Minggu pagi, sekitar pukul 09.00.
Rangga baru saja tiba di halte bus yang ada di dekat area tempat ia tinggal, hanya perlu sekitar 10 menit jalan kaki untuk bisa sampai ke situ. Dia langsung duduk di bangku halte bersama satu orang yang sudah duduk di bangku halte tersebut, menunggu bus jurusan kota Pati. Hari ini Rangga ada janji bersama seorang teman sekelasnya yang bernama Darmin untuk mengerjakan tugas kelompok.
Dengan setelan kemeja kotak-kotak hitam, celana jins yang sedikit kedeodoran, sendal swallow biru dan tas ransel sekolah yang menempel di punggung, Rangga merasa cukup percaya diri.
Hari ini agenda kegiatan Rangga bukanlah untuk pergi ke kota Pati, melainkan ke perpustakaan umum menaiki bus jurusan kota Pati. Karena memang jarak antara rumahnya dan perpustakaan umum cukup jauh, butuh waktu sekitar 1 jam perjalanan naik bus untuk sampai ke sana.
Duduk bersama dengan orang yang tak ia kenal di halte, Rangga merasa sedikit canggung. Ia duduk di bangku paling kiri, bersebelahan dengan pria gendut yang memakai kaos pink.
“Pagi pak...” Sapa Rangga, sekedar basa-basi
“Pagi mas..” Kata Pria gendut itu, usianya sekitar 30 tahunan.
Si pria gendut tersenyum saat menyapa balik Rangga. Cukup ramah.
“Mau kemana mas?” Orang itu bertanya.
“Ke perpus umum pak.” Jawab Rangga dengan sopan.
“Pasti mau ngerjain tugas ya mas?”
“Iya pak,” Rangga mengangguk. Lalu keduanya saling diam, kehabisan topik. Rangga adalah orang yang mudah canggung dan sulit mencari topik obrolan, duduk bersama dengan orang asing membuatnya keringat dingin.
“Mas kelas berapa?” Tanya Pria gendut itu lagi.
“Kelas 11 pak.” Jawab Rangga sambil menyenderkan punggungnya di bagian belakang bangku.
Pria gendut menatap ke arah jalan raya di depan halte, berharap bus yang di tunggu segera tiba, Rangga pun demikian.
Rangga menyenderkan punggungnya di bangku, ia merasa bosan. Dia kemudian mengamati sekeliling, melihat kendaraan yang berlalu-lalang di jalan raya, menunggu kedatangan bus yang akan membawa mereka ke tujuan masing-masing.
Cuaca hari ini cukup cerah, angin yang berhembus lembut terasa hangat ketika menerpa tubuh. Suara burung pipit samar-samar saling bersahutan, terdengar merdu di telinga. Rangga yang bersandar pada bagian belakang bangku perlahan mulai merasa mengantuk karena terbawa suasana nyaman di sekitar. Kedua kelopak matanya perlahan terasa berat untuk di buka, ia menguap beberapa kali. Rasa kantuknya benar-benar tak tertahankan.
Saat Rangga hampir benar-benar tertidur, pria gendut berkaos pink yang ada di sebelahnya perlahan menepuk pundaknya, membuat Rangga sedikit terkejut.
“Mas, jangan tidur, masih pagi!” Ucap si pria gendut pada Rangga.
“Saya ngantuk banget pak, hehe... semalem begadang soalnya.” Kata Rangga, ia malu-malu.
“Iya, tapi jangan tidur jam segini, enggak baik.” Si pria gendut memperingati.
Rangga terlihat bingung.
“Emang kenapa pak?” Tanya Rangga.
“Nanti rejekinya seret. Pokoknya jangan tidur kalo masih pagi, mas!”
Rangga menelan ludah, ia khawatir akan nasib rejekinya. Ia teringat sesuatu. Faktnya, selama ini Rangga sering tidur di pagi hari. Bahkan ketika berada di sekolah pun dirinya sering tertidur di tengah jam pelajaran pertama yaitu sekitar pukul 08.00 sampai jam 10.00 pagi. Apalagi saat libur panjang, hampir setiap hari dia selalu bangun di siang bolong.
“Serius pak?” Rangga kembali menegakkan punggungnya.
“Iya mas, tidur di pagi hari itu bikin rejeki seret.” Pria gendut itu sedikit bergeser, merasa lelah duduk dengan posisi yang sama. “Masnya pernah denger istilah ‘Rejeki di patok ayam enggak’?” Pria gendut itu lanjut bertanya.
“Iya sih, nenek saya biasanya bilang gitu.” Rangga mengangguk.
“Nah.. tapi maksudnya bukan beneran di patok ayam lho itu rejekinya.”
“Iya saya paham kok, itu cuman kiasan.” Kata Rangga.
“Menurut saya kiasan sederhana itu nyindir banget mas. Harusnya kita malu mas di bandingin sama ayam yang selalu bangun pagi untuk membangunkan yang masih terlelap di pagi hari.” Pungkas pria gendut.
Rangga hanya terdiam dan menggangguk, menyetujui pendapat pria itu.
“Iya juga sih pak, hehe... mungkin mulai sekarang saya akan lebih berusaha untuk bangun pagi.” Kata Rangga.
Hening... keduanya tak tahu harus mengobrol tentang apa lagi.
Waktu menunjukan pukul 09.15, bus pun tak kunjung melintas. Rangga yang merasa bosan memilih untuk bermain game Mobile Legend di HP-nya supaya tidak mengantuk dan tertidur, sementara pria gendut di sebelahnya kini terlihat sedang membaca koran.
Di tengah keasyikannya bermain game, dalam pikiran Rangga terbesit tentang novel yang sedang ia kerjakan. Entah mengapa separuh dari dirinya tiba-tiba saja merasa bersalah. Seharusnya, bisa saja di waktu luang yang ada saat ini, ia gunakan untuk mengerjakan cicilan naskah novel. Namun disisi lain, ia juga ingin sedikit bersenang-senang.
Babak demi babak pertandingan di dalam game Rangga jalani. Lambat laun rasa tak enak hati Rangga terhadap dirinya sendiri makin bertambah. Ingin rasanya ia berhenti bermain game dan mengeluarkan laptop yang ada di dalam ranselnya lalu mulai menulis, tapi rasa candu yang di timbulkan saat bermain game masih merasuki pikiran Rangga, tiap kali pertandingan selesai ia ingin berhenti, namun entah kenapa ia selalu ingin melanjutkan permainannya juga.
“Gue enggak bisa gini terus.” Gumam Rangga dalam hati.
Segera setelah berucap demikian di dalam hati, Rangga lantas menghentikan pertandingan di dalam gamenya walaupun masih berada di tengah babak. Ia tak peduli walau nanti akan mendapat pinalti dan tak diizinkan bertanding selama 24 jam.
Rangga mengeluarkan laptopnya dari dalam tas, lalu meletakannya di pangkuan untuk kemudian menyalakannya. Usai menunggu layar loading untuk beberapa saat, ia langsung membuka Microsoft Word, berniat melanjutkan novelnya. Mata memandang tulisan-tulisan di kembar putih, ia meletakan jari-jarinya di atas keyboard, bersiap menuliskan sesuatu.
Namun, tak ada satupun kata yang mulai tertulis dari jari-jarinya, Rangga hanya menatap kaku ke arah layar laptopnya, saat ini kepalanya benar-benar kosong. Sesekali ia mencoba menulis beberapa kata, lalu menghapusnya lagi. Hal itu ia lakukan untuk beberapa kali, karena merasa kalimat-kalimat itu kurang bagus.
Angin berhembus kencang, menerbangkan beberapa sampah dan daun kering yang ada di sekitar. Suara dedaunan yang masih menempel di atas ranting pohon terdengar cukup nyaring ketika diterpa angin. Hampir 20 meint berlalu sejak Rangga duduk di bangku halte bersama si pria gendut berkaos pink. Bus yang mereka tunggu belum juga tiba.
“Ngerjain apa mas?” Entah bagaimana, tiba-tiba saja si pria gendut berada lebih dekat di samping Rangga.
“Oh, lagi ngerjain ini pak.” Jawab Rangga. “Kepo banget ni orang...” Lanjunya dalam hati.
Si pria gendut menatap ke arah laptop Rangga untuk beberapa detik, sebelum akhirnya berkata, “Wah... nulis cerita ya, mas?”
“I...iya pak” Rangga ragu-ragu saat menjawab.
Sebenarnya Rangga merasa tak nyaman saat ada orang yang membaca tulisannya tanpa izin. Bagaimanapun, tulisan yang belum selesai itu akan sedikit memalukan jika di baca oleh orang lain, terlebih dia sudah pernah beberapa kali menerima penolakan dari penerbit, rasa malunya bisa dua kali lipat.
Pria gendut berkaos pink sedikit mendekat ke Rangga, menatap ke arah laptop lebih seksama lagi, penasaran dengan apa yang di tulis Rangga. Merasa tak nyaman, Rangga pun sedikit bergeser ke kiri, memberi sedikit jarak antara dia dan si pria gendut.
Menatap ke arah pria gendut berkaos pink, Rangga merasa sedang terjebak dalam situasi yang cukup canggung serta aneh. Berawal dari sapaan sederhana yang ia berikan pada orang asing hanya untuk sekedar basa-basi, malah berakhir dengan perasaan aneh karena ternyata orang yang di ajak basa-basi langsung merasa sok akrab. Bagi Rangga yang Introvert, hal itu adalah hal yang cukup menyebalkan.
“Ya ampun, bisnya kok enggak dateng-dateng ya. Bawa aku pergi dari sini...” Rangga berbicara dalam hati, memohon entah pada siapa.
Setelah beberapa menit membaca, si pria gendut menegakan kembali punggungnya, kemudian memegangi dagu sambil memasang raut wajah yang serius.
“Ini mau ke arah cerita-cerita komedi gitu ya, mas?” Tanya si pria gendut.
Rangga sedikit terkejut mendengar pertanyaan si pria gendut itu, ternyata dia benar-benar membaca naskahnya.
“Iya sih pak, niatnya mau ke arah situ, tapi kadang saya masih bingung mau masukin bumbu-bumbu komedinya di bagian apa.” Kata Rangga.
“Biasanya mas nulis genre apa?” Pria gendut lanjut bertanya.
“Percintaan gitu, tapi udah terlalu sering di tolak penerbit. Jadi, kali ini saya nyoba nulis genre komedi.”
Si pria gendut terlihat sedikit bersemangat “Oh... udah pernah ngirim naskah ke penerbit ya mas?” Katanya.
“Udah sering sih pak, sekitar 3 kali dan ditolak semua.”
Si pria gendut tiba-tiba saja menepuk-nepuk pundak Rangga beberapa kali. Rangga memasang ekspresi aneh, ia merasa jijik. Apalagi si pria itu memakai kaos pink. Rangga jadi sedikit curiga bercampur bingung.
“Tiba-tiba nepok-nepok bahu gue, sok akrab banget, gue jadi agak khawatir dengan masa depan gue. Mana pake baju pink lagi, jangan-jangan sebenernya dia bencong.” Rangga meluapkan kekhawatirannya dalam hati.
Pria gendut itu bergeser sedikit, kemudian mengamati Rangga.
“Mas mau jadi penulis ya?”
“Iya pak, pengennya sih gitu, iini masih terus usaha sih pak. Ternyata enggak mudah ya, jadi penulis.” Jawab Rangga.
“Kenapa pengen jadi penulis?” Pria gendut itu lanjut bertanya.
“Karena... kebetulan suka nulis. Kayaknya akan terasa menyenangkan kalau kita bisa bekerja sesuai dengan hobi.” Rangga penuh percaya diri saat mengatakan itu. “Dari hobi, bisa jadi karya, dapet uang juga hehe...” Lanjutnya.
Rangga mulai sedikit terbawa suasana, ia bicara cukup panjang kali ini.
Si pria gendut kemudian tersenyum dan berkata, “Selain itu, penulis juga bebas, enggak ada jam kerjanya, bisa kerja dimanapun dan kapanpun dia mau.”
“Iya juga ya...” Rangga baru sadar kalau penulis tak punya jam kerja tertentu.
Tak seperti pekerja kantoran, seorang penulis bebas mengatur jam kerjanya sendiri, ia bisa bekerja kapan saja, asal bisa menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan batas waktu yang di berikan, hidupnya akan baik-baik saja.
Rangga pikir, hidup seorang penulis itu sama seperti seorang siswa yang harus mengerjakan tugas sekolah setiap hari. Karena tak ada aturan kerja tertentu, maka hidupnya sedikit terbebas dari perintah dan aturan yang di buat oleh orang lain. Kehidupan seperti itulah yang diinginkan oleh Rangga, bebas.
“Tapi agar bisa jadi penulis, harus punya mental yang kuat.” Ucap si pria gendut. “Untuk menerima penolakan dari penerbit berulang kali butuh hati dan jiwa yang bisa bertahan saat menerima kenyataan pahit.” Lanjutnya.
Perasaan Rangga seakan terwakilkan oleh ucapan si pria gendut
“Iya... bener banget. Kok bapak tahu sih?”
“Karena saya juga ingin jadi penulis mas.” Si pria gendut tersenyum setelah mengatakan itu.
“Oh... ya?” Rangga penasaran.
“Iya mas...” Si pria gendut berhenti berkata, matanya tampak berkaca-kaca.
“Setelah hampir 10 tahun saya menulis dan mengirimkan naskah-naskah saya ke penerbit, akhirnya kemarin saya baru aja menerima e-mail dari pihak penerbit yang mengumumkan kalau naskah saya akan di terbitkan.” Kata si pria gendut lagi.
Rangga sedikit terkejut mendengar penjelasan dari si pria gendut.
“10 tahun? Baru di terima penerbit?!” katanya dengan nada suara yang agak meninggi.
“Iya... hehe... walaupun ada beberapa bagian yang harus di revisi. Ini saya mau datang ke kantor penerbit untuk ketemu dengan editor saya.”
“Wah... keren~” Rangga terkagum-kagum.
Setelah mendengar cerita si pria gendut yang tak ia ketahui namanya itu, Rangga merasa kagum dengannya.
Ia tak bisa membayangkan betapa sabarnya orang itu untuk terus menulis dan percaya pada mimpinya. Rangga merasa kalau pria gendut berkaos pink itu tidak sedang berbohong atas ceritanya, matanya terlihat tulus saat bercerita.
10 tahun itu bukan waktu yang singkat, pria gendut iitu terus berusaha dan percaya pada mimpinya sampai terwujud. Itu benar-benar hal yang luar biasa. Kira-kira itulah yang dipikirkan Rangga saat tersenyum menatap ke jalan raya, ia semakin yakin kalau kelak mimpinya untuk menjadi penulis novel yang hebat akan terwujud.
Setelah hampir 30 menit menunggu, akhirnya bis jurusan kota Pati pun tiba dan berhenti tepat di depan halte. Rangga segera menutup laptopnya, lalu memasukannya ke dalam ransel. Ia dan si pria gendut berkaos pink berdiri, keduanya kemudian melangkah memasuki bis yang akan membawa mereka ke tujuan masing-masing.
Bersambung...