Sebaiknya Begini

1197 Words
Setelah hampir satu setengah jam mengetik laporan kegiatan lari maraton, Rangga akhirnya berhasil menyelesaikan tugasnya. Semua nama-nama yang ada di kertas itu sudah ia salin ke dalam tabel yang sudah di buat oleh seorang senior di OSIS bernama kak Novi, ia mengetiknya dengan rapi. Rangga kemudian merengganggkan tulang belakangnya, menarik kedua lengannya yang mengepal ke atas. “Udah selesai,ngga?” Tanya Erlita, tangannya masih mengetik keyboard laptopnya, sementara ia memandang ke arah Rangga. “Iya, udah selesai.” Rangga menekuk jari-jari dengan kedua tangannya hingga berbunyi. Rangga menyusun rapi kertas-kertas folio yang berantakan di atas meja kerjanya, lalu memberikan lembaran-lembaran itu pada Erlita. “Nih...” Ucap Rangga sembari memberikan kertas-kertas folio berisi daftar nama peserta lari maraton. Erlita menerimanya, lalu memasukkannya ke dalam laci meja. “Lo enggak mau ngeliat hasil kerjaan gue? Lo cek dulu gitu, biar tahu bener salahnya.” Kata Rangga sebelum mematikan laptop. “Enggak perlu kok, gue yakin kerjaan lo pasti udah bener.” Erlita tersenyum, “Selain itu, gue juga agak males, udah capek, jadi ya males hehe...” Jelasnya sedikit malu-malu. Rangga tersenyum. Menurutnya, justru lebih baik kalau pekerjaannya tidak usah di koreksi. Kalau Erlita benar-benar mengoreksi hasil ketikan laporan yang di buat Rangga, dia pasti akan menemukan kesalahan dan menyuruh Rangga untuk memperbaikinya. Itu sama saja dengan menambah pekerjaan, serta akan membuat Rangga lebih lama berada di ruang OSIS yang sudah mulai terasa membosankan ini. Rangga kemudian mematikan laptop yang ada di atas mejanya, lalu beranjak sembari menyandang tas ranselnya, kemudian mulai bersiap untuk keluar dari ruang OSIS. “Lo mau langsung pulang?” Erlita menyempatkan bertanya walaupun terlihat sibuk dengan laptopnya. “Iya, tapi mau ke ruang BK dulu.” “Ngapain ke ruang BK?” Erlita berhenti mengetik dan melihat ke arah Rangga. “Nungguin temen gue, soalnya kita pulangnya bocengan.” Rangga sudah berdiri, ia bersiap menuju ke pintu, namun dia menundanya terlebih dahulu karena Erlita mengajaknya mengobrol. “Cewek yang tadi mukulin pacar gue itu ya?” Tanya Erlita. “Yep. Kita tetanggaan.” Erlita terdiam memikirkan sesuatu. Entah kenapa dia jadi merasa bersalah atas keributan yang terjadi di kantin tadi. Apalagi, Grace tadi sempat mendorongnya dengan kasar ketika ia berusaha melerai. Erlita jadi tak enak hati kalau mengingat kejadian itu, terutama pada Darmin dan Grace. “Mmm...” Erlita ragu untuk bicara lagi. “...?” Rangga terlihat bingung, menunggu apa yang akan di katakan Erlita selanjutnya. “Gue jadi enggak enak hati sama temen-temen lo. Gara-gara gue, mereka jadi kena masalah. Bahkan sampai berantem dan masuk ruang BK.” Sesal Erlita. “Coba aja gue enggak bersikap terlalu baik ke Darmin, dia pasti enggak akan baper dan enggak akan kepikiran nembak gue, keributan di kantin tadi juga pasti enggak akan terjadi.” “Enggak usah ngerasa bersalah gitu, dengan lo memperhatikan Darmin dan menganggapnya sebagai sebagai temen baik, udah cukup bikin Darmin bahagia, soalnya dia beneran suka sama lo.” Kata Rangga. “...” Erlita terdiam, dia sadar akan hal itu. “Lagipula, kejadian tadi itu bisa aja baik buat Darmin walaupun harus kena pukul.” “kenapa lo mikir demikian?” Tanya Erlita. Lalu, setelah berfikir agak lama, Rangga berkata panjang lebar. “kalau tadi di kantin dia enggak punya keberanian untuk menyatakan perasaannya ke lo, mungkin dia akan memendam perasaan itu terlalu lama dan akan terus berkhayal, menganggap lo juga suka sama dia, padahal kenyataannya enggak, lo hanya baik ke dia. Kalau dia terus-terusan nyaman dengan sikap baik yang lo tunjukan ke dia, dia akan terus berkhayal. Suatu hari nanti, pasti dia akan tahu kalau lo udah punya pacar, di saat itu juga perasaan dia ke lo mungkin udah lebih dalam dari yang sekarng, pasti bakal lebih sakit lagi. Dan yang lebih parah, saat angakatan kita lulus, di hari itu, Darmin enggak akan ngeliat lo lagi dan menyesal karena enggak pernah punya keberanian untuk nembak lo.” Erlita hanya diam mendengar ucapan-ucapan Rangga yang lumayan panjang, mungkin ini pertama kalinya dia melihat Rangga bicara dalam durasi yang agak lama. Dia merasa, apa yang di katakan Rangga memang benar adanya, lebih baik begini. “iya, lo bener, ngga.” Erlita tersenyum manis ke arah Rangga. Rangga hanya menatapnya dengan wajah yang terkesan biasa saja. “Ya udah deh, gue cabut dulu ya, udah jam segini.” Rangga melihat ke arah jam dinding, waktu menunjukan pukul setengah lima sore. Mungkin Grace saat ini sudah keluar dari ruang BK dan sudah menunggunya di tempat parkir. “Oke deh, makasih udah mau ikut bantuin OSIS.” Jawab Erlita. “Sama-sama, ternyata capek juga ya, padahal cuman ngetik laporan aja hehe...” Jawab Rangga sembari tertawa kecil. “Lo sendiri gimana, mau pulang jam berapa?” Lanjutnya. “Gue paling nunggu kak Novi balik ke sini dulu, lagian, masih ada kerjaan yang harus gue selesain.” Erlita melihat ke arah jam dinding. “Mungkin bentar lagi kak Novi dateng.” Lanjutnya. Setelah berpamitan, Rangga lantas melangkah menuju ke pintu ruangan itu. “Sekali lagi, gue pergi dulu.” “Silahkan.” Erita mempersilahkan dengan cara yang lebih sopan. Ia tersenyum, lalu sedikit menundukan kepalanya saat mempersilahkan, seakan sedang berbicara dengan orang yang jauh lebih tua darinya. Erlita melakukan itu hanya untuk bercanda. Di depan Ruang OSIS, Rangga merenggangkan tulang belakangnya, merasa bangga dengan dirinya sendiri karena hari ini dia lebih produktif dari biasanya. Suasana di sekolah sudah mulai sepi ketika dia melihat ke sekliling. Sejauh mata memandang, ia tak melihat satu murid pun yang ada di sekitar situ, yang terlihat hanya tukang kebun sekolah yang sedang menutup pintu-pintu ruangan dan dua orang guru yang sedang mengobrol di depan salah satu raung kelas. Sepi. Sambil berjalan melewati jajaran ruang-ruang kelas yang kosong, Rangga mencoba menelpon Darmin. Tiba-tiba saja dia jadi penasaran dengan keadaannya setelah terkena pukulan dari pacarnya Erlita. Jangan-jangan Darmin masih di ruang UKS. Beberapa menit menunggu sambungan teleponnya terhubung dengan Darmin, akhinrya Darmin mengangkat teleponnya. “Halo... gimana keadaan lo, masih hidup, kan?” Tanya Rangga setelah teleponnya diangkat oleh Darmin. “Masih-masih, gue enggak mungkin mati semudah itu.” Jawab Darmin dari sambungan telepon, suaranya terdengar lemas. “Lo masih di UKS apa udah pulang?” Tanya Rangga. “Kalau masih di UKS gue samperin.” Lanjutnya. “Gue udah di rumah kok, tadi gue harus di anter Joni buat pulang ke rumah, pusing banget kepala gue.” Bahkan setelah pingsan dan sadar kembali, kepala Darmin masih terasa pusing. Pasti pacar Erlita bukan Orang sembarangan, dia pasti seorang yang ahli bela diri atau semacamnya. Kemudian, Damin lanjut bicara, “Ngomong-ngomong, Grace gimana? Joni bilang dia tadi sempet adu pukul sama tu cowok.” “Tenang, dia menang. Dia cuman kena pukul sekali, dan pacarnya Erlita kena pukul berulang kali sampe berdarah-darah. Keliatannya sih, tadi pacarnya Erlita udah setengah sadar gitu gara-gara di pukulin Grace, hampir pingsin...” Rangga tertawa, kemudian melanjutkan. “Coba tadi guru BK dateng agak telat dikit, pasti tu cowok udah pingsan.” “Gila’, Grace bahaya juga ternyata.” Darmin ikut tertawa di seberang sana. “Keren kan tertangga gue hehe...” “Iya, tapi saran gue sebaiknya lo lebih hati-hati deh sama Grace, bisa-bisa tulang lo remuk kalo bikin dia kesel, haha...” Kata Darmin, bercanda. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD