Duduklah mereka berdua di bangku dekat jendela yang ada di ruang perpustakaan umum lantai dua, di bagian paling ujung kanan ruangan. Kini ruangan itu mulai lumayan sepi, para pengunjung yang tadi sibuk membaca buku dan mengerjakan sesuatu jumlahnya mulai berkurang, suasana di ruangan itu pun jadi jauh lebih tenang di bandingkan dengan satu atau dua jam yang lalu.
Erlita yang duduk tepat di sebelah kiri Rangga kini terlihat sedang mengerjakan tugas. Tangannya bergerak lincah di atas keyboard laptop-nya, matanya terpaku pada layar laptop, sesekali mata itu melihat ke arah buku referensi untuk membaca materi.
Sementara itu Rangga terlihat sedang menopang dagu dengan tangan kirinya, dan tangan kanannya berada di atas meja, memegang sebuah buku komik yang sudah terbuka, ia membaca komik berjudul Attack On Titan dengan santai menikmati suasana tenang di sekitar sembari menunggu Erlita menyelesaikan tugas biologinya.
“Suasananya tenang banget ya kalo jam segini.” Ucap Erlita sambil terus mengetik tugas.
“Iya, baru kali ini gue di perpus umum sampe jam segini dan baru tahu juga kalo suasananya setenang ini.” Kata Rangga sambil membalik lembar komiknya.
“Sama, gue juga.”
Percakapan mereka terdengar kaku.
Erlita me-minimize lembar Microsoft Word yang berisikan tugasnya, lalu membuka folder daftar lagu pada dokumen di laptopnya, kemudian memutar sebuah lagu dengan volume yang pelan untuk memecah keheningan.
Lagu yang Erlita putar di laptopnya adalah lagu dari band The Smiths yang berjudul I Know It’s Over . Itu adalah lagu favorit Erlita, dia sering memutar lagu itu jika sedang bersantai di rumah.
Dengan di putarnya lagu dari band The Smiths oleh Erlita, perhatian Rangga pun sukses sedikit teralihkan dari komik yang sedang ia baca. Ia lalu menoleh ke arah Erlita yang ada di sampingnya.
“Lo ternyata tahu The Smiths ya, Er.” Kata Rangga.
“Ya, gue suka lagu-lagu barat yang oldies gitu...” Erlita menjawab sambil terus mengetik pekerjaannya. “Gue suka band-band barat lawas kayak The Beatles, Air Supply, Queen, U2... yang gitu-gitu lah pokoknya.”
“Oh ya? Sama dong berati, gue juga lebih sering denger lagu-lagu oldies, tapi yang sering gue puter di HP ya The Smiths, atau Peterpan, menurut gue lagu mereka bagus-bagus.” Rangga terlihat bersemangat saat bicara, topik tentang band favorit adalah salah satu topik obrolan yang ia sukai selain video game, film, dan buku.
Erlita menghentikan pekerjaannya, menatap ke arah Rangga dan berkata “Wah, jarang gue nemuin orang yang selera musiknya sama kayak gue, temen-temen di kelas rata-rata pada denger lagu t****k gitu, atau cover-cover di Youtube gitu, gue enggak suka.”
Sepertinya Erlita mulai menikmati obrolannya dengan Rangga.
“Lagu The Smiths favorit lo apa?” Erlita lanjut bertanya.
“There’s The Light That Never Goes Out.” Jawab Rangga.
“To die by your side, is such a heavenly way to die... gitu kan liriknya?” Erlita menyanyikan sepenggal lagu yang di maksud oleh Rangga.
“Yep...” Rangga tersenyum.
Rasanya menyenangkan saat mengetahui kalau ada orang lain yang memiliki kesamaan, terutama dalam hal hobi, kira-kira begitu yang di pikirkan Erlita dan Rangga saat ini.
Obrolan keduanya pun mengalir dengan waktu. Percakapan mereka sama sekali tak terhenti, diantara keduanya tak ada yang kehabisan topik, mereka saling melempar pembicaraan di waktu yang cukup lama dalam topik yang sama, yaitu membahas lagu-lagu jadul.
Kebetulan Erlita dan Rangga sama-sama menyukai band yang bernama The Smiths.
The Smiths adalah sebuah band legendaris asal Britani Raya (Inggris) yang beranggotakan Morrissey, Jhony Marr, Mike Joyce dan Andy Rouke. Band ini dikenal sebagai band indie terbaik yang pernah ada. The Smiths mengusung genre musik alternative rock dan Indie pop, band ini sangat populer di tahun 80an. Namun sayangnya, mereka hanya bertahan lima tahun saja.
Meskipun The Smiths memiliki umur yang singkat, mereka telah memberi pengaruh di ranah musik tahun 80an. Maka tak ayal kalau lagu-lagu dari band yang hanya merilis empat album itu sering di jadikan soundtrack beberapa film Hollywood yang berlatarkan tahun 80an.
Nah, melalui film-film itulah Rangga bisa tahu lagu-lagu dari band The Smiths. Waktu itu dia sedang menonton film yang berjudul 500 Days Of Summer bersama mantan pacarnya. Saat mendengar salah satu lagu yang mengalun di film tersebut, Rangga langsung menyukainya. Usai menonton filmnya, Rangga langsung mencari tahu tentang lagu-lagu yang di putar di film itu di internet dan menemukan banyak informasi tentang The Smiths, hal itu membuatnya penasaran dengan lagu-lagu dari salah satu band bubar terbaik sepanjang masa itu.
“Lo tahu The Smiths dari mana?” Erlira bertanya sembari terus fokus mengerjakan tugas.
“Dari film, Er.”
“Oh, ya? Film apa?” Tanya Erlita lagi.
“500 Days Of Summer. Kalo lo tahu dari mana? Padahal itu band kan udah bubar jauh sebelum kita lahir.” Rangga balik bertanya.
“Sama dari film juga...” Erlita, diam sejenak, fokus mengetik, “Tapi gue dari film Bumblebee” Lanjutnya.
“Oh, iya, gue juga nonton film itu, yang maen Jhon Cena kan?” Kata Rangga.
Topik perbincangan mereka semakin melebar, berawal dari membahas tentang musik favorit, berganti ke film, lalu lanjut ke buku favorit, makanan dan hal lainnya. Percakapan demi percakapan yang Rangga dan Erlita lakukan membuat mereka semakin akrab. Itu adalah suatu hal yang baik bagi Rangga yang hanya punya sedikit kenalan di sekolah. Dia punya punya teman akrab baru sekarang.
Setelah hampir setengah jam, akhirnya tugas biologi Erlita pun selesai.
“Akhirnya... selesai juga tugas gue.” Ucap Erlita sambil meregangkan tulang belakangnya yang sedikit mati rasa akibat terlalu lama membungkuk.
“Udah selesai beneran Er?” Tanya Rangga.
“Iya, udah. Nih bukunya...” Erlita menyerahkan buku referensinya pada Rangga.
“Makasih.” Kata Rangga sambil menerimanya.
Erlita lanjut mengemasi barang-barangnya yang ada di atas meja sambil bertanya pada Rangga. “Lo mau langsung pulang apa gimana?”
Mendengar pertanyaan Erlita membuat Rangga langsung memeriksa jam di HP-nya. Sekarang waktu menunjukan pukul dua sore. Dia lalu melihat ke arah tangga yang di gunakan untuk turun ke lantai satu, jaraknya lumayan jauh dari tempat dimana ia berada.
Rangga lagi-lagi merasa malas untuk berjalan menuruni tangga, mungkin tak ada salahnya kalau dia berada di sini sedikit lebih lama lagi, lagipula dia tak punya kesibukan dirumah, dia bukan orang yang sibuk.
“Oh... ya, barang-barang masih ada di lantai satu, sial gue lupa.” Kata Rangga dalam hati, dia tiba-tiba saja ingat dengan barang-barangnya yang masih ada di lantai satu. Ia merasa sedikit khawatir dengan hal tersebut, takut kalau ada orang yang mencurinya.
Ya walaupun mungkin keamanan di perpustakaan umum ini sudah terjamin, namun tidak ada salahnya merasa khawatir.
“Heh, ditanya malah bengong!” Erlita sambil menepuk pundak sebelah kiri Rangga, dia malah melamun.
“Eh, sorry... lo sendiri gimana, Er? Mau langsung cabut?” Rangga malah kembali bertanya.
“Mmm... baru jam segini, gue sih mau bersantai duduk-duduk disini dulu. Males pulang gue, disini enak banget suasananya, jadi males gerak nih hehe...” Selesai mengemasi barang-barangnya, Erlita duduk lagi dengan santai.
“Gue juga males gerak sih, masih pengen duduk disini dulu, ngumpulin niat buat turun ke bawah...” Belum selesai Rangga bicara, Erlita memotong.
“Haha... ngumpulin niat? Emang lo semales itu ya buat turun kebawah?” Erlita sedikit mengejek.
“Iya, males banget nih gue, lagian gue juga masih nungguin temen yang belum dateng.”
“Yaudah, kalo lo males turun kebawah, mending disini aja dulu sama gue.” Kata Erlita.
“Ngomong-ngomong, barang-barang gue masih ada dibawah, menurut lo aman enggak?” Tanya Rangga pada Erlita, ia masih khawatir dengan barang bawaannya yang masih ada di lantai satu.
“Aman kok, tenang aja.” Erlita merasa yakin dengan apa yang di katakannya. “Beberapa hari yang lalu laptop-nya temen gue pernah ketinggalan disini, keesokan harinya baru diambil, barangnya aman-aman aja tuh.”
“Serius?” Rangga tak percaya.
“Iya, biasanya kalau ada barang pengunjung yang ketinggalan pasti langsung di amanin sama petugas perpusnya, kok.” Jelas Erlita.
Wajah Rangga masih menunjukan ekspresi ragu untuk bisa sepenuhnya percaya pada Erlita.
“Yaudah deh.” Rangga pasrah dan memilih percaya pada Erlita daripada harus berjalan menuruni tangga, saking malasnya.
Rangga dan Erlita pun akhirnya menunda kepulangan mereka karena keduanya terjebak suasana nyaman di ruang perpustakaan umum lantai dua.
Ini baru pukul dua siang, sementara perpustakaan umum akan tutup sekitar pukul empat atau setengah lima sore dan keduanya sepakat akan turun kebawah sekitar pukul tiga sore, atau sekurang-kurangnya pukul setengah tiga.
Mereka sibuk dengan waktu bersantainya masing-masing. Rangga membaca buku biologi yang akan ia gunakan sebagai referensi untuk mengerjakan tugasnya nanti, sementara Erlita berselancar ria di sosial media, ia asik menjelajah f*******:.
Erlita senyum-senyum sendiri sambil menatap layar HP, kadang hanya memasang ekspresi datar dan kadang juga tertawa terbahak-bahak, ia benar-benar tenggelam ke dalam dunia maya. Atau mungkin sedang menonton video, entahlah.
“Eh, ngga, lo kelas 11A kan?” di tengah kesibukannya di f*******:, Erlita bertanya.
“Iya, kenapa?” Kata Rangga sambil membaca buku.
“Berarti lo sekelas sama Darmin ya?”
“Iya. Lo kenal dia, Er?”
“Enggak sih, cuman...” Erlita berhenti melanjutkan, ia ragu-ragu untuk menyelesaikan perkataannya.
“Cuman...?” Rangga berhenti membaca dan menoleh ke arah Erlita yang masih menatap layar HP-nya. Ia penasaran.
“Kata temen-temen gue, si Darmin itu suka stalking gue.” Erlita berbicara dengan wajah serius, padahal tak harus seseruis itu hanya karena ada orang yang stalking dia.
“Yaelah, kirain apaan, wajar kali Er, kalo ada yang stalker sosmed lo. Gue yakin enggak cuman Darmin aja cowok yang stalker akun sosmed lo. Soalnya lo tuh cantik.” Kata Rangga, menurutnya itu hal yang wajar.
“Makasih udah bilang gue cantik, tapi bukan itu masalahnya. Kalo cuman stalking di sosmed sih enggak masalah, gue juga sering stalker akun cowok-cowok kok.” Jawab Erlita.
“Terus?” Rangga bertanya singkat.
“Dia stalking gue enggak cuman di sosmed, tapi di dunia nyata juga.”
Rangga masih bingung dengan penjelasan Erlita.
“Jadi maksud lo, dia pengutit?” Erlita mengangguk, Rangga melanjutkan “Dia ngikutin lo kemana-mana, ngawasin lo, gitu?” Rangga mencoba memastikan.
“Iya, bener.”
“Jujur aja, gue masih enggak percaya sih, soalnya gue taunya dia anak baik-baik.” Kata Rangga.
Rangga Heran, ia tak menyangka kalau Darmin orang yang seperti itu. Selama berteman dengan Darmin, ia tak pernah tahu kalau Darmin suka mengutit orang lain. Menurut sepengetahuan Rangga, Darmin adalah orang yang humoris dan baik. Di kelas, Darmin juga di kenal sebagai siswa yang pandai. Makanya dia tak langsung percaya begitu saja pada cerita Erlita.
“Gue juga ngerasa sih, kalau akhir-akhir ini kayak ada yang ngikutin gue setiap pulang sekolah, atau pas lagi nongkrong sama temen-temen...” Erlita lanjut bercerita. “Awalnya sih gue kira itu cuman perasaan gue aja, tapi ternyata ada yang ngutit gue beneran...” Katanya lagi.
Erlita terus bercerita perihal dirinya yang diam-diam diikuti oleh seseorang. Awalnya Rangga sempat tak percaya kalau orang yang mengutit Erlita itu adalah Darmin, sampai pada akhirnya ia baru percaya setelah Erlita menunjukan bukti-bukti yang ada.
“Ini akun f*******:-nya dia kan?” Erlita menunjukan tampilan profil f*******: Darmin pada rangga melalui HP.
“Iya, itu emang f*******:-nya Darmin, terus kenapa?”
“Gue cuman memastikan aja, kata temen gue emang dia yang suka ngikutin gue kemana-mana.” Erlita mencoba meyakinkan Rangga.
Setelah itu, Erlita melanjutkan ceritanya.
Erlita bilang, sebelum berangkat ke perpustakaan umum, ia sempat membuat status palsu di f*******: untuk menjaihili temannya. Ia mengunggah sebuah foto dirinya yang berada di kafe sambil menikmati secangkir kopi, dengan menulis keterangan “Lagi santai di cafe nih.” Padahal dia pergi ke perpustakaan dan foto yang diunggahnya itu adalah foto yang ia ambil beberapa hari yang lalu saat berada di kafe itu. Alhasil, beberapa orang dekatnya ada yang percaya, lalu pergi ke kafe tersebut karena benar-benar percaya kalau Erlita ada di tempat itu, setelah melihat status f*******: Erlita.
Menurut salah satu teman Erlita yang tertipu oleh status f*******: Erlita dan terlanjur datang ke kafe itu, ia melihat Darmin juga ada di sana. Padahal selama mereka nongkrong-nongkrong di kafe itu, mereka tak pernah melihat Darmin datang ke kafe itu, karena rumah Darmin juga cukup jauh dari sana, mereka tahu itu.
“Nih, kalo lo masih enggak percaya, gue kasih liat chat-nya temen gue, dia diem-diem ngambil fotonya Darmin di kafe itu dan dikirim ke gue.” Erlita menunjukan isi percakapanya di WhatsApps dengan salah satu temannya. Dalam obrolan w******p yang dia tunjukan ke Rangga, ada foto Darmin hasil kiriman dari teman Erlita. Di dalam foto tersebut, Darmin terlihat sedang duduk sendirian. Karena di ambil dari jarak yang cukup jauh, Rangga tak bisa melihat jelas wajah Darmin di foto itu.
“Kalo dlihat dari postur tubuhnya, itu emang beneran Darmin sih.” Kata Rangga yang mulai percaya.
“Selama ini gue nongkrong di situ, enggak pernah tuh gue ngeliat Darmin dateng, baru kali ini aja, sendiran lagi, rumah dia kan jauh banget dari situ. Gue yakin dia tadi liat status sss gue, terus nyangka kalau gue beneran ada di situ.” Jelas Erlita.
Rangga hanya mengangguk dan berkata. “Lo tau enggak, sebenernya gue lagi nungguin Darmin, gue satu kelompok sama dia dan rencananya hari ini kita mau ngerjain tugas bareng.”
“Seriusan?” Ucap Erlita.
Rangga mengangguk, “Iya, dari jam sepuluh gue tungguin enggak dateng-dateng, gue WA enggak di bales, gue telpon juga enggak di angkat. Sampe sekarang belum ngasih kabar.”
“Sabar ya...” Erlita menpuk pundak Rangga. “Dia telat mungkin karena menempuh perjalanan ke kafe itu.” Lanjut Erlita.
Obrolan mereka tentang Darmin si pengutit terus berlanjut, tak terasa waktu menunjukan pukul tiga, sudah waktunya untuk pulang. Erlita yang sudah membereskan perlengkapannya dari tadi sudah berdiri, Rangga pun demikian.
Mereka saling berterimakasih satu sama lain, Erlita berterimakasih pada Rangga karena mau menemaninya mengerjakan tugas, sementara Rangga berterimakasih karena Erlita sudah mau meminjamkan buku refrensi kepadanya.
Keduanya lantas menuruni tangga bersama hingga tiba di lantai satu.
“Rangga, kalo lo bisa, coba nanti lo bilang ke Darmin, temen lo itu ya, atau tanya-tanya gitu kenapa dia ngikutin gue, kalo bisa sih suruh berhenti. Jujur aja gue ngerasa enggak nyaman dan sedikit merasa... enggak aman.” Kata Erlita sebelum akhinrya mereka benar-benar berpisah.
Rangga kemudian duduk di bangku yang tadi ia tempati saat pertama kali tiba di perpustakaan umum. Syukurlah barang-barangnya tidak ada yang hilang dan semua masih pada posisinya masing-masing, Benar apa kata Erlita, tak ada yang perlu di khawatirkan jika ada barang bawaan yang tertinggal di perpustakaan ini, semua akan tetap aman.
Dia memutuskan untuk melanjutkan tugas sekolahnya yang masih belum selesai, rencananya Rangga akan pulang jam setengah empat sore, atau selambat-lambatnya jam empat sore.
Di tengah kesibukannya mengerjakan tugas, tiba-tiba saja dia menerima pesan WhatsApps dari Darmin yang isinya, “Lo masih di perpustakaan umum?”
Rangga kemudian membalasnya dengan emoticon jempol.
Lalu Darmin membalas lagi, “Oke, gue OTW.”
Rangga kembali membalas dengan emotikon jempol.
Bersambung...