Acara komedi yang di tontonya pun berakhir, kini Rangga terlihat sedang membuat sebuah catatan di handphone-nya, catatan itu tentang beberapa adegan dan perkataan yang di peragakan oleh pelawak di acara yang tadi ia saksikan, yang nantinya akan Rangga cari tahu kenapa adegan itu bisa lucu untuk kemudian ia jadikan refrensi pada novel komedi yang sedang ia buat.
Suara mesin dari mixer di dapur sudah berhenti, suasana di rumah Grace agak lumayan tenang sekarang, hanya ada suara televisi dan suara dari ibunya Grace yang berbicara pada dirinya sendiri. Beliau tampak sedikit kebingungan sembari terus menyebutkan nama bahan-bahan resep dari makanan yang akan dia buat. Sampai sekarang pun belum di ketahui apa yang akan di buat oleh ibunya Grace, masih misterius.
Rangga memencet tombol remote televisi berulang kali, memindah-mindah channel, mencoba menemukan acara yang menurutnya bagus. Sudah beberapa menit ia mengonta-ganti saluran televisinya dan tak kunjung menemukan acara yang menarik.
Jaman sekarang memang jarang ada acara yang bagus dan mengedukasi di televisi. Acara yang di tampilkan di televisi hampir di d******i oleh sinetron aneh, acara gosip, reality show yang di lebih-lebihkan, serta talkshow dengan bintang tamu yang bisa di bilang tidak ada faedahnya untuk masyarakat. Biasanya orang-orang yang di undang di talkshow tersebut adalah kalangan orang-orang yang viral di internet bukan karena nilai edukasi yang ia berikan, namun karena hal-hal aneh yang mereka lakukan dan berhasil menarik perhatian para netizen.
Dengan kata lain, orang-orang yang bekerja di balik layar televisi sepertinya lebih mementingkan rating ketimbang nilai-nilai dari acara yang mereka suguhkan ke masyarakat. Rasanya, memang tak ada hal lain yang patut di tonton di televisi kecuali siaran berita.
Karena tak kunjung menemukan acara televisi yang sesuai dengan keinginan hatinya, Rangga kemudian menyalakan PS4 yang ada di kolong meja, ia memutuskan untuk bermain game di PS 4 saja.
“Rangga, tante keluar dulu ya, kamu sama Grace tolong jaga rumah bentar!” Kata ibunya Grace sambil mengenakan jaket berwarna hijau tua, ia bersiap-siap akan pergi keluar.
“Emang tante mau kemana?” Tanya Rangga.
“Ke supermarket bentar, beli bahan-bahan, masih ada yang kurang ternyata.” Ibunya Grace lanjut berjalan menuju pintu depan setelah mengatakan itu, tapi ia tiba-tiba saja berhenti melangkah dan lanjut bicara.”Eh, nanti kalo ayahnya Grace udah nyampe rumah, pohon natalnya suruh pajang di pojok situ ya!” Ibunya Grace menunjuk sudut ruangan, di dekat tangga yang digunakan untuk menuju kamarnya Grace.
“Oke.”
Ibunya Grace langsung melangkah meninggalkan ruang keluarga setelah mendengar jawaban dari Rangga. Beberpa saat kemudian terdengar suara pintu yang sedang di tutup. Sekarang Rangga sendirian di rumah Grace. Duduk dengan tenang bermain game bola dari konsol PS4 sambil menikmati keripik kentang yang tinggal sedikit.
Grace belum juga kembal,ini sudah hampir sepuluh menit berlalu sejak Grace pergi ke rumah Rangga. Entah kenapa ia bisa begitu lama, padahalkan tujuannya hanya untuk menyuruh ibunya Rangga untuk datang ke rumahnya, kenapa lama sekali. Rangga lama-lama curiga, jangan-jangan Grace malah asik mengobrol dengan ibunya Rangga sampai lupa dengan tujuannya?
Tiba-tiba, terdengar suara pohon yang diseret di damping rumah.
Rangga memasang ekspresi bingung saat mendengar suara itu, lalu menekan tombol pause di stick PS4-nya untuk menghentikan permainan sebentar.
Mencoba mendengar dengan seksama, suara itu malah berhenti. Lalu suara pohon yang di seret itu terdengar lagi, kali ini lebih jelas dan kencang, Rangga makin bingung karena suaranya tepat berada di samping rumah Grace, sedangkan di sekitar situ tak ada pohon sama sekali.
Tak lama kemudian, seseorang membuka pintu samping. Perhatian Rangga langsung mengarah pada pintu itu.
“SURPRAIISSEEE!!!” terdengar suara dari seseorang di luar sana, tepat di depan pintu samping, orang itu setengah berteriak berniat untuk memberi kejutan.
Tapi tak ada satu pun orang rumah yang menyambut kejutannya itu. Rangga sudah tahu orang itu siapa, dan dia memilih untuk tidak begitu peduli, malah melanjutkan permainan PS-nya. Ia menghela nafas lega karena itu bukan maling, Rangga sempat menyangka kalau suara-suara tadi adalah maling yang sedang beraksi.
Orang itu adalah ayahnya Grace yang baru saja pulang kerja, ia pulang sambil membawa sebuah pohon yang ukurannya lumayan besar jika di jadikan sebuah pohon natal. Tingginya mungkin sekitar dua kali ukuran tubuh ayahnya Grace dan daunnya masih lumayan lebat. Meskipun cukup tinggi, tapi lumayan ringan hingga bisa di seret dengan mudah.
Ayahnya Grace adalah tipe orang yang di penuhi keceriaan, punya selera humor yang bagus, serta baik hati, tapi juga absurd. Entah apa yang ayahnya Grace pikirkan sampai-sampai dia membawa pulang pohon cemara asli yang lumayan besar untuk di jadikan pohon natal di dalam rumah.
Ayahnya Grace masuk ke dalam rumah, membiarkan pohonnya di luar. Ia melihat ke segala penjuru ruangan dan bingung karena tak menemukan satu orang pun di dalam situ kecuali Rangga yang sedang bermain PS di ruang keluarga.
“Loh... orang-orang pada kemana,ngga? Kok sepi?” Tanyanya dari dapur.
“Grace maen ke rumahku, trus tante lagi belanja bahan-bahan buat bikin sesuatu.” Jawab Rangga sambil terus bermain PS.
Ekspresi ayahnya Grace langsung berubah setelah mendengar jawaban Rangga.
“Lagi bikin apa dia?” Ayah Grace bertanya lagi sambil berkacak pinggang.
Rangga menekan tombol pause lagi untuk menghentikan permainannya, lalu berbalik badan, melihat ke arah ayahnya Grace. “Enggak tahu, coba cek deh om, di situ ada adonan di dalam baskom kan?”
Ayahnya Grace melihat ke arah baskom yang Rangga maksud, terletak di atas meja dapur, tepat di sebelah mixer.
“Iya...”
“Nah, kira-kira itu adonan buat bikin apa?”
Ayahnya Grace mengangkat baskom berisi adonan itu, lalu di dekatkan ke wajahnya, untuk meneliti.
Setelah mengamati sejenak, dia berkata “Kayaknya ini dia bikin bolu lagi!” Kemudian memasang wajah masam.
“Gawat nih!” Kata Rangga.
“Bener-bener gawat.” Kata ayahnya Grace lagi.
“Tapi tenang aja om, Grace lagi nyuruh ibuku buat bantuin tante.” Rangga mencoba menenangkan. “Kalo ada campur tangan ibukku, bolunya pasti bakalan enak.” Lanjutnya dengan penuh percaya diri.
“Bagus deh, om serahkan sama ibumu.” Setelah mengatakan itu, ayahnya Grace lantas keluar lagi, kemudian berjalann mundur sambil membungkuk menyeret pohon yang tadi di bawanya . Dia menyeret pohon itu ke dalam rumah.
Pria kurus berwajah oriental itu terus menyeret pohonnya hingga sepenuhnya masuk ke dalam dapur, ia kemudian berhenti sejenak untuk mengumpulkan tenaga, lalu lanjut menyeretnya lagi. Ia bertujuan untuk meletakan pohon itu di ruang keluarga. Dia menyeret pohon tanpa memperhatikan sekeliling, hingga tak sengaja menginjak buku catatatan milik Grace yang masih ada di lantai ruang keluarga. Ayahmya Grace menyeret pohon tersebut sampai dirinya tiba di ujung ruangan, sementara Rangga hanya mengamatinya dengan tatapan aneh.
Selesai dengan pekerjaannya, ayahnya Grace sedikit kelelahan, ia menegakkan punggungnya sambil mengusap kening dengan lengan.
Kini, diruang keluarga itu ada sebuah pohon cemara yang panjang serta berdaun lebat membentang dari ujurng sisi ruangan ke sisi yang lainya. Benar-benar pemandangan yang aneh untuk sebuah ruang keluarga.
“Menurut kamu, kalo udah jadi pohon natal, ini nanti bagusnya di taruh di mana, ngga?” Tanya Ayahnya Grace pada Rangga.
Rangga menatap pohon cemara itu dari pucuk, sampai ujung batangnya, kemudian beralih menatap ke sudut ruangan di bawah tangga.
“Tadi tante nitip pesen katanya kalau om pulang, pohonnya disuruh naruh di pojok situ...” Ucap Rangga sambil menunjuk tempat yang ia maksud. “Tapi kayaknya enggak bakalan muat deh om, pohonnya kebesaran.” Lanjutnya.
“Hmm... gitu ya?” Ayahnya Grace memegangi dagunya.
“Lagian kenapa harus bawa pohon asli sih om? Kenapa enggak beli aja di toko online?” Rangga bertanya.
“Ibunya Grace mintanya pohon asli, bukan plastik kayak tahun lalu, biar natural katanya.”
“Oh... gitu.”
Rangga melanjutkan permainan PS-nya. Kini dia berada di menit-menit terakhir pertandingan. Timnya tertinggal dua skor dari tim lawan, Rangga hampir kalah. Rangga tak begitu mahir dalam game sepak bola, dia lebih menyukai game dengan genre RPG Action, atau game yang memiliki jalan cerita bagus. Di dalam PS4-nya kebetulan masih terpasang kaset Pro Evolution Soccer 2020 dan Rangga malas untuk menggantinya, jadi dia lebih memilih untuk bermain dengan kaset seadanya saja.
Tim Rangga pun di kalahkan oleh musuh dengan skor 4-2.
“Cupu kamu, ngga. Masak kalah.” Ucap ayahnya Grace yang ternyata masih beridiri di tempatnya sambil menyaksikan permainan Rangga.
“Aku emang enggak bisa maen om kalo game bola.” Kata Rangga.
Layar di televisi menampilkan layar menu utama game Pro Evolution Soccer 2020. Ketika Rangga hendak memilih tim lagi untuk melakukan pertandingan selanjutnya, ayahnya Grace tiba-tiba mencegah. “Et..et...et... tahan dulu, jangan milih tim dulu.”
Rangga menoleh ke belakang, menatap ayahnya Grace.
“Kenapa om?” Tanyanya.
“Kita tanding.” Ayahnya Grace menantang.
“Oke, siapa takut,” Rangga percaya diri. Meskipun kemampuan bermain game sepak bolannya tak seberapa, tapi dia yakin akan menang melawan ayahnya Grace.
“Tunggu bentar, om mau mandi dulu. Tunggu.”
Ayahnya Grace bergegas menuju ke arah belakang, ke kamar mandi.
Pertandingan game sepak bola antara ayahnya Grace dan Rangga terjadi hampir setiap minggu. Kadang pertandingan di menangkan oleh Rangga, kadang juga di menangkan oleh Ayahnya Grace. Tapi jika di akumulasi siapa yang paling banyak menang di beberapa bulan terkahir, maka ayahnya Grace lah yang akan jadi pemenangnya, karena memang sedari muda ayahnya Grace adalah orang yang lumayan gila bola, maka tak heran kalau dia juga lumayan ahli bermain game sepak bola.
Sementara Rangga tidak begitu tertarik menonton pertandingan maupun memainkan game-nya seringkali ia memilih tim yang lemah karena tak punya wawasan sama sekali tentang dunia sepak bola.
Tapi malam ini akan berbeda, dan mungkin juga akan jadi mimpi buruk bagi ayahnya Rangga, karena Rangga sudah latihan, dia juga sudah membaca artikel sepak bola di internet. Rangga benar-benar siap untuk menang.
Setelah sekitar lima menit berlalu, ayahnya Grace kembali dengan mengenakan kaos jersey Manchester United , tim bola favoritnya. Lengkap dengan syal berlogo MU,dan sebuah setiker logo MU juga menempel di salah satu pipinya.
Pria kurus berwajah oriental itu berjalan dengan penuh gaya. Ia agak sedikit melebarkan langkahnya ketika melewati pohon cemara yang terbentang di tengah ruangan, dan lagi-lagi tanpa sengaja ia menginjak buku catatan anak perempuannya yang masih ada di lantai, tertindih dedaunan pohon.
Ayahnya Grace duduk di sofa, tepat di sebelah Rangga, lalu mengambil stick PS dan berkata dengan keren “Kita mulai pertandingannya!”
Rangga hanya memberikan tatapan aneh kala menyaksikan apa yang ada di hadapannya.
Grace dan ibunya Rangga pun akhirnya tiba di rumah keluarga Grace. Mereka begitu lama karena tadi ibunya Rangga masih sibuk dengan pekerjaannya yang belum selesai, dan Grace dengan sabar menunggu sambil memakan beberapa cemilan yang tersedia. Begitu ibunya Rangga menyelesaikan semuanya, keduanya malah asik mengobrol tentang beberapa toko yang memberikan diskon hari natal.
Karena keduanya terlalu asik mengobrol tentang diskon, Grace pun sampai lupa dengan tujuan dia sebenarnya datang ke rumah Rangga. Lalu ketika Grace tersadar dan ingat dengan tujuannya, keduanya langsung bergegas menuju ke rumah keluarga Grace agar ibunya Rangga bisa membantu ibunya Grace membuat roti bolu, supaya rasanya tidak mengerikan seperti sebelumnya.
“Astagfirullah halazimm...!!!”
“Ya ampunn!!”
Grace dan Ibunya Rangga setengah berteriak hampir bersamaan ketika melihat sebuah pohon cemara yang berukuran lumayan besar tergeletak di tengah-tengah ruang keluarga.
Bersambung....