Pisang Goreng

2387 Words
 “Kenapa bisa ada pohon tumbang di dalem rumah?!!” Kata Grace dengan nada tinggi, sambil menatap bingung ke arah pohon cemara yang tergeletak di ruang keluarga “Bukan pohon tumbang, tapi ayah tadi yang bawa.” Jawab ayahnya Grace dengan santai, sembari asik bermain PS dengan Rangga. “Pohon sebesar itu mau buat apa? Mau bikin pager ya?” Ibunya Rangga bertanya dari dapur, ia berdiri bersebelahan dengan Grace “Bukan...” “Trus buat apa, yah?” Grace bertanya lagi. “Buat di jadiin pohon natal, ibumu kemaren minta dibikinin pohon natal dari pohon asli.” Tanpa melihat ke arah Grace dan terus fokus pada pertandingan game bola, ayahnya Grace menjawab. “Ya enggak sebesar ini juga kali, yah.” Grace sedikit kesal. “Lagian pohon sebesar ini mana bisa di taruh di sudut ruangan?” “....” Ayahnya Grace yang sibuk dengan permainannya, tak menjawab pertanyaan dari anaknya. “Yah... enggak gol, padahal kurang ke kiri dikit!” Ucap ayahnya Grace, dia hampir mencetak gol di dalam game. “Tidak semudah itu om, hehe...” Sahut Rangga dengan senyum yang terkesan merendahkan lawannya. Melihat kearah pohon cemara yang tergeletak di ruang keluarga seketika membuat Grace ingat dengan buku catatannya yang masih ada di lantai, di sekitar situ. Sambil memasang ekspresi wajah kesal, Grace segera berjalan dengan langkah kaki yang cepat menuju ke belakang sofa, tempat dimana ia tadi tengkurap sambil menulis lirik lagu. Grace menyibak dedaunan dari pohon cemara itu untuk menemukan bukunya yang menurutnya masih tertimbun di situ. Rangga dan ayahnya Grace tiba-tiba terdiam, mereka menengok kebelakang memperhatikan Grace yang mencari bukunya. “Dia nyari apa?” bisik ayahnya Grace pada Rangga. “Nanti om juga tahu, yang jelas dia bakal marah banget om” Rangga juga sambil berbisik saat menjawab. Sementara Grace yang terus menyibak-nyibak dedaunan dari pohon cemara di blakang sofa, akhinrya berhasil menemukan buku catatannya. Sebelum pergi menuju ke rumah Rangga tadi, Grace lupa tidak menutup buku catatanya dan di biarkan terbuka begitu saja. Akibatnya, sebuah jejak bebentuk sepatu pantofel terlihat jelas di atas lemabaran kertas yang berisi lirik yang tadi sudah ia tulis. Wajah kesal Grace kini terlukis makin jelas, ia manatap ke arah tulisan lirik karangannya yang tertimpa jejak sepatu pantofel itu untuk beberapa detik, lalu menoleh ke arah ayahnya yang sedang sibuk bermain PS dengan Rangga, kemudian melihat ke arah jejak sepatu pantofel yang ada di lembar lirik tulisannya lagi. Ia sudah tahu kalau si pemilik jejak sepatu pantofel itu adalah ayahnya. Di rumah ini tak ada orang lain yang memiliki sepatu pantofel dengan ukuran sebesar itu kecuali ayahnya. “Ayah!!!” Ayahnya Grace terlihat panik setelah mendengar teriakan putrinya yang berada tepat di belakang sofa, membelakangi dirinya dan Rangga. Ia lalu menoleh dengan sangat hati-hati. “Kenapa Grace?” “INI PASTI SEPATU AYAH KAN?” Grace berbicara dengan nada tinggi. Ayahnya Grace menelan ludah, tak tahu harus bilang apa. “IH... KESEL AKU SAMA AYAH, INI KAN LIRIK KARANGAN AKU SAMA RANGGA, KENAPA DIINJEK @#$%^&*!@#$%!!” Grace marah-marah pada ayahnya. Tentu saja kemarahannya bukanlah kemarahan yang serius, hanya sekedar mengeluarkan uneg-unegnya saja. Ayanya Grace yang kena marah hanya mendengarkan ocehan putrinya yang berlangsung cukup lama, sambil minta maaf. Sesekali Grace memukul lemah punggung ayahnya dengan telapak tangan sambil terus mengoceh tentang jejak sepatu pantofel yang ada di atas lembar lirik karangannya. “Nah, di sebelah situ enak, Grace. Coba ke atas dikit.” Ayahnya Grace seakan sedang di pijiti oleh Grace. “IH, AKU ENGGAK LAGI MIJETIN AYAH YA, TAPI LAGI MARAH!!” Grace memukul ayahnya sedikit lebih keras setelah mengatakan itu. “Aduh...!” Kata ayahnya Grace sembari tersenyum. “Maaf...maaf ayah tadi enggak sengaja, nanti ayah ganti deh buku nya sama yang baru. Grace terus memukul pelan punggung ayahnya. Sebenarnya Grace sangat kesal karena ayahnya menginjak buku catatan tersebut. Tapi disisi lain, ia juga tak bisa marah pada ayahnya. Ia bisa memaklumi kecerobohan sang ayah karena hal seperti itu sudah biasa terjadi. Membawa pohon cemara yang lumayan besar, serta menginjak buku catatannya, bukanlah hal yang seberapa. “Grace...hey...Grace...” Ibunya Rangga memanggil Grace berulang kali, mencoba mengambil perhatiannya. “....” Grace yang sadar namanya di panggil berulang kali oleh ibunya Rangga pun kemudian berhenti marah dan menoleh ke arah dapur. “Daripada kamu marah-marah, mending buruan sini bantuin tante.” Grace melihat sekeliling, ia baru menyadari kalau ibunya tak ada di ruangan itu. “Ngomong-ngomong, ibu kemana ya?” Tanyanya entah pada siapa. “Ke supernarket, katanya sih mau beli bahan-bahan yang masih kurang.” Rangga menjawab sambil fokus bermain PS. Grace berjalan menuju ke arah dapur, menghampiri ibunya Rangga yang sudah mulai sibuk menganalisa bahan-bahan yang ada pada adonan di dalam baskom. Menurut pengamatan ibunya Rangga, adonan yang ada di meja dapur itu aromanya hampir sama dengan aroma bolu yang di buat oleh ibunya Grace beberapa hari yang lalu, walaupun tidak di ketahui dengan pasti makanan apa yang akan di buat oleh ibunya Grace kali ini, mereka semua tetap khawatir, mereka tidak mau mencicipi roti bolu mengerikan buatan ibunya Grace untuk yang kesekian kalinya. Ibunya Rangga tanpa ragu-ragu membuang adonan yang ada di dalam baskom tersebut di belakang rumah, lalu mencuci bersih baskomnya dan bersiap-siap membuat adonan yang baru. Grace dengan cepat bergerak mengambil bahan-bahan yang di perlukan setelah menerima perintah dari ibunya Rangga mulai dari…,…,….,….,….,….., (resep untuk membuat roti bolu). Mereka bergerak cepat, memanfaatkan waktu sebelum ibunya Grace Kembali dari supermarket. Ibunya Rangga lumayan cekatan saat membuat adonan, ia tak perlu melihat resepnya dari internet seperti yang dilakukan ibunya Grace, dia sudah mengingatnya dengan jelas di dalam kepala. Seperti yang sudah di singgung oleh Grace dan Rangga sebelumnya, Ibunya Rangga memang sangat pandai memasak, menu apapun yang dibuat oleh ibunya Rangga pasti hasilnya sangat enak, seperti buatan chef professional. Waktu muda, ibunya Rangga sudah jago memasak, dia aktif mengikuti perlombaan memasak saat masih berada di SMA maupun saat kuliah. Bahkan, dia juga sudah jadi langganan juara satu lomba masa antar RT di daerahnya saat acara lomba hari kemerdekaan. Jadi tak heran kalau Grace, Rangga dan ayahnya Grace sangat percaya kalau ibunya Rangga pasti bisa mengatasi masalah ini. Grace dan ibunya Rangga sama-sama melipat kedua lengannya di d**a, mengamati semua bahan-bahan yang sudah terkumpul di atas meja. “Ini udah semua tante?” Tanya Grace. “Iya, udah semua, tinggal mulai bikin adonannya, harus gerak cepat nih, keburu ibumu dateng, nanti kalau ketahuan bisa kacau.” Ibunya Rangga bergegas mengambil tindakkan setelah mengatakan itu. “Aku bantuin ya…” Grace menawarkan diri. “Enggak usah, tante bisa sendiri kok. “ Jawab ibunnya Rangga sembari memasukan tepung ke dalam baskom. “Mending kamu coba telepon ibu kamu, lagi ada di mana, buat jaga-jaga. Takutnya malau udah otw pulang kan repot, harus super cepat tante bikinnya.” Perintahnya pada Grace. “Oke deh.” Grace segera mengambil Handphone dari kantong celana, lalu menelpon ibunya. Beberapa kali menelpon, tak ada respon dari seberang sana, sambungan telepon dari Grace tidak di angkat. Ibunya Rangga mendengar suara nada dering samar-samar di telingannya, suaranya ada di sekitar situ. Ia menghentikan kegiatannya dan mulai mencari sumbar suara. Ia kemudian membuka salah satu laci meja untuk memeriksa, karena di duga suaranya berasal dari situ. “Grace. HP ibumu enggak di bawa.” Kata Ibunya Rangga sambi menunjukan handphone milik ibunya Grace yang ia temukan di laci. Grace yang masih menelpon kemudian berhenti, apa yang ia lakukan sia-sia. Tanpa membuang waktu, ibunya Rangga lanjut membuat adonan, tanganya bergerak cepat seperti seorang chef professional yang ada di dalam televisi. Grace hanya bisa terdiam melihat keahlian ibunya Rangga saat membuat adonan, ia memperhatikan dengan mata berbinar-binar. “Keren~” Ucap Grace sambil memandangi ibunya Rangga, matanya tidak berkedip sama sekali menyaksikan yang ada di hadapannya. Bahkan ayahnya Grace dan Rangga yang sedang asik bermain PS pun sampai berhenti untuk menyaksikan kehebatan ibunya Rangga saat membuat adonan. “Keren~” “Keren~” Dari sofa, Rangga dan ayahnya Grace terkagum-kagum sambil menatap ibunya Rangga yang sedang membuat adonan. Ibunya Rangga mengayak tepung terigu, gula halus, garam, dan vanili. Kemudian ia menyisihkan putih telur hingga berbusa, lalu ia memasukan air jeruk nipis dn sisa gula halus tersebut sedikit demi sedikit sembari terus mengocok sampai kaku. Ibunya Rangga lanjut memasukan campuran tepung, lantas mengaduknya sampai rata. Ibunya Rangga membuat adonan di dalam tepung dengan cekatan, ia sudah menghafal resepnya di luar kepala, seakan tangan-tangannya bergerak secara otomatis. “Taraa~ udah jadiii…”Ibunya Rangga meletakan peralatan memasak yang ia gunakan di atas meja. Setelah sepuluh menit lebih, proses pembuatan adonan kue bolu yang dilakukan oleh ibunya Rangga pun selesai. Semua orang yang ada di ruangan itu, bertepuk tangan mengagumi kehebatan Chef tetangga sebelah itu, bahkan ibunya Rangga pun ikut bertepuk tangan untuk dirinya sendiri. Pertunjukan selesai, Rangga dan ayahnya Grace melanjutkan permainan mereka lagi. Melihat kearah layer televisi, keduanya bingung saat melihat tampilan statistik skor di situ. Angka di papan skor menunjukan angka 0-1 dan di menangkan oleh tim Manchester United, tim yang di pakai oleh ayahnya Grace. “…..” keduanya terdiam dan menatap satu sama lain. “Om kenapa tadi enggak di pause dulu sih?” Kata Rangga. “Jadi kalah kan tim ku.” Lanjutnya. “Kamu juga kenapa enggak mencet pause pas liat ibumu bikin adonan?” Tanya ayahnya Rangga. “…” “…” Keduannya terdiam lagi. Saking mengagumkannya aksi dari ibunya Rangga saat membuat adonan, sampai-sampai Rangga dan ayahnya Grace jadi terbawa suasana. Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu, sumbernya dari pintu samping yang ada di dapur. Tok.. tok… tok… Kemudian di susul dengan suara ibunya Grace yang meminta tolong kepada Rangga untuk di bukakakan pintu samping. Ia mengira kalau Rangga masih sendirian di dalam rumah. “Rangga… tolong bukain pintu samping, nak. Tante mau masuk.” Kata ibunya Grace dari balik pintu samping. Grace dan Ibunya Rangga saling memandang. “Ibu udah datengg!!” Kata Grace setengah berbisik. Lalu melanjutkan dengan suara yang agak keras. “Buka, aja buk!! Enggak dikunci kok pintunya!!” “Enggak bisa, Grace. Ini ibu lagi bawa belanjaan, tangan ibu dua-duanya kepake.” Sahut ibunya Grace yang berada di luar. Sepertinya, ia tadi menggunakan kepalanya untuk mengetuk pintu. Ibunya Rangga memasang ekspresi bingung, kemudian berjalan kearah pintu samping untuk membukanya. Pintu di buka, terlihat ibunya Grace sedang membawa dua plastik berukuran besar yang penuh dengan barang-barang belanjaan. “Oh, ada kamu jeng, udah lama?” Kata ibunya Grace setelah melihat ibunya Rangga, lalu masuk ke dalam rumah. Ibunya Rangga menatap ke arah dua plastic besar yang sedang di jinjing oleh sahabat baiknya itu. “Baru dateng kok hehe…” Jawab ibunya Rangga. Grace dan ibunya Rangga kemudian menatap satu sama lain, seakan keduanya merasa berhasil dalam menjalankan rencana. Ibunya Grace berjalan kedalam dapur dengan sedikit kerepotan, lalu ia meletakan kedua kantung pelastik bawaannya di atas meja, lalu mengusap kening sambil menghela nafas. Ibunya Grace kemudian mengambil minum di kulkas. Selesai minum, ia berkata. “Huff… capek banget” “Ibuk emang dari mana aja? Perasaan supermarket enggak jauh-jauh amat deh.” Kata Grace. “Ibu… tadi nyari pisang buat bahan, ibu lagi bikin sesuatu. Susah… banget nyarinya, semua toko buah… huft… pada tutup, nyari parkiran mobil tadi juga lumayan susah, rame banget.” Ibunya Grace bicara sambil terengah-engah, kelelahan. Maklum saja kalau semua toko ramai, ini sudah bulan desember, diskon natal pasti sudah mulai bertebaran di mana-mana. Mungkin tadi ibunya Grace juga sempat berlarian atau berdesak-desakan saat belanja, makanya dia terlihat kelelahan. “Ya ampunn!!! Kenapa bisa ada pohon tumbang di dalem rumah?!!” kata ibunya Grace setelah tiba-tiba menyadari ada sebuah pohon cemara dengan ukuran yang lumayan besar di tengah ruang keluarga, ia setengah berteriak. Perkataannya hampir sama dengan apa yang di ucapkan Grace beberapa saat yang lalu. “Bukan pohon tumbang buk, ayah yang bawa.” Kata Grace dengan ekspresi datar. “Sayang!? Kenapa bawa pohon cemara sebesar itu ke dalem rumah?!!” Ibunya Grace sedikit membentak suaminya yang sedang asik bermain PS. Ayahnya Grace menoleh. “Ya, kan kamu kemaren yang minta buat pohon natal pake pohon asli, biar natural.” Ayahnya Grace tersenyum manis kearah istrinya saat mengatakan itu. “Ya enggak sebesar itu juga kali, pohon sebesar itu mana muat di taruh di pojokan.” Kata Ibunya Grace. “Kan bisa di potong, ukurannya di pas-in sama ruangannya, gimana? Bagus kan ideku?” Ayahnya Grace mencoba memberi solusi. “Kalau dipotong nanti jelek!!” Bantah ibunya Grace. Kemudian lanjut memberi perintah. “Bawa keluar sana pohonnya!!” “Entar aja, ya aku lag…” “SEKARANG!!” Potong ibunya Grace sebelum suaminya selesai bicara. Segera setelah di perintah, ayahnya Grace terdiam dan langusng berjalan ke belakang sofa. Ayahnya Grace kemudian menyeret pohon cemara itu dengan perlahan, lalu berhenti karena kelelahan. “Rangga, bantuin om angkat pohon ini!” Rangga menghela nafas, kemudian beranjak dari tempat duduk untuk membantu ayahnya Grace menggotong pohon menuju ke luar. Keduanya terlihat tergopoh-gopoh saat menggotong pohon cemara itu. Ketika tiba di koridor yang mengarah ke ruang tamu dan pintu depan, Ayahnya Grace berhenti melangkah, ia memasang wajah serius, seakan baru saja mengingat sesuatu yang sangat penting. “Kenapa berhenti om?” Tanya Rangga. “Tadi, udah di pause belum PS-nya?” Ayah Grace Kembali bertanya. “Belum.” Jawab Rangga. Tanpa disuruh, Rangga langsung meletakkan ujung bagian pohon yang diangkatanya, lalu berlari pelan menuju ke ruang keluarga lagi untuk menekan tombol pause di stick PS. Lalu Kembali lagi membantu ayanya Grace mengangkat pohon. Grace, ibunya dan ibunya Rangga hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku mereka berdua. “Pisang?” Tanya Ibunya Rangga dengan ekspresi bingung. “Pisang buat bahan?” Lanjutnya. “Iya.” Jawab ibunya Grace sambil tersenyum. “Ngomong-ngomong, kamu mau bikin apa sih, jeng?” Ibunya Rangga lanjut bertanya. “Iya, ibu mau bikin apa sih?” Grace yang sedang minum juga penasaran, ia ikut bertanya. “Ibu mau bikin pisang goreng.” Jawab Ibunya Grace sembari mengeluarkan dua sisir pisang dari pelastik belanjaannya. Spontan Grace langsung menyemburkan air yang ada di dalam mulutnya. Ibunya Rangga dan Grace saling menatap dengan pupil mata yang sedikit melebar. Keduanya mengira kalau ibunya Grace akan membuat roti bolu seperti yang ia lakukan sebelumnya. Ternyata malah dia akan membuat pisang goreng. Sialnya, ibunya Rangga sudah terlanjur membuang adonan tepung pisang goreng yang sebelumnya sudah di buat oleh ibunya Grace. Adonan kue bolu, di campur dengan pisang. Entah bagaimana rasanya nanti. Bersambung….
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD