Mantan

2410 Words
    Bangku di dalam bis terasa hangat saat Rangga mendudukinya. Ia duduk di bangku pojok kiri paling belakang, tepat di samping jendela. Tak ada satu orang pun yang duduk di sampingnya. Suasana di bis cukup sepi, hanya ada sekitar 15 orang di dalam bis yang berkapasitas sekitar 30 orang itu.     Bagian dalam bis terasa legang, pengharum ruangannya masih sangat wangi, tanda baru di ganti. Seorang kenek berdiri di tepi pintu bis yang ada di dekat situ, sibuk menghitung uang hasil kerjanya.     Rangga membuka kunci layar di HP, lantas membuka sebuah aplikasi pemutar musik, kemudian memilih daftar lagu favoritnya dan memutar salah satu lagu di daftar itu. Lagu berjudul “Yang Terdalam” dari Peterpan terdengar di earphone yang sudah menempel pada telinga Rangga. Sambil menikmati lagu dari HP, Rangga duduk dengan nyaman di bangku bis yang empuk.     Sepertinya perjalanan selama 1 jam kedepan akan bisa di nikmati Rangga dengan penuh suka cita dan damai.     Di dalam bis yang akan mengantarnya ke perpustakaan umum, Rangga menopang dagu sambil melihat keluar jendela yang ada tepat di sebelah kirinya.     Ketika duduk di dekat jendela bis yang sedang melaju dengan perlahan sambil mendengarkan lagu, pikiran Rangga pergi kemana-mana, rasanya nyaman dan seakan beban di kepala lepas secara perlahan. Pasti semua orang merasakan hal yang sama jika berada pada situasi yang demikian.     Rangga menikmati pemandangan di luar jendela. Langit biru membentang di atas sana, pepohonan di tepian seakan berjalan ke arah sebaliknya, rumah warga yang berbaris di tepian terlihat asri di pandang mata.     Terjebak dalam suasana yang nyaman, membuatnya melamun sambil terus melihat ke luar jendela. Pikirannya melayang jauh melintasi waktu, atau lebih tepatnya kembali ke sekitar 6 bulan yang lalu, sehari sebelum hubungan dia dan Nadia, mantan pacarnya, berakhir.     Semenjak Grace membicarakan Nadia saat di toko musik seminggu yang lalu, Rangga jadi sering ingat tentang Nadia, mantan pacar sekaligus cinta pertamanya. Pintu kenangan saat  masih pacaran dengan  Nadia seakan perlahan terbuka sejak saat itu, membuat Rangga terjebak dalam nostalgia.     Waktu itu sekitar 6 bulan yang lalu, Rangga dan Nadia sengaja bolos sekolah, keduannya duduk di tepi danau yang biasa mereka kunjungi saat kencan.     “Sorry ya, aku jadi ngajakin kamu bolos jam pertama.” Ucap Nadia. Mereka duduk bersebelahan dengan posisi Nadia yang sedang bersandar pada bahu Rangga sambil menggambar di atas buku gambarnya.     “Emang kenapa sih tiba-tiba ngajakin aku ke danau pas jam pelajaran sekolah gini? Enggak biasanya.” Tanya Rangga pada Nadia. Ia merasa kalau hari itu Nadia tak seperti biasanya. Ia merasa ada sesuatu yang sedang di pendam oleh Nadia di dalam hati.     Nadia menggelengkan kepala saat mendengar pertanyaan dari Rangga.     “Enggak papa kok, aku lagi enggak mood masuk sekolah aja hari ini.” Nadia memeluk erat lengan Rangga.    “Rasanya pengen sama kamu terus sepanjang hari.” Kata Nadia, suaranya terdengar manja.     “Kalau akunya enggak mau sama kamu sepanjang hari, gimana?” Kata Rangga.     Nadia mengalihkan perhatiannya dari kertas gambarnya, ke wajah Rangga dengan ekspresi cemberut.     “Jahat, pliss lah untuk hari ini aja temenin aku seharian.” Nadia memohon.             Rangga tersenyum pada Nadia.             “Aku maunya sama kamu sepanjang hidup.” Kata Rangga.             Nadia membalas senyum Rangga. Hatinya benar-benar bahagia mendengar perkataan dari cowok pujaannya itu.             Duduk bersama dengan seseorang yang ia cintai membuat Nadia merasa sangat nyaman meski mungkin kala itu ada  hal lain yang membuat hatinya galau. Saat itu, detik itu juga perasaanya seakan lebih hangat dari mentari pagi, lebih sejuk dibanding air di danau. Di hatinya hanya ada Rangga seorang, yang memenuhi ruang hati, hingga mampu menyapu bersih perasaan tak tenang di dalamnya, yang tersisa hanya perasaan senang dan bahagia.             Di peluknya lengan Rangga erat-erat seperti tak ada yang boleh melakukan hal itu selain dirinya. Seakan lengan itu hanya miliknya seorang.             Nadia lalu lanjut bercerita tentang banyak hal, mulai dari tentang acara TV kesukaan-nya, tentang apa yang dia alami di sekolah beberapa hari yang lalu, tentang hewan peliharaannya yang sedang sakit, tentang salah satu sahabatnya yang jail dan lain sebagainya.             Nadia terus menceritakan segala hal yang ada di pikirannya kepada Rangga, sementara Rangga terus mendengarkan cerita Nadia sambil tersenyum. Ia tak tampak bosan ataupun jenuh dengan cerita-cerita Nadia yang mungkin diantaranya pernah ia dengar sebelumnya. Sesekali Rangga bertanya tentang apa yang Nadia ceritakan atau hanya sekedar menjawab seperlunya. Ada juga beberapa bagian cerita Nadia yang membuat Rangga antusias, salah satunya adalah tentang Nadia yang bercita-cita ingin menjadi ilustrator di masa depan.             “Iya, aku doain deh semoga mimpi kamu terwujud. Tapi menurutku jadi ilustrator itu pekerjaan yang membutuhkan ketahanan mental, kerjannya sendirian, jarang ketemu orang. Pasti kamu bakal kesepian.” Kata Rangga setelah mendengar cerita Nadia.             “Enggak masalah kok, selama ngejalanin hobi dan seneng, perasaan sepi bisa teralihkan kok.”             Rangga tersenyum, lalu lanjut bertanya. “Emang mau jadi ilustrator yang kayak gimana sih kamu?”             “Mungkin aku bisa mulai dari bikin ilustrasi untuk buku anak-anak, yang bentuk gambarnya imut-imut gitu hehe...” Jawab Nadia.             “Ngomong-ngomong, aku jarang liat kamu ikut acara-acara lomba gambar gitu, Nad. Padahal gambar kamu bagus banget lho.”             “Makasih... kamu udah sering bilang gitu.” Nadia tersenyum mendapat pujian dari Rangga. “Kayaknya kemaren di mading aku liat ada pamflet event gambar, hadiahnya lumayan.” Rangga melanjutkan.             “Oh... iya aku tahu kok.” Kata Nadia.             “Enggak mau coba daftar?” Tanya Rangga.             “Enggak, gambar aku masih jelek.”             Rangga tak melanjutkan topiknya lagi, ia tahu kalau Nadia tak akan mau ikut lomba meski terus di rayu.             Nadia memang punya hobi menggambar sejak kecil, sebagian besar waktu luangnya di gunakan untuk menggambar apa yang dia inginnkan. Karena sering di asah, kemampuan menggambar Nadia pun semakin berkembang dan hasil gambarnya cukup bagus. Siapapun yang awam tentang hal menggambar akan kagum melihat hasil gambar Nadia. Namun, sayangnya, Nadia tak punya kepercayaan diri yang lebih untuk memamerkan karyanya ke banyak orang. Dia merasa kalau gambarnya masih jelek. Oleh sebab itulah ia jarang ikut kegiatan lomba menggambar, masih malu-malu jika gambarnya di lihat banyak orang.             Tapi Rangga adalah sebuah pengecualian bagi Nadia. Ia justru senang memamerkan karya-karyanya pada Rangga, ia senang di puji Rangga setelah selesai menggambar dan memamerkannya pada Rangga, seakan ia melakukan itu hanya untuk Rangga.             Bahkan dia sering memberikan hasil gambarnya pada Rangga dengan senang hati.dan Rangga juga senang akan hal itu. Di beberapa bagian dinding kamar Rangga banyak tertempel gambar-gambar hasil goresan tangan Nadia, ia menggunakannya sebagai hiasan dinding kamarnya, karena memang menurut Rangga yang tak pandai menggambar, itu adalah karya yang bagus.   Matahari perlahan meninggi. Udara yang tadi terasa hangat, perlahan berubah menjadi sedikit panas. Tangan Nadia bergerak semakin cepat di atas kertas, menggoreskan garis demi garis dari pensilnya, ia hampir selesai menggambar. “Wah... udah mau jadi ya? Liat dong.” Kata Rangga yang melirik ke arah lembar gambar Nadia. “Bentar, kurang dikit.” Kata Nadia sambil meneruskan gambarnya. Beberapa menit kemudian, Nadia akhirnya menyeselesaikan gambarnya, ia bergeser sedikit dari Rangga, kemudian menunjukan hasil gambarnya pada Rangga. “Nih, udah jadi.” Nadia menyerahkan kertas gambarnya pada Rangga. Rangga menerima kertas tersebut sambil tersenyum, ia penasaran dengan hasilnya. “Bagus, mirip banget.” Rangga memandang lepas ke arah danau, kemudian melihat kembali ke arah gambar. Selama duduk di tepi danau bersama Rangga, ternyata Nadia sibuk menggambar danau yang ada di hadapan mereka berdua, lengkap dengan pemandangan di sekitarnya, mulai dari beberapa angsa, tumbuhan enceng gondok yang mengapung di tengah-tengah danau, serta semak-semak di tepian. Gambarnya benar-benar bagus, setidaknya menurut Rangga.   Setelah berlama-lama di tepi danau, rasa bosan pun menghampiri mereka. Nadia mulai merasa lapar karena ini sudah waktunya makan siang, begitu pula dengan Rangga, perutnya sudah mulai berbunyi, seakan perut itu merengek minta di isi sesuatu. Jam menunjukan pukul 11.30, Rangga mengajak Nadia untuk kembali ke sekolah,  karena bertepatan dengan waktu istirahat. Walaupun mereka bolos di jam pertama, jika di usahakan, mungkin mereka bisa pergi ke kantin sekolah untuk makan siang dan menyelinap masuk ke kelas untuk mengikuti mata pelajaran setelah istirahat. Ya, setidaknya mereka tidak bolos semua mata pelajaran di hari itu, kira-kira begitu pikir Rangga. Namun sayangnya Nadia menolak ajakan Rangga, ia benar-benar malas untuk ke sekolah hari itu. “Enggak ah, udah ku bilang kan, aku lagi enggak mood sekolah.” Jawab Nadia. “Trus? Mau disini sampai sore, gitu?” Tanya Rangga. Nadia hanya diam. Ia tampak sedang memikirkan sesuatu. “Kita pergi ke foodcourt aja yuk!” Ajak Nadia setelah diam beberapa saat. Rangga kemudian terlihat canggung, ia menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya. “Mmm... sebenernya... aku lagi bokek, kemaren uang aku habis buat beli komik.” Katanya. “Aku traktir deh, asal kamu temenin aku kemanapun hari ini.” Ucap Nadia sambil tersenyum. Nadia lantas memegang tangan Rangga, mengajaknya untuk berjalan bersama ke arah motor milik Rangga yang terparkir di dekat situ. Mereka pun pergi ke tempat makan yang di maksud Nadia. Hari itu, sekitar 6 bulan yang lalu, Nadia dan Rangga menghabiskan waktu bersama seharian. Bolos sekolah dan pergi ke tempat-tempat favorit mereka disaat masih awal-awal pacaran dulu. Usai bersantai di danau, mereka mengunjungi tempat makan, kebun binatang, mall, bermain di time zone, pergi ke taman kota, toko buku dan kedai kopi. Semua tempat itu penuh kenangan bagi mereka berdua, kadang Rangga merasa sedang bernostalgia kala tiba di tempat yang sudah sangat lama tak mereka kunjungi. “Udah lama ya kita enggak kesini, rasanya kayak balik ke jaman awal-awal kita pacaran dulu.” Kata Rangga saat mereka berada di kedai kopi. “Kamu inget enggak dulu pas kita PDKT, kita janjian ketemu disisni.” Nadia tersenyum sambil memegangi cangkir kopinya. “Emang iya?” Rangga bingung. “Ih gimana sih? Kan kamu yang ngajakin kesini duluan. Sampe pas udah jadian malah kamu ngajak kencannya kesini terus, sampe bosen akunya.” Nadiia cemberut “Oh iya ya... aku hampir lupa hehe...” Jawab Rangga sambil tertawa sedikit. “Ya... abisanya aku taunya tempat nongkrong cuman ini aja dulu.” Lanjutnya. “Iya, kamu kuper banget dulu, kalo enggak aku ajak main-main ke tempat lain pasti kamu bakal ngajak aku kesini terus sampe tua.” Kata Nadia, sedikit bercanda.               Mereka sangat menikmati hari itu, seakan tak ada lagi hari esok. Ada kalanya mereka tertawa terbahak-bahak di atas sepeda motor yang mereka tunggangi saat jalannya sedang sepi. Kadang juga berteriak seenaknya, sekedar melepas sedikit beban di kepala. Keduanya benar-benar merasa bahagia bersama, terutama Nadia. Dia sangat senang bisa bersama dengan Rangga sepanjang hari.             Langit mulai gelap, Rangga dan Nadia duduk di sebuah bangku yang  ada di taman. Cahaya lampu taman yang ada di dekat mereka menerpa wajah keduannya. Taman itu tampak sepi, tak ada seorangpun yang ada di situ kecuali mereka berdua. Di taman itu mereka mengobrol seperti biasa.             Nadia bercerita pada Rangga kalau dia sangat senang bisa bersama dengan Rangga sepanjang hari. Ia juga bilang ke Rangga kalau sebenarnya saat itu ia sedang tak baik-baik saja, terutama di bagian hati. Nadia sedang ada masalah di rumah, oleh sebab itu hari ini ia sedikit berbeda. Ia mengajak Rangga pergi ke tempat-tempat favoritnya sepanjang hari hanya untuk mengalihkan pikiranya dari masalah yang ada di rumah. Nadia tampak murung saat menceritakannya.             “Kalau kamu mau cerita lebih lanjut enggak papa kok. Tapi kalau emang enggak mau juga enggak papa, itu hak kamu.” Kata Rangga setelah mendengar cerita Nadia.             Nadia berfikir sejenak sebelum akhirnya berkata, “Kamu udah tahu kan, kalau orang tua aku sering berantem...” Nadia berhenti bicara, air mata terlihat perlahan mengalir di kedua pipi nya             “Mereka...berantem lagi ya?” Rangga bertanya dengan sangat hati-hati.             Nadia mengangguk, “Bahkan lebih parah, mereka udah resmi cerai kemarin.” Katanya sambil menahan kesediahan.             “....” Rangga tak bisa mengatakan apapun setelah mendengar perkataan Nadia itu. Sejujurnya, ia ingin menyuruh Nadia untuk sabar, atau memberikan sedikit semangat, namun Rangga merasa kalau dirinya tak pantas berkata seperti itu karena ia tak pernah tahu bagaimana rasanya berada di posisi Nadia, jadi Rangga hanya memilih untuk diam.             Dengan air mata berlinang di kedua pipi, Nadia meletakan kepalanya di bahu Rangga dan lanjut bercerita. “Sebenernya udah cukup lama sih mereka mau cerai, tapi aku selalu bisa jadi penengah, tapi lama-lama ayahku makin kasar. Beberapa hari lalu, aku mergokin dia nampar mama...Jadi ya... Aku juga ikut emosi dan belain mama ku, tapi sialnya... aku malah ikutan kena tampar papa...”             “.....” Rangga tertunduk, hatinya terasa sakit mendengar cerita pacarnya saat itu.             Malam itu hati Nadia terasa semakin berat seiring dengan ia yang bercerita kepada Rangga, ia tak mampu menahan kesedihannya lagi, sampai-sampai ia tak sanggup lagi meneruskan ceritanya. Nadia hanya bisa menangis di pelukan Rangga, menangis sekencang yang ia bisa. Sementara Rangga hanya diam mendengarkan tangisan Nadia, tak sepatah kata pun terucap dari mulut Rangga, ekspresinya pun datar.             Segera setelah tangisannya berakhir, Nadia memberitahukan kepada Rangga bahwa setelah orang tuannya bercerai, ia dan ibunya akan tinggal di rumah neneknya yang ada di luar kota.             Mendengar hal tersebut, waktu itu Rangga sudah bisa menerimanya, ia sudah bisa menerima kenyataan pahit kalau dia akan berpisah dengan Nadia. Walaupun di awal hatinya sempat tak terima dan ingin mencari solusi agar mereka tetap bersama, tapi setelah Rangga pikir-pikir itu tak perlu di lakukan. Ia kemudian memilih untuk membiarkan semua mengalir seperti yang seharusnya.             “Tapi kita masih bisa LDR-an kok, tenang aja!” Ucap Nadia.             Meskipun Nadia bilang kalau hubungan mereka masih bisa di pertahankan dengan hubungan jarak jauh, namun Rangga berpendapat kalau sebaiknya di akhiri saja agar Nadia tak terbebani dengan rasa rindu. Di samping itu, Rangga juga tak yakin kalau keduannya bisa saling menjaga hati jika terpisahkan jarak.             Usai melalui perdebatan yang tidak begitu panjang, hubungan mereka berakhir di malam itu dan Nadia pun benar-benar pindah di hari berikutnya.               Suara rem angin dari bis yang di tumpangi Rangga terdengar nyaring, membuat Rangga tersadar dari lamunannya. Lagu-lagu dari band Peterpan masih terdengar melalu earphone yang menempel di telingannya. Bis yang Rangga tumpangi kini berhenti di sebuah halte, ia sudah tiba di tempat tujuan. Sebuah gedung perpustakaan umum sudah terlihat di luar jendela dekat tempat duduknya. Lokasi perpustakaan itu berada di seberang jalan.             Orang-orang yang ada di dalam bis mulai turun bergantian melewati Rangga yang duduk di bangku paling belakang, dekat pintu. Ia dengan sabar menunggu giliran turun agar tak saling berdesakan.             Pria gendut berkaos pink, tampak tersenyum dan menyapa saat melewatinya, Rangga membalas sapaan tersebut dengan senyuman. Hingga tiba saatnya ia turun dari bis setelah hampir seluruh penumpang turun.             Dari seberang jalan, Rangga memandang jelas ke arah perpustakaan, ia tersenyum. Dengan berakhirnya lagu berjudul “Mungkin Nanti”  dari Peterpan di earphone-nya,  Rangga sudah bisa melepas bayang-bayang Nadia.     Bersambung....              
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD