Pukulan

1943 Words
“Bentar lagi Erlita pasti bakalan dateng ke sini, kalau situasinya udah mendukung, gue akan langsung nyatain perasaan gue ke dia.” Darmin kembali mempertegas pernyataannya. Grace dan Rangga tertegun menatap Darmin, mereka mengira kalau Darmin hanya bercanda atas apa yang baru saja dia katakan. “Lo serius mau nembak Erlita?” Rangga bertanya. “Serius, gue udah menyiapkan diri secara lahir dan batin.” Senyum Darmin terlihat lebih cerah dari biasanya. Sepertinya kali ini Darmin memang sedang serius, dia akan menyatakan perasaannya pada gadis pujaannya, Erlita. Pengunjung di kantin banyak yang sudah selesai dengan urusan perut mereka, di pintu keluar-masuk banyak siswa-siswi yang berhamburan keluar. Suara riuh yang beberapa saat lalu sempat memenuhi ruangan kantin kini sudah mulai berkurang, kantin jadi sedikit agak lebih tenang. Seorang ibu-ibu mengucapkan kata permisi sebelum mengambil gelas dan piring yang sudah kosong di atas meja di hadapan mereka bertiga, itu adalah bekas Grace dan Rangga, mereka sudah menghabiskan makanannya masing-masing, sementara makanan Darmin baru berkurang sepruhnya saja. “Wah ternyata lo berani juga ya nembak cewek, gue kira lo cuman kutu buku pemalu yang kurang pergaulan dan taunya cuman pejaran aja, hehe...” Grace terdengar seperti sedang mengejek Darmin meskipun ia merasa tidak demikian. Darmin menyedot es sirup stroberinya untuk beberapa tegukan. Bukannya merasa terejek, dia malah terlihat malu-malu setelah mendengar perkataan Grace. Sementara Rangga memasang ekspresi wajah yang serius, sedang memikirkan sesuatu. Bagaimana bisa Darmin memiliki kepercayaan diri untuk menyatakan cinta pada Erlita, apa yang membuatnya seyakin hari ini? Padahal kan dia baru dekat dengan Erlita beberapa hari belakangan ini saja. Karena baru kenal dekat dalam waktu yang singkat, kemungkinan besar Darmin akan menerima penolakan dari Erlita jika ia terlalu terburu-buru, dan kalau pun di terima, Darmin hanya kebetulan mendapatkan keberuntungan yang besar perbandingannya kira-kira satu banding seratus. “Ngomong-ngomong lo udah kenal dia berapa lama?” Grace lanjut bertanya. “Kalo sekedar tahu dia sih dan naksir sih udah lama, dari kelas 10...” “Udah dari kelas 10?!” Grace setengah terkejut, “Udah lama juga ya...” lanjutnya. Darmin mengambil tempe goreng yang tersedia di nampan gorengan, lalu ia letakan tempe itu di atas nasi ramesnya. “Kalau kenal dia sih, baru beberapa hari belakangan ini aja.” “Berati lo udah memendam perasaan lo ini selama kurang lebih satu tahun, dong?” “Iya Grace, kira-kira begitu.” Ucap Darmin. Darmin kemudian lanjut bercerita kepada Grace dan Rangga tentang kedekatanya dengan Erlita beberapa hari belakangan ini. Lebih tepatnya mungkin bercerita pada Grace, karena sebagian cerita dari Darmin sudah pernah Rangga dengar sebelumnya. “Iya..., Dari instastory, gue liat kalian cocok kok.” Ungkap Grace saat Darmin membahas tentang foto dirinya yang dia unggah di i********:. Namun beberapa bagian cerita ada yang belum Rangga dengar, salah satunya adalah tentang Darmin yang mengantar Erlita ke toko buku semalam. “Gue enggak ngajak dia lho padahal, menawarkan diri untuk nememnin dia juga enggak, dia yang ngajak.” Jelas Damin. Semalam, Darmin dan Erlita pergi ke toko buku bersama setelah janjian beberapa hari sebelumnya. Di toko buku itu Darmin menemani Erlita mencari buku-buku yang dia perlukan untuk mengerjakan beberpa tugas sekolahnya serta beberpa buku novel dan keperluan hiburan yang lain termasuk komik One Piece, komik favorit mereka berdua. Seiring berjalannya waktu, menemani Erlita menjelajah setiap sudut ruangan toko buku tersebut membuat hati Darmin semakin nyaman bersama dengan Erlita, apalagi cewek berponi itu selalu bersikap ramah padanya. Selain sikap baiknya, Darmin juga terpesona pada kecantikan dan kharisma dari Erlita. Dalam cerita Darmin, usai berbelanja buku, dirinya dan Erlita lanjut makan malam di sebuah kedai ayam goreng sederhana favorit Erlita. Di sana, mereka makan bersama. Sambil makan, mereka mengobrol, bercanda, membicarakan tentang cerita One Piece yang menurut mereka semakin seru. Sesekali mereka tertawa lepas menertawakan satu hal yang sama dan saling bertukar informasi tentang hidup masing-masing. Kata Darmin, Erlita bercerita tentang dirinya yang baru-baru ini sedang memelihara seekor kucing anggora. Darmin yang tidak tahu-menahu tentang dunia perkucingan pun menyempatkan diri untuk mencari- cari informasi mengenai kucing anggora secara diam-diam melalui handphone-nya ketika mereka sedang mengobrol. Hal itu Damin lakukan, demi bisa terus menyambungkan obrolannya dengan Gadis pujaannya. Erlita sedikit kagum dengan pengetahuan Damin tentang kucing anggora. Damin juga sok mencoba memberi satu-dua tips merawat kucing anggora pada Erlita, dan tentu saja tips-tips tersebut dia dapatkan dari google, secara diam-diam. “Gue bela-belain browsing diem-diem biar bisa terus ngobrol sama dia.” Jelas Darmin pada Grace dan Rangga. Tadi malam, bisa di bilang adalah salah satu malam terbaik bagi Darmin karena punya kesempatan berduaan dengan Erlita dalam waktu yang lama. Malam itu juga, cinta dalam hati Darmin terhadap Erlita pun makin bermekaran bagai bunga di musim semi. “Kalau lo udah ngerasa nyaman gitu kenapa lo enggak nembak dia semalem aja? Malem-malem tuh lebih romantis.” Kata Grace setelah menyimak cerita. Rangga menatap ke arah Grace dengan tatapan aneh dalam waktu yang cukup lama. “Apa?” Ujar Grace ketika dirinya sadar di amati oleh Rangga. “Justru terlalu buru-buru kalau Darmin nembak dia semalem.” “Iya, selain itu gue juga semalem belum siap nembak dia walaupun ada beberapa kesempatan...” Timpal Darmin. “Maka dari itu gue akan nembak dia hari ini.” Tegasnya lagi. Rangga mengalihkan pandangannya dari Grace ke arah Darmin. “Kalau lo nembak sekarang juga terlalu terburu-buru.” Saran Rangga. “...?” Darmin terdiam dengan tanya. Rangga menghela nafas, lalu bertanya dengan cukup panjang pada Darmin, “Apa lo yakin dia enggak punya pacar? Cewek secantik dia hampir mustahil jomblo. Jangan terlalu hanyut pada perasaan yang ada dalam hati lo, jangan di bawa perasaan hanya karena dia baik sama lo. Sebaiknya, tunggu sampai lo ngeliat tanda-tanda kalau dia juga nyaman sama lo. Yang lebih penting sih, pastikan apakah dia jomblo atau udah punya pacar. Dan lagi, lo yakin bakal di terima? Terus apakah hati lo udah siap untuk menerima penolakan dari dia?” Grace mengangguk dalam diam. Darmin terdiam sejenak, dia tersenyum. “Apa yang lo bilang, ada benernya. Gue yakin kok dia enggak punya pacar, dia enggak pernah posting-posting atau update tentang pacar... iya sih, gue emang belum tahu pasti apakah dia udah punya pacaara apa belum, tapi gue yakin kok dia belum punya pacar...” Darmin berhenti sejenak kemudian melanjutkan, “Soal di tolak atau enggak sih gue pasrah aja, yang penting gue udah ngugkapin perasaan gue ke dia.” Grace tersenyum dan berkata, “Iya, lo bener, min, yang penting bilang ke dia dulu, soal di terima atau enggaknya itu urusan belakangan. Lagian, pada akhirnya jatuh cinta diam-diam itu seperti naik komedi putar, bergerak terus menerus tapi enggak kemana-mana.” Sesaat setelah mendengar kata-kata Grace, Rangga menatap Grace sambil berkata, “Raditya Dika.” “Ugh... tahu aja lo.” Grace cemberut, momen bijaksananya dihancurkan oleh Rangga semudah itu. Tak lama kemudian, datanglah sosok Erlita yang di nanti-nantikan oleh Darmin. Cewek cantik itu berjalan dengan anggun di temani oleh dua orang temannya, beberapa meter dari tempat duduk Grace, Rangga dan Darmin. Hampir seluruh laki-laki yang ada di dekat Erilta membeku menatap ke arah Erlita yang anggun. Sementara anak-anak perempuan sebagian ada yang ini, sebagian ada yang kagum. Gerakan Erlita seakan terlihat melambat di mata Darmin. Dalam imajinasi Darmin, cahaya harmoni menyinari tubuh Erlita, sebuah sayap indah berwarna putih tumbuh dari punggungnya, diringi suara nyanyian seriosa yang begitu merdu. Bagi Darmin, Erlita adalah sosok dewi khayangan yang baru saja datang ke kantin sekolah. Setelah berjalan beberapa meter, Erlita dan dua orang temannya akhirnya duduk di bangku yang ada di dekat tempat penjual bakso. Darmin, Grace dan Rangga secara bersamaan mengamati Erlita dari jauh. Andai saja Erlita melintas di dekat mereka, pasti dia akan menyapa Darmin dan Rangga, atau bahkan juga Grace. “Lo yakin, mau nembak dia sekarang?” Rangga kembali bertanya setelah melihat Erlita. “Yakin.” Darmin menjawab dengan cepat. “Di sini ada lumayan banyak orang, lho, kalau di tolak, pasti bakal malu banget, min.” Kata Grace. Darmin memejamkan matanya, menarik nafas dalam-dalam, mencoba bersikap tenang. Setelah memotivasi diri sendiri di dalam hati, Darmin berbalik badan, lalu berdiri dengan tegap. “Gue kesana dulu, doain berhasil.” Darmin berkata dengan keren, membelakangi Grace dan Rangga. “Semoga di terima ya, semangat!!” Grace memberi dukungan dengan antusias. Darmin melangkah dengan mantap menuju ke tempat Erlita berada, dia melewati siswa-siswi yang lewat di sekitar. Sambil berjalan, di dalam kepanyan, Darmin menyusun kata-kata yang sudah ia latih di kamar mandi sekolah beberapa jam yang lalu. Berjarak beberapa puluh centimeter dari tempat duduknya, Erlita menyadari kehadiran Darmin, Erlita menyapa Darmin dengan melambaikan tangan kanannya. “Hai.” Kata Darmin dengan suara yang pelan sembari melambaikan tangan, kemudian lanjut melangkah. Sesampainya di dekat Erlita yang sedang duduk bersama dua orang temannya, Darmin menatap Erlita sambil tersenyum. Niatnya, Darmin akan langsung pada tujuannya, mengungkapkan perasaannnya, namun belum sempat dia mengeluarkan kata dari mulunya, Erlita bicara duluan. “Sama siapa min? Sendirian?” Tanya Erlita. “Enggak kok...” “Kalo sendirian, gabung aja sama kita.” Erlita menawarkan. Darmin menatap kedua teman Erlita yang sedang sibuk saling mengobrol. “Makasih, aku enggak sendirian kok, aku lagi bareng Rangga sama Grace, tuh.” Darmin menununjuk ke arah bangku di mana Grace dan Rangga duduk. Erlita mengikuti arah telunjuk Darmin, kemudian melemparkan sapaan dengan melambaikan tangan dari jauh ketika melihat ke arah Grace dan Rangga yang duduk bersebelahan. Grace membalas lambaian tangan Erlita dengan semangat, sementara Rangga terlihat malas-malas saat melambaikan tangan pada Erlita. “Gini Er...” Darmin mulai ragu-ragu. “Hem...?” Erlita menatap Darmin dengan bingung. “Aku mau ngomong sesuatu...” “Mau ngomong apa, duduk sini dulu, sambil berdiri gitu nanti pegel kamu.” Erlita terlihat ramah. “Cuman bentar kok.” Kata Darmin, malu-malu. “Oh, gitu ya, mau ngomong apa?” Erlita mengubah posisi duduknya agar bisa memperhatikan Darmin. Darmin menelan ludah, dia gugup. “A...ku.... suk...” Seorang ibu-ibu kemudian datang mengantar pesanan Erlita dan kedua orang temannya. Kata-kata yang akan di ungkapkan Darmin tertelan kembali ke dalam tenggorokannya secara otomatis. “Wah, pesenannya udah dateng nih,” Kata salah satu teman Erlita. Ibu-ibu pembawa pesanan itu kemudian meletakan tiga mangkuk bakso pesanan mereka di meja, di hadapan masing-masing dari mereka. Hal itu membuat kata-kata dari Darmin terhenti dan perhatian Erlita teralihkan untuk beberapa saat. “Tadi lo mau ngomong apa,min?” Lanjut Erlita setelah menata mangkuk bakso pesanannya. Setelah memejamkan mata untuk beberapa saat, Darmin berkata tanpa basa-basi dan keraguan lagi. Melihat Darmin gerak- gerik Darmin dari jauh, Rangga dan Grace seakan tahu kalau Darmin sudah akan memulai melakukan penembakan pada Erlita, mereka berdua terlihat menutup kedua mantanya. “Erlita, aku udah lama suka sama kamu, kamu mau enggak jadi pacar aku?” Darmin menghela nafas panjang setelah mengatakan kalimat itu dengan lancar, tak sia-sia ia latihan di kamar mandi. Kedaan kantin menjadi sunyi, siswa-siswi yang ada di sekitar situ menghentikan aktifitas mereka terdiam dan fokus menatap ke arah Darmin dan Erlita. Termasuk dua orang teman yang duduk di sebelah Erlita, mereka juga menatap ke arah keduanya dengan wajah bingung, tidak seperti yang lainnya. Erlita diam dalam kesunyian, ia menggigit bibir bawahnya, seakan menahan perkataan yang memaksa ingin terucap. “Darmin... aku...” Belum sempat Erlita menyelesaikan kalimatnya, sesuatu yang keras tiba-tiba menghantam kepala Darmin. hantaman itu mengenai pipinya dengan sangat keras. Rasanya sakit sekali, sampai-sampai dia tak sanggup menahannya dan membuat tubuhnya ambruk. Pandangannya kemudian kabur, pendengaranya perlahan menghilang. Suara riuh di kantin terdengar terdengar pelan di telingannya. Dalam pengelihatnya yang semakin tak jelas, ia seakan melihat Erlita menampar seorang anak laki-laki berseragam OSIS, mereka berdua terlihat berdebat. Perlahan Darmin memejamkan matanya, pendengarannya juga hilang secara perlahan. Darmin telah sepenuhnya tak sadarkan diri. Dia pingsan setelah menerima pukulan keras dari seseorang. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD