Sesampainya Rangga di parkiran sekolah, ternyata Grace sudah tidak ada di sana, hanya ada beberapa kendaraan milik siswa yang masih belum pulang, termasuk miliknya sendiri. Rangga kemudian celingukan, melihat sekeliling, sembari menggaruk-garuk kepalanya. Ternyata Grace masih belum selesai dengan urusannya di ruang BK, atau mungkin dia sudah pulang duluan. Tapi, tidak mungkin kalau dia sudah pulang duluan, hari ini kan orang tuanya tidak bisa mengantarkannya ke sekolah karena harus berangkat kerja lebih pagi dari biasanya. Jadi satu-satunya cara bagi Grace untuk bisa sampai di sekolah adalah dengan membonceng Rangga, kemungkinan besar dia masih ada di sekolah.
“Harusnya gue tadi telpon dia dulu sebelum jalan kesini. Jadi buang-buang tenaga deh.” Keluhnya di depan parkiran.
Dia kemudian mengambil handphone dari saku celananya, lalu menghubungi Grace.
“Haloo...? lo dimana, Grace?” Kata Rangga sesaat setelah Grace mengangkat telponnya.
“Baru aja lo mau gue telpon, malah udah telpon duluan hehe...” Jawab Grace si seberang sana.
“Iya, lo dimana, gue udah ke parkiran duluan ternyata lo enggak ada, masih di ruang BK, ya?” Sambil menelpon, Rangga balik badan, kemudian melangkah kembali masuk ke sekolah.
“Enggak, tapi gue di ruang musik...” Di tempat Grace berada, sepertinya ada beberapa orang yang sibuk bermain alat musik. Terdengar samar-samar suara drum, bass, dan gitar di telinga Rangga.
“Tadi gue rencananya gue mau pulang bareng pacar gue, tapi ternyata dia enggak bisa, karena sibuk.” Lanjut Grace.
“Agung di situ ya?”
“Iya, setelah dapet kabar kalo gue abis berantem, dia langsung dateng...” Grace becakap-cakap dengan seseorang sebentar di seberang sana, lalu lanjut bicara pada Rangga lagi. “Lo kesini ya, tungguin gue selesai latian, kita pulang bareng.” Katanya pada Rangga lagi.
Rangga merasa heran, bisa-bisa nya Grace masih menyempatkan diri untuk latihan band, padahal keadaanya sedang tidak baik-baik saja.
“Lo latian?” Tanya Rangga.
“Iya, hehe... nanggung soalnya, ngga. Kita mau ikut kompetisi band gitu. Kita semua jadi semangat latian. Lo kesini aja, daripada nunggu di parkiran, entar bisa-bisa lo di kasih recehan sama orang-orang lagi, disangka tukang parkir, tampang lo kan udah mendukung banget.” Candanya.
“Sialan lo...” Ujar mengumpat. “Yaudah, gue kesana.” Rangga menutup telpon dan melangkah menuju ke ruang musik.
Awan berwarna biru gelap kemerahan terlukis di atas sana, hawa dingin mulai menerpa tubuh.
Setelah sekitar tujuh menit berjalan kaki, tibalah Rangga di depan pintu masuk ruang musik sekolah. Setelah mengetuk pintu beberapa kali, sebelum di persilahkan masuk dari dalam, Rangga langsung membuka pintunya secara perlahan dan langsung memasuki ruang musik.
Ini pertama kalinya dia masuk ke dalam ruang musik sekolah setelah setahun lebih bersekolah disini. Selama ini, dia lebih sering lewat saja. Sekedar tahu letak ruang musik sekolah, tapi tak pernah datang berkunjung.
Di dalam, ada tiga anak laki-laki berseragam OSIS yang terlihat sedang berdiskusi, mereka duduk di atas lantai beralaskan kain karpet berwarna hijau di dekat drum. Dua di antaranya terlihat membawa alat musik, yang satu membawa gitar dan yang satunya lagi memegan bass sisanya sedang terlihat serius sembari menatap ke arah buku tulis yang ada di hadapan mereka sambil memegangi pensil.
Sementara Grace terlihat sedang duduk lesehan bersandar pada dinding di sisi kiri ruangan, bersebalahan dengan Agung. Tangan keduannya terlihat bergandengan, memegang satu sama lain. Keduannya tampak sedang mengobrol sambil tersenyum satu sama lain, membiarkan empat orang di ruangan itu berdiskusi.
Saat menyadari ke hadiran Rangga di ruang musik, Grace langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk, menatap lega sahabat setengah saudara laki-lakinya itu (habisnya, mereka benar-benar sangat dekat, sudah seperti saudara sendiri walaupun hanya bertetangga sebelahan). Di bagian sisi kiri bibir Grace terlihat memar, bengkak, akibat terkena pukulan saat adu pukul dengan pacarnya Erlita.
“Eh, Rangga, sini, masuk-masuk.” Ucap Grace sembari tersenyum.
Agung kemudian mengikuti arah pandangan Grace, ikut melihat ke arah Rangga.
Kemudian tiga teman Grace yang sedang berdiskusi di dekat drum juga melihat ke arah Rangga.
“Silahkan masuk, bro, santai aja...”
“Temen sekelas Grace, ya?”
“Jangan sungkan-sungkan, ya!”
Kata mereka bertiga secara bergantian, dengan cara bicara yang ramah. Sepertinya, anggota ekstrakulikuler musik orangnya baik-baik. Padahal, Rangga sempat berfikir kalau anak band identik dengn kenakalan dan kesombongannya.
Rangga tersenyum, merasa tidak canggung walaupun baru pertama kali masuk ke ruang musik dan baru melihat mereka bertiga.
Ruang musik terasa lebih sejuk dari ruang OSIS yang tadi Rangga kunjungi. Di sini terdapat sebuah AC yang menempal di sudut atas ruangan. Ruangannya juga tidak terlalu luas, tetapi sudah cukup nyaman untuk sebuah ruang musik. Terdapat macam-macam alat musik di dalam ruangan seperti, gitar listrik, drum, bass, keyboard, dan sound system yang biasa di gunakan oleh sebuah band pada umumnya. Walaupun tak begitu banyak peratan musik, setidaknya alat-alat yang tersedia bisa digunakan latihan untuk sebuah band.
Ruangannya di cat dengan warna hijau, di beberapa bagian sebelah kiri pintu, tertempel foto-foto pahlawan dan di sisi lain, ada foto presiden dan wakilnya, di tengah-tengahnya ada gambar lambang negara Indonesia, di dekatnya ada sebuah jam dinding yang sudah tidak berfungsi. Sangat sederhana, bersih, rapi dan sejuk.
Rangga melangkah menghampiri Grace dan Agung, kemudian duduk lesehan di sebelah Grace dan bersandar di dinding sambil melihat-lihat isi ruangan. Kini Grace duduk tengah-tengah Agung dan Rangga.
“Ngomong-ngomong, makasih ya, ngga, lo udah gantiin gue ngerjain laporan lari marathon.” Agung melihat ke arah Rangga sambil berkata demikian.
“Santai aja, gue lagi enggak ada kerjaan soalnya, justru gue yang makasih karena udah di kasih kerjaan sama OSIS.” Jawab Rangga.
“Haha...” Agung tertawa pelan. “Gimana tadi orang-orang di OSIS, lo enggak ngerasa canggung, kan?” Setelah tawanya berhenti, Agung lanjut bertanya.
“Enggak kok, lagian tadi cuman ada Erlita di dalem situ, jadi gue ngerjain laporan cuman berdua aja. Gue juga udah kenal Erlita, jadi ya enggak canggung ataupun malu-malu, biasa aja.” Rangga meluruskan kedua kakinya, ia bersandar lebih nyaman.
Mendengar nama Erlita membuat dahi Grace membentuk lipatan, dan alisnya naik. Ia menatap sinis Rangga dan berkata, “Jadi dia juga anggota OSIS,ya?”
Ia kemudian mengalihakan pandangannya, dari Rangga ke arah Agung.
Agung bingung dengan tatapan pacarnya itu, “Apa?” Katanya.
“Pantesan kamu betah di ruang OSIS.” Agung menatap Grace dengan datar.
Lalu Grace kembali melihat ke arah Rangga, “Lo juga!”
“Apaan?” Kata Rangga pada Grace.
“Tiba-tiba mau bantuin OSIS ngerjain laporan karena ada Erlita, kan?” Grace cemberut, merasa kesal dengan pacar dan sahabatnya.
Rangga tersenyum sombong, sembari melipat kedua tangannya di dda, kemudian berkata. “Kalau gue jawab ‘Iya’ itu wajar dan enggak ada masalah bagi gue. Tapi, kalau Agung, lain lagi ceritanya.” Candanya.
Grace kembali menatap Agung.
“Enggak lah, aku betah di ruang OSIS karena emang banyak yang harus di kerjain...” Jawab Agung, dia menatap Grace yang cembertu dengan senyuman. “Emang sih, Erlita cantik...”
“Ugh..!!!” Agung belum selesai dengan perkataannya, tapi Grace terlihat seakan ingin menyerang.
Dengan ekspresi wajah takut-takut, Agung melanjutkan kalimatnya, “Tapi, masih cantikan kamu kok...”
Kalimat sederhana itu sudah mampu merubah ekspresi di wajah Grace yang cemberut menjadi sebuah senyuman. Agung dan Grace tersenyum satu sama lain.
Tak lama kemudian, seorang cewek berseragam OSIS datang memasuki ruang musik sambil membawa tiga lembar pamflet yang dia ambil dari mading sekolah. Cewek yang baru datang itu kemudian bergambung dengan tiga anak laki-laki yang sedang berdiskusi di dekat drum.
Karena harus mendiskusikan sesuatu, Grace beranjak, bergabung dengan teman-teman band-nya, meninggalkan Rangga dan Agung.
“Gimana tadi, dia?” Tanya Agung, dia bertanya soal pertengkaran Grace di kantin.
Rangga yang sudah paham arah obrolan Agung berkata tingkat, “Brutal.”
“Dia kena pukul berapa kali?” Agung bertanya lagi.
“Yang gue lihat sih cuman sekali.” Jawab Rangga sambil menatap Grace yang kini sudah sibuk dengan anggota band-nya. “Tapi, walaupun sekali, kayaknya itu sakit banget deh.” Jelas Rangga.
“Tapi dia keliatan biasa aja gitu, ya?” Kata Agung.
Rangga menatap ke arah Agung, “Keren, kan?” Kata Rangga, merasa bangga dengan tetangganya yang jago berantem.
“Saran gue, lo sebaiknya lebih ati-ati deh, jangan bikin dia kesel, bayangin kalo lo selingkuh dan dia tahu, pasti ngeri.” Kata Rangga lagi, mencoba menakut-nakuti Agung untuk sekedar bercanda.
“Haha..., iya sih, pasti tulang gue bisa patah kalau ketahuan selingkuh.” Jawab Agung sembari tertawa lemah.
Sebenarnya Rangga berkata seperti ini bukan cuman sekedar untuk melempar candaan saja, tapi ia juga sedikit menyindir Agung yang ia duga selingkuh dari Grace. Itu karena ia mendengar gosip di kantin tadi siang.
Agung melihat ke arah jam tangannya, dan merasa bahwa dirinya harus segera pulang karena sibuk dengan urusannya. Ia berpamitan dengan orang-orang yang ada di dalam ruang musik termasuk pada Grace. Karena mereka berdua terlihat mesra, semua orang di dalam ruangan serempak berkata “Ciee~” membuat Grace malu-malu.
Sementara itu Grace dan anggota band-nya lanjut berdiskusi perihal acara musik yang akan mereka ikuti. Ternyata pamflet yang di bawa oleh anggota yang baru datang tadi adalah dua buah pamflet tentang acara musik yang akan di adakan di kota ini, dengan kompetisi yang berbeda-beda.
“Yang ini, event-nya nanti pas malam tahun baru, semua peserta lomba harus berupa band dan enggak harus bawain lagu sendiri pas tampil, bawain lagu orang juga boleh kok, tapi kalo bisa bawain lagu ciptaan sendiri pas tampil, akan dapet nilai tambahan dari juri.” Cewek pembawa pamflet itu menjelaskan dengan baik, seakan dia adalah ketua anggota ekstrakulikuler musik.
Setelah berfikir sejenak kemudian dia melanjutkan, “Nah, kalau yang ini, event-nya tanggal 24 Desember nanti, malem juga. Peserta boleh individu atau kelompok.” Ia menatap teman-temannya, kemudian bertanya. “Gimana, kalian mau pilih ikut yang mana?”
Setelah di tanya, katiga orang anggota band-termasuk Grace terlihat berfikir serius untuk menentukan pilihan.
“Gimana Grace, menurut lo, enaknya ikut yang mana? Kalau gue sih milih yang tanggal 24 Desember.” Kata salah satu anak laki-laki.
Grace memegangi dagunya, berfikir serius.
“Kalau tanggal 24 Desember, gue udah pasti enggak bisa, karena malem natal, gue sekeluarga kayaknya bakal ke gereja...” Ungkap Grace.
“Jadi?” Cewek pembawa pamflet matap Grace dalam-dalam.
“Jadi, udah pasti gue milih yang acaranya pas malem tahun baru.”
Semua menyetujui pendapat Grace dengan cepat. Selain karena malam natal, jarak berlangsungnya acara juga lebih lama, sekitar satu bulan lagi, jadi mereka bisa lebih lama mempersiapkan diri, latihan lebih lama agar bisa menampilkan yang terbaik.
“Oke semua setuju ya, kita ngambil yang acara malam tahun baru.” Kata anak laki-laki yang duduk di sebelah Grace, menyimpulkan. Semua anggota mengangguk menyetujui, kemudian ia lanjut bertanya. “Jadi, kita mau bawain lagu siapa?”
Mendengar pertanyaan itu, Grace menjawab dengan bersemangat, “Kita bikin lagu sendiri aja!”
“Lo yakin Grace?” Tanya cewek pembawa pamflet.
Kemudian anak laki-laki yang duduk di sebelah Grace bicara lagi, “Emang sih, gue sama Grace udah nyoba bikin lagu sendiri, tapi liriknya masih belum utuh, masih perlu tambahan.”
“Oh, gitu ya?” Kata cewek pembawa pamflet lagi.
“Iya, tapi gue enggak yakin bakal selesai. Belum lagi, Grace kan di skors satu bulan” Kata anak laki-laki itu lagi.
Grace terlihat tersenyum tenang. Dia sudah punya solusi di kepalanya. Ia memiliki suatu rencana agar dia semuanya berjalan lancar.
“Tenang, kita punya dia...” Grace kemudian menatap dengan penuh harap ke arah Rangga yang terlihat sudah tertidur dengan amat nyaman, masih di tempatnya yang tadi. Sepertinya Rangga terlalu nyaman dengan ruang musik yang sejuk.
Semua anggota band kemudian mengikuti arah pndangan Grace, semua melihat ke arah Rangga.
“Lo yakin Grace?” Tanya cewek pembawa pamflet.
Bersambung...