“Eh Sakaya... Akhirnya gue ketemu lo lagi! Gue kira lo nggak akan ngehubungin gue, setelah nyokap cerita lo gantiin Sakara.” Sakaya yang baru saja menghampiri Adit langsung mengangkat telunjuk ke depan bibirnya. “Shh.” Tatapannya seketika berubah tajam. Adit yang baru saja hendak melanjutkan perkataannya langsung terdiam. Ia menatap Sakaya beberapa detik, kemudian mengikuti arah pandangan sepupunya yang sedang mengamati keadaan di sekitar mereka. Sakaya memastikan tidak ada seorang pun yang memperhatikan mereka. Setelah merasa cukup aman, ia baru menurunkan tangannya. “Jangan pernah ngomong soal Sakaya di tempat ramai,” bisik Sakaya tegas. “Panggil gue Sakara, Adit Pratama anaknya Tante Dina.” Adit mengangkat kedua tangannya seolah menyerah. “Oke, oke. Gue lupa.” “Lo bukan lupa. L

