Darmin

2092 Words
    Rangga masih sibuk mengerjakan tugas biologinya. Ia sangat fokus mengetik dan membaca buku refrensi secara bergantian. Para pengunjung perpustakaan umum kini jumlahnya semakin sedikit, hari juga sudah mulai sore. Setelah lama menunggu, akhirnya orang yang dia tunggu-tunggu pun datang. Dengan mengenakan baju kotak-kotak serta celana lepis, Darmin terlihat rapi. Darmin langsung berjalan menghampiri Rangga sesaat setelah ia masuk ke dalam ruangan. Tak butuh waktu lama bagi Darmin untuk menemukan Rangga, karena memang posisi dimana Rangga duduk sangatlah mudah di temukan oleh orang yang baru masuk ke ruangan tersebut. “Sorry ya, gue telat.” Kata Darmin ketika tiba di dekat Rangga. Setelah bicara, dia langsung duduk tepat di depan Rangga yang sedang sibuk mengetik tugas. “Iya enggak papa, lo tadi gue WA kenapa enggak di bales sih?” Tanya Rangga. “Sibuk banget gue, ada urusan gitu, enggak sempet cek HP.” Jawab Darmin. Darmin kemudian mengeluarkan barang-barang dari tas ranselnya, ada laptop, buku catatan, handphone, dan kotak pensil. Ia bersiap untuk mengerjakan tugas. “Ngomong-ngomong tugasnya udah lo kerjain sampai mana?” Darmin bertanya “Ini tinggal nambahin dikit bagian gue, susah banget nyari materinya. Kalo udah kelar, lo coba check ya, abis itu lo kerjain mana yang jadi bagian mana yang harus lo kerjain.” Kata Rangga dengan mata yang terus fokus melihat ke layar laptop. “Oke deh.” Keduanya kemudian saling berdiskusi tentang tugas biologi setelah Rangga selesai mengerjakan bagiannya. Harusnya jika tadi Darmin tiba di perpustkaan umum lebih awal, mereka bisa mengerjakannya bersama-sama dan bisa menghemat waktu, tapi karena Darmin telat, pekerjaan mereka jadi sedikit terhambat. Rangga menjelaskan kepada Darmin tentang materi-materi yang nanti harus mereka diskusikan di depan kelas. Darmin mengangguk jika merasa dapat memahami pernjelasan dari Rangga dan akan bertanya jika ia merasa kurang paham. Usai sesi diskusi, Rangga mengirimkan file tugasnya kepada Darmin melalui WhatsApps, agar Darmin bisa mengerjakan tugasnya di laptop miliknya sendiri. Darmin kini mulai serius mengerjakan tugas, dia mendapat bebebrapa materi yang cukup sulit sampai-sampai ia harus mencari beberapa artikel di internet untuk melengkapinya. Salah satunya dalah tentang organ-organ tubuh pada hewan yang diantaranya menggunakan istilah-istilah asing yang tidak dia mengerti, juga tak di jelaskan di buku. Hal-hal semacam itu memang membutuhkan refrensi dari jurnal untuk memahaminya. Sementara Rangga yang sudah selesai dengan tanggung jawabnya terlihat sedang asik meneruskan membaca komik Attack On Titan yang ia bawa dari lantai dua, ia meneruskan bagian cerita yang tadi sempat tertunda karena asik mengobrol dengan Erlita. Tidak seperti Rangga yang mengerjakan sambil membaca materi, Darmin lebih memilih untuk membaca materinya terlebih dahulu dengan seksama agar ia benar-benar paham dengan apa yang ia kerjakan. Sudah lima belas menit berlalu, namun Darmin belum sama sekali mengetik satu kata pun di atas lembar Microsoft Word-nya, ia masih serius membaca bagian per bagian dari materi-materi itu sampai ia benar-benar paham. Darmin menggunakan teknik skimming atau membaca cepat saat membaca, ia hanya membaca bagian-bagian pentingnya saja saat membaca, jadi tak butuh waktu yang lama baginya untuk memahami setiap materi. Selesai membaca dan merasa cukup paham dengan materi, Darmin mulai mengetik tugas. Tanganya bergerak cepat dan lincah, ia tahu apa yang harus dia tulis, tahu apa yang harus ia jelaskan di dalam pekerjaannya itu. Seperti yang tadi Rangga katakan di lantai dua kepada Erlita, Darmin dikenal sebagai salah satu murid terpintar di kelas. Dia selalu mendapat peringkat tiga besar saat UAS maupun UTS. Selain itu dia juga sering diikut sertakan dalam perlombaan cerdas cermat oleh guru, dan hampir selalu menyabet gelar juara, serendah-rendahnya ya juara tiga, Darmin memang pintar. Maka tak heran jika ia sangat cekatan dalam mengerjakan tugas. Sambil membaca komik, hati Rangga di penuhi dengan rasa penasaran serta dipikrannya di ada beberapa pertanyaan yang terus hinggap di situ. Diam-diam Rangga mengamati Darmin, matanya sedikit curi-curi pandang kearah Darmin. Ia mengamati baju yang di kenakan oleh Darmin, ternyata memang sama persis dengan si pengutit di dalam foto yang ditunjukan oleh Erlita kepadanya tadi. Apa benar Darmin membuntuti Erlita? Kalau memang iya, apa tujuan Darmin melakukan itu? Apa mungkin Darmin sedang jatuh cinta pada Erlita? Meskipun itu hal yang mungkin, tapi masih tak menduga kalau Darmin sampai membuntuti orang yang membuatnya jatuh cinta, Rangga pikir Darmin tak mungkin se agresif itu, dia orang yang baik. Rangga terus berdiskusi dengan dirinya sendiri mengenai hal itu seraya melakukan pengamatan pada Darmin secara diam-diam sambil membaca komik. “Ngga, gue mau curhat tentang sesuatu nih, lo ada waktu enggak?” Darmin yang masih sibuk mengetik tiba-tiba saja mengajak Rangga bicara. “Ada kok, ngomong aja kali.” Kata Rangga dengan santai, padahal ia sebenarnya sedikit kaget karena Darmin tiba-tiba berbicara saat Rangga sedang serius mengamatinya. “Bentar ya, gue selesain ini dulu, udah hampir selesai kok, tinggal dikit.” “Hah?! Lo udah mau selesai ngerjainnya? Cepet amat?” Rangga terkejut, ia tak percaya kalau Darmin hampir menyelesaikan tugasnya. “Yep, udah hampir selesai. Cepet kan gue ngerjainnya hehe...” Darmin terdengar menyombongkan diri. “Serius?” Rangga masih tak percaya. “Mana liat!” Rangga meminta bukti. Darmin berhenti mengetik, ia kemudian memutar laptopnya agar Rangga yang duduk di hadapnya dapat melihat hasil pekerjaannya. “Sekarang, udah selesai.” Kata Darmin sembari menunjukan layar laptopnya pada Rangga. Rangga kemudian memeriksa pekerjaan Darmin, dan benar saja, Darmin sudah menulis tiga halaman atau sekitar seribu kata lebih dalam waktu kira-kira dua pulu menit. Di samping itu, pekerjaanya rapi dan isinya sesuai dengan apa yang harus di bahas oleh kelompok mereka saat persentasi nanti. Darmin memang pintar. “Nanti pas persentasi, kalo lo ngerasa kurang paham atau susah ngomong di depan kelas, bilang ke gue ya, nanti porsi gue ngomong di banyakin juga enggak papa, itu kalo lo setuju sih.” Darmin menawarkan diri untuk mendapat porsi berbicara lebih banyak saat persentasi di depan kelas nanti. “Oke deh,” Rangga megiyakan, ia setuju karena sadar akan kemampuanya. Dalam hal akademik, Rangga tidak masuk ke dalam golongan siswa pintar, bintang kelas, anak emas guru, atau sebutan-sebutan hebat lainya yang di berikan kepada orang-orang untuk siswa yang sering mendapat nilai bagus, Rangga hanyalah siswa biasa. Dia tidak begitu pintar, tapi juga tidak bodoh. Peringkatnya di kelas juga tidak terlalu bagus, juga tidak buruk. Ia sering masuk dalam peringkat sepuluh besar di kelasnya. Namun saat ujian kenaikan kelas kemarin, ia mendapat peringkat ke lima belas dari tiga puluh siswa yang ada di kelasnya. Peringkat Rangga tepat ada di tengah-tengah. Jadi, jika di bandingkan dengan Darmin yang menjadi langganan juara satu di kelas, Rangga tak ada apa-apanya. “Gue lagi naksi sama orang, ngga, tapi gue enggak berani bilang...” Tiba-tiba Darmin berkata seperti itu. Rangga segera mengalihkan pandangannya dari layar laptop ke arah Darmin. “Gue sama belum pernah pacaran sama sekali,ngga, jadi gue enggak tahu harus gimana...” Darmin berhenti sejenak, memikirkan sesuatu, kemudian lanjut bicara, “Lo kan udah pernah pacaran, lo bisa enggak ngasih tips gitu ke gue?” Pungkasnya. Rangga terdiam, bingung. Rangga tak menyangka kalau Darmin akan bercerita tentang masalah percintaan, karena selama mengenal Darmin, Rangga tak pernah mendengar Darmin berbicara tentang cewek, atau masalah percintaan. Saat sedang mengobrol dengan Darmin di sekolah, Darmin lebih sering mengajak Rangga mengobrol tentng video game dan fim. Selama sekelas dengan Darmin hampir dua tahun, baru kali ini mulut Darmin berbicara tentang cewek. Apakah mungkin dugaannya benar, Darmin sedang jatuh cinta pada Erlita? “Emangnya lo lagi naksir sama siapa?” Rangga mencoba bertanya. Setelah mendengar pertanyaan Rangga, Darmin lantas mengambil Handphone dari sakunya, lalu sibuk menggeser-geser layar Handpone dengan seksama, ia mencoba mencari sesuatu. “Lo tahu cewek ini enggak? Namanya Erlita.” Darmin menunjukan profil i********: Erlita yang terbuka di Handphone-nya. “Kayaknya dia kelas 11 E deh.” Lanjutnya. Rangga terdiam sebentar, sedikit ragu-ragu untuk lanjut bicara, di sisi lain juga ia tak tahu harus bicara apa. Dia tahu tentang Erlita, dia baru saja berteman akrab dengan cewek itu beberapa jam yang lalu. Itu artinya bisa saja Rangga membantu Darmin untuk mendekati Erlita. “Iya, gue kenal...” Rangga terdiam sebentar. “Tapi sekedar tahu aja.” Lanjutnya, ia sangat berhati-hati dalam bicara. “Beneran?” Darmin terlihat bersemangat. “Lo mau enggak bantuin gue deketin dia?” “...” Rangga hanya terdiam, tidak tahu harus bilang apa. Darmin berfikir sejenak, sebelum berbicara lagi, “Gue udah mulai suka sama dia sejak pertama kali ngeliat dia di perpustakaan sekolah beberapa bulan yang lalu, gue langsung suka ketika ngeliat dia senyum untuk pertama kali, sumpah manis banget...” Darmin terus bercerita tentang dia yang sedang jatuh cinta pada Erlita. Darmin mulai menyukai Erlita sejak beberpa bulan yang lalu. Dia mulai jatuh cinta ketka tak sengaja melihat Erlita yang sedang tersenyum ketika sedang mengobrol dengan temannya saat berada di perpustakaan sekolah. Waktu itu, Darmin hanya bisa mengamati Erlita dari jauh. Biasanya Darmin akan mudah untuk memulai percakapan dengan orang lain, dia adalah tipe orang yang mudah bergaul. Tapi entah kenapa, mengajak Erlita berbicara adalah hal yang sangat sulit bagi Darmin, padahal ia sudah sering melihatnya berkali-kali di sekolah. Mungkin karena ia terlalu gugup ketika melihat Erlita, hingga dia tak bisa memulai suatu tindakan untuk menghampiri dan mengajak bicara gadis pujaaannya itu. Rangga menyimak baik-baik curhatan dari Darmin. Ia hanya sedikit bicara dan lebih banyak mendengar cerita Darmin. Selain bercerita mengapa dia bisa jatuh cinta pada Erlita, Darmin juga bercerita tentang bagaimana usahanya untuk bisa mendapatkan informasi lebih tentang Erlita. Karena Darmin tak berani mendekati Erlita, Darmin akhirnya menjadi pengagum rahasia, ia bilang kalau dia jadi sering mengikuti kemanapun Erlita pergi agar bisa tahu segala hal yang berkaitan dengannya dan dia sudah melakukannya sejak lima hari yang lalu. Darmin juga akhirnya mengungkapkan alasan kenapa dia datang terlambat ke perpustakaan umum hari ini. “Gue tadi pergi ke kafe melon dulu, soalnya tadi pagi gue liat status f*******: Erlita. Dia posting foto lagi ada di sana, tapi pas gue nyampe di sana ternyata dia enggak ada di lokasi.” Tuturnya. “Sumpah lo aneh banget min.” Rangga menggelengkan kepala, heran pada temannya itu. Darmin memang aneh. “Ya, emang, gue jadi aneh gini karena dia. Rasanya gue pengen tahu tentang dia, pengen bareng dia terus.” Ucap Darmin, mendramatisasi. Tak disangka, ternyata Darmin malah bercerita tentang dirinya yang menjadi pengutit Erlita selama beberpa hari ini. Rangga tak menduga kalau ia justru malah menceritakan semua itu disaat dirinya menjaga kata dan memikirkan kalimat yang tepat untuk bilang pada Darmin agar ia berhenti jadi pengutit Erlita, tentu saja Rangga ingin melakukan itu karena Erlita menyuruhnya begitu. Ingin rasanya Rangga bilang kalau dia sudah mengetahui semua tentang apa yang ia ceritakan dari Erlita, tapi ia memilih untuk diam. “Iya, tapi apa yang lo lakukan itu berlebihan.” Kata Rangga. “Lo bisa aja di laporin ke polisi kalo sampe si Erlita ini ngerasa terancam dan tahu identitas lo.” Rangga menasehati. “Gue sadar sih akan hal itu, dan berfikir untuk berhenti ngelakuin itu.” Setelah diam beberapa saat, Darmin lalu memohon. “Ngga, kalo lo bisa, tolong bantuin gue untuk bisa deket sama Erlita, bantu gue buat dapetin nomor WA-nya, plis!!” “...” Rangga hanya diam menanggapi permohonan Darmin. Saat ini Rangga sedang terjebak di antara dua pilihan. Erlita meminta bantuan kepada Rangga untuk bilang pada Darmin agar berhenti mengutit Erlita, sedangkan Darmin yang sedang jatuh cinta pada Erlita meminta bantuan Darmin agar bisa lebih dekat dengan Erlita. Setelah berfikir beberapa detik, Rangga menghela nafas. Kemudian Rangga mengambil Handphone-nya, ia terlihat sedang menggeser-geser layar handphone-nya. Sementara Darmin terlihat bingung, ia tak tahu apa yang Rangga lakukan dalam diam. Sekitar sepuluh detik kemudian, Handphone Darmin tiba-tiba berbunyi, itu adalah bunyi notifikasi dari aplikasi WhatApps miliknya, ia pun segera memeriksa Handphone-nya. Darmin menerima pesan WhatsApps dari Rangga, yang berisikan nomor kontak Erlita. Wajah Darmin langsung sumeringah saat mengetahui hal itu. Akhirnya dia bisa mendapatkan nomer Erlita dari Rangga. “Ini nomer dia beneran?” Darmin terlihat bersemangat. Rangga hanya mengangguk megiyakan. “Lo dapet nomer Erlita dari mana?” Tanya Darmin lagi. “Enggak tahu, tiba-tiba ada di HP gue.” “Bodo amatlah lo dapet dari mana, yang jelas makasih banget pokoknya. Besok-besok gue traktir di kantin.” Darmin dia sangat bertrimakasih pada Rangga. Ya, pada akhirnya, Rangga memilih untuk membantu Darmin. Dia melakukan itu hanya karena Darmin bersedia mengambil porsi bicara yang lebih banyak saat persentasi, jadi ia tak perlu repot-repot berdiri dan banyak bicara di depan kelas, karena baginya hal itu akan sangat melelahkan. Dengan bersedianya Darmin untuk persentasi lebih banyak, bagi Rangga, itu sudah sangat membantu dan perlu diberi apresiasi. Di sisi lain, ia juga merasa tak enak hati pada Erlita karena memberikan nomor teleponnya pada orang lain tanpa izin. Bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD