BAB 13

1883 Words
Pukul delapan malam, Sakaya akhirnya kembali ke asrama. Setelah memastikan tidak ada seorang pun yang memperhatikannya, ia membuka pintu kamar dengan hati-hati. Kepalanya sedikit menyembul lebih dulu sebelum akhirnya ia masuk. “Permisi,” ucapnya pelan, sekadar memastikan kalau ada seseorang di dalam kamar. Tidak ada jawaban. Sakaya menutup pintu di belakangnya dan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Tempat tidur Arka, Nathan, dan Alden tampak kosong. Tidak ada suara percakapan, tidak ada suara musik, bahkan tidak terdengar suara ketikan dari meja belajar Alden. “Syukurlah,” gumamnya pelan. Setidaknya malam ini ia tidak perlu menjelaskan ke mana saja dirinya pergi. Sakaya kemudian berjalan menuju tempat tidurnya. Tas yang sejak tadi disampirkan di bahunya mulai terasa berat, sehingga ia berniat segera meletakkannya sebelum beristirahat. Namun, baru beberapa langkah, sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakangnya. “Dari mana?” Sakaya langsung berhenti. Tubuhnya menegang seketika. Ia perlahan menoleh dan mendapati Alden berdiri beberapa langkah di belakangnya. Entah sejak kapan pemuda itu berada di sana. Sakaya menatapnya beberapa detik, berusaha menyembunyikan keterkejutan yang sempat muncul di wajahnya. “Lo bikin kaget.” Alden tidak menjawab. Tatapannya justru tertuju pada Sakaya, seolah sedang menunggu jawaban atas pertanyaannya. “Gue nanya,” ulang Alden datar. “Dari mana?” Sakaya terdiam sejenak. “Keluar.” “Ke mana?” “Urusan gue.” Alden menatapnya tanpa ekspresi. “Lo baru pindah ke sini hari ini, tapi udah mulai merasa bebas keluar masuk sesuka hati?” Sakaya mengernyit. “Bukannya tadi lo sendiri yang bilang gue bebas melakukan apa pun selama nggak mengganggu kalian?” “Gue bilang jangan ganggu kami. Bukan berarti gue nggak boleh tanya.” Sakaya terdiam. Tatapan Alden masih sama. Dingin, tenang, tetapi entah kenapa terasa seperti sedang mengamati sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar kepulangannya. Sakaya akhirnya menghela napas kecil. “Gue cuma punya urusan.” “Apa?” “Urusan pribadi.” Alden tidak langsung membalas. Ia hanya menatap Sakaya beberapa detik lebih lama, kemudian berkata pelan, “Sakara.” Sakaya mengangkat wajah. “Jangan buat gue menyesal karena membiarkan lo tinggal di kamar ini.” kata Alden. ”Lo masih punya hal yang harus lo jelaskan, itu syarat lo bisa tinggal di sini, kalau lo lupa.” Sakaya mengernyit. Ia mencoba mengingat kembali percakapan mereka pagi tadi. Setahunya, tidak ada satu pun aturan yang mengharuskannya melaporkan setiap kegiatan di luar asrama kepada Alden. “Gue harus jelasin apa?” tanya Sakaya akhirnya. Alden tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekati meja belajarnya, lalu menarik kursi sebelum duduk dengan tenang. Tatapannya tetap tertuju kepada Sakaya. “Ke mana lo pergi?” Sakaya menghela napas kecil. “Gue udah bilang, urusan pribadi.” “Urusan pribadi apa sampai lo pergi seharian?” “Memangnya gue harus ngasih laporan lengkap?” “Kalau lo tinggal di sini, seenggaknya gue perlu tau apakah keberadaan lo akan menimbulkan masalah untuk kami atau nggak.” Sakaya terdiam. Nada bicara Alden masih terdengar tenang, tetapi kalimatnya membuat Sakaya sedikit waspada. Pemuda itu bukan sekadar ingin tahu ke mana dirinya pergi. Ada sesuatu di balik pertanyaannya. “Gue nggak melakukan apa pun yang berhubungan sama kalian,” jawab Sakaya akhirnya. “Jadi nggak ada yang perlu dikhawatirin.” Alden menyandarkan punggungnya pada kursi. “Yakin?” Sakaya menatapnya. “Yakin.” Alden mengangguk kecil. Namun, bukannya berhenti, ia justru bertanya lagi. “Lo pergi sendirian?” Sakaya sempat terdiam sepersekian detik sebelum menjawab, “Iya.” “Dari pagi sampai malam?” “Iya.” “Tanpa memberi tau siapa pun?” Sakaya mulai merasa terganggu. “Lo sebenarnya mau nanya apa?” Alden tidak menjawab. Ia hanya memperhatikan Sakaya dengan tatapan yang sulit ditebak. Beberapa detik kemudian, ia bangkit dari kursinya dan berjalan melewati Sakaya menuju lemari. “Gue cuma memastikan satu hal.” Alden berhenti di depan lemari. Tangannya terulur mengambil ponsel yang tadi ia letakkan di sana. Ia membuka sesuatu di layar sebelum akhirnya kembali berbalik menghadap Sakaya. Sakaya yang sudah tidak terlalu memperhatikannya berjalan menuju meja kecil di dekat tempat tidurnya. Ia mengambil sebotol air mineral, membuka tutupnya, lalu meneguk beberapa kali. “Lo kenal perempuan ini?” Sakaya yang mendengar pertanyaan itu spontan menoleh. Alden mengangkat ponselnya, memperlihatkan sebuah foto di layar. Dalam sekejap, Sakaya tersedak. “Uhuk!” Air yang baru saja diminumnya hampir keluar dari mulut. Ia buru-buru menutup mulut sambil membungkuk, kemudian menepuk dadanya beberapa kali. Alden hanya menatapnya tanpa ekspresi. Sakaya mengangkat wajah dengan mata sedikit berair. Jantungnya berdetak lebih cepat ketika pandangannya kembali tertuju pada layar ponsel Alden. Itu dirinya. Bukan Sakara. Benar-benar Sakaya. Foto yang seharusnya tidak ada di tempat ini. Namun dilihat dari pengambilan gambar, ini sepertinya ketika ia sedang mengikuti kompetisi dua atau tiga tahun silam. Ia membutuhkan beberapa detik untuk mengembalikan ekspresinya sebelum akhirnya menatap Alden. “Kenapa?” tanya Sakaya, berusaha terdengar biasa. Alden tidak menjawab pertanyaan itu. Ia justru berjalan mendekati meja kecil di tengah kamar, menarik sebuah kursi, lalu duduk tepat berhadapan dengan Sakaya. Ponselnya masih berada di tangannya. “Gue tanya sekali lagi.” Alden menggeser ponselnya sedikit ke depan. “Lo kenal perempuan ini?” Sakaya menatap foto tersebut sekilas, lalu mengalihkan pandangan. “Nggak.” jawaban Sakaya terlalu cepat. Alden mengangkat satu alis. “Nggak?” “Iya.” “Yakin?” Sakaya mengangguk. “Gue nggak kenal.” Alden terdiam beberapa saat. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Sakaya. “Alasan gue setuju lo tinggal di kamar ini karena dia.” Sakaya mengernyit. “Dia?” Alden mengangguk pelan. “Gue pikir, lo punya banyak informasi tentang dia.” Ia mengangkat kembali ponselnya. “Dan gue pikir kemiripan kalian bukan kebetulan biasa.” Sakaya tidak menjawab. “Nama lo hampir sama.” Alden berhenti sejenak. “itu yang ngebuat gue ngizinin lo ada di tempat ini.” Sakaya menggenggam botol air mineral di tangannya lebih erat. “Nama gue Sakara.” “Gue tau.” Alden menatapnya lurus. “Dan perempuan ini... Sakaya.” Untuk sesaat, kamar itu terasa jauh lebih sunyi. Sakaya berusaha menjaga wajahnya tetap tenang, tetapi pikirannya bergerak cepat. Ia tidak tahu dari mana Alden mendapatkan foto itu. Namun, satu hal yang ia tahu pasti, akses antara dirinya dan Sakara seharusnya sudah tertutup rapat. Ketika mengikuti kompetisi beberapa tahun lalu, namanya memang pernah muncul di berbagai dokumentasi. Namun, tidak ada informasi mengenai sekolahnya. Hanya nama lengkapnya, Sakaya Adreena, serta kota asal yang tercantum di beberapa unggahan. Bahkan jika seseorang sengaja mencarinya, seharusnya tidak mudah menghubungkan dirinya dengan Sakara Aditya Maheswara. Lalu bagaimana Alden bisa menemukannya? Sakaya menatap pemuda di hadapannya dengan lebih saksama. Apa yang sebenarnya dia cari? “Lo pasti udah nyari informasi tentang gue, kan?” tanya Sakaya akhirnya. “Terus lo dapat apa? Ada sangkut pautnya sama perempuan itu?” Alden tidak menjawab. Diamnya justru membuat Sakaya semakin yakin, Alden tidak menemukan informasi penting apa pun. Karena Persetan dengan seberapa besar pengaruh yang dimiliki Alden, persetan dengan seberapa luas koneksi yang dimiliki keluarganya di negara ini, Sakaya tahu satu hal yang seharusnya tidak mungkin ditembus begitu saja. Sejak awal Maheswara menikahi Mira, keberadaan Sakaya sebagai bagian dari keluarga itu sudah dihapus. Mungkin Sakaya masih pernah mengikuti kompetisi. Masih ada foto-fotonya, masih ada beberapa dokumentasi yang mencantumkan namanya, bahkan mungkin masih ada orang-orang yang pernah mengenalnya. Namun, semua itu berhenti pada satu titik. Sakaya Adreena. Tidak lebih. Tidak ada nama sekolah yang bisa mengarah pada Maheswara, tidak ada nama orang tua, tidak ada alamat, tidak ada hubungan dengan Sakara Aditya Maheswara. Bahkan keberadaannya sebagai saudara kembar Sakara, seharusnya tidak pernah tercatat lagi di mana pun yang bisa dengan mudah ditemukan orang lain. Maheswara tidak mungkin seceroboh itu membiarkan rencana masa depannya hancur karena Sakaya masih hidup. “Ekhm...” Sakaya menatap pemuda di hadapannya. “Lo nemu foto itu dari mana?” Sebenarnya tidak masalah Alden memiliki fotonya. Yang membuat Sakaya tidak nyaman adalah kenyataan bahwa Alden menghubungkan foto Itu dengan Sakara. Padahal seharusnya tidak ada alasan bagi siapa pun untuk melakukan hal tersebut. Alden tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap tenang, membuat Sakaya semakin sulit membaca apa yang sebenarnya sedang dipikirkannya. “Kenapa?” tanya Alden balik. “Karena gue penasaran.” “Penasaran?” “Iya.” Sakaya meletakkan botol air mineral di atas meja. “Lo punya banyak kesibukan. Kenapa tiba-tiba sibuk nyari perempuan yang bahkan nggak lo kenal?” Alden menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Siapa bilang gue nggak kenal?” Sakaya terdiam. Kalimat sederhana itu berhasil membuat pikirannya kembali berhenti sejenak. Alden kemudian menatap layar ponselnya sebelum kembali menatap Sakaya. “Gue cuma tau namanya.” “Dari foto kompetisi?” “Iya.” Kemudian Alden tersenyum miring. “Dan lo sendiri terlalu cepat bilang nggak kenal, karena lo tau ini dari kompetisi.” Sakaya terdiam. Sial. Ia baru menyadari kesalahannya. Kalau memang dirinya benar-benar tidak mengenal perempuan di dalam foto itu, seharusnya ia tidak perlu menjawab secepat tadi. Terlebih, ia malah langsung menanyakan dari mana Alden mendapatkan foto tersebut. Reaksi seperti itu jelas bukan reaksi seseorang yang sama sekali tidak tahu apa-apa. Reaksi seperti itu justru membuat dirinya terlihat seperti seseorang yang sedang berusaha menutupi sesuatu. Sakaya ingin sekali menggeplak kepalanya sendiri. Kenapa tadi ia harus tersedak? Kenapa juga mulutnya malah bertanya macam-macam? Namun, semua keinginan itu terpaksa ia tahan karena Alden masih duduk tepat di hadapannya. Cklek. Suara gagang pintu yang ditekan membuat Sakaya dan Alden sama-sama menoleh. Pintu kamar terbuka, memperlihatkan Nathan dan Arka yang baru saja kembali. Arka masuk lebih dulu sambil membawa beberapa kantong belanja, sementara Nathan berjalan di belakangnya dengan tas yang disampirkan di salah satu bahu. “Akhirnya balik juga,” gumam Arka sambil menutup pintu dengan kakinya. “Gue kira lo berdua udah tidur.” Tatapan Sakaya sempat beralih kepada mereka. Setidaknya, kehadiran Nathan dan Arka membuat suasana kamar yang sejak tadi terasa menekan sedikit berubah. Namun, Alden justru bangkit dari kursinya. Sakaya kembali menatapnya. Pemuda itu memasukkan ponselnya ke saku celana, lalu berdiri tepat di hadapan Sakaya. “Gue kasih lo satu kesempatan.” Sakaya mengernyit. “Kesempatan apa?” Alden menatapnya lurus. “Kasih gue informasi tentang perempuan itu.” kata Alden. “Gue bisa bayar berapapun.” Arka dan Nathan yang baru saja masuk langsung saling bertukar pandang. Keduanya sama-sama mengernyit, jelas tidak mengerti dengan percakapan yang mereka dengar. “Lagi bahas apaan sih?” Arka akhirnya bertanya. Ia menatap Alden, lalu beralih kepada Sakaya. “Perempuan mana yang kalian maksud?” Nathan ikut menoleh. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya mengangkat sedikit alisnya dengan tatapan penasaran. Namun, tidak ada satu pun jawaban. Alden sama sekali tidak berniat menjelaskan. Ia hanya melirik keduanya sekilas sebelum berjalan kembali ke tempatnya. Pemuda itu kemudian duduk di sisi ranjang dan mengambil laptopnya, seolah percakapan beberapa detik lalu tidak pernah terjadi. Sakaya juga memilih diam. Ia tidak mungkin menjelaskan apa pun di depan Arka dan Nathan. Terlalu banyak informasi yang harus disembunyikan, sementara satu kesalahan kecil saja sudah cukup untuk membuat mereka mempertanyakan identitasnya. “Ya udah, misterius banget.” gumam Arka akhirnya. Nathan hanya mengangkat bahu. Ia kemudian meletakkan tasnya dan mulai membereskan beberapa barang yang dibawanya. Sakaya menghembuskan napas perlahan. Ia sudah tidak ingin memikirkan percakapan tadi. Tanpa mengatakan apa-apa, ia mengambil pakaian ganti dari dalam tas, kemudian berjalan menuju kamar mandi. Tangannya baru saja menyentuh gagang pintu ketika ia berhenti sejenak. Sebenarnya... kejahatan apa yang pernah ia lakukan kepada Alden? *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD