BAB 14

1875 Words
Keesokan paginya, cahaya matahari mulai masuk melalui celah tirai kamar asrama. Satu per satu suara alarm terdengar dari beberapa sudut ruangan. Arka menjadi orang pertama yang bergerak. Dengan mata masih terpejam, tangannya meraba-raba sisi tempat tidur untuk mencari ponsel yang terus bergetar. Setelah berhasil menemukannya, ia mematikan alarm lalu menarik selimut kembali hingga menutupi sebagian wajahnya. Beberapa detik kemudian, Nathan mulai bangun. Ia duduk di tepi ranjang sambil mengusap wajah, masih terlihat setengah sadar. Alden juga sudah membuka mata. Namun, baru beberapa saat mereka bertiga mulai bergerak, suara Arka tiba-tiba terdengar. “Anjir!” Nathan yang masih mengantuk langsung menoleh. “Apa?” Arka mengucek kedua matanya beberapa kali, lalu menatap ke arah meja belajar di seberang kamar. Sakaya sudah duduk di sana. Seragam sekolahnya telah terpasang rapi. Rambutnya juga sudah ditata, bahkan tas sekolahnya sudah berada di samping kursi. Di atas meja, beberapa buku telah tersusun dengan rapi seolah pemuda itu sudah bersiap sejak lama. Arka menatapnya dengan ekspresi tidak percaya. “Lo udah bangun dari kapan?” Sakaya menoleh santai. “Dari tadi.” “Dari tadi itu kapan?” “Jam empat pagi.” Arka langsung menatap jam di ponselnya. “Sekarang jam enam lewat.” Sakaya mengangguk. “Iya.” Arka terdiam beberapa detik. “Gila.” Nathan yang baru saja berdiri ikut memperhatikan Sakaya. Tatapannya kemudian berpindah kepada seragam yang sudah dikenakan pemuda itu. “Lo nggak ngantuk?” “Enggak.” “Manusia macam apa lo?” Sakaya hanya mengangkat bahu. “Manusia biasa.” Arka terkekeh kecil sambil berjalan menuju kamar mandi. “Gue kalau bangun jam empat, mungkin masih mikir gue ada di alam lain.” Nathan menyusul beberapa langkah di belakangnya, tetapi sebelum masuk kamar mandi, ia sempat menoleh lagi kepada Sakaya. “Lo serius udah siap dari empat pagi?” “Iya.” Nathan mengangguk pelan. “Rajin banget.” Sakaya kembali mengalihkan perhatian kepada buku di hadapannya. Sebenarnya, bukan karena ia terlalu rajin hingga rela bangun pukul empat pagi hanya demi bersiap ke sekolah. Ia hanya tidak ingin mengambil risiko. Menjadi Sakara membutuhkan waktu lebih lama daripada sekadar mengenakan seragam laki-laki. Untuk rambut mungkin sudah tidak perlu diapa-apakan lagi. Tapi wajahnya harus dibuat terlihat lebih maskulin, dan ia harus memastikan tidak ada satu pun bagian dari dirinya yang terlihat mencurigakan. Semuanya harus dilakukan dengan teliti. Apalagi sekarang ia tinggal bersama tiga orang yang setiap hari akan melihatnya dari jarak dekat. Satu kesalahan kecil saja bisa membuat penyamarannya berantakan. “Lo bangun jam empat cuma buat siap-siap?” tanya Arka yang baru keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya. Sakaya menoleh sekilas. “Biar nggak buru-buru.” “Biar nggak buru-buru?” Arka mengulang dengan ekspresi tidak percaya. “Sekolah mulai jam berapa?” “Jam tujuh.” “Terus lo bangun jam empat?” “Iya.” Arka menggeleng pelan. “Gue rasa lo sakit.” Sakaya hanya mengangkat bahu. “Terserah.” Nathan yang sedang merapikan kerah seragamnya ikut menimpali, “Gue setuju sama Arka. Bangun jam empat buat sekolah itu nggak normal.” “Gue nggak bilang diri gue normal.” Jawaban datar itu membuat Nathan terdiam sesaat. Arka justru tertawa kecil. “Oke. Gue semakin suka sama jawaban lo.” Sakaya kembali mengalihkan pandangan kepada buku di hadapannya. Lagipula, bangun pukul empat bukan sesuatu yang terlalu sulit baginya. Tidur tepat waktu justru yang sulit. Sakaya sudah lama terbiasa dengan pola tidur yang berantakan. Ia sering baru bisa memejamkan mata sekitar pukul dua atau tiga pagi, bahkan terkadang lebih lama. Kalau selama ini orang-orang melihatnya sering bangun siang, bukan berarti ia tidur terlalu banyak. Ia hanya tidur terlalu larut. Malam tadi pun tidak jauh berbeda. Setelah mandi, Sakaya masih memikirkan perkataan Alden cukup lama. Tawaran uang, foto dirinya, pertanyaan tentang perempuan yang sedang dicari laki-laki itu, semuanya terus berputar di kepalanya. “Nyebelin banget,” gumamnya pelan. Nathan yang kebetulan lewat menoleh. “Siapa?” Sakaya langsung menggeleng. “Nggak ada.” Nathan menatapnya beberapa detik, tetapi akhirnya memilih tidak bertanya lebih jauh. Pada akhirnya, Sakaya baru benar-benar tertidur beberapa jam sebelum fajar. Dan pukul empat pagi, ia sudah terbangun lagi. Anehnya, tubuhnya tidak terlalu merasa lelah. Mungkin karena sudah terbiasa. Sakaya menutup buku di hadapannya dan melirik jam. Masih terlalu pagi. Arka dan Nathan baru mulai bersiap untuk mandi, sementara Alden masih duduk di tepi ranjang dengan wajah datarnya seperti biasa. Hari pertama sekolah, Sakaya harus memastikan tidak ada satu pun hal yang terlihat berbeda dari Sakara. Mulai hari ini, bukan hanya tiga orang di kamar ini yang akan memperhatikannya. Seluruh sekolah akan melakukannya. Dan Sakaya sama sekali tidak tahu seberapa banyak orang yang mengenal Sakara Aditya Maheswara. “Kenapa nggak tidur?” suara Alden akhirnya keluar. Nathan sudah masuk ke kamar mandi, sedangkan Arka yang tadi menyiapkan pakaiannya, sudah memejamkan matanya lagi. Sakaya menatap Alden, “Gue tidur. Lebih awal dari kalian, kan?” Alden tidak langsung menjawab. Benar juga. Ia melihat sendiri bagaimana Sakara langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur setelah selesai mandi semalam. Tidak ada niatan untuk mengobrol, apalagi bergabung dengan mereka. Pemuda itu hanya mengucapkan selamat malam seperlunya, kemudian membelakangi mereka dan tidur. Mungkin karena Sakara memang masih merasa seperti orang asing di kamar ini. Ditambah lagi, kemarin mereka sudah menjelaskan semua peraturan yang berlaku. Tidak ada alasan bagi Sakara untuk memaksakan diri berbaur dengan mereka. Alden kembali memperhatikan punggung Sakaya yang kini memunggunginya. Namun, ada sesuatu yang kembali mengusiknya. Dilihat dari segi mana pun, Sakara yang berdiri di hadapannya sekarang terlihat seperti perempuan. Perawakannya terlalu ramping. Bahunya juga tidak selebar laki-laki pada umumnya. Bahkan tinggi badan mereka cukup jauh berbeda. Tinggi Sakara hanya sebatas bahunya. Alden mengingat pertemuan singkatnya dengan Sakara, termasuk ancaman yang sempat dilontarkannya kala itu. Waktu itu, mereka memang hanya sempat berpapasan dan berbicara sebentar. Namun, tinggi laki-laki itu tidak jauh berbeda darinya. Sangat berbeda dengan Sakara yang sekarang. Alden menyipitkan mata. Kemiripan wajah mereka masih menjadi sesuatu yang tidak bisa ia abaikan. Nama mereka juga hampir sama. Tetapi semakin lama ia memperhatikan Sakara, semakin banyak hal yang terasa tidak cocok. Lantas, apa sebenarnya hubungan mereka? Alden akhirnya bangkit dari tempat tidurnya. Langkahnya perlahan membawa dirinya mendekati Sakaya yang masih duduk di depan meja belajar. Ia berhenti tepat di belakangnya. Jarak mereka begitu dekat. Alden dapat mencium aroma samar yang berasal dari tubuh Sakaya. Bukan aroma parfum yang menyengat, melainkan wangi yang lembut dan khas. Entah kenapa, aroma itu terasa cukup menenangkan. Alden memejamkan mata sejenak. Aroma ini... Ia tidak tahu kenapa, tetapi ada sesuatu yang terasa familiar. Sementara itu, Sakaya yang sejak tadi membaca buku tiba-tiba berhenti. Ia merasakan keberadaan seseorang di belakangnya. Perlahan, ia membalikkan tubuh. Begitu melihat Alden berdiri hanya beberapa langkah di belakangnya, Sakaya langsung terlonjak. “Anjir!” tangan Sakaya refleks memegang ujung meja, ia menatap Alden dengan mata membulat. “Lo ngapain di sini?” Alden membuka matanya. Tatapan mereka bertemu dalam jarak yang begitu dekat. Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Sakaya bahkan bisa melihat dengan jelas wajah Alden yang sejak tadi terlihat tenang. “Gue cuma mau lihat sesuatu,” jawab Alden akhirnya. Sakaya mengernyit. “Lihat apa?” Alden tidak langsung menjawab. Tatapannya turun sekilas, memperhatikan wajah Sakaya dari jarak dekat. Semakin dekat, semakin jelas pula bahwa wajah Sakara terlihat benar-benar halus. Jauh dari laki-laki pada umumnya. “Lo...” Alden berhenti sebentar. “Pakai parfum apa?” Sakaya mengernyit semakin dalam. “Parfum?” “Iya.” “Gue nggak pakai parfum.” Alden terdiam. Sakaya kemudian mundur sedikit untuk memberi jarak di antara mereka. “Kalau cuma mau nanya itu, lo bisa ngomong dari jauh.” Alden menatapnya. “Kenapa?” “Karena lo bikin gue kaget.” “Gue nggak bermaksud bikin lo kaget.” “Ya, tapi lo berdiri tiba-tiba di belakang orang. Siapa juga yang nggak kaget?” Alden tidak membantah. Sakaya menghela napas kecil, lalu kembali duduk. “Udah? Gue mau baca.” Sakaya tidak membalikkan badannya lagi. Kali ini, ia memilih untuk berpindah tempat. Entah kenapa, Alden terasa semakin berbahaya semenjak kemarin mengatakan bahwa ia sedang mencari dirinya. Sakaya berjalan menuju kasurnya, lalu duduk sambil meletakkan buku di samping tubuhnya. Ia tidak ingin memberi Alden kesempatan untuk kembali berdiri terlalu dekat dengannya. Sementara itu, Alden justru tersenyum miring. Ia kemudian menarik kursi yang tadi ditempati Sakaya dan duduk di sana. “Lo masih punya kesempatan buat cerita soal perempuan itu.” Sakaya menatapnya dari atas kasur. “Gue udah bilang, gue nggak tau apa-apa.” “Yakin?” “Yakin.” “Lo nggak pernah ketemu dia?” “Enggak.” “Lo nggak tau namanya?” Sakaya terdiam sesaat sebelum menggeleng. “Enggak.” Alden menatapnya tanpa berkedip. “Bahkan setelah gue kasih lihat fotonya?” “Gue nggak tau.” Jawaban Sakaya terdengar tetap tenang, tetapi ia mulai merasa tidak nyaman. Tatapan Alden yang sebelumnya sedikit lebih ramah perlahan berubah. Senyum tipis di wajahnya menghilang, digantikan ekspresi yang jauh lebih dingin dan tajam. “Gue nggak suka dibohongi.” Sakaya mengangkat alis. “Terus?” “Jangan bohong sama gue.” “Gue nggak bohong.” Alden mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. “Lo yakin?” “Iya.” Tatapan mereka kembali bertemu. Sakaya tahu dirinya harus tetap tenang. Sedikit saja ia menunjukkan kegugupan, Alden bisa menangkapnya. Lagipula, ia memang tidak bisa mengakui apa pun. Bagaimana mungkin ia mengatakan bahwa perempuan yang dicari Alden sebenarnya sedang duduk tepat di hadapannya? “Kalau gue tau, gue pasti udah bilang dari kemarin,” ujar Sakaya. “Kenapa?” “Karena gue nggak punya alasan buat nutupin sesuatu dari lo.” Alden terkekeh kecil, tetapi tidak ada sedikit pun kesan lucu dalam tawanya. “Lo baru kenal gue.” “Makanya.” Sakaya menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang. “Gue nggak tau apa-apa tentang lo. Sama seperti lo nggak tau apa-apa tentang gue.” Alden kembali diam. Kalimat itu membuat tatapannya semakin dalam. Benar. Ia memang tidak tahu banyak tentang Sakara. Namun, justru itulah masalahnya. Semakin ia memperhatikan pemuda ini, semakin banyak hal yang terasa tidak masuk akal. Wajah yang terlalu mirip dengan perempuan yang ia cari. Nama yang hampir sama. Dan sekarang, aroma yang entah kenapa terasa begitu familiar. Alden mengalihkan pandangan sejenak sebelum kembali menatapnya. “Kalau suatu hari gue menemukan sendiri jawabannya, jangan salahin gue kalau setelah itu gue nggak akan percaya sama apa pun yang lo bilang.” Sakaya menatapnya tanpa ekspresi. “Silakan.” jawaban singkat Sakaya membuat Alden kembali menatapnya. “Gue juga nggak pernah minta lo percaya sama gue.” Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Sampai akhirnya suara Nathan terdengar dari arah kamar mandi. “Ekhm...” Keduanya langsung menoleh. Nathan berdiri di ambang pintu sambil merapikan rambutnya. Tatapannya berpindah dari Alden yang duduk di kursi Sakaya kepada Sakaya yang duduk di atas kasur. “Ngapain?” “Ngobrol,” jawab Sakaya singkat. Nathan menyipitkan mata. “Ngobrol kok mukanya kayak mau bunuh orang?” Alden berdiri dari kursi dan mengambil tasnya. “Bukan urusan lo.” Nathan mendengus. “Iya, iya.” Alden kemudian berjalan menuju pintu, sementara Sakaya masih memperhatikannya dari atas kasur. Tatapan tajam laki-laki itu masih terbayang di pikirannya. Ia semakin yakin bahwa Alden bukan orang yang bisa dianggap sepele. Mulai hari ini, ia harus jauh lebih berhati-hati terhadap laki-laki itu. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD