Pukul tiga sore.
Keluar dari kamar mandi, Rangga terlihat sudah mengenakan seragam OSIS dengan rapi. Dia baru saja selesai mandi dan ganti baju. Saat ini Rangga sedang berjalan menuju ke ruang OSIS untuk menepati perkataannya pada seorang anggota OSIS yang tadi sempat bertemu dengannya ketika berada di lapangan.
Rangga berdiri di depan pintu ruang OSIS yang tertutup dengan rapat. Dia terus memandangi tulisan “Ruang OSIS” yang tertempel di bagian atas pintu itu sembari memikirkan apa yang akan dia lakukan setelah ia membuka pintunya. Di balik pintu tersebut, pasti akan ada beberapa anggota OSIS yang tak ia kenal, sedang sibuk dengan urusan mereka. Mungkin perempuan culun anggota OSIS yang tadi dia temui di lapangan juga sudah menunggunya di dalam sana.
Belum juga ia benar-benar masuk ke dalam ruang OSIS, pikirannya sudah memikirkan tentang orang-orang yang nanti sekiranya akan mengajak dirinya mengobrol. Pasti nanti akan sedikit merepotkan untuk menjawab pertanyaan basa-basi dari mereka. Atau jangan-jangan, di balik pintu itu ada senior yang akan menjahilinya.
Rangga juga tiba-tiba jadi khawatir kalau dia tidak bisa melakukan pekerjaannya dengan baik dan malah merepotkan anggota yang lain.
Dia dia malah jadi ragu-ragu untuk masuk ke dalam atau tidak, padahal saat di lapangan tadi dia merasa bersemangat dengan hal baru yang akan di lakukannya ini, dia bersemangat untuk membantu anggota OSIS membuat laporan. Tapi entah mengapa setelah tiba di depan ruang OSIS, Rangga malah grogi dan ingin membatalkan niatnya kemudian pulang ke rumah.
Sepuluh menit kemudian, dia memaksakan dirinya untuk mulai mengetuk pintu ruang OSIS yang berada tepat di hadapannya, menepiskan segala kekhawatiran yang ada dan mulai berfikir positif.
Tok... Tok... Tok...
Rangga mulai mengetuk pintu, namun belum ada respon. Setelah beberapa kali melakukan hal yang sama, ia dapat mendengar suara seseorang dari balik pintu, di dalam ruangan itu.
“Masuk aja, enggak di kunci kok” Suara perempuan, dan entah mengapa rasanya suara itu tak asing bagi Rangga.
Tangan kanan memegang gagang pintu, Rangga mulai membuka pintu tersebut dengan menekan gagangnya ke bawah, lalu mendorongnya ke arah depan.
` Pintu ruang OSIS akhirnya terbuka. Hal pertama kali tampak dari pandangan Rangga saat pintunya terbuka adalah ruangan yang sepi dengan barisan jendela yang masih terbuka, kordennya yang berwarna merah terlihat melambai-lambai tetiup angin dari luar. Kaca-kacanya membiaskan cahaya matahari senja.
Rangga kemudian masuk selangkah ke dalam ruangan itu, lalu melihat ke sekeliling dan menemukan Erlita sedang melambaikan tangan ke arahnya sambil tersenyum manis. Ia duduk di sebuah bangku yang di atas mejanya terdapat sebuah laptop yang sudah terbuka.
“Hai...” Sapa Erlita dari tempat duduknya.
Semua imajinasinya tentang para anggota OSIS yang merepotkan di dalam pikirannya tadi seketika hancur setelah ia mengetahui kalau di dalam ruang OSIS yang berbentuk persegi dengan luas tak seberapa ini hanya ada Erlita seorang di dalamnya.
“Hai...” Rangga balas menyapa, lalu melangkah ke dalam ruangan. “Yang lainnya pada kemana?” Ia bertanya sambil menuju ke Erlita.
“Udah pada pulang, kerjaanya udah pada selesai.”
“Oh, gitu.”
Ruang OSIS tampak sangat bersih dan rapi. Ada sekitar sepuluh sampai dua belas tempat duduk yang di tata meliingkar di tengah ruangan, Erlita duduk di salah satu di antara kursi-kursi itu, ia duduk di sebelah bangku kosong yang di atas mejanya terdapat sebuah laptop yang di biarkan menayala. Sebuah papan tulis berwarna putih menempel di sisi dinding di belakang Erlita. Di papan tulis itu terdapat tulisan-tulisan hasil rapat yang berisi kan acara-acara kegiatan OSIS yang sudah di terlaksanakan dan yang akan di adakan kedepannya, hanya melihatnya dengan sekilas saja orang yang melihanya sudah langsung paham tentang itu.
Sebuah pengharum ruangan yang bisa menyemprotkan cairan wanginya secara otomatis masih berfungsi dengan baik. Alat itu berbunyi seiring dengan wangi harum yang tercium di ruangan saat Rangga melangkah melewatinya.
Rangga meletakan tas ranselnya di bangku yang ada di sebelah Erlita, ia menatap ke arah layar laptop di hadapannya. Layar laptop itu menyala, menunjukan tampilan microsoft excel yang berisikan sebuah tabel. Meskipun kolom-kolom di sisi atas dan sampingya sudah bertuliskan indikator-indikator, namun isi tabelnya masih kosong. Di kolom bagian atas berisikan waktu, nama, kelas dan pelanggaran yang di lakukan, sedangkan bagian yang menyamping hanya ada nomor urut saja.
“Ini yang harus gue kerjain kan, Er?” Tanya Rangga pada Erlita, tangan kanannya mulai menggerak-gerakan kursornya.
“Iya...” Erlita mengambil beberapa lembar kertas dari dalam laci mejanya. “Ini data-data yang harus lo masukin ke situ, sama kalau ada kesalahan tolong di benerin ya!” Erlita menyerahkan kertas-kertas itu pada Rangga.
“Siap.”
Ada sekitar enam lembar kertas folio berukuran besar yang di serahkan Erlita kepada Rangga. Di atas kertas itu tertulis nama-nama siswa-siswi yang melanggar hukuman, beserta kelas, nomor absen, dan jenis pelanggaran yang di lakukan. Ia membacanya sekilas, mengamati, membolak-balik halaman kertas-kertas itu sebelum memulai pekerjaanya. Rangga memasang wajah datar saat ia melihat namanya sendiri ada dalam laporan itu.
“Itu tabelnya udah di buatin sama kak Novi, jadi lo tinggal masukin data-data dari kertas-kertas itu aja...” Kata Erlita yang sedang sibuk dengan laptopnya, ia sedang mengetik sesuatu di power point.
“Kak Novi?” Rangga bingung.
“Itu lho, dia yang ketemu kamu di lapangan, dia pake kacamata.” Jelas Erlita.
“Oh, iya iya, tahu.” Rangga mengangguk-ngangguk. “Jadi cewek culun itu namanya Novi ya, bagus juga.” Lanjutnya dalam hati. Entah mengapa Rangga memuji namanya.
“Dia nanti balik ke sini lagi untuk nge-cek kerjaan kita, jadi usahakan harus selesai sebelum dia dateng, ya!” Erlita memperingatkan.
“Oke.”
Lima menit memikirkan sambil melihat-lihat data-data di kertas folio dari Erlita, Rangga sudah mulai paham dan mulai mengerjakan laporan lari marathon di sebelah Erlita yang juga sibuk mengerjakan tugas dari OSIS.
Ruang OSIS menjadi sunyi meskipun di dalamnya ada dua orang yang sedang duduk bersebelahan. Yang terdengar hanya suara dari dua keyboard laptop yang sedang di ketik, keduanya saling diam karena fokus pada pekerjaan masing-masing.
Di tengah-tengah pekerjaannya, Erlita melirik ke arah Rangga diam-diam, tapi kemudian melihat ke layar laptop lagi, ia kadang membuka sedikit mulutnya, lalu menutupnya lagi. Seakan, Erlita ingin mengatakan sesuatu tapi ia ragu-ragu. Ia merasa canggung dan sedikit malu untuk berbicara kepada Rangga setelah kejadian di kantin beberapa jam yang lalu.
Begitu juga dengan Rangga, tubuhnya kaku duduk di sebelah Erlita. Karena kejadian di kantin tadi, dia juga merasa sangat amat canggung duduk berdua di ruangan kosong bersama Erlita, bahkan saat ini, rasa canggung Rangga melebihi rasa canggung yang dirasakan Erlita.
Setelah sekitar lima belas menit mengerjakan laporan tanpa mengajak orang yang duduk tepat di sebelahnya mengobrol, Erlita lama-lama merasa tak enak hati. Ia kemudian memutuskan untuk mengatakan apa yang ada di pikirannya.
“Ngomong-ngomog, keadaan Darmin gimana?” Kata Erlita sambil terus mengetik, ia tak melihat ke arah Rangga saat mengatakan itu, fokus pada pekerjaannya.
“Udah melek kok tadi, tapi masih pusing gitu, jadi masih istirahat di UKS.”
“Oh, gitu ya, syukur deh.”
Sesaat setelah Darmin pingsan karena di pukul seseorang saat menyatakan perasaannya pada Erlita, beberapa anak yang menyaksikan kejadian itu langsung pergi ke ruang guru BK untuk melapor.
Melihat Darmin pingsan setelah menerima pukulan di kepala, Rangga dan Grace segera berajak dari tempat duduk mereka, lalu berlari menghampiri Darmin yang sudah terkapar tak berdaya.
Sesampainya di situ Rangga mencoba membangunkan Darmin, sementara Grace dan si pemukul Darmin yang ternyata adalah pacar Erlita malah saling adu mulut, dan berujung dengan Grace yang memukul wajah pacarnya Erlita dengan sekuat tenaga hingga membuat hidungnya berdarah. Tak terima dengan apa yang dilakukan oleh Grace, pacarnya Erlita balas memukul Grace hingga menyebabkan bibir Grace berdarah. Situasi di sekitar menjadi riuh setelah Grace dan pacarnya Erlita saling pukul.
Saat pacarnya Erlita hendak memberikan pukulan pada Grace lagi, Erlita dengan cepat menamparnya. Tamparan itu membuat pacarnya Erlita menghentikan gerakannya.
Melihat lawannya terdiam, Grace mengambil kesempatan untuk melayangkan pukulannya lagi dengan sekuat tenaga ke arah wajah pacarnya Erlita, hingga membuatnya terjatuh ke lantai. Grace langsung memanfaatkan kesempatan itu. Dia langsung memegangi kerah seragam OSIS dari pacaranya Grace yang sedang berbaring, kemudian Grace memukuli wajah pacarnya Erlita berulang kali menggunakan tangan kanannya denga sekuat tenaga. Grace benar-benar marah, emosinya tidak terkontrol lagi.
Grace terus memukuli wajah pacarnya Erlita hingga berdarah di beberapa bagian. Sambil berteriak-teriak, Erlita menyuruh Grace untuk berhenti memukuli pacarnya, namun Grace tidak menggubris dan terus memukuli wajah pacarnya Erlita berulang kali. Bahkan ia menghalau tangan Erlita ketika menyentuh punggung Grace.
Grace baru berhenti memukuli ketika guru BK tiba di lokasi dan melerai mereka berdua. Di bantu dengan petugas UKS, Rangga menggotong Darmin yang masih pingsan untuk di bawa ke ruang UKS. Sementara Grace dan pacarnya Erlita di bawa ke ruang BK untuk di mintai keterangan dan mungkin akan mendapat hukuman, atau yang lebih parah lagi, Grace bisa saja di keluarkan dari sekolah.
“Gue baru tahu kalau ternyata lo punya pacar, hehe..” Kata Rangga sembari terus mengetik laporan. Ia sebenarnya bermaksud untuk sarkas tapi malah salah memilih kata-kata.
“...” Erlita terdiam sebentar kemudian melanjutkan. “Dia yang minta, pacar gue enggak suka kalau hubungan kita di umbar-umbar gitu kayak umumnya anak SMA pacaran gitu, dia enggak mau. Wajar aja kalau orang-orang enggak tahu kalau gue udah punya pacar.”
“Trus kenapa lo enggak ngomong ke Darmin kalau lo udah punya pacar?” Tanya Rangga.
“Sebenenya gue udah mau bilang sih, tapi dia malah kena pukul duluan.” Sesal Erlita.
“Maksud gue, jauh sebelum kejadian ini, pas lo baru kenalan sama Darmin, atau pas kalian saling mengirim pesan WhatsApps, kenapa enggak bilang lebih awal?” Tanya Rangga, ia menata ketikan yang salah di microsoft Excel-nya, lalu lanjut berkata, “Coba aja dari awal lo bilang ke Darmin kalo lo udah punya pacar, pasti kejadian di kantin tadi enggak akan terjadi.”
“Dia enggak pernah nanya kok. Ya gue enggak ngomong lah.” Jawab Erlita dengan santai.
Rangga menghentikan pekerjaanya sebentar, lalu menatap ke arah Erlita.
“Iya juga sih.”
Bersambung...