Ketemu Pacarnya Erlita

1265 Words
Pukul delapan pagi, di hari minggu. Rangga sedang duduk sendirian di sebuah kafe tempat dimana dia dan Grace biasa nongkrong. Sebut saja nama kafe tersebut adalah Mabokkafe. Karena masih lumayan pagi, pengunjung di Mabokkafe belum begitu banyak, hanya ada sekitar enam sampai tujuh orang saja, termasuk Rangga. Alunan lagu kelasik tahun 90an memenuhi ruangan kafe itu, menimbulkan rasa nyaman, membuat siapapun yang terlanjur duduk di dalam kafe, enggan beranjak pergi. Di atas mejanya sudah ada laptop yang dibiarkan menyala, menampilkan sebuah naskah novel yang belum selesai. Di samping kanan laptop tersebut, secangkir kopi hitam dengan sedikit gula sudah tersedia dalam keadaan masih hangat, menunggu untuk diminum. Kopi itu makin nikmat karena di temani sepiring kecil kue brownies yang manis, Rangga memang sering memesan kedua menu itu ketika sedang berkunjung sendiri ke mabokkafe.     Hari ini ,Rangga sengaja memaksakan dirinya untuk melakukan sesuatu yang produktif di pagi hari. Tadi, sekitar jam lima pagi, Rangga sudah bangun dan mengerjakan naskah novelnya sedikt demi sedikit. Dalam keadaan menahan rasa kantuk yang luar biasa, Rangga berusaha untuk mengetikkan kata demi kata di lembar Microsoft Word-nya. Seringkali ia rebahan setelah mengetik satu paragraf, kadang baru mengetik beberapa kata saja dia sudah membaringkan badannya di atas kasur, kemudian lanjut menulis lagi dan akan rebahan lagi setelah selesai mengetik satu paragraf. Bisa dibilang, dia lebih banyak rebahannya ketimbang menulis. Sampai pada akhinya dia kehabisan ide, melamun dalam waktu yang cukup lama. Rangga pun kemudian merasa kalau dirinya memerlukan suasana yang baru untuk menulis, suasana yang memungkinkannya untuk bisa lebih mudah mendapatkan inspirasi. Atas dasar itulah, dia lalu bergegas mandi dan segera pergi ke kafe langganannya, berharap ide akan hinggap di kepalannya saat menulis di sana, di tempat yang berbeda. Tapi ketika sampai di tempat tujuannya, dia malah hanyut terbawa suasana yang terlalu nyaman. Adanya sambungan wifi gratis membuat perhatiannya teralihkan. Bukannya produktif menulis sambil menikmati kopi seperti penulis sungguhan, Rangga malah saat ini terlihat sibuk menjelajah i********:, membiarkan naskah novel di laptopnya begitu saja. Sambil asik menggeser-geser layar handphone-nya, Rangga sesekali memakan brownis-nya satu-dua gigitan sembari menyeruput kopi hangat. Ia menikmati dengan hikmat lagu kelasik yang di putar di kafe. Kadang ia ikut bersenandung pelan jika ada lagu yang tak asing di telinganya. Rangga benar-benar bersantai pagi ini, padahal seharusnya dia lebih produktif mengerjakan naskah novelnya. Dia terlalu asik dengan sambungan wifi yang tersedia di kafe, hingga tak terasa waktu sudah berlalu cukup lama. Layar handphone Rangga menampilkan tampilan profil akun i********: milik seorang laki-laki dengan nama akun @Andre_bayu. Akun i********: tersebut merupakan akun i********: milik pacarnya Erlita, yang akhirnya berhasil dia temukan. Setelah peristiwa pemukulan Darmin di kantin sekolah lima hari yang lalu, Erlita jadi sering mengunggah foto bersama pacarnya di i********: agar orang tak ada orang yang salah sangka lagi dengan menganggap Erlita tak punya pacar sekaligus menghindari kejadian serupa. Erlita sebelumnya juga tak punya niat untuk mengumbar kemesraan dengan pacarnya di sosial media, namun berkat saran dari Rangga dua hari yang lalu, dia jadi segan melakukannya. Dua hari yang lalu, Erlita sempat menelpon Rangga untuk mengobrol biasa. Perlahan, arah obrolan mereka mengarah ke topik tentang pacarnya Erlita, itu pun karena Rangga bertanya tentang itu, kalaupun mungkin Rangga tidak penasaaran, Erlita tak akan membahas tentang percintaannya. Rangga bisa mengetahui nama akun i********: milik pacarnya Erlita karena Erlita menyematkan tag pada foto unggahan di Instastory miliknya. Ketika dia menyentuh tanda tag bertuliskan Andre_bayu pada foto itu, Rangga langsung di arahkan menuju ke tampilan profil i********: milik @Andre_bayu dan bisa dengan bebas mengintip akun yang tidak bersifat privasi itu. Diantara foto-foto koleksi milik akun i********: Andre_bayu, ada foto yang memiliki tulisan di bawah gambar seperti ini, “Ketika ada orang songong yang enggak jauh ganteng dari lo nembak pacar lo, gue saranin pukul aja!” Seakan menyindir Darmin dan menganggap dia lebih tampan dari Darmin, padahal memang iya. Di dalam foto yang di unggah dua hari yang lalu itu, Andre berpose menghadap samping mengenakan jas hitam dan kemeja putih lengkap dengan dasi warna merah tergantung di lehernya seperti dandanan bos dari sebuah perusahaan. Kalau di lihat-lihat dari koleksi foto-fotonya, sepertinya Andre adalah anak orang kaya yang penuh gaya. Dia sering berfoto dengan latar belakang rumah bagus, mobil mewah, berpose di kolam renang, jalan-jalan ke tampat-tempat mahal, ke restoran mahal dan kegiatan orang kaya lainnya. Selain itu, Andre juga punya wajah yang tampan, benar-benar pacar idaman cewek-cewek. Selang beberapa lama kemudian, tak di duga-duga, si pemilik akun i********: yang sedang asik di lihat-lihat oleh Rangga pun datang ke mabokkafe bersama tiga orang temannya. Setelah melihat-lihat ke segala penjuru ruangan mabokkafe, Andre dan ketiga orang temannya memilih untuk duduk di bangku yang letaknya ada di dekat pintu keluar-masuk, sebelah jendela. Rangga masih sibuk melihat-lihat isi i********: milik Andre tak menyadari kalau si pemilik akun i********: tersebut sedang berada dalam satu ruangan dengannya, Andre benar-benar populer, pengikut i********:-nya saja mencapai dua belas ribu pengikut. Kali ini Rangga sedang asik melihat-lihat komentar-komentar yang di tulis orang-orang pada foto unggahan Andre yang caption-nya menyindir Damin itu. Beragam komentar di tulis oleh netizen para netizen, ada yang memuji, ada yang menghina karena iri, ada juga yang menggodanya. Kebanyakan dari mereka yang menggoda lewat komentar adalah perempuan.Dari sekian banyak akun-akun i********: yang turut berkomentar di foto unggahan Andre itu, Erlita adalah salah satunya. Pemilik akun i********: @Erlita_19 itu hanya memberikan emotikon hati pada komentarnya. Setelah mengobrol santai dengan teman-temannya di tempat duduk yang tersedia di dekat jendela, Andre kemudian beranjak untuk memesan menu. Ia berjalan menuju ke tempat barista berada. Rangga yang masih asik dengan kegiatan sosial media-nya, kemudian sedikit terkejut ketika menyadari kehadiran Andre di kafe ini. Ia buru-buru mundukan kepalanya, menyembunyikan wajahnya di balik layar laptop yang masih terbuka ketika melihat Andre yang sedang berjalan menuju ke arahnya, ia merasa sangat canggung. Rangga semakin menundukan kepala saat Andre melintas tepat di sampingnya, kemudian menengok ke belakang dengan sangat hati-hati, mengamati Andre yang sedang berdiri di depan meja barista. Sesekali ia melihat foto Andre di i********:, kemudian melihat ke arah Andre lagi yang saat ini ada di tempat barista, untuk membandingkanya. Ternyata itu memang benar Andre, pacarnya Erlita, dan dia ada di mabokkafe. Selesai memesan menu, Andre berjalan kembali menuju ke tempat duduknya. Rangga yang dari tadi mengamati Andre jadi tahu dimana tempat duduk pacar Erlita tersebut. Mengetahui tempat duduk Andre yang ada di dekat pintu keluar-masuk membuatnya bingung. Nanti saat Rangga hendak keluar dari kafe dengan posisi Andre yang masih di situ, pasti akan menimbulkan rasa canggung yang luar biasa. Atau mungkin kalau seandainya dia kurang beruntung, biasa saja Rangga di keroyok dengan tiga orang temannya itu untuk membalaskan dendamnya pada Grace. Tiba-tiba saja Rangga ingin buang air kecil, dia terlalu gugup ketika melihat Andre. Rangga kemudian berdiri dan melangkah menghampiri si barista yang terlihat sibuk sedang menyiapkan kopi pesanan Andre. “Bang, gue ijin ke toilet ya, tolong jagain laptop.” Kata Rangga ketika sampai di depat meja barist. Sambil terus membuat racikan kopi, si barista menyempatkan diri untuk menjawab. “Iya, tinggal aja di situ, gue awasin.” “Makasih bang!” Rangga lanjut berjalan menuju toilet. Sambil buang air, Rangga memikirkan cara bagaimana caranaya supaya saat keluar dari kafe nanti dia tak akan bertatap muka dengan Andre. Ia sempat berfikir akan merangkak melewati kolong meja yang ada di seberang tempat duduk, merangkak secara diam-diam. Tapi kemudian Rangga sadar kalau itu adalah ide yang bodoh. Selesai dengan urusannya di toilet, Rangga merasa lega. Ia tersenyum, kemudian membuka pintu toilet. Tepat ketika pintu toilet terbuka sepenuhnya, sosok Andre sudah berdiri tegak tepat di hadapan Rangga. Karena tinggi mereka hampir sama, mata Rangga dan Andre pun sejajar, menatap satu sama lain. Bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD