap lo. Mau disuruh apa aja selalu iya. Mau diperlakukan kayak apa pun juga lo diam.” Sakaya menatapnya tanpa berkedip. Laki-laki itu melanjutkan, “Makanya gue bilang, bagus kalau sekarang lo mulai berani ngelawan.” Sakaya mengangguk kecil. “Berarti sekarang gue lebih manusia.” “Ya.” “Syukurlah.” Laki-laki itu kembali terkekeh. “Sumpah, lo berubah banget setelah sakit. Atau karena... Kita udah lama jaga jarak?” Sakaya sedikit mengernyit. Ada sesuatu yang terasa aneh dari ucapan laki-laki itu. Namun, bukan karena adanya hal menyimpang di antara laki-laki ini dan Sakara. Setidaknya, dari cara mereka berbicara, Sakaya tidak menemukan sesuatu yang mengarah ke sana. Laki-laki itu justru terlihat seperti teman lama yang sudah cukup mengenal Sakara, tetapi sempat menjaga jarak karena suatu alasan. Sakaya hendak bertanya ketika laki-laki itu tiba-tiba mendekat. Suaranya berubah menjadi lebih rendah. “Gue tau lo bukan sahabat gue.” Sakaya membeku. Laki-laki itu melirik ke kanan dan kiri sebelum kembali menatapnya. “Sakara masih koma di rumah sakit.” Mata Sakaya langsung melebar. “Lo...” laki-laki itu menjeda kalimatnya sejenak. “Pasti Sakaya, kan?” Sakaya mendelik. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap laki-laki itu tanpa suara. Ia tidak menyangka penyamarannya akan terbongkar secepat ini, terlebih oleh seseorang yang bahkan tidak ada dalam daftar orang yang pernah diperlihatkan Mahes kepadanya. Laki-laki itu justru terkekeh melihat ekspresi Sakaya. “Tenang. Gue nggak akan bilang siapa-siapa.” Sakaya masih menatapnya curiga. “Lo siapa?” “Nanti gue jelasin.” Laki-laki itu kembali melihat ke arah Alden, Arka, dan Nathan yang masih berdiri beberapa meter dari mereka. “Di sini nggak aman. Ikut gue.” Sebelum Sakaya sempat menolak, laki-laki itu langsung merangkul bahunya dan membawanya pergi. Sakaya hanya bisa mengikuti langkahnya sambil sesekali menoleh ke belakang. Sementara itu, tiga orang yang sejak tadi menyaksikan kejadian tersebut masih berdiri di tempat. Namun, perhatian Arka dan Nathan bukan lagi pada Sakaya. Keduanya justru menatap Alden. Wajah Alden terlihat jauh lebih keruh dari biasanya. Arka menelan ludah. “Alden...” Alden tidak menjawab. “Lo kelihatan kayak cemburu.” Arka menatapnya dengan ekspresi ragu. “Lo nggak menyimpang, kan?” Alden langsung menoleh. Nathan yang sejak tadi diam bahkan terlihat sedikit ngeri. Ia bergeser beberapa langkah menjauh dari Alden. “Perempuan masih banyak, Al,” kata Nathan hati-hati. “Lo tinggal pilih yang tipe apa, yang puas lo mainin dari atas sampai bawah. Kalau laki-laki... yang dimainin apa?” Alden menatap keduanya dengan tatapan datar yang perlahan berubah tajam. “Gue normal!” Arka langsung mengangkat kedua tangannya lega kemudian terkekeh. “Iya, iya. Gue cuma nanya.” “Jangan ngomong sembarangan lagi.” Nathan mengangguk cepat. “Oke, maaf kita salah sangka.” Alden tidak mau melanjutkan percakapan itu. Ia langsung melangkah lebih dulu meninggalkan keduanya. Entahlah, ia sendiri tidak mengerti kenapa harus bereaksi seperti ini. Seharusnya ia biasa saja. Dan ini mungkin karena Sakara sejak kemarin bungkam, tidak sesuai dengan ekspektasinya. Padahal Sakara harusnya jelas mengenal seseorang yang mungkin bisa memberinya informasi tentang perempuan yang selama ini ia cari. Hanya itu, tidak lebih. Namun, entah kenapa melihat laki-laki itu merangkul Sakara justru membuat dadanya terasa tidak nyaman. Ia tidak menyukai pemandangan itu. Sama sekali tidak. Alden menghela napas panjang, lalu mengusap wajahnya kasar. “Kenapa gue jadi begini?” gumam Alden pelan. Ia sendiri tidak tahu jawabannya. Mungkin karena sejak awal ia sudah terlalu fokus pada Sakara. Mungkin juga karena kemunculan laki-laki tadi membuatnya kehilangan kesempatan untuk bertanya lebih banyak. Ya. Pasti itu alasannya. Alden mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Ia berhenti di ujung koridor, kemudian menatap layar ponselnya. Jarinya bergerak cepat membuka salah satu foto yang selama ini tersimpan di sana. Foto perempuan itu. Perempuan yang sudah ia cari selama dua tahun belakangan ini. Tatapan Alden berubah lembut ketika melihat wajah di layar. Perempuan yang pernah menyelamatkannya, perempuan yang tidak pernah berhasil ia lupakan. Perempuan yang membuat jantungnya berdetak hanya dengan melihat wajahnya. Namun, beberapa detik kemudian, wajah Sakara muncul di dalam pikirannya. Alden langsung mengerutkan kening. Ada sesuatu yang salah. Ia kembali mengingat wajah keduanya. Semakin ia perhatikan, semakin sulit baginya menyangkal bahwa mereka memiliki kemiripan yang luar biasa. Bentuk mata. Garis wajah. Hanya saja, Sakara tetap laki-laki. Dan perempuan yang ada di dalam foto itu jelas seorang perempuan. Alden menutup layar ponselnya. Tidak mungkin. Ia tidak mungkin salah mengenali seseorang yang selama ini ia cari. Namun, kenapa setiap kali melihat Sakara, jantungnya kembali berdetak dengan cara yang sama? Alden menggeleng pelan. “Gue harus cari tau. Gue laki-laki. Gue normal.” Ia segera mengambil ponselnya dan menelepon seseorang. Begitu sambungan tersambung, Alden langsung berkata, “Cari sekali lagi informasi tentang Sakara Aditya Maheswara.” Ia terdiam sejenak. “Saya mau semuanya. Jangan hanya data sekolah dan keluarganya.” Tatapannya kembali mengarah ke koridor tempat Sakaya menghilang bersama laki-laki tadi. “Saya mau riwayat hidupnya selama ini, dari awal dia lahir. Yang terpenting dari pencarian ini... anda menemukan identitas jika Sakara memiliki saudara kembar.” Suara di seberang terdengar menjawab sesuatu, tetapi Alden hanya diam mendengarkan. Tatapannya masih mengarah ke koridor yang kini sudah kosong. “Kemarin kalian bilang tidak ada informasi tentang saudara kandungnya.” Alden menghela napas pelan. “Saya mau kalian cari lagi. Jangan cuma mengandalkan data resmi.” Alden sekarang berbelok menuju kelas. “Kalian pelacak profesional, mencari semua seluk beluk tentang Sakara itu harusnya mudah.” kata Alden melanjutkan. “Saya hanya butuh konfirmasi dia punya saudara kembar.” Telepon diputus sepihak. Alden kini duduk di bangkunya sambil memejamkan matanya. Jantungnya memang aneh, tidak seharusnya ia berdetak cepat karena laki-laki. Sialan?! *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD