Di Perpustakaan

1695 Words
     Setelah menyebrangi jalan, Rangga kemudian masuk ke dalam gedung perpustakaan umum.  Begitu berada di dalam ruangan perpustakaan, ia berdiri di dekat pintu untuk melihat-lihat sejenak, lalu langsung melangkah ke ujung ruangan dan duduk di  bangku yang ada di dekat rak buku bologi, karena hari ini ia dan temannya yang bernama Darmin akan mengerjakan tugas biologi.      Rangga duduk santai sejenak, menikmati suasana perpustakaan yang tenang. Meskipun hari minggu, ternyata perpustakaan umum tak sepi dari pengunjung. Ada beberapa remaja dan orang dewasa yang terlihat berdiri dekat rak-rak buku. Ada yang membaca buku sambil berdiri, ada yang masih sibuk menentukan pilhan buku apa yang ingin di baca, ada juga yang sekedar saling mengobrol di depan rak buku. Sisanya, duduk di bangku yang tersedia  dengan kegiatan yang hampir serupa dengan yang orang-orang yang berdiri di dekat jajajran rak buku. Malah,  ada pasangan yang terlihat mengobrol mesra dengan membiarkan buku-buku bacaan mereka tergeletak di meja, sedang pacaran mungkin.     Bisa dilihat dari kisaran umur dan penampilan para pengunjung, sekitar 80% dari mereka adalah murid sekolah dan mahasiswa yang butuh refrensi untuk mengerjakan tugas, sisanya mungkin hanya sekelompok kutu buku yang ingin melampiaskan hasrat membaca mereka. Selebihnya, datang untuk kencan atau sekedar janjian bersama teman.     Perpustakaan umum lumayan luas, kira-kira ukurannya dua kali lapangan secara umum, serta terdapat sebuah tangga untuk menuju ke lantai dua, namun Rangga tak ada niat untuk menuju ke sana, ia malas untuk naik-turun tangga. Rangga cukup menikmati berada di lantai satu, ruangannya terasa sejuk karena terdapat sekitar  5 buah pendingin ruangan (AC). Suara orang-orang yang mengobrol pun terdengar pelan, mereka seakan sangat berhati-hati agar tidak berisik dan mengganggu pengunjung lain. Ada lumayan banyak rak buku yang berjajar rapi, mungkin sekitar 20 sampai 30 buah. Dengan suasana semacam itu, maka tak heran jika perpustakaan umum di pusat kota ini jadi salah satu tempat bersantai untuk sebagian orang.     Melihat kearah jam tangannya, Rangga  menyadari bahwa Darmin sangat amat telat. Sebelum berangkat ke sini, Rangga mengira kalau Darmin sudah lebih dulu berada di perpustakaan, karena jarak rumah Darmin tak terlalu jauh dari sini. Dibandingkan dengan rumah Rangga yang harus naik bis selama satu jam untuk bisa sampai di sini.     Ia melihat sekeliling, namun tak menemukan tanda-tanda keberadaan Darmin di sekitarnya. Rangga sempat berfikir untuk naik ke lantai dua, barangkali Darmin ada di situ. Namun setelah beberapa detik memperhatikan tangga yang jaraknya lumayan jauh dari tempat dimana ia duduk, Rangga membatalkan niatnya itu, tubunya terlalu malas untuk bergerak.     Akhirnya, ia mengambil HP dari dalam tas ranselnya, kemudian mengirim pesan w******p ke nomor Darmin, sekedar menanyakan posisi.      Daripada hanya berpangku tangan menunggu tanpa kepastian dari Darmin, Rangga berinisatif untuk mengerjakan tugas biologinya terlebih dahulu. Anggap saja untuk mengisi waktu sambil menunggu datangnya Darmin. Meskipun sebenarnya tugas tersebut di anjurkan untuk di kerjakan dengan pasangan kelompok yang sudah di bagi oleh guru, tidak masalah bagi Rangga jika harus mengerjakannya sendiri. Lagipula, ia bisa saja menyisakan bagian-bagian yang harus di kerjakan oleh Darmin jika ia nanti benar-benar datang.     Rangga melepas ransel dari punggung, lalu meletakkannya di bangku, ia mulai beranjak mencari buku refrensi. Sembari berjalan menyurusi jajaran rak buku, dia sesekali melihat ke layar HP nya, ia memeriksa  catatan memo yang telah ia buat, catatan tersebut berisikan daftar judul buku acuan yang harus di pakai untuk mengerjakan tugas biologi.     Setelah beberapa menit mencari-cari, Rangga akhinya mengambil sebuah buku berjudul “Buku Untuk Siswa : Biologi Kelas XI” di sebuah rak yang berjarak tak begitu jauh dari tempat duduknya. Ia tersenyum lega sambil memandang buku tersebut, ternyata tak begitu sulit untuk menemukannya. Rangga lalu mencoret salah satu judul buku yang tercatat di Hpnya. Dengan di coretnya satu judul, berati menyisakan dua judul buku acuan lagi yang harus di cari. Rangga pun meneruskan pencariannya, ia lanjut melangkah menyusuri jajaran rak buku biologi.     Rangga melangkah sembari mengamati barisan buku-buku yang tertata rapi di rak-rak tersebut, ia mencari dengan serius.     Sama halnya seperti buku acuan yang pertama, tak butuh waktu yang lama bagi Rangga untuk menemukan buku acuan selanjutnya. Hanya selang beberapa langkah saja dari tempat dimana Rangga menemukan buku acuan sebelumnya. Buku acuan kedua yang berjudul “Biologi : Mengenal Organ Tubuh Manusia dan Fungsinya” pun berhasil di temukan. Ia merasa lebih lega lagi sekarang. Dua buku di temukan, tersisa satu.     Hari sudah semakin siang, Darmin pun tak kunjung datang. Sambil lanjut melangkah menyusuri rak-rak buku biologi, sesekali Rangga  memerikasa aplikasi w******p di HP, berharap Darmin membalas pesan yang tadi ia kirim tadi. Namun, sama sekali tak ada balasan dari Darmin, centang biru pun tidak. Dia juga sudah mencoba untuk menelponnya, tapi tidak di angkat.      Bagi sebagian orang, mungkin  berada di posisi yang sama seperti Rangga bisa bikin darah tinggi. Menunggu tanpa kepastian dari seseorang yang sangat di butuhkan untuk mengerjakan tugas sekolah bersama memang sangat menjengkelkan, tapi Rangga tak jengkel sama sekali karena telatnya Darmin.     Rangga bukanlah orang yang mudah marah, ia tipe orang yang bisa tenang di dalam kondisi apapun. Baginya, telatnya Darmin bukanlah hal yang harus ditanggapi dengan emosi, jika dia naik darah hanya karena Darmin yang tak memberi kepastian, itu hanya akan membuatnya lelah. Setidaknya ia sudah berusaha menghubungi Darmin. Memang benar, dia sangat berharap Darmin datang dan membantunya mengerjakan tugas, tapi ia tak berharap lebih. Lagipula, kalaupun Darmin tak datang, ia bisa mengerjakan bagian tugasnya sendiri, lalu datang ke rumah Darmin untuk menyerahkan bagian-bagian tugas yang harus di kerjakan oleh Darmin.     Sambil membawa dua buku acuan yang sudah ia dapatkan, Rangga masih sibuk berjalan keliling menyusuri rak-rak buku biologi. Tak seperti dua buku  acuan sebelumnya, kali ini ia kerepotan untuk menemukan buku acuan yang terakhir atau yang ketiga. Dia berjalan dari ujung ke ujung rak, dari sisi kanan ke sisi kiri. ia mencari ke segala penjuru rak buku-buku biologi namun ia tak menemukan apa yang dicari.      Sebenarnya bisa saja Rangga menggunakan buku acuan yang tidak sesuai dengan apa yang ada di memo nya, selama materinya sama seperti apa yang ia butuhkan untuk mengerjakan tugasnya. Tapi masalahnya, judul-judul yang tercatat  di memo itu adalah judul buku-buku yang di rekomendasikan oleh guru biologi di kelasnya dan saat mengerjakan tugas, semua kelompok harus menggunakan buku refrensi yang sesuai dengan apa yang guru rekomendasikan. Selain itu, tiap kelompok juga harus membawa buku refrensi itu saat mereka persentasi di depan kelas, agar guru bisa memeriksa apakah buku refrensinya sesuai atau tidak, kalau tidak sesuai maka nilainya berkurang. Parahnya lagi, kalau sampai mereka tak membawa buku referensi mereka saat persentasi dan hanya mengandalkan materi-materi di internet sebagai acuan, maka nilai mereka bisa saja kosong. Sadis memang. Oleh sebab itulah, Rangga yang sedikit pemalas sampai rela pergi ke perpustakaan umum di hari minggu demi mencari buku-buku refrensi yang sesuai. Padahal seharusnya ia hari ini bisa bermalas-malasan di rumah atau melanjutkan menulis novel.     Lama mencari, Rangga akhirnya berhenti, ia menyerah. Rangga berjalan kembali ke tempat duduknya yang tadi. Dia meletakan dua buku refrensi yang ia dapatkan di atas meja, lalu membuka laptop, dia bersiap mengerjakan tugas kelompoknya sendirian.     Lima belas menit berlalu, Rangga masih sibuk dengan tugasnya. Tak banyak yang ia lakukan selama lima belas menit terakhir. Ya, hanya membaca buku, lanjut mengerjakan tugas, melamun sambil melihat ke arah jendela, melihat  ke arah orang-orang yang masih berada di  dalam ruangan, lanjut baca buku, melamun lagi , melihat  orang-orang yang baru datang sambil berharap salah satu di antara mereka adalah Darmin, melihat  ke arah jendela lagi, lanjut baca buku dan mengetik tugasnya, kemudian merasa bosan.     Sampai tiba saatnya dia berhenti mengerjakan tugasnya karena kekuarangan materi Ia benar-benar kekuarangan bahan refrensi dan sepertinya dia memang membutuhkan satu buku referensi lagi. Ia menutup laptopnya, lalu berdiri dan berjalan menuju ke tempat dimana si penjaga perpustakaan duduk, yaitu di dekat pintu masuk untuk menanyakan tentang buku refrensi yang ia cari.     “Permisi mbak.” Kata Rangga ketika tiba di depan meja penjaga perpustakaan.     “Iya mas, ada yang bisa saya bantu?” Tanya si penjaga dengan ramah.     “Mau nanya mbak, buku biologi yang ini ada enggak mbak? Kok saya dari tadi nyari enggak ketemu ya?” Rangga menunjukan catatan memo yang ada di HP-nya.     “Yang enggak di coret ini kan mas? Yang urutan paling bawah?” Tanya si penjaga, untuk sekedar memastikan, ia  memperhatikan layar HP milik Rangga dengan seksama.     “Yep.” Jawab Rangga singkat.     “Hmm... buku biologi tentang hewan ya mas... Bentar ya mas, saya cek dulu.”     Si penjaga perpustakaan terlihat mengetik sesuatu pada keyboard di komputernya untuk beberapa saat, kemudian berkata. “Maaf mas, untuk buku yang ini, stok di lantai satu sudah tidak ada, sudah di pinjam semua sama pengunjung. Coba cek di lantai dua mas, barangkali masih ada stoknya.”     “Oh, gitu ya mbak. Makasih ya.” Jawab Rangga, ia terlihat sedikit kecewa.     “Sama-sama mas.”     Rangga menggaruk-garuk bagian belakan kepalanya, kemudian merapikan kembali rambutnya. Ia kali ini cukup kebingungan.     Mata Rangga melihat ke arah tangga yang jaraknya  dekat dari tempat dia berdiri, mungkin butuh lima sampai enam langkah saja. Kemudian ia mengalihkan pandangan ke arah ransel dan  laptopnya yang masih ada di bangku dekat rak buku biologi, jaraknya lumayan jauh dari tempatnya berdiri. Hatinya dilema berada di dua pilihan antara berjalan kembali ke bangkunya yang jaraknya cukup jauh untuk mengambil ransel dan laptop, lalu putar balik untuk naik ke lantai dua atau memilih untuk langsung naik ke lantai dua yang jarak tangganya lebih dekat dan membiarkan ransel serta laptopnya tetap berada di lantai satu dengan resiko kehilangan barang-barangnya itu.     Rangga menghela nafas dan berkata dalam hati “Sial, harusnya tadi pas jalan kesini sekalian bawa ransel sama laptop.”     Setelah berdebat sebentar dengan hatinya sendiri, Rangga akhirnya memutuskan untuk langsung naik ke lantai dua dan meninggalkan barang-barangnya di lantai satu. Ia terlalu malas untuk jalan bolak-balik. Lagipula, sepertinya aman-aman saja kalau dia meninggalkan barang-barangnya di lantai satu. Disampimg itu, tadi juga ia sempat meninggalkan barang-barangnya tanpa penjagaan saat ia sibuk menyusuri rak-rak buku sampai ke bagian sudut ruangan dan barang-barangnya masih aman-aman saja. Mungkin memang tak ada yang perlu di khawatirkan.     Padahal dari tadi, Rangga sangat menghindari untuk naik ke lantai dua, karena dia terlalu malas untuk naik turun tangga, tapi pada akhirnya dia tetap harus naik ke lantai dua. Selain itu teman satu kempoknya yang telat tak kunjung  tiba untuk membantunya mengerjakan tugas, hari ini Rangga cukup sial.     Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD