Ketemu Erlita

1920 Words
                Dengan penuh rasa malas, Rangga melangkah perlahan menapaki anak  tangga untuk menuju ke lantai dua yang ada di perpustakaan umum. Di setiap langkahnya terasa berat sekali, seakan di kakinya  terdapat sebuah rantai yang di bagian ujung rantai tersebut terhubung dengan sebuah bola besi yang sangat berat. Rangga benar-benar merasa malas untuk melangkah menapaki satu-persatu anak tangga itu. Namun apa boleh buat, di atas sana ada buku refrensi yang ia butuhkan untuk mengerjakan tugas sekolahnya.                 Setelah melangkah menaiki tangga dengan penuh rasa keberatan hati, sampailah Rangga di lantai dua. Suasana di lantai dua tak jauh beda dengan lantai satu, yang membedakan antara lantai satu dan dua adalah, di lantai dua jumlah rak buku dan pengunjungnya lebih banyak. Adanya rak buku novel dan komik disini, menjadi salah satu alasan mengapa lebih banyak orang yang memilih untuk naik ke lantai dua.                 Usai mengamati sekeliling selama beberapa detik, Rangga lantas bergegas menuju ke rak buku biologi sesaat setelah ia menemukannya. Rangga lanjut mencari buku terakhir untuk refrensi tugas biologinya. Ia berjalan perlahan menyusuri rak buku tersebut sembari mengamati buku per buku dengan teliti, kali ini ia lebih serius dari sebelumnya.                 Ketika Rangga sedang sibuk mencari buku, seseorang cewek tiba-tiba saja menepuk pundaknya dari belakang dan membuatnya sedikit terkejut.                 “Rangga.” Sapa cewek itu sembari menepuk pelan pundak sebelah kanan Rangga.                 Rangga seketika menghentikan pencarian bukunya, lalu segera berbalik badan, menghadap ke orang itu.              “Eh, ternyata lo Er?” Kata Rangga, ia lanjut menatap ke arah orang itu beberapa detik. Cewek itu sedikit lebih tinggi dari Rangga, dia berdiri tegap sambil memegang sebuah buku. Rambutnya panjang tampak sangat lurus, kulitnya yang putih terlihat sedikit pucat. Bisa dibilang wajahnya lumayan cantik. Dengan rambut poni yang hampir menutupi matanya, cewek itu terlihat cukup imut.              Cewek yang tiba-tiba  menepuk pundak Rangga itu bernama Erlita, dia satu sekolah dengan Rangga.              “Lo lagi nyari buku apa? Dari tadi gue perhatiin serius banget.” Tanya Erlita sambil tersenyum.             “Buku biologi buat ngerjain tugas. Yang ngebahas tentang organ hewan-hewan gitu.” Jawab Rangga.             “Oh, gitu ya. Terus gimana? Udah ketemu belum?” Erlita bertanya lagi, sekedar basa-basi.             “Belum nih, susah banget nemuinnya.”             “Lo udah nyoba nyari di bawah?” Salah satu tangan Erlita memegangi dagunya sendiri.             “Udah dan enggak ketemu. Malahan penjaga perpusnya yang nyaranin gue untuk nyari ke sini.” Rangga tersenyum sedikit saat mengatakan itu.              Erlita melihat sekeliling, atau lebih tepatnya kearah buku-buku yang berjajar di rak biologi.             “Sebenernya banyak lho buku-buku yang ngebahas tentang organ-organ hewan, lo kurang teliti kali nyarinya. Gue juga nyari buku tentang itu sih, dan gue udah dapet.” Erlita menunjukan buku yang dari tadi di pegangnya kepada Rangga.            “Beruntung banget.” Kata Rangga, ia merasa iri pada Erlita.            “Gue juga tadi nyarinya lumayan lama sih...”            Setelah beberapa detik melihat ke arah buku yang di pegang Erlita, Rangga perlahan menyadari sesuatu.            “Eh... tunggu bentar, kayaknya itu judul buku yang gue cari deh Er.” Kata Rangga sembari mengambil HP yang ada di kantong celananya.            Ia segera memeriksa catatan di HP-nya untuk memastikan dugaaan tersebut. Ternyata memang benar, buku yang di pegang Erlita memiliki judul yang sama dengan buku acuan terakhir yang ada di catatan HP Rangga.           Rangga kemudian menunjukan  catatan tersebut pada Erlita.           “Pasti  guru biologi di kelas lo pak Anwar ya? Kalo iya, guru biologi kita berati sama. Kita mungkin dapet materi yang sama juga, buku-buku acuan lo sama persis kayak kelompok gue” Tanya Erlita setelah memperhatikan catatan di HP Rangga.            Ngomong-ngomong, Erlita dan Rangga itu berada di kelas yang berbeda. Rangga adalah siswa kelas 11 A, sedangkan Erlita siswa kelas 11 E. Mereka juga tak begitu berteman dekat, hanya sekedar saling kenal saja karena dulu mereka sempat berada dalam satu regu saat ada acara pramuka di sekolah.        “Iya, bener, guru biologi gue pak Anwar, ketat banget aturannya. Pas persentasi harus bawa buku refrensinya.” Jawab Rangga.       “Dan, kalo enggak bawa buku-buku referensi yang sama dengan saran beliau, nilai akan di kurangi kan?” Erlita meneruskan.       “Yep, ketat banget tu guru.” Rangga setuju dengan ucapa Erlit      “Mungkin tujuan belau baik, biar murid-muridnya tau, kalau hidup enggak semudah itu, haha...” Erlita sedikit tertawa saat mengatakan itu.     Rangga juga ikut tertawa lemah. Setelah tawa mereka berhenti, Rangga lanjut menanyakan kepada Erlita dimana ia menemukan buku tersebut.       “Oh, gue dapat dari rak bagian paling pojok. Kayaknya tadi masih sisa satu deh. Yuk gue tunjukin.” Kata Erlita.     Mereka berdua kemudian berjalan menuju ke rak yang Erlita maksud. Erlita berjalan di depan, sementara Rangga membuntutunya dari belakang.     Tercium aroma yang sangat wangi saat Rangga berjalan di belakang Erlita, entah itu berasal dari parfum yang Erlita    pakai, atau dari rambutnya, yang jelas Erlita sangat wangi. Rangga berfikir kalau semerbak harum dari Erlita berasal dari rambut Erlita yang terlihat sangat anggun, karena memang baunya seperti sampo yang biasa dipakai cewek-cewek di sekolah. Rangga merasa sedikit beruntung bisa bertemu dengan Erlita. Setidaknya ia bisa mendapatkan buku referensi yang dia butuhkan. Jika seandainya ia tak menemukan buku referensi yang sesuai dengan catatan yang diberikan oleh guru biologinya, tidak menutup kemungkinan bagi Rangga untuk membeli buku itu di toko buku. Syukurlah ia bertemu Erlita hari ini, jadi  Rangga tak perlu membuang uang untuk membeli sebuah buku yang harganya mungkin cukup mahal bagi seorang pelajar biasa seperti dirinya. Sampai lah mereka di rak buku yang di maksud. Se tibanya di situ, Erlita menatap bingung ke arah salah satu rak terdekat, rak itu terlihat kosong.                 “Kok enggak ada ya? Tadi masih ada satu kok.” Kata Erlita.                 Ternyata buku yang Erlita maksud sudah tidak ada, padahal menurutnya tadi ada di tempat itu. Mungkin saja sudah di ambil oleh pengunjung lain. Rangga kurang beruntung, padahal tadi ia sudah cukup merasa lega.      Rangga hanya terdiam kaku, ia merasa sedikit kecewa dan tiba-tiba saja otaknya langsung memikirkan uang  jajannya yang akan ia kurangi guna membeli buku. Dia  menghela nafas, kemudian mencoba melihat sekeliling, barangkali masih tersisa  satu-dua buku dengan judul yang sama di sekitar situ. Ketika menoleh ke arah kiri, Rangga melihat dua orang remaja cewek yang sedang asik mengobrol di depan rak buku, jaraknya tak jauh dari tempat dirinya dan Erlita berdiri. Salah satu dari dua remaja yang sedang asik mengobrol itu membawa buku yang serupa dengan yang di bawa Erlita saat ini, yang mana, itu adalah buku yang Rangga cari.     “Sstt... Er..” Sambil berbisik, Rangga mencoba  mengambil perhatian Erlita yang masih sibuk mencari-cari buku di rak.     “Apaan sih?” Tanya Erlita pada Rangga, ia terlihat sedikit kebingungan     “Coba deh liat ke sebelah sana....” Rangga melirik ke arah dua remaja yang sedang asik mengobrol itu. “Kayaknya tu orang yang ngambil buku itu deh.” Lanjutnya.     Pandangan mata Erlita lalu mengikuti arah lirikan mata Rangga, ia pun juga menengok ke arah dua remaja cewek yang sedang mengobrol itu.     Setelah memperhatikan sejenak, Erlita berkata, “Iya, bener juga.”     “Trus, gimana?” Erlita lanjut bertanya.     Rangga berfikir sebentar, kemudian berkata, “Gue coba tanya ke orang itu aja kali ya? Siapa tau boleh gue pinjem.”     Ucap Rangga setelah berfikir.     “He’em” Erlita mengangguk, dia setuju.     Rangga mulai melangkah mendekati mereka dengan penuh percaya diri, sementara Erlita tetap berdiri di posisinya, menunggu kepastian.      Rangga mencoba  merangkai kata-kata di dalam otaknya sambil berjalan sebelum benar-benar bicara pada dua remaja cewek itu.      Begitu tiba di dekat mereka, Rangga langsung berkata, “Permisi mbak, bukunya... saya pinjem boleh enggak?” Ia terlihat canggung.     “.....?”  Kedua remaja cewek itu menghentikan kegiatan mengobrolnya, lalu serentak melihat ke arah Rangga secara bersamaan. Keduanya hanya terdiam, bahkan senyum pun tidak.     Melihat respon dua orang remaja cewek itu yang sepertinya merasa terganggu, Rangga semakin kikuk.     “Daripada bukunya cuman di pegang aja, mending saya pinjem... boleh enggak mbak?” Walaupun tak mendapat jawaban dari kedua remaja itu, Rangga masih berusaha, ia merasa semakin canggung sekarang.     “Ih... enak aja, saya baru ngambil di rak malah mau mas pinjem, buku ini tu nyarinya susah mas, untung masih ada satu tadi. Lagian ganggu orang lagi diskusi tugas aja!” Remaja yang membawa buku itu berbicara dengan nada yang cukup tinggi, sepertinya dia bukan orang yang ramah. Atau memang Rangga yang salah bicara. Tanpa memperhatikan situasi, ia tak mengawalinya dengan basa-basi.     “Yaudah deh mbak, maaf kalo ngganggu.” Jawab Rangga, pasrah.     Rangga berbalik badan, lalu melangkah menghampiri Erlita lagi. Rangga memang tak pandai bicara kepada orang asing, ia tipe orang yang kalau berbicara langsung pada intinya dan tak begitu mengerti cara berbasa-basi.     Barang kali, kedua remaja cewek itu memang sedang serius membahas tugas sekolah mereka, dan di otak mereka saat itu juga mungkin sedang memikirkan sesuatu yang rumit terkait dengan tugas sekolah. Siapapun dia, pasti akan merasa terganggu jika ada orang lain yang tiba-tiba mengalihkan perhatian saat dirinya sedang berkonsentrasi terhadap sesuatu, begitu pula dengan kedua remaja cewek itu, jadi wajar saja kalau satu diantara mereka sedikit emosi saat Rangga tiba-tiba mengganggunya, apalagi Rangga malah secara blak-blakan mau meminjam buku yang jelas-jelas akan mereka gunakan untuk mengerjakan tugas.     “Gimana?” Tanya Erlita kepada Rangga yang sudah tiba dihadapannya.     “Enggak dapet, mereka juga butuh bukunya, mungkin mereka juga dapet tugas yang sama kayak kita.”     “Oh gitu ya...” Erlita sedikit menganggukan kepalanya.     Erlita mencoba berfikir, mencari solusi bagaimana caranya supaya Rangga bisa mendapatkan buku referensi untuk mengerjakan tugas. Erlita sempat berfikir untuk mengajak Rangga lanjut melakukan pencarian buku,akan tetapi hal itu dirasa percuma, karena sebelumnya Erlita sudah menyusuri jajaran rak  buku biologi di lantai dua dan memang hanya di rak yang ada di depan mereka saat inilah seharusnya buku yang Rangga cari berada.     Rangga dan Erlita terdiam di depan dekat rak buku. Rangga menatap ke arah lantai dengan wajah serius, sementara Erlita memandang kosong kearah rak buku di depannya, keduanya sama-sama bingung.     Di tengah diamnya, tiba-tiba Erlita menemukan sebuah solusi.     “Rangga, lo persentasi untuk tugas biologi ini hari apa?” Tanya Erlita.     “Selasa.”     “Sekarang hari minggu... berati dua hari lagi ya?” Erlita lanjut berfikir.     “Ya...?” Rangga terlihat bingung.     “Jadwal pak Anwar ngajar di kelas gue itu hari kamis, dan gue  persentasi hari kamis  itu juga, berati duluan lo, ya?” Kata Erlita.     “Iya, emang kenapa?” Tanya Rangga.     “Gue punya ide...” Erlita tersenyum bangga, kemudian melanjutkan. “Gimana kalo  buku yang mau gue pinjem ini lo bawa dulu buat ngerjain tugas lo, sekaligus  nanti lo bawa ke kelas pas persentasi hari selasa, buat bukti ke pak Anwar. Terus lo balikin lagi ke gue sebelum hari kamis pas gue persentasi, gimana?”     Rangga berfikir sejenak, lalu tersenyum lebih lebar dari Erlita. Dia merasa kalau itu ide yang bagus.     “Wah... bagus juga ide lo. Oke gue setuju. Mending gitu aja daripada gue harus ngeluarin duit buat beli buku.” Rangga setuju.     “Oke, tapi gue mau ngerjain bagian gue dulu ya, materinya ada di buku ini...” Kata Erlita.     “Lo mau ngerjain di sini gitu?” Tanya Rangga.     “Iya gue mau kerjain disini. Terus kalo udah selesai, bukunya bisa lo bawa pulang.”     “Oh gitu ya.” Rangga sedikit mengangguk.     “Lo enggak keberatan kan nungguin gue ngerjain tugas di sini?” Tanya Erlita, sedikit tak enak hati.     “Enggak sama sekali kok, santai aja, yang penting nanti lo pinjemin bukunya ke gue.” Kata Rangga.     Keduanya pun saling sepakat dengan ide Erlita. Rangga kini benar-benar merasa lega setelah tadi sempat merasa sedikit gusar. Akhirnya, uang jajannya aman, dia tak perlu membeli buku refrensi itu di toko buku.     Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD